Elegant Rose - Working In Background

Saturday, 31 January 2015

Huldra (Rumah Belukar)

         Matahari yang terik pagi ini tak mampu menerangi rumah buruk itu, sebenarnya rumah yang telah beratapkan genting dan bertembok kekar itu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja rumah yang sangat luas itu terlihat seperti tak berpenghuni. Rumah yang lebih mirip sarang penyamun itu, hampir tak terlihat, terletak di ujung kampung Caruta, jika kita tidak memperhatikannya secara jeli niscaya tak ada rumah disitu hanya rimbunnya semak belukar dan pohon-pohon yang tinggi menjulang yang menutupinya. Warna tembok rumahnyapun kini telah pudar termakan usia. Tumbuhan merambati seluruh dinding rumah yang menambah kesan horor dari rumah tersebut. Rumah tua ini dikelilingi oleh kebun teh yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kesan mistis menyelimuti rumah Juragan Gundowo itu, seorang juragan tanah yang kaya raya dengan kepemilikan kebun teh  yang sangat luasnya.

Usut punya usut, dahulu rumah itu tidaklah semistis sekarang, rumah itu indah dan terawat, namun semenjak ditinggalkan oleh mendiang istrinya, Juragan Gundowo menjadi sosok yang berbeda, dia bukanlah lagi Juragan yang ramah dan baik akan tetapi menjadi orang yang pendiam dan menutup diri, setiap hari beliau hanya mengurung dirinya di rumah saja, tidak pernah keluar. Sampai pada akhirnya, beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia, Juragan Gundowo hilang, entah meninggal ataupun hilang entah kemana. Berita hilangnya Juragan Gundowopun segera menjadi topik obrolan utama masyarakat desa, banyak isu bermunculan apakah dibunuh oleh anaknya sendiri, ataupun dicuri oleh makhluk astral. Kabarpun menjadi sangat tidak jelas menyebar, namun hingga saat ini jasadnya belum diketemukan.

Rumah belukar orang kampung Caruta menyebutnya, karena sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang tetaplah rumah itu dalam bentuk yang sama, tetap rumah tua yang beraksitektur Belanda, dengan dinding bagian bawah yang ditata dari rangkaian batu hitam, dan bagian atasnya bercat putih polosa namun telah pudar. Ruamh itu telah berusaha dipugar oleh anak turun Juragan gundowo, namun tidak ada yang pernah berhasil dari sekian anak turunnya, sampai sekarang yang menghuninya adalah anak turunnya yang ke enam, rumah itu tetap seperti dulu, seperti pertama kali dibangun, proses renovasi yang dilakukan tidak pernah berhasil, alih-alih renovasi hanya untuk membersihkan semak belukar dan pohon-pohon saja selalu gagal. Ketika semak belukar dibabat dan dibersihkan, maka keesokan harinya semak belukar tersebut tumbuh seperti sedia kala, begitu juga pohon-pohon yang telah ditebang yang bahkan batangnya telah digergaji kecil-kecil, mampu berdiri dengan kokoh kembali seperti sedia kala. Sudah putus asa rasanya anak turunya untuk membersihkan dan menghilangkan kesan mistis atas rumah itu.

Terkadang bosan sudah anak turun dari Juragan Gundowo, menjadi bahan pergunjingan masyarakat desa setempat, ingin rasanya mereka membaur bersama masyarakat sekitar dan hidup layaknya manusia pada umumnya, namun tak bisa, nama Juragan Gundowo telah menjadi tabu untuk diucap. Pernah suatu kali, keturunan Juragan Gundowo yang ketiga bernama Juragan Gunawira memutuskan untuk meninggalkan rumah itu beserta anak dan istrinya, namun hanya sempat pergi dari depan pintu gerbang saja, bahkan pintu gerbangnyapun tak dapat dibuka, mereka mencoba melompat pagar, namun ketika di panjatnya pagar itu, tak kunjung sampai, entah mengapa pagar yang tingginya hanya sekitar tiga meter itu terasa sangat tinggi sekali, hingga lelah mereka memanjatnyapun tak sampai melewatinya. Akhirnya ketika lelah mereka menyerah dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah belukar tersebut.

Waktu terus berjalan, rumah belukar tersebut tetap dihuni oleh anak turunnya Juragan gundowo yang masyur, ketika zaman penjajahan Belanda telah berakhir lama, bahkan desa Caruta telah membenahi dirinya, rumah itu tetaplah tampak seperti rumah tua yang menyeramkan. Adalah Juragan Gunadarma, keturunan ke-lima yang menempati rumah itu sekarang beliau tinggal bersama istri dan seorang putra tunggalnya yang berumur 8 tahun.

Gunara adalah nama bocah 8 tahun tersebut, dia adalah seorang anak yang pendiam namun sangat cerdas, kerap kali dia meninggalkan rumahnya secara diam-diam dan berpetualang di sekitar rumahnya walaupun dilarang oleh kedua orang tuanya, tetap bisa saja Gunara keluar dari Rumah Belukar itu. Gunara memilih untuk menempati kamar di atas loteng rumahnya, dengan ruangan yang lumayan luas namun kotor, disulapnya menjadi kamar tidur yang sedikit mistik namun menarik. Hanya ada satu tempat tidur saja di kamar itu, kamar tidur berkasur satu dengan dipan yang terbuat dari besi tua, peninggalan Belanda. Tak jauh dari kamar itu ada sebuah jendela kecil yang cukup untuk memasukan kepala Gunara ke dalamnya. Sepasang meja dan kursi kecil sederhana, menemani furniture lain di kamarnya, hanya ada satu lemari pakaian yang sudah usang yang sejak dahulu telah ada di kamar itu yang kini dipakainya, lemari kayu berpintu dua yang terbuat dari kayu jadi dengan kaca berbentuk oval di pintu lemari yang sebelah kanan, di bagian kiri pintu lemari itu terdapat banyak tempelan gambar-gambar buatan Gunawa dari arang hitam, yang menggambarkan keramaian kehidupan di luar rumahnya yang pernah diimpikannya ketika tidur, atau dari cerita-cerita pegawai ayahnya yang diimajinasikannya dalam torehan arang.  Gunawa sangat tertarik untuk mengetahui apa yang ada di luaran sana, di pagar tembok rumahnya, Rumah Belukarnya.
Bersambung...


















Sunday, 25 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (Final)

            Malam itu gerimis menjelang, saat Ghalibie mengantarkan askana pulang. Senyum mengembang, di kedua bibir mereka. Setelah menurunkan sepeda Askana, Ghalibie pun mengantarkna Askana sampai depan rumah Askana. “Kan, makasi ya buat hari ini, makasi buat semuanya”, ucap Ghalibie lembut. Askana hanya tersenyum “sama-sama bie”, ucapnya manis. Kemudian Ghalibie mengeluarkan sebuah kado berbentuk kubus, yang terbungkus rapih dengan pita berwarna pink dari saku celana SMAnya. “Kan, ini buat lo, semoga bisa jadi kenang-kenangan buat lo ketika nanti gue ga ada, kado ini semoga aja bisa jadi pengingat lo ketika lo kangen sama gue Kan”, ucapnya lembut. Askana meraih kado itu dengan tatapan bingung, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ghalibie. “lo ngomong apa sih bie? Lo mau pergi?” ucapnya heran. “hehe, iya gue mau pergi kan gue mau pulang sih Kan” ungkapnya diselingi tawanya yang khas. Dibawah rembulan dan langit yang teduh, serta angin yang meniup lembut mereka saling bertatapan dengan senyum menyungging pada wajah keduanya.

            Setelah membersihkan tubuhnya, Askana berbaring sembari membuka kado yang diberi Ghalibie. Askana membukanya perlahan, seakan untuk merusak bungkusnya saja dia tak tega. Kotak berbentuk kubus itu segera dibukanya,  ternyata yang ada didalam kotak tersebut adalah, gantungan kunci yang berbentuk hati yang terbuat dari kaca bening dengan kelopak bunga Flamboyan yang jingga kemerah-merahan di dalamnya, Askana hanya terdiam. Kado yang sangat indah pikirnya, kado yang tidak mungkin bisa dilupakannya sepanjang hidupnya, mungkin.

            Senyumnya kembali merekah pagi itu, ya setidaknya dia telah melalui hari yang sangat indah kemarin dengan Ghalibie. Askana memasuki kelasnya dengan senyuman menyungging di bibirnya. Ketika telah masuk ke dalam kelasnya, Ghalibie tidak muncul bahkan sampai saat pelajaran telah usai. Ghalibie tidak kunjung muncul jua. Askana mencoba untuk tetap tenang, namun tetap saja hatinya gundah, mengapa Ghalibie tidak muncul datang ke sekolah. Akhirnya dengan segala keberaniannya, dia menghampiri reno, teman sebangku Ghalibie untuk menanyakan kemanakah Ghalibie pergi. Betapa terkejutnya Askana saat mendengar apa yang diucapkan Reno. Bagai petir di siang bolong, sungguh tak menyangka bahwa kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Ghalibie, tak mengira Askana, Ghalibie akan pergi tanpa berpamitan dengannya. Tubuhnya lemas, lunglai seketika, dia berjalan sempoyongan, duduk termenung di bangkunya. Bahkan saat semua temannya pulang, dia hanya duduk di dalam bangkunya, sendirian.

            Sendirian, atau mungkin tidak, ada seseorang di belakang sana yang melihatnya, mengamati Askana yang sedang menangis sesenggukan yang telah mengira semua siswa telah pulang. Seseorang tersebut, berjalan menuju Askana berjalan santai, ketika sampai di depan bangku Askana meninggalkan sapu tangannya untuk askana mengusap air matanya. askana hanya ingin meluapkan air matanya, hari itu, mungkin dia dan Ghalibie hanyalah bagaikan langit dan bumi yang tak bisa saling menyatu, mungkin tuhan memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan Ghalibie hanya untuk menyenangkan hatinya dari cobaan kerasnya hidup yang harus dilaluinya. Dia telah bertekad, dia hanya akan menghabiskan air mata dan kesedihan untuk Ghalibie hari ini, siang ini saja. Yang kemudian dia akan kembali ke kehidupannya yang dahulu, belajar giat dan mencari beasiswa untuk kuliah guna memperbaiki kehidupan dia dan ibunnya nanti.

            Segera setelah air matanya mulai reda, dia segera mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru dongker yang ada di atas mejanya, yang entah punya siapa. Dia merasa bahwa sapu tangan itu sudah begitu saja ada di atas mejanya, bahkan dia tidak sadar siapa yang memberinya. Dengan muka sembab, dia pulang menaiki sepedanya dengan ayuhan yang lemas, namun tanpa disadarinya ada sesorang di luar penglihatannya yang mengikutinya untuk memastikan Askana pulang dengan selamat, dengan kondisi hati yang tengah terluka.

             3 tahun kemudian...

            Askana telah memasuki bangku perkuliahan, dengan mendapatkan beasiswa karena prestasi semasa SMA nya. Cerita indah masa SMA bersama Ghalibie tetaplah tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya, walaupun kini dirinya dan Ghalibie sama sekali lost contact dan tidak saling memberi kabar, tapi cukuplah cerita itu untuk dikenang. Kepergian Ghalibie juga memberinya hikmah yang luar biasa, Askana mempunyai semangat juang untuk hidup yang lebih baik, dia giat belajar untuk masa depan yang lebih baik.

            Waktu perkuliahan pun selesai, setelah itu langsung pulang ke rumahnya untuk membantu ibunya berdagang. Bis yang menumpanginya berwarna biru muda, dengan garis putih di badannya. Ketika Askana masuk ke dalam bis, ternyata tempat duduknya sudah penuh semua, tetapi ada seorang cowok yang mempersilahkan untuk menempati posisi duduknya sehingga askana dapat duduk dengan nyaman. Tepat di halte sekolah SMAnya dulu, cowok tersebut turun. Namun sebuah pena terjatuh dari kantong baju cowok tersebut ketika mengambil ongkos bis. Askana mengambil pena tersebut untuk dikembalikan kepada cowok itu. Namun, betapa terkejutnya dia ternyata ada simbol “G” di dalam pena tersebut. Dia hanya bengong, dan bispun kembali melaju, dia segera bergegas dan menghentikan bis tersebut untuk turun dan mengejar cowok yang telah mempersilahkannya duduk tadi. Tapi sosoknya telah hilang, dia melihat di sepanjangan jalan cowok dengan badan tinggi tadi telah menghilang, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk masuk ke dalam SMA nya dulu. Sore itu sekolah telah sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan dan penjaga sekolah. Dia terus berjalan mengelilingi sekolah, nampaklah dari kejauhan pohon flamboyan yang telah dia tinggalkan beberapa tahun ini, sahabat yang sering dipanggilnya Fla, sahabatnya yang sangat pendiam. Namun dari kejauhan pula dia melihat sosok cowok yang dicarinya tadi, cowok itu berdiri tegak dengan memejamkan matanya merasakan angin yang mengalun syahdu, diiringi bunga-bunga Fla yang telah mekar sedang berjatuhan lembut.

            Askana menghampiri cowok tersebut, dan apa yang dilihatnya mungkin sangat menggetarkan hatinya begitu hebat, “Za, lo ngapain disini?” ucapnya heran. Riuza kaget, dan segera pergi ketika tahu yang menyapanya adalah Askana. Dengan sigap Askana menarik tangan riuza, supaya tidak pergi. Mereka hanya mematung beberapa saat dengan posisi itu, diselingi bunga flamboyan yang terjatuh lembut. Askana tak mampu bertanya mengenai pena tersebut, dan rasanya hal yang tidak mungkin untuk Riuza lari, dia sudah tertangkap basah.

            “Za, pena bersimbol “G” ini punya lo?” akhirnya kalimat tersebut terlontar dari bibir askana setelkah sekian lama terdiam. Riuza hanya terdiam, dia mengangguk sekenanya. Askana hanya termenung kemudian, mereka saling terdiam lama. Akhirnya Riuza membalikkan badannya, menatap dalam mata Askana. “iya Kan, pena ini punya gue”, ucapnya lembut. Dunia bagai berputar, Askana hanya ingin menghentikan saja otaknya yang mulai berputar juga dengan cepat. Pena ini sama persis dengan pena yang di temukannya ketika dia membaca selebaran les privat, surat kaleng berwarna biru, sepeda rusaknya, jaket dan payung itu, dan kejadian ketika di puncak yang dia ketahui dari teman sekelasnya bahwa yang menolong dirinya sebenarnya bukanlah Ghalibie. Pikirannya melanglang buana untuk memikirkan semua yang terjadi dan inisial “G” yang misterius itu.

            “Za, jadi semua itu elo?, yang benerin sepeda gue, yang ngasih gue kerjaan les privat, yang ngasih gue jaket, surat kaleng, jadi semuanya itu lo yang ngelakuin za?” ucapnya lembut, tak terasa air matanya menetes begitu saja. “iya kan”. Ucapnya lembut. “Jangan-jangan yang donorin darah buat ibu gue itu juga elu, cowok berhoodie hitam malam-malam waktu itu juga elo, dan yang nolongin gue pas di puncak itu juga elo Za?” ucap Askana dengan bibir gemetar. “iya, Kan semua itu gue yang ngelakuin”. “terus, kenapa lo ga jujur ke gue Za, kenapa lo ga jujur kalo selama ini lo yang selalu nolong gue di saat gue benar-benar terpuruk, kenapa lo ga jujur, malah justru jutek ke gue Za, kenapa? Kalo gue tahu yang nolong gue selama ini adalah elo pasti gue juga ga jutek sama lo, Za, dan kenapa lo musti pake inisial “G” Za, di pena itu, di surat itu, di sapu tangan itu?” ucap Askana keras dengan air mata yang kian deras mengalir. “Karna GUE SAYANG SAMA ELO Kan, makanya gue ngelakuin itu semua” ucap Riuza tak kalah kerasnya. Keduanya terdiam, tenggorokan Askana tercekat dia menghentikan tangisannya. “gue pake inisial “G” karena itu emang nama gue Kan “Ghazi Riuza Akbar”, ucapnya lembut dengan senyum bergulir di bibirnya.

            Askana hanya terdiam, tangisannyapun telah berhenti yang kini digantikan senyum dalam senja sore itu, segera saja dia memeluk erat Ghazi, “GUE JUGA SAYANG ELO GHAZI” ucapnya lembut. Ghazi mengangkat tangannya dan memeluk Askana jua. Dalam senja itu mereka dipertemukan, Ghazi yang hanya bisa mendengar keluh kesah Askana di balik pohon Flamboyan itu kini bisa bersama dengan Askana, seakan mimpi pikirnya. Flamboyan itu telah menjadi saksi bisu kisah kasih mereka berdua, dalam diamnya dia telah membantu Askana untuk melalui berat hidupnya, menemukan cinta yang sebenarnya.

            Karena dalam hidup, kita tak selalu melakukan sesuatu supaya orang lain melihatnya, karena rasa sebenarnya adalah tak terbatas, begitu pula cinta yang bermula di bangku SMA. Rasa itu tak mengenal usia, besarnya juga tak terhingga. Jika sudah waktunya usahamu akan berbalas, cinta itu akan dipertemukan, cinta itu akan di taruh pada hati yang tepat, pada seseorang yang tepat.


...THE END...

Friday, 23 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (6)

Malam itu askana hanya membaringkan dirinya di tempat tidur, sudah mencobanya tetapi Askana tidak bisa melepaskan kenyataannya begitu saja, pena yang ada di dasbor mobil riuza adalah pena yang sama, pena yang dia temukan di sekitar rumahnya beberapa bulan yang lalu. Saat sedang membaca brosur les privat. Berjalan dia perlahan mendekati jendela kamarnya, bulan malam ini begitu indah terang bercahaya, bulat dan penuh. Mungkin serigala malam ini akan mengaum pikirnya, konyol. Dia hanya sedang tidak ada kerjaan untuk melakukan apapun. Hari ini dan seminggu kedepan masih liburan, dia tidak bisa bertemu dengan Ghalibie, cowok yang selalu melindunginya. Senyumnya menyungging. Memutar matanya melihat ke bawah, kamarnya memang ada dilantai dua, tidak ada pilihan untuk rumah sempit yang dimilikinya dengan meluaskannya di bagian atap rumahnya, sebenarnya tidak juga bisa disebut sebagai kamar dilantai dua sih. Sebenarnya kamar yang ditempati oleh Askana di dalam rumahnya itu hanyalah,  bagian dari atap rumah yang sedikit luas dengan bagian genting yang lebih tinggi. Dia memilih untuk tidur dan melakukan semua kegiatannya disitu karena lebih tenang dan nyaman, dia bisa dengan leluasa memandangi bulan setipa malam dan merasa hanya dia yang mempunyai bulan itu, dia bisa melihat lampu-lampu yang berkelip dari rumah-rumah disekitarnya yang dibayangkan dengan kerlipan bintang dilangit, sederhana, namaun sangatlah indah bagi Askana.

Ketika dia sedang melihat kesekeliling, nampaklah seorang sosok cowok yang sedang mengamatinya dari jauh,  cowok itu menggunakan jaket hoodie berwarna hitam, di dalam kegelapan yang samar dia sekelebat dapat mengenali sosok itu. Iya Ghalibie, yang tiba-tiba saja waktu itu menghilang dari peredaran setelah mereka  pulang dari puncak. Dengan bergegas Askana berlari tunggang langgang, secepat kilat dia berlari mencari sosok cowok yang tadi mengamati dari bawah. “Askana, Askana!” teriak ibunya. Askana tidak mau mendengarnya sedikitpun, dia hanya terus berlari dan bergegas mencari sosok tersebut. Ibunya dengan bingung melihat kelakuan anaknya malam itu, yang dia khawatirkan bukanlah apa-apa tapi buta ayam yang diidap Askana, karena pada malam yang gelap seperti ini akan membuat Askana sulit untuk melihat dengan jelas.

Askana hanya terus lari dengan tangan  tegak  kedepan, sebagai sensornya apabila ada sesuatu yang menghalanginya. Dia tidak perduli, dengan mata yang semakin tidak jelas dalam melihat, dia hanya berlari dan terus berlari. Pada saat sedang berlari askana tidak sadar, bahwa sedang menyebrang jalan raya, hampir saja dirinya tertabrak, apabila tidak ada tangan yang dengan sigap menarik tangan askana, dan membiarkan Askana jatuh dalam pelukannya untuk beberapa saat. “jangan bodoh, Askana”, ucap cowok tersebut dengan lembutnya. Askana hanya diam dalam hangatnya  pelukan di depan jalanan berasapal malam itu, entah mengapa dia belum pernah mengenal pelukan hangat ini, pelukan yang sangat membuatnya nyaman, pelukan yang dia tak mau untuk melepasnya. Dan suara itu, suara itu begitu lembut, bak suara malaikat yang belum pernah sekalipun didengarnya.

Cowok tersebut menggandeng Askana, yang turut di belakangnya dengan santai, entah mengapa sepertinya di malam yang gelap itu ada begitu banyak kelopak bunga flamboyan berjatuhan dengan tenangnya, bagi Askana malam itu dunia berjalan begitu lambat, dia seperti sedang berada dalam film romantis yang mana dia dan lelaki tersebut adalah pemeran utamanya, berjalanpun seakan di slowmotion oleh sang sutradara. Cowok itu melepaskan genggaman tangannya “sudah sampai As,” ucapnya lembut. Segera sadar Askana berteriak “kamu siapa”? namun tak ada sahutan dari cowok tersebut. Kegundahannya bertambah, siapa lagi tokoh yang muncul dalam hidupnya kini, yang dengan jelas suaranya sangat berbeda dengan Ghalibie yang telah menghilang. Askana kembali lagi ke kamarnya, kegundahannya bertambah, alih-alih dia mengingat Ghalibie, tapi mengingat mencoba menerka siapa cowok tadi, kenapa lembut suara dan pstur tubuhnya seakan dia mengenalnya, cowok itu siapa?, pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya.

Matahari pagi ini begitu teriknya, menyambut pagi, menemaninya bersepeda menuju sekolah, alangkah senangnya dia, yak hari ini dia akan bertemu dengan Ghalibie yang telah lama menghilang. Mungkin dia kan tahu kenapa Ghalibie menghilang begitu saja dan tidak memberinya kabar sama sekali. Setelah menyandarkan sepedanya, askana lalu menuju ke dalam kelasnya, namun sayang ketika dia mencari-cari Ghalibie, tak ditemukannya, bangkunya kososng, di kelaspun dia tidak ada.  Askana mencoba mencarinya lagi keluar, keseluruh sekolah, ke kantin bahkan dia menanyakannya pada Fla. Namun, nihil. Entah mengapa ini terjadi kepadanya, Askana merasa sangat dipermainkan oleh Ghalibie, bahkan saat dia sudah mulai menyukai Ghalibie yang sangat energik dan lucu, justru ini yang didapatinya, Ghalibie pergi tanpa memberi kabar maupun kejelasan kenapa dia pergi. Mungkin jika saja Ghalibie mau meberikan kejelasan, Askana akan menerimanya, walaupun itu menyakiti hatinya. Hatinya begitu bergemuruh, tak alang lagi, askana menuju di tempat peraduannya, dengan sahabat satu-satunya yang menerimanya apa adanya, kemiskinannya, ketidakberdayaannya, kesederhanaannya, ya Fla. Kembali dia dalam bahu fla yang mungkin akan meredakan gemuruh hatinya. Semilir angin yang menemaninya, bersamaan dengan mendung yang seakan tahu kesedihan Askana yang datang menemaninya. Pagi yang cerah itu berubah menjadi hitam, mendung menggantung dengan hitamnya, tak berapa lamapun hujan turun. Namun, tak mengapa hujan ini datang, hujan ini datang diwaktu yang tepat, ketika dadanya sangat sesak, entah mengapa dadanya begitu sesak ketika tak ditemuinya lagi Ghalibie, walau hanya wajah yang mungkin dapat dilihatnya. Air matanya jatuh, semakin lama-semakin derasnya, Askana ingin sekali meluapkan gemuruh hatinya pagi itu, di bawah hujan yang mengguyur bersamaan mengguyur hatinya yng mungkin telah terluka, terluka karena sesuatu yang belum pernah dirasainya. Terluka untuk sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya, yang tak tahu mengapa begini. Derasnya hujanpun, hanya menemani derasnya air mata Askana pagi itu. Hanya duduk tak beralas, dengan tatapan kosong Askana hanya menengadahkan tangannya, menerima nasib sebagai seseorang yang tak berdaya, tak berdaya akan cinta yang mungkin telah di anugrahkan oleh tuhan, tapi mengapa rasa ini begitu menusuk tak seindah di dalam cerita film yang pernah ditontonnya.

Setelah reda dengan basah kuyup dan tatapan kosong, Askana kembali ke dalam kelasnya. Berjalan dengan lunglai, ketika sedang menyusuri koridor kelas yang telah sepi karena mata pelajaran telah di mulai. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya, mengajaknya lari, Askana tidak sanggup hanya untuk melepaskan tangan itu. Dia masih sangat lemah, askana hanya mengikuti kemana saja tangan itu menariknya. Tangan itu mengajaknya kembali ke bawah tubuh Fla, “Kan, lo kenapa?” ucap cowok itu khawatir. Askana melihatnya dengan tatapan kosong, betapa terkejutnya dia, ternyata cowok itu adalah Ghalibie. Tak mampu askana berucap sepatah katapun, matanya hanya ingin melihat Ghalibie lagi dan lagi, setelah sekian lama tak menjumpa. Tetesan air mata itupun hadir kembali, askana hanya menangis betapa bahagianya dia melihat Ghalibie hari ini. Cowok inilah yang menjadi alasan kenapa air matanya tertumpah ke bumi yang sungguh terlihat gersang saat ini. Tak sanggup Ghalibie, mengucapkan bahwa sebenarnya, dia akan dipindahkan sekolah oleh orang tuanya ke Singapura. Alih-alih berpamitan ke Askana dia justru mengajaknya kencan, mungkin untuk yang pertama dan terakhir kalinya, mereka akan menghabiskan waktu bersama.

Sepeda berwarna pink itu melaju dengan santainya, diiringi ayuhan seorang anak manusia dengan senyumannya yang begitu menawan. Ciiittt....ciiitt.... sepedanya berhenti tiba-tiba ketika ada mobil yang menghentikan ayuhan sepedanya. Keluarlah Ghalibie dengan pakaian SMA yang sangat pas dengan badannya yang pelukable, dan tinggi. Dengan senyum Ghalibie menghampiri Askana, “kan, buat hari ini aja kita bolos sekolah yuk, kita kencan” dengan seringainya yang manis” ucapnya lembut. Askana hanya mampu mengangguk, kemudian sepeda Askana di taruh di atas mobil. Dan mereka berangkat, berdua saja, iya berdua saja.

Tidak pernah senyum Askana seindah itu, bahkan giginyapun terlihat ketika dia tersenyum, Ghalibie selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa dengan semua kekonyolannya. Askana merasa begitu nyaman dengan suasana seperti ini, seakan semua masalahnya sirna, masalah hidupnya, kemiskinannya, kegundahnya, semuanya, hilang.

Ghalibie menghentikan mobilnya, ketika mereka sampai diujung jalan, dimana sebuah pohon yang sangat besar berada diujung jalan yang bisa dibilang lembah. Pohon itu seperti batas ujung lembah yang dibawahnya sedikit menjorok lebih rendah dari daratan disekitarnya. Pohon itu sangat rindangnya, berdiri kokoh dengan dedaunan yang rindang yang sedang di goyang-goyangkan oleh angin. Lalu mereka turu dari mobil memandangi pohon yang rindang itu bersama. “lo punya Fla, kan, begitupun gue, ketika banyak masalah dan gue pengen banget teriak, gue pergi kesini di pohon ini gue tumpahin semua masalah gue ke pohon ini”, ucap Ghalibie. Askana kemudian melihat wajah Ghalibie, untuk sesaat mereka saling bertatapan beberapa saat kemudian saling tersenyum. Untuk kesekian kalinya Ghalibie menarik tangan askana untuk mengikutinya, turun ke bawah pohon melewati ilalang-ilalang liar, menuju ke sebuah tempat dimana bunga-bunga yang berjumlah sangat banyak seperti ditaburkan tumbuh dengan indahnya, bunga itu berwarna kuning, setinggi dada mereka. Askana hanya takjub melihat indahnya bunga berwarna kuning yang begitu banyak ini, dia sangat takjub dan hanya mampu diam. “indah ya kan, bunga ini, gue pernah berjanji sama diri gue sendiri, nanti ketika gue suka dengan cewek dengan tulus untuk pertama kalinya gue bakalan ngajak cewek itu kesini, ke tempat ini” ucap Ghalibie. “makasih bi, makasi banget buat semuanya”, ucap Askana lembut. Tak tahan lagi Ghalibie melihat senyum  cewek yang amat disayanginya ini, mungkin ini adalah hari terkhirnya untuk bisa bersama dengan cewek ini. Langsung saja, Ghalibie menarik tangan Askana dan memeluknya erat, sangat erat seakan tak mau melepasnya, Ghalibie hanya diam, dan diam-diam meneteskan air matanya.

“Bie, bie gue gak bisa nafas bie”, ucap Askana sesak. “oh, sorry kan” Ghalibie segera melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. “lo, kenapa bie?”, “Ah, gak apa-apa kan,kelilipan”, ungkap Ghalibie lalu tertawa. “pokoknya, hari ini kita abisin waktu berdua ya kan, kita seneng-seneng, kita nonton bareng, kita foto bareng, kita jalan-jalan bareng, pokoknya hari ini kita ngabisin semua waktu harus bareng, hanya berdua ya. Askana hanya mengangguk dan tersenyum, hanya aneh dalam pikirnya, kenapa Ghalibie seperti ini, tidak pernah sebelumnya Askana melihat ghalibie menangis. Dalam hati yang terdalamnya, tak sanggup Ghalibie mengatakan bahwa sebenarnya dia akan pergi, dia akan pindah yang mungkin akan selamanya, tak sanggup juga dia menceritakan sebenarnya dia menghilang seminggu tak ada kabar karena dia harus mengikuti serangkaian tes untuk beasiswanya ke Singapura, dia tak sanggup mengatakannya, apalagi melihat senyum Askana yang begitu tulus hari ini.


Hari itu mereka menghabiskan waktu hanya berdua, melakukan segalanya berdua, foto bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng. Mungkin hari ini salah satu hari yang sangat indah dalam hidup Askana, bisa bersama dengan orang yang sangat disayanginya. Atau itu juga yang dirasakan oleh Ghalibie, yang walaupun adalah juga hari terakhirnya bersama Askana.

Sunday, 18 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (5)

              Setelah kejadian malam itu, semakin besar cinta Askana terhadap Ghalibie, dia selalu menderma senyumnya untuk Ghalibie dalam kediaman yang penuh arti. Sampai saat inipun Ghalibie tidak ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa bukan dia yang menolong Askana, tetapi Riuza. Dia tidak ingin kehilangan moment saat Askana kini hanya tersenyum untuk dirinya. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dianggap pahlawan dengan orang yang sangat dia sayangi adalah hal yang tidak ternilai. Perasaannya kepada Askana semakin Indah dan terasa kian nyata saja, dia hanya ingin melindungi Askana. Dan tidak mau melihat Askana dalam kesulitan.

            Mata yang lain itu jauh, walaupun begitu tak pernah lepas matanya menangkap kemanapun Askana pergi, dia kawatir dengan keadaan Askana selepas malam itu dihutan.

            Walaupun dengan kondisi badan yang lemah, namun tidak dengan hati Askana, malam itu kekuatan hatinya serasa di recharge oleh Ghalibie, di dalam tenda kesehatan dengan terkulai lemas dia tak hentinya tersenyum, melihat Ghalibie telah tertidur dengan wajah yang tersangga di atas tempat tidur Askana. Tangan Ghalibie memegang erat tangannya yang dingin. Tak ingin dia melepaskan tangan yang telah begitu hangat ini, tangan seorang pahlawan yang telah menolongnya selalu, tangan orang yang begitu menerimanya apa adanya, tangan orang yang selalu membuatnya tersenyum disaat dirinya sendiri tak mampu buat tersenyum.

            Bayangan yang selalu mengikuti Askana, hanya berdiri mematung memandang bulan dari kejauhan, bulan malam ini begitu indahnya, terang berani menampakkan sinarnya. Terkadang dia mengutuk dirinya sedniri karena tak mampunya untuk sekedar dekat dengan Askana. Dan mengapa dia hanya berani menolong disaat Askana tidak mengetahui bahwa yang menolongnya itu adalah dia, yak dia hanya ingin segera menyerah saja, menyerah dengan perasaannya, menyerah dengan semua usaha yang dia lakukan yang tampaknya hanya sia-sia saja.

            Askana telah bosan hanya tidur seharian di tenda kesehatan, kemudian malam itu dia niat keluar untuk berjalan-jalan memandangi indahnya bulan dan awan yang terlihat bagai lukisan, dia ingin merefresh pikirannya. Dengan berbekal senter dia berjalan menyusuri malam keluar tenda, dia tidak membangunkan Ghalibie guna membangunkannya. Ghalibie terlalu capek pikirnya, dia sudah seharian menjaga dan merawat Askana. Dari kejauhan Askana melihat sosok cowok yang sedang berdiri juga memandangi indahnya bulan seperti dirinya, siluetnya begitu sempurna, tinggi tegap dengan kedua tangan panjangnya yang dimasukan ke dalam saku celananya. Lelaki itu memakai jaket berwarna biru dongker, setidaknya itulah sedikit yang bisa dia lihat di kegelapan malam dengan buta ayam yang dideritanya. Tepi entah mengapa, dia seperti mengenal sosok cowok itu, kemudian dia mengingat-ingat tentang cowok berjaket biru dongker. Pikirannya melayang, dia mengingat bahwa ibu Siti pernah memberitahunya bahwa orang yang telah mentransfusi darah ke ibunya adalah orang yang memakai jaket biru dongker. Lelaki itu dari kejauhan menatap ke arahnya, kaget dan kemudian lari. Askana segera mengikuti cowok tersebut lari, dia sungguh penasaran, walaupun sangat kecil kemungkinan bahwa yang menolong ibunya adalah lelaki yang barusan dia lihat, namun kenapa lelaki itu harus lari ketika melihatnya. Dia sedang mengejar lelaki itu saat Ghalibie memegang erat tangannya, “Kan, lo mau kemana, lo rabun senja dan ini sudah malam, lagian badan lo belum sehat benar, ayo kembali ke tenda”, ucapnya. Askana hanya tersenyum dan menuruti nasehat Ghalibie, dengan pikirna tentang cowok itu yang masih bergelayut di benaknya.

            Setelah berkemah selama tiga hari maka selesailah sudah, mereka kembali bersiap-siap untuk pulang kembali ke Jakarta. Saat bertempat di Bis dia duduk di dekat Ghalibie seperti saat mereka berangkat. Saat sebelum bis berangkat, guru mengabsen satu-persatu murid yang ada di dalam bis apakah sudah lengkap semua atau belu, saat guru itu melewati tempat duduk Askana, tidak sengaja dia melihat inisial “G” di pulpen itu. Dia teringat dengan pulpen yang dia temukan saat dia membaca sebuah pengumuman tentang les privat di gang rumahnya. Inisial “G”nya sama dengan pulpen yang ditemukannya. Askana tidak akan secara langsung menayakan kepada guru tersebut siapa pemiliknya, dia tidak mau bertindak bodoh yang akan membuat orang misterius itu tak akan terbongkar identitasnya selamanya, dia hanya mengamati guru tersebut, akan ke siapa pena itu dikembalikan. Bis kembali berjalan untuk  mengantarkan mereka ke tempat asal. Di dalam perjalanan Ghalibie tak henti-hentinya membuat Askana tercengang akan lawakannya yang membuatnya selalu tertawa, dialah orang yang sangat membuat Askana nyaman dan aman jika bersamanya.

            Bis telah sampai di sekolah mereka, semua siswa telah dijemput oleh supir pribadinya masing-masing, Askana hanya termenung. Ghalibie yang sedari tadi bersamanya tiba-tiba saja menghilang, padahal dialah orang yang memaksanya untuk mengikuti serangkaian acara ini. Dia masih saja menunggu, terus menunggu samapai malam menjelang dan tidak ada satupun yang tersisa dalam sekolah itu, mereka semuanya telah pulang.

            “lo, sendirian?” ucap Riuza. Askana kaget bukan kepalang, orang yang selama ini dianggapnya sinis dan kaku ternyata mau juga menyapanya. “iya, za” ucapnya terbata-bata. “Ghalibie, mana?” ucapnya sekali lagi.” Aku juga ga tau, sedari tadi aku nunggu dia tapi dia ga muncul-muncul”, ucapnya dengan menunduk. Dengan cekatan Riuza mengambil tas dan barang-barang milik Askana kemudian dimasukan ke dalam mobilnya. Askana berlarian dan menyusul Riuza dengan bingung melihat tingkah laku Riuza, “Masuk!” ucap Riuza kasar. Askana hanya diam saja, lo mau masuk apa mau tinggal sendirian di sekolah ini, ucapnya lagi ketus. Riuza telah menstarter mobilnya saat Askana sedang di luar bengong dengan semua ini, dia hanya bingung kenapa Riuza masih disini, padahal tadi tak sengaja dia melihatnya sudah pulang dijemput sopir pribadinya. Namun, tetap saja berdua di dalam mobil bersama Riuza tak membuatnya berdamai dengannya, Riuza tak pernah mau ngobrol dengannya, bahkan hanya untuk melihat Askana sekejap saja.

            Mereka bagai sedang berada di dalam kuburan saja, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Riuza tetaplah seperti es yang luar biasa dinginnya, yang bahkan Askana tak mampu hanya menyentuhnya sesaat. Karena tak ada sepatah katapun yang terucap, saat mendekati gang rumahnya untuk mengucapkan terima kasih, Askana hanya menuliskannya di atas buku yang terletak di Dasbor mobil Riuza, namun betapa terkejutnya dia, pena yang dia pegang berinisial “G” sama seperti yang di punyainya. Hatinya berkecamuk, mungkinkan Riuza adalah orang yang selama ini selalu menolongnya, tapi masa iya orang kaku dan keras kepala seperti itu mempunyai hati selembut malaikat, ah inik tidak mungkin, pastilah aku mimpi, aku mimpii. Dia segera mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Dengan tenang dia kembalikan kembali buku dan pena tersebut di dasbor kembali.