Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 8 May 2014

KebringS : Awal Fase Baru

           Bangku perkuliahan adalah keinginan setiap siswi SMA, begitu juga gue, setelah tiga tahun berkutat dengan masa-masa SMA yang menggelora, sudah saatnya gue memulai kehidupan baru dalam siklus hidup manusia, yaitu dewasa. Memang, kedewasaan seseorang tentu tidak dipengaruhi oleh masuk atau tidaknya dia di bangku perkuliahan, tapi paling tidak buat anak rumahan setipe gue, lepas dari pandangan orang tua gue merupakan hal yang baru. Gue putuskan untuk kuliah di luar kota, dalam pertimbangan gue akan lebih mandiri jika gue benar-benar lepas dari pandangan ortu gue.

            Hidup di kota yang belum pernah gue jamah ternyata ga semudah yang gue bayangin, gue sendiri, benar-benar sendiri. Di kampus pun ga ada satupun alumni dari SMA gue. Benar-benar suasana yang baru, bagus gue ga kenal siapa-siapa. Adaptasi pun dimulai, pagi itu gue bangun jam empat subuh, seperti OSPEK pada umumnya jam 6 pagi kita sudah harus ada di kampus, dengan rongrongan kakak tingkat yang sok galak tapi maksa. Buat apa sih OSPEK? Harus adakah? Gue heran kenapa setiap mahasiswa baru selalu berpakaian layaknya orang gila. Seperti yang gue lakuin hari ini, sesubuh ini gue udah bangun, tak lain dan tak bukan buat nyiapin segala alat perang gue buat menghadapi cacian kakak-kakak tingkat. Rambut gue dikucir 50 dengan pita warna merah, ya sesuai dengan bendera fakultas Ekonomi. Bisa lo bayangin kan, gimana susah payahnya gue nguncir rambut gue jadi 50? Dikasih pita pula. Belum lagi tas karung goni yang harus gue pake, dan nametag yang segede gaban dan foto keep smile gue, Oh God. Sumpah gue ngerasa jadi orang gila! Tapi apa daya kan? Namanya mahasiswa baru, mana ada yang berani protes. Ntah maksud dan tujuannya apa, sampe sekarangpun masih gak masuk di akal dan pikiran gue kenapa di OSPEK mahasiswa baru wajib berpenampilan layaknya orang gila.

            Detik jam Manchester United itu begitu keras terdengar di telinga gue, gila! Sudah jam 6 tepat. Guepun langsung menyabet tas karung goni serta nametag gue dan berlarian menuju kampus, ya karna gue ngekos, dan jarak dari kosan ke kampus Cuma 50 meter, 10 menitpun sampai. Sial!, pekik gue dalam hati, ternyata udah banyak mahasiswa yang datang.  Dengan muka memelas, gue langsung menghampiri kakak tingkat gue buat minta maaf karna telat. Eh, gayung tak bersambut, alhasil gue harus kena hukuman atas keterlambatan gue. “darimana aja lo? Jam segini baru dateng” tanya kakak tingkat gue berang. “dari kosan kak”, jawab gue polos. “gila lo ya, enak amat jawabnya, kaya ga punya dosa lo! Sit up sekarang!” teriaknya. Gue bisa apa coba, gue kan mahasiswa baru, ya gue pasrahlah.

            Dengan muka tertunduk lesu, gue jalan menuju kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru bermuka pasrah. Sumpah, miris gais gue liatnya. Liat mimik muka mereka serasa gue pingin ngajakin buat demo, buat ngelawan titan-titan berwajah manusia yang tak lain dan tak bukan adalah kakak-kakak tingkat bermuka sangar. Gila, pahlawan banget kan gue, dengan tergopoh-gopoh para titan berwajah manusia itupun lari pontang-panting dikejar gerombolan mahasiswa baru dengan kucir dan namtag di dadanya. Yah, udah kaya di film perang-perang gitu deh gais, ya tapi itu Cuma muncul di benak gue aja sih ga jadi nyata. Kenyataannya gue masih mlongo di antara mahasiswa baru bermimik pasrah. “hai”! sapa gue kepada cewek disebelah gue yang dalam feeling gue bakal bisa jadi sahabat gue, dia Cuma diem aja. “Hai”! sapa gue lagi kini dengan senyum indah nan memesona, gila gais dia tetep diem aja, malah pasang muka inosen. “Gila nih cewek”, pikir gue, sombong amat kali disapa doang ga mau jawab. “Apa jangan-jangan nih cewek bisu dan tuli makanya ga ngegubris sapaan gue, ya Alloh kasian! salah apa dia ya Alloh sampai dia dikasih cobaan begitu berat”. “lo ngomong apa sih”? sentaknya. Kaget bercampur dengan keringat yang mengucur deras, “lo bisa ngomong”? tanya gue dengan tatapan tertegun. “ ya bisalah” jawabnya jutek. Gila masih ngeselin aja nih anak, anak presiden kali ya jadi agak ga selevel gitu bilang “hai” ke gue.

            Suasana di bawah tenda ini begitu mengguncang gais, mirip sama di medan perang, persis zaman penjajahan belanda, haha lebay banget ya gue, tapi ya gitulah, teriakan senior  disana-sini yang lebih mirip senapan bangsa eropa. Gue kaya burung dalam sangkar, tak bebas, mau izin pipis aja takutnya setengah mati. Eh, bukannya gue penakut ya, takut itu bolehnya cuma sama Alloh. Ya kan gue tadi bilang ini mirip kaya di medan perang, dan gue mau pipis masa iya mau izin sama penjajah? Ga mungkin kan? Bisa di tembak mati gue yang ada. Tapi OSPEK itu lebih kejam gais dibandingkan masa perang, kalo di masa perang tu kan kalo ada prajurit pribumi yang disiksa, maka prajurit lainnya menangis tersedu-sedu menahan pilu yang sebenarnya sudah tak lagi dapat tertahankan, seett. Tapi kalo di OSPEK ketika ada Mahasiswa baru yang lagi disiksa sama seniornya, yang lain ketawa-tawa, gila kejam banget kan gais! Pembunuhan karakter itu. Lo bayangin geh orang lagi diteriakin sama senior, kemudian disuruh nyanyi balonku ada lima yang huruf vokalnya di ganti “o” semua diketawain, padahal mulut udah kaya apa manyun-manyun dengan usaha yang keras serta tawakal kepada Alloh, tetep aja diketawain, miris.

            Ya seperti itulah hingar bingar kehidupan kampus gais, ada susahnya ada senengnya juga, susah kalo disiksa tapi seneng liat yang lain di siksa, manusia. Akhirnya perang ini ada istirahat juga, nah ini juga bedanya gais sama perang zaman penjajahan belanda dulu, ada istirahatnya, hmmm mungkin gue sebut ini perang masa kini aja ya. Dengan tergopoh-gopoh gue masuk kantin ijo, ya karena warna semuanya ijo, dari catnya, mejanya, kursinya, teralisnya sampe pelayannya aja kulitnya ijo gais, di pilox. Yang terakhir hanya fiksi belaka ya, haha. Nah makanya itu serba ijo disebutlah ia menjadi kantin ijo. Dan di kantin ini, lagi lagi gue liat cewek inosen itu, dia duduk di depan gue pas. Agak malesin sih sebenernya liat muka inosen dan sok misterius itu, tapi apa dayakan kantin udah penuh dan ga memungkinkan gue buat pindah tempat, yaudah gue pasrah ya Alloh atas apa yang hendak Engkau takdirkan untuk hambamu yang lemah ini.

            Perang telah usai, saatnya elang merah kembali ke sarang, copy. Sambil ngebayangin bawa handytalkie kaya di film-film. Ketika gue jalan gue liat cewek inosen itu lagi gais, gila udah bener kalo dunia itu tak selebar daun kelor. Tapi anehnya dia masuk ke kosan kamboja, iya kosan yang sama dengan yang gue tinggali. Dengan rasa penasaran yang membuncah gue barlarian dengan penuh semangat dan jiwa raga yang membara-bara, gue tarik baju cewek itu. “lo ngapain disini, lo buntutin gue ya”? tanya gue dengan penuh kecurigaan. “idih, ngapain. Kosan gue ini, udah jelas-jelas lo yang ada di belakang gue, ya lo lah yang ngebuntutin gue”! cerocosnya. Hahaha… tawa gue meledak. Haahahaa… tawanya juga meledak. “lo kenapa ketawa”? tanya gue lalu bengong. “ya lo kenapa ketawa”? ujarnya. Kayaknya kita udah ditakdirin buat jadi temen deh agaknya, ternyata dunia sempit banget, cewek yang nyebelin dan inosen kaya lo itu ternyata satu kosan sama gue. “iya kali ya”, katanya. Hahahaa,, lalu kita terbahak-bahak bersama.
           

            

Dear You:

1. Yang memiliki mata namun tak pernah menatapku
     Hanya dengan melihat sosokmu sudah cukup membuatku bahagia.

2. Yang senyumnya timbul tenggelam selayak matahari senja
     Tengoklah aku ketika di belakangmu dan pandangilah aku ketika dihadapmu, dan tersenyumlah kepadaku.

3. Semisterius pekatnya malam
    Cobalah tengok barang sebentar ke arahku, barangkali aku membawa lentera yang melunturkan pekatknya kamu.

Sesederhana itu kamu ku...

Sekeping Ilusi

            Cerita yang lalu itu masih terus berlanjut, kenangan manis 6 tahun yang lalu telah berubah menjadi pahit dan kini tanpa rasa, rasaku telah mati untuknya yang telah dahulu menikam hatiku dalam-dalam. Ini tentang pria masa lalu yang tak urung muncul lagi dalam dorama hidupku kini. Cerita itu berlanjut tatkala keputusan untuk tidak memberinya kesempatan menghubungiku sama sekali, telah kuhapuskan, hatiku telah stabil sekarang. Bulat keputusanku untuk menerimanya kembali dalam kehidupanku yang sekarang, tapi tidak untuk pangeran hatiku. Tidak! Cukupkan hanya untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang hampir setahun ini tak kentara.

            Kita mulai kembali, kubuka blokir untuknya, kita kembali menyapa dan berucap salam. Tak kusangka, aku tetap terpesona dengan pesannya yang renyah, suaranya yang menggema. Iya, dia tetap memesonaku. Perang batin dimulai lagi, sepertinya rasa itu belum sepenuhnya hilang, belum sepenuhnya mati. Dia tetaplah pria yang masih kusanjung di dalam hati. Tak peduli betapa kuatnya otakku untuk menolak, tak peduli betapa kerasnya usahaku untuk melupakannya, tetapi seiring canda tawanya rasa itupun kembali membuncah. Seakan-akan aku telah lupa ingatan bagaimana dia telah mencacah paksa hatiku dulu.

            Itulah mengapa aku selalu berfikir betapa bodohnya aku, bodohnya aku sampai rela membuka kembali pintu yang sebelumnya telah kukunci. Mengapa tak kubuang saja kuncinya, sehingga tak akan mungkin lagi untuk membuka pintu yang sama untuk orang yang sama untuk kedua kalinya. Berputar otakku berfikir bagaimana caranya aku bisa menghilangkan dia dari rasaku.

            Setelah pesan-pesan itu akupun memintanya untuk menemuiku, kita telah  6 tahun tak bertemu. Bahkan kita tak sempat bertemu ketika kita masih bersama, dan permintaankupun dikabulkannya.

            Hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah 6 tahun ini, tetapi getaran-getaran itu ternyata telah musnah. Dia hanyalah sekeping kenangan dan sebuah pelajaran untukku, dia tak lagi ada disana. Getaran yang ada hanyalah ilusi atas ketidakberdayaanku melepas cinta pertama.