Elegant Rose - Working In Background

Tuesday, 19 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (4)

            Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pundaknya dia lalukan, jikalau memang tuhan mengirimkan seorang malaikat penjaganya dia sangatlah bersyukur. Sampai terkadang dia berfikir dia bukanlah seorang manusia, mungkin dia semacam roh tau makhluk astral kiriman sang ayah untuk menjaganya. Tapi hal itu adalah mustahil, mana mungkin di dunia nyata seperti sekarang masih ada hal seperti itu. Yang demikian hanya ada dalam dongeng dan film imajinasi. Siapapun orangnya titipkan rasa terima kasihku yang tak terungkapkan ya tuhan, semoga orang itu selalu dalam lindungan, berkah dan rahmatmu.

            Tak terasa semester IV telah terlewati, tak diragukan lagi Askana tetaplah menjadi sang juara umum. Tapi entah kenapa berat rasanya meninggalkan sekolah ini, padahal biasanya hari libur sangat ditunggunya, dia dapat dengan leluasa membantu ibunya bekerja untuk tambahan tabungannya masuk Universitas. Mungkin bukanlah sekolah yang berat ia tinggalkan tapi Ghalaibie, jika masa liburan telah tiba maka tak dapat dia melihat wajahnya lagi, dan mungkin tak ada hal istimewa dan tidak terduga yang dilakukan Ghalibie untuknya, dan juga sahabatnya yang sangat pendiam, Fla, pastilah harinya akan kesepian tanpa Fla dan Ghalibie disampingnya. “Kan, liburan ini lo mau liburan kemana?” ucap Uzda. Dengan senyumnya dia menjawab “seperti biasa da, bantu ibu di rumah”. “waah sayang banget ya, padahalkan liburan”, Askana hanya menyunggingkan senyumnya. Bukanlah hal yang berat ketika harus bekerja keras ketika liburan, hal inipun selalu dilakukannya semenjak Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang di deritanya tiga tahun lalu. Tak ada penyesalan baginya untuk membantu sang ibu, hanya sedikit berat saat harus tak melihat wajah Ghalibie saat libur menjelang.

            Ibu Askana memiliki toko kelontong di rumahnya, ya walaupun tak terlalu besar, tapi toko ini masih mampu menyokong kehidupan kedua wanita ini. Ketika libur menjelang Askana membantu ibunya, membeli barang-barang yang akan di jual di pasar atau membantu berjualan. Pagi itu dia sedang melayani pembeli ketika Ghalibie nyelonong masuk ke tokonya dan menarik tangan Askana, meninggalkan begitu saja pelanggan yang sedang membeli. Ghalibie menarik tangannya dan membawa Askana masuk ke dalam rumahnya, dengan bingung Askana hanya pasrah kemanapun tangan Ghalibie membawanya, walaupun Ghalibie kurus tetap saja Askana tak mampu melepaskan tangannya. “bu, saya Ghalibie teman Askana yang tempo hari kemari, saya ingin meminta izin untuk membawa Askana pergi berlibur bersama rombongan kelas kami ke puncak” ucapnya tegas. Askana hanya diam dengan wajah bingung mendengarkan ucapan Ghalibie, dia sama sekali tidak memberi kabar mengenai liburan ini, padahal Ghalibie bisa saja menelfon atau sekedar sms untuk mengabarinya terlebih dahulu. Askanapun langsung melepaskan tangannya kesal, “kamu, belum sempat Askana menyelesaikan perkataannya ibunya menjawab “iya gak apa-apa nak, saya izinkan tapi tolong Askana di jaga ya, dia anak ibu satu-satunya dan paling ibu sayangi”. “tapi bu!” teriaknya. “gak apa-apa, pasti kamu bosan kan liburan di rumah terus, kamu juga sudah sering membantu ibu, ini saatnya kamu menikamti liburanmu”, ucap ibunya lembut. Ibu Askana begitu bersemangat dia menanggalkan celemeknya dan membantu Askana berkemas. Dengan senyum bahagia, Ghalibie menunggu di depan mobilnya.

            Setelah berpamitan dengan sang ibu, pagi itu Askanapun masuk ke dalam mobil Ghalibie, dengan diantar sang supir. Rasa penasaran Askana memuncak seketika “liburan?sekelas?” tanya Askana. “ iya rencananya juga dadakan, kan kita udah kelas XI takutnya nanti gak bisa liburan bareng” ucapnya lembut. Mobil melaju menuju ke sekolah mereka, pagi itu teman sekelas Askana telah ramai berkumpul di halaman sekolah diantar orang tua mereka masing-masing, bis juga sudah menunggu, tak berapa lama setelah mereka datang, guru memerintahkan mereka untuk segera masuk ke dalam bis karena perjalanan akan segera dimulai.

            Di dalam bis Askana duduk dengan Ghalibie, sial baginya karena di sampingnya adalah tempat Riuza duduk. Ini adalah saatnya aku bahagia, dia coba menyingkirkan bayangan Riuza yang mungkin saja akan mengganggu liburannya, anggep dia ga ada, anggap dia tembus pandang, dia coba mensugesti dirinya sendiri.

            Perjalanan panjangpun dimulai, bis melaju dengan kecepatan sedang. Bis siang itu begitu ramai dengan siswa-siswi yang sesekali menyanyi bersama dan bersenda gurau. Askana hanya tersenyum melihat pemandangan ini, baru kali ini dia merasakan masa-masa indah SMA yang sering dibicarakan orang. Apalagi ada Ghalibie yang duduk disampingnya, Ghalibie dengan celotehnya memberi tahu ini dan itu ketika melihat sesuatu yang menarik di pinggiran jalan yang mereka lalui. Walaupun terkadang hanya ditanggapi dengan senyuman, tapi, Ghalibie tak pernah bosan untuk menceritakan semua hal yang diketahuinya kepada Askana. Askana begitu menikmati perjalanan ini, dia dapat dengan leluasa memandangi siluet Ghalibie, betapa sempurnanya wajah orang baik ini.

            Malampun menjelang, suasana bis yang riuh rendah kini telah disambut dengan kesunyian, mereka telah lelah. Lampu di dalam bis mulai di matikan satu-persatu. Kantukpun segera menyerang Askana, kepalanya hampir jatuh ketika tangan Ghalibie dengan cekatan memegangnya dan menaruhnya ke pundaknya. Tak ada rasa yang dapat diungkapkan Ghalibie malam itu, dadanya penuh sesak dengan limpahan rasa sukanya kepada Askana. Dan malam ini, disampingnya tertidur gadis manis yang disukainya, dia tak mau melewatkan momen ini, dia akan memandangi wajah ini sepanjang malam. “bahkan saat tertidur kau terlihat begitu manis Askana”, ucapnya lembut.  
    
            Matahari begitu terik ketika bis yang mereka tumpangi sampai di tanah perkemahan di puncak, walaupun matahari begitu terik namun dingin masih merenggut haknya untuk menyebarkan panas. Siang itu teteplah terasa begitu dingin di puncak, dengan cekatan Ghalibie segera mengalungkan syalnya kepada Askana, dan untuk kesekian kalinya Askana hanya menurutinya.

            “silahkan istirahat anak-anak, sebentar lagi kita akan makan siang”, ucap guru pembimbing. Merekapun segera menempati tempat yang telah disediakan untuk sejenak beristirahat. Setelah makan siang dibagikan, bersama-sama mereka menyantap menu makan siang itu.

            Tenda-tenda segera didirikan, tenda antara laki-laki dan perempuan berbentuk melingkar berhadap-hadapan di batasi dengan tanah lapang, untuk api unggun dan pentas seni. “anak-anak, ayo semuanya berkumpul, kita akan bagi kelompok untuk hiking siang ini ya” arahan sang guru. Merekapun dengan seksama medengarkan arahan-arahan sang guru apa dan bagaimana hiking itu dilakukan. Setelah kelompok dibagikan, masing-masing kelompok tersebut diberikan peta hiking yang akan mereka lalui. Seperti biasa Ghalibie memaksa untuk satu kelompok dengan Askana, tapi hal itu ditolak oleh panitia penyelenggara karena nanti ditakutkan akan terjadi kedengkian oleh siswa yang lain. Karena pembagian kelompok ini dilaksanakan secara acak.

            Sial bagi Askana, alih-alih satu kelompok dengan Ghalibie, yang dapat melindunginya, dia satu kelompok dengan Riuza. Ya satu-satunya teman cowok yang sangat sinis dan membenci dirinya.  Dia hanya menyugesti dirinya bahwa Riuza transparan, anggap saja dia tidak berwujud, dan tak tampak wujud nyatanya. Askana begitu takut bahwa hikingnya kali ini tak akan menyenangkan bila harus satu kelompok dengan Riuza. Satu kelompok terdiri dari lima orang, selain dirinya dan Riuza masih ada tiga temannya yang lain. Karena jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk mereka berjalan bersama, maka mereka berjalan beriringan pada jalan setapak itu. Askana berjalan paling akhir, karena tidak mau terlalu dekat dengan Riuza yang berjalan paling depan sebagai ketua kelompok.

            Ketika berjalan berkelompok mereka diharuskan agar selalu menyanyikan yel-yel kelompok sepanjang jalan, hal ini dilakukan agar tidak ada yang melamun dan untuk memastikan anggota kelompok masih lengkap. Senja telah membayang, saat mereka masih berjalan dengan santainya sambil menyanyikan yel-yel kelompok, ketika Riuza tiba-tiba berhenti, entah mengapa dia menghentikan langkahnya, dia menghitung lagi anggotanya, dan betapa terkejutnya dia saat berhitung anggotanya hanya tersisa tiga orang, Askana hilang. Riuza kalut, dia adalah ketua kelompoknya dan hilangnya Askana adalah tanggung jawabnya, kemudian dia berpesan kepada ketiga temannya untuk memfoto peta tersebut dan mengikutinya sampai akhir dan beritahukan kepada guru bahwa Askana telah hilang. Dia akan mencari Askana terlebih dahulu menggunakan peta yang asli.

            “Kaaaan, Kaaanaaa,,, teriaknya diikuti gema yang menggema pada hutan senja itu, langit begitu gelapnya, tak ada sedikitpun sahutan dari Askana, dia berlari kesana kemari berteriak-teriak mencari keberadaan Askana, tak habis pikir olehnya kemana Askana pergi, tak ada suara apapun ketika Askana menghilang, dia juga lupa membawa senter, dia hanya membawa korek api gas dikantongnya yang akan dia pergunakan untuk menghidupkan api unggun malam ini. Malam telah tiba, hutan ini begitu gelap dan menakutkan ketika malam menjelang apalagi dia hanya seorang diri, mengapa tak ada bantuan datang pikirnya, apakah mereka kini sulit untuk menemukannya? Apakah dia terlampau jauh masuk kedalam hutan? Ketakutan segera merayapinya. “aaaaakkk… teriaknya ketika tiba-tiba ada tangan yang memegang celananya, dia tak berani sama sekali melirik siapakah yang menarik celananya, hanya bayangan suster ngesot yang ada dibenaknya. Dengan ketakutannya diberanikanlah dirinya untuk membuka matanya pelan-pelan, ternyata yang dia lihat adalah Askana sedang terbaring tak berdaya.

            “kaan, ini gue.. lo ga pa pa?” ucapnya lembut. “iya bie”, ucap Askana dengan suara paraunya, Askana kedinginan suaranya habis, hal itu diperparah dengan buta senja yang dideritanya, di hutan malam itu, Askana sama sekali tidak dapat melihat apapun, termasuk siapa orang yang menolongnya malam itu.

            Dengan cekatan Riuza membopong Askana yang tengah lemas tak berdaya, ditengah gelapnya hutan dia mencari-cari tempat yang sedikit terbuka dan aman yang dapat mereka tempati untuk malam itu. Karena malam sangatlah dingin, untuk meletakkan Askana di tanah tak tega dia melakukannya, kemudian Riuza mengumpulkan dedaunan yang kering untuk dijadikan alas Askana berbaring dan beberapa dahan kering untuk dibakarnya guna menghangatkan tubuh mungil Askana.

            Askana tidur meringkuk menahan dingin, tubuhnya gemetar, ternyata api yang dinyalakan tidak cukup untuk menghangatkan tubuh Askana, Riuza segera melepaskan semua pakaiannya guna menyelimuti tubuh Askana. Dia tak tega melihat Askana kedinginan. Dengan berbalut celana jeans dan kaos dalamnya, Riuza menghangatkan dirinya di dekat api unggun yang dibuatnya, serta menjaganya untuk tetap hidup, dia membuat matanya tetap terjaga sepanjang malam kalau-kalau ada babi hutan yang menyerang mereka.


            Pagi-pagi rombongan guru dan beberapa siswa menemukan mereka berdua di tengah hutan, dengan kondisi Askana yang lemah dan Riuza yang meringkuk menahan dingin. Ghalibie hanya menatap nanar kepada Askana yang tertidur tak berdaya di atas tumpukan dedaunan kering. Dia berlari seribu langkah untuk segera membopong Askana kedalam tandu, dia membuang begitu saja baju Riuza sembarangan, yang ada dalam benaknya adalah tubuh pucat cewek yang disukainya, dan dia sama sekali tidak dapat menolongnya. Setelah diselimuti, Riuzapun dipapah beberapa temannya. Askana memegang tangan Ghalibie disampingnya, dengan mata sedikit terpejam mengucapkan terima kasih kepada Ghalibie, diapun hanya membalasnya dengan senyuman manis.

Friday, 15 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (3)

          Gosip mengenai kedekatan Askana dengan Ghalibie segera menyebar ke seluruh penjuru sekolah, setiap siswa ketika berkumpul selalu menceritakan tentang apa yang dilakukan Ghalibie untuk Askana. Askana hanya membiarkan gosip itu berlalu melewatinya bagaikan angin. Dia tidak mau memikirkannya, apalagi untuk menjalin hubungan khusus dengan Ghalibie adalah hal yang mustahil. Ghalibie adalah seorang cowok tampan, kaya dan cerdas, sangat bertolak belakang dengannya, hanya satu hal yang mungkin dapat ia unggulkan dibandingkan Ghalibie, yaitu otaknya. Walaupun dengan kondisi ekonomi yang kurang Askana tetaplah seorang siswi yang cerdas. Bukan bermaksud untuk bermunafik kepada dirinya sendiri, tetapi dia terlampau sadar siapa dirinya dan siapa Ghalibie itu, dia membuang jauh-jauh bayangan dan anggapan teman-temannya bahwa apa yang dilakukan Ghalibie adalah suatu hal yang istimewa, dia tak mau larut akan arus yang seolah-olah menariknya untuk mengambil kesimpulan bahwa Ghalibie suka padanya,  di benaknya Ghalibie hanyalah cowok baik yang kasihan dengan gadis miskin seperti dirinya.

            Dia tengah membawa bekal ketika tiba-tiba ada tangan yang begitu ia kenal, menggandeng tangan kirinya, kemudian tangan tersebut menariknya untuk berlari. Askana hanya menurutkan langkahnya mengikuti cowok tersebut, mereka berhenti di bawah pohon Flamboyan, tempat istimewa Askana. “duduk kan, hari ini gue juga bawa bekal, kita makan bareng ya” ucapnya bersemangat. Askana hanya diam membisu, dia memperhatikan senyuman yang menentramkan itu, “hai! Jangan ngelamun dong, ayok dibuka, gue udah bangun subuh-subuh nih buat bikin bekal hari ini, gue ga pernah liat lo ke kantin dan denger dari anak-anak lo sering makan kesini, yaudah gue bawa bekal juga, biar bisa bareng makan sama lo” celotehnya. Askana hanya melemparkan senyum padanya, bukan senyum yang biasa ia torehkan, kali ini Askana tertawa tanpa suara ,terlihat deretan gigi putih nan rapi miliknya, matanya sedikit menyipit, sungguh manis. Tak biasanya Askana dapat tertawa seperti itu, bahkan kepada ibunya, Ghalibie adalah cowok yang beruntung yang dapat melihat senyuman manis Askana. Kali ini giliran Ghalibie yang diam membisu, dia terpesona dengan senyuman Askana, dia tidak menyangka bahwa gadis pendiam ini memiliki senyum yang begitu manis, yang dapat membuat jantungnya berdebar tak karuan. Secara refleks Ghalibie, menutup bibir Askana dengan telunjuknya, “Kan, jangan pernah nunjukin tawamu yang seperti ini kepada orang lain ya” ucapnya serius. Askana bengong dan hanya menganggukan kepalanya, bingung. “Bukannya gue gak mau lo menderma senyum lo sama orang lain Kan, Cuma gue ga mau orang lain terpesona sama senyum lo dan suka sama lo, gue ga mau!” ucapnya dalam hati. Semilir angin siang itu begitu bersahabat, bunga-bunga Fla yang sedang bersemipun jatuh menghiasi makan siang dua insan yang sedang saling terpesona itu.

            Sore itu adalah jadwal Askana mengajari Ozi, dia sedang mengajarnya ketika telfon selularnya berdering, segera dia mengangkatnya, “Assalamualaikum Halo”, “Halo Kan ini bu Siti, ibu kamu tadi kepleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur, sekarang Ibu kamu di RS Abdi Waras, segera kesini ya” ucap suara di sebrang telfon panik. Askana menaruh telfon genggamnya tak berdaya, dia lemas dengan berita yang didengarnya ini, matanya berkaca-kaca.”kakak kenapa?”, Askana mengusap air matanya dan menjawab“hari ini pelajarannya ditutup dulu ya zi, kita lanjutkan besok lagi, ibu kakak sakit”, ucapnya dengan melempar senyum. Dia begitu tegar, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan orang, dengan tenang dia menemui ibu Wibowo dan meminta maaf untuk menyudahi kelas sore itu, Ibu Wibowopun mengerti dan mengizinkan Askana untuk pergi.

            Dibawah derasnya hujan, Askana mengayuh sepedanya dengan sangat kencang, dengan bulir-bulir air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Ia menangis di bawah guyuran hujan, karena dia tahu, hujan akan melindunginya dari penglihatan orang di sekitarnya, bahwa dia sedang menangis. Saat tiba di RS di langsung menuju ke dalam bilik yang telah di beritahukan bu Siti kepadanya, ternyata ibunya sedang dirawat di ICU karena mengalami gegar otak dan pendarahan. Ibu Siti juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini, karena hal sepele sampai harus mengalami pendarahan dan kehilangan banyak darah. Askana tak mampu membendungnya lagi dia jatuh bersimpuh di lantai dan menangis tersedu-sedu. Dia menangis dengan begitu kuatnya sampai siapapun yang lewat akan menatapnya. Ibu Siti sibuk mencari pendonor untuk ibu Askana, karena Askana telah lemas dan tak mampu mendonorkan darah miliknya. Cowok itu segera menyelimuti Askana yang tengah tersungkur dengan jaket merah miliknya, kemudian dia menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU. Dia mendudukkan Askana di sampingnya, memegang kepalanya supaya bersandar di bahunya, juga mengusap air mata Askana menggunakan tisu. “menangislah, keluarkan semuanya, jangan mencoba menjadi kuat” ucapnya. Askana hanya menatap mata Ghalibie dengan matanya yang sembab, cowok itu sekali lagi, dapat membuatnya tentram setiap Askana disisinya, dia dapat membuat Askana merasa nyaman disampingnya.

            Beberapa jam kemudian, ibu Askana dapat keluar dari ICU setelah ibu Siti membawakan pendonor kepadanya,”Kan nanti ucapkan terima kasih sama teman cowokmu ya, dia yang udah donorin darah buat ibumu”, ucapnya dengan senyum. “siapa bu?” “ibu ga tahu namanya, dia Cuma bilang temanmu, dia baru saja pulang kok kalo mau berterima kasih, dia memakai jaket biru tua”, terangnya. Tanpa berpikir panjang Askana mengambil langkah seribu, meninggalkan Ghalibie dengan Ibu Siti yang terheran-heran dengan tingkah Askana, Askana memanglah gadis yang tidak dapat ditebak. Askana lari dengan seribu pertanyaan di benaknya, kali ini dia harus menemui sosok ini, mungkin ini adalah orang yang selalu menolongnya, dia sangat ingin berterima kasih kepadanya. Sepanjang lorong menuju pintu keluar tidak terlihat sosok menggunakan jaket biru tua seumuran dia, dia mencari mengelilingi tempat parkir dan bertanya dengan orang-orang disekitar, mereka sama sekali tidak tahu. Cowok berjaket biru tua itu hanya mengamati tindakan Askana dari jauh, dia sembunyi di balik dinding pagar. Dia belum siap jika kali ini dia harus membongkar identitasnya, saat ini bukanlah saat yang tepat bagi Askana untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Askana sibuk mencari dan terhenti di pagar RS itu, dia sedang menengok ke arah dinding pagar tempat cowok berjaket biru tua itu bersembunyi dan melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Ghalibie memegang bahunya, “Kan, ibumu telah siuman dan mencarimu”.

            Dengan lunglai dia membalikkan badannya dan mengikuti langkah Ghalibie menuju tempat ibunya di rawat, dia masih penasaran siapakah orang itu, siapakah dia sehingga harus selalu menolongnya.

            Askana sedang duduk disamping ibunya yang terbaring lemah, ketika tangan Ghalibie menariknya keluar ruangan, Ghalibie menyerahkan kantung kresek putih kepadanya. “mandi dan bilas rambut lo, pakai baju itu, gue ga mau ngeliat lo sakit karna kehujanan”  ucapnya penuh perhatian. Askanapun menuruti permintaan Ghalibie, dan sebagai gantinya Ghalibie masuk ke ruang tempat ibu Askana dirawat menjaganya sementara Askana mandi.

            Senyum berkembang dibibirnya, ketika melihat Ghalibie tertidur  di samping ibunya, dia menyelimutkan jaket merah itu ke pundak Ghalibie yang tertidur pulas. Askana segera mengambil kursi di sampingnya, dan mengamati setiap lekuk wajah Ghalibie, wajah ini yang selalu ada disampingnya saat dia dalam derita, wajah ini yang mampunyai senyum indah yang selalu meronakan pipinya, wajah ini yang semua tindakannya selalu membuat Askana merasa istimewa. Ghalibie terbangun, Askanapun segera memejamkan matanya pura-pura tidur. Ghalibie segera menggendong Askana dan menidurkannya di sofa tak jauh dari tempat tidur ibunya, dia mengambil selimut dan menyelimuti Askana, “bahagialah kan, gue ga sanggup buat lihat lo nangis kaya tadi karena gue sayang lo”, ucapnya lembut sambil mengusap-usap rambut Askana. Kemudian dia memakai jaket merahnya dan pergi. Askana membuka matanya, dia menepuk-nepuk pipinya, ini bukan mimpi pikirnya. Sangat jelas terdengar apa yang diucapkan Ghalibie tadi, hatinya kembali berkecamuk.        

            Siang itu ibunya telah diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit, Askana telah membongkar tabungannya dan meminjam uang kepada Ibu Siti guna membayar biaya perawatan ibunya. “maaf mbak, seluruh  biaya perawatan ibu anda sudah ada yang membayarnya” ucap suster. “siapa?”, “dia tidak mau memberikan identitasnya, dia hanya meninggalkan surat ini buat mbak”, ucapnya menerangkan. Lagi-lagi kertas biru muda itu, yang bertuliskan:

Tersenyumlah selalu, tangismu adalah deritaku

            Bertambah rasa penasarannya, mengapa dan siapakah orang ini, jika orang ini adalah Ghalibie tidaklah mungkin karena dia selalu disampingku. Mengapa dia melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir di benaknya.
           
           
           

            

Thursday, 14 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu (2)

             Langit begitu terik ketika Askana pulang dari sekolahnya, hari ini adalah jadwalnya untuk mengajar Ozi. Dia segera mengambil sepeda dan mengayuhnya santai. Dia menikmati angin yang dihembuskan pepohonan sore itu. ketika menghindari lubang, tanpa sengaja ada mobil berkecepatan tinggi yang sedang melaju menyerempetnya, Askanapun ambruk dia tersungkur mencium panasnya aspal. Sepedanya koyak, tubuhnya terpental beberapa meter. Sialnya, mobil yang menabraknya melarikan diri dan tak bertanggung jawab. Dengan setengah kesadaran dia bangun, sembari duduk dia hanya dapat menatap nanar pada kondisi si merah, terlalu banyak goresan ditubuhnya, bahkan hanya untuk sekedar bangunpun tak mampu dilakukannya, dia lemas. Sosok yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi segera mengambil langkah seribu, dia lari. Tetapi langkahnya segera berhenti ketika ada cowok lain yang turun dari mobil dan membantu Askana.

            Cowok itu keluar dari mobilnya dengan langkah yang terburu, dia langsung menggendong Askana yang tengah lemas tak berdaya. “gak usah Bie, kamu ga perlu kaya gini, aku ga papa kok” ucap Askana dengan tangan yang menahan bahu Ghalibie supaya tidak menggendongnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ghalibie mendengar penolakan Askana, dia bangkit dan menggendong Askana di kedua tangannya, mukanya begitu kawatir melihat kondisi Askana dengan tubuh yang penuh goresan dan bermuka pucat. Askana tak mampu lagi menolaknya, tubuhnya terlalu lemas untuk menolak Ghalibie, dia hanya pasrah saat Ghalibie menggendong dan memasukkannya ke dalam mobil.

            Mobil Ghalibie melaju kencang dia hendak mengantarkan Askana ke rumah sakit terdekat, “kita ke rumah sakit ya kan,?” ucapnya. “ga usah bie, anter aku ke rumah aja, dikasih obat merah ntar juga sembuh kok”. Bukan bermaksud menolak ajakan Ghalibie, Askana hanya tidak ingin merepotkannya, karena dia juga tidak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit, dan jika dibawa  kesana Ghalibie pasti memaksa untuk membayarnya. Walaupun Askana adalah orang miskin, tapi dia pantang menerima pemberian orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu, itu adalah pelajaran yang sangat berharga yang diberikan sang ibu padanya. Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan mini mart, Ghalibie keluar meninggalkan Askana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Askana hanya termenung, apakah Ghalibie sangat marah karena penolakannya untuk membawanya ke rumah sakit sampai tidak mengucapkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian Ghalibie keluar dengan menenteng kantong kresek putih di tangan kanannya, saat masuk ke dalam mobil Ghalibie segera membuka dan mengambil plaster dan obat merah serta cairan pembersih luka. Dengan segera dia meraih tangan Askana yang dipenuhi goresan, “bie!” pekiknya Askana mencoba menarik tangannya namun Ghalibie dengan gesit menahannya. “gue pergi dengan diam, karena gue tau lo bakalan nolak kalo gue bilang beli obat ini, sekarang lo hanya perlu diam dan biarin gue obatin luka-luka lo ini” ucapnya sembari mengobati luka-luka Askana.

            Di jalanan tempat Askana jatuh, cowok yang sedari tadi memperhatikan Askana, hanya mampu mengumpat akan dirinya, mengumpat karena tak mempunyai cukup keberanian untuk menolong Askana. Dia memungut sepeda Askana yang telah rusak.

            Setelah selesai, Ghalabie memacu mobilnya kembali untuk mengantar Askana pulang, “sorry kan, gue lupa tadi bawa sepeda lo karena gue udah terlalu kalut liat kondisi lo yang lemah tadi, abis nganterin lo, gue bakalan balik buat ngambil sepeda lo” ucap Ghalibie. Askana hanya mampu tersenyum “terima kasih, bie!” hanya kalimat itu yang mampu terlontar dari bibirnya dari sekian banyak kata yang ingin diutarakan.

            Sesampainya di depan rumah, Ghalibie memapah Askana untuk masuk ke rumahnya, ibu Askana lari dari depan pintu dengan kecemasan yang tergambar jelas di raut wajahnya. “kenapa kamu nak?” sambil melihat goresan luka dari tubuh Askana, Ghalibie pun panjang lebar menjelaskan apa yang telah terjadi pada Askana, yang kemudian pamit karena hari sudah larut. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ghalibie, sang ibu memapah anaknya ke dalam rumah dan membaringkannya. “istirahatlah dulu nak, nanti ibu ambilkan makan buat kamu”, “tidak usah bu, aku terlalu lelah aku ingin tidur” ucap Askana. Kemudian ibunya meninggalkan Askana untuk beristirahat.

            Malam itu kenyataannya Askana tak mampu untuk memejamkan matanya, bayangan wajah Ghalibie terekam jelas oleh otaknya, dia coba untuk menyingkirkan wajah itu berkali-kali, namun berkali-kali pula wajah itu kembali. Kejadian saat Ghalibie menyelamatkannya dari Monalisa dan saat dengan sabar Ghalibie mengobati luka-lukanya seolah terputar kembali. Dia bahagia, dia bahagia melihat senyum Ghalibie saat menatapnya, dan tangan dengan jemari panjang itu menyentuhnya, tapi dengan segera dia menyingkirkan kebahagiaannya. Mungkin Ghalibie hanya orang baik yang mengasihani gadis miskin seperti aku, ucapnya dalam hati.

            Pagi itu Askana nekat ingin berangkat sekolah, larangan dari ibunya sama sekali tidak didengarkannya, dia bangun pagi sekali karena hari ini si merah tidak ada. Dia harus berjalan beberapa ratus meter ke depan gang untuk menunggu bis, ya dia sangat sayang jika satu haripun absen, dia menyayangkan jika ilmu hari ini tidak ia dapatkan padahal ibunya telah mati-matian membiayai sekolahnya. Betapa kagetnya dia ketika membuka pintu rumahnya pagi itu, si merah dengan kondisi sangat sehat berada di depan matanya, tak ada lagi bagian yang terkoyak, semua bagus seperti sedia kala, ada kertas kecil berwarna biru muda tertempel di sadel sepedanya,

         Aku telah memperbaikinya sepanjang malam, pakailah! Aku tak mau tak melihatmu di sekolah.

Kertas itu berwarna sama seperti kertas yang berada pada jaket waktu itu, tulisannyapun sama, tapi lagi-lagi tidak ada nama maupun inisialnya. Walaupun dengan badan penuh luka dan goresan semuanya tidak terasa, Askana begitu bahagia, dia bahagia melihat si merah telah sembuh, dan sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah memperbaiki sepedanya.

            Saat tiba di sekolah dia langsung memarkir sepedanya, dengan langkah perlahan dan sedikit pincang dia berjalan menuju kelasnya. Ketika dia memasuki kelas seisi kelas memerhatikannya, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Askana sehingga begitu banyak plaster menghiasi tubuhnya. “lo jatuh dimana kan?” ucap Uzda kawatir. “Ah, Cuma kesrempet mobil doang kok, aku gak papa” ucapnya dengan senyum. Tak lama kemudian bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk di dalam kelasnya masing-masing. Acara ajar-mengajarpun berlangsung, “Askana, tolong kerjakan latihan no 5 di papan tulis dan jelaskan jawabannya kepada teman-temanmu” ucap Pak Sugiarto yang tak lain adalah guru fisika. Dengan yakin Askanapun maju dan segera mengambil boardmarker, tapi apa yang terjadi, tangannya terlalu kaku untuk memegang boardmarker, tangannya gemetar sehingga boardmarker yang dipegangnya jatuh, dia pun jongkok untuk memungutnya tapi betapa kagetnya dia ketika ada tangan lain yang juga memungut boardmarker itu. “sini biar gue tulisin”, ucap Ghalibie dengan senyuman yang sudah cukup untuk membuat pipi Askana merona merah. Seisi kelaspun riuh segera, teman-teman kelas mereka membully apa yang barusan dilakukan oleh Ghalibie. “oke tenang anak-anak” ucap Pak Sugiarto sembari memukul meja. Kelaspun seketika tenang kembali, dengan cekatan Ghalibie menulis jawaban Askana di papan tulis sesuai yang diarahkan, setelah selesai Ghalibie menaruh boardmaker dan melemparkan senyum kepada Askana, Askana hanya menunjukan wajah datar tanpa ekspresi, dia bingung.

            Entah mengapa siang itu begitu berwarna bagi Askana, dia membuka bekal dan segera menyandarkan punggungnya pada Fla. “fla, hari ini kamu cantik banget sih, kayaknya bunga-bungamu terlihat lebih indah, Fla! Aku sedang tak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatiku, entah mengapa Ghalibie memenuhi memori otakku. Dia tak mau pergi barang sekejap, Fla! Apa ini yang dibilang orang jatuh cinta? Apa jangan-jangan orang yang memberiku kertas biru itu Ghalibie juga Fla? Duuuhh ya ampuun kenapa orang itu begitu mengangguku sih” ucap Askana tanpa henti. Fla segera menggoyangkan dahan-dahannya dan menjatuhkan beberapa bunganya. Pipi Askana merona merah, senyuman selalu mengembang di bibirnya bahkan ketika dia sedang menyantap makan siangnya. Tapi tanpa diketahui Askana, ada seorang cowok sedang berdiri dibalik pohon Flamboyan, tepat di belakangnya. Cowok itu mendengar semua ucapan Askana, semuanya, cowok tersebut hanya diam dan menatap lagit menahan tetesan air matanya jatuh.

            Setelah selesai dia segera membereskan bekal makannya dan kembali ke kelasnya. Namun sial baginya, ketika berjalan di koridor dia bertemu dengan Monalisa dan gengnya “gimana enak kan dorong sepeda nyampe rumah?” ucapnya kasar. “dorong?” ucap Askana, dia bingung atas apa yang diucapkan Monalisa barusan, apa yang dimaksud dengan dorong. Dia hanya berdiri mematung, “siapa yang dorong sepeda” ucap Askana polos,  “Apa! Lo “ belum sempat Monalisa menyelesaikan kata-katanya, Ghalibie datang, dia langsung memegang tangan kanan Askana dengan tangan kirinya, dia menggenggamnya erat dan membiarkan Askana berlindung di belakang tubuh tingginya. “ga usah gangguin pacar gue!” jeddarr!! Bagai petir di siang bolong Askana kaget luar biasa,seperti mimpi dia belum siap atas apa yang didengarnya ini, segera Askana melepaskan tangan Ghalibie dan lari. Dia lari dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia lari setelah Ghalibie mengucapkan kalimat itu, apakah dia takut? Tetapi apa yang dia takutkan? Dia juga tidak tahu, dia hanya lari dan lari ke dalam kelasnya dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, mungkin yang dia takutkan adalah “jatuh cinta”.

            Tak lama setelah itu Ghalibie juga memasuki kelas, Askana mencoba menatap wajah Ghalibie dengan tatapan bersalah, tapi Ghalibie hanya membuang mukanya. Mungkin Ghalibie marah padanya karena telah lari begitu saja. Rasa bersalah kini begitu dalam dia rasakan, dia ingin berbicara dengan Ghalibie dan menjelaskan semuanya, tapi dia terlalu takut.


            Pada istirahat kedua Askana memutuskan pergi ke UKS untuk meminta obat, dia merasa kepalanya begitu pusing. Tetapi kondisi UKS siang itu sepi, mungkin karena istirahat petugas yang menunggu sedang sholat dzuhur, tak apalah pikirnya toh dia pernah menjadi petugas UKS dan mengetahui letak obat-obatan. Segera Askana mengambil obat di salah satu lemari, kemudian terdengar suara orang mengerang kesakitan, dengan segera Askana mencari sumber suara itu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ghalibie duduk tersungkur di lantai dengan tangan yang penuh darah, Askana mengambil langkah seribu diapun duduk di samping Ghalibie dan segera meraih tangannya, Ghalibie segera menarik tangannya kembali setelah mengetahui bahwa itu adalah Askana. “pergi” ucap Ghalibie perlahan, Askana hanya terdiam mematung. “pergi!” ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. Tubuh Askana bergetar namun tak mampu untuk meningbiekan Ghalibie seorang diri, dia duduk disamping Ghalibie dan menundukkan kepalanya. Ghaliabiepun hanya terdiam, karena dia tidak tega sebenarnya untuk mengusir Askana, rasa sukanya melebihi rasa bencinya. Kemudian Ghalibi menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Askana menggunakan telunjuknya, Askana hanya menjauh menghindari telunjuk Ghalibie.Ghalibiepun menyingkirkan rambut itu sekali lagi, dengan jelas dapat terlihat air mata Askana membasahi pipinya, Askana menangis. Dengan terisak Askana berucap “maafin aku bie, aku juga bingung kenapa aku tadi lari, tapi aku sama sekali ga bermaksud buat nyakitin hati kamu”. Ghalibie tak mampu berkata lagi, dia mengusap pipi Askana dan langsung meraih pundak cewek yang disukainya itu dan memeluknya.

Tuesday, 12 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu

Masa SMA adalah masa yang paling membahagiakan bukan? Masa dimana hati yang dahulu kosong kini mulai ditanami benih-benih kasih sayang . tiap benih-benih itupun merangkaikan kisahnya masing-masing. Ini adalah salah satu kisah yang dirangkaikan oleh salah satu benihnya.

Senyum manis itu selalu tersungging dibibir manis Askana Sakhi, cewek yang duduk di bangku kelas XI SMA itu selalu semangat mengayuh sepeda mini berwarna maroon miliknya. Dia tak akan menyerah untuk mengubah nasib yang kini tengah membelenggunya. Iya, dia dan ibunya berjuang bersama dalam menjalani beratnya ujian hidup tuhan kepada mereka. Mengayuh sepeda sepanjang 8 Km setiap haripun tak dikeluhkannya. Dia sadar dia bukanlah orang kaya seperti teman-temannya yang menggunakan mobil diantar orang supirnya atau sekedar naik angkot. Uang yang diberikan ibunya yang seorang single fighter ditabung olehnya, terkadang dia tidak kekantin sama sekali dan hanya memakan bekal yang dibawakan oleh ibunnya. Walaupun dia sekolah di salah satu sekolah ternama di kotanya, tapi bukan menjadi alasan baginya untuk malu, untuk menjadi apa adanya di depan teman-temannya.

            Tetapi untungnya, dia termasuk murid teladan di SMA tersebut. Banyak sekali syukurnya kepada Maha Besar Alloh, setidaknya ada otak yang dapat dia andalkan untuk merubah nasib.

            Pagi itu adalah pagi yang menyejukkan, entah kenapa angin pagi itu terasa begitu mendayu, wangi bunga melati di pinggiran jalan begitu memabukkan indra penciumannya. Dia hanya melebarkan ujung bibirnya dan memandang langit. Dan menjawab tiap sapaan teman-temannya ketika mendahuluinya. “Aku bersyukur ya Alloh aku mempunyai ibu yang luar biasa, mempunyai hari yang luar biasa dan si merah yang selalu mengantarkanku kemana-mana”, lalu menepuk stang sepedanya itu.

            Teman-temannya selalu menyambutnya dengan hangat ketika dia mulai memasuki kelas, hanya satu orang saja yang selalu cuek dan kasar padanya, Riuza dia adalah pesaing beratnya mereka bersaing memperebutkan gelar juara semenjak kelas X, mungkin karena itu pikirnya Riuza begitu sinis padanya.

            Siang itu kelas kosong dikarenakan guru-guru sedang ada rapat kenaikan kelas, sehingga kelas begitu gaduh. Karena tak suka dengan kegaduhan Askana bangkit dan membawa buku cetak fisikannya keluar, “mau kemana kan?” ucap Uzda teman sebangkunya. “biasa” ucapnya diiringi senyuman. Dia berjalan tak lagi menggunakan matanya, sambil membawa buku ditangannya dia begitu serius membaca dan menelusuri lorong sekolah ketempat kesukaannya. “Permisi” sapa seseorang, Askana pun berhenti, “iya” ucapnya datar.  “kenalin gue Ghalibie anak baru disini, lo tau kelas XI IPA 1 ga? “oh iya diujung koridor sebelah kiri, ada tulisannya kok” ucap Askana. “okey makasi ya!” Askana hanya membalasnya dengan senyuman. Tanpa memperdulikan cowok tersebut diapun lalu.

            Tempat favorit yang dia tuju adalah sebuah pohon flamboyan yang sangat besar berusia puluhan tahun berada di belakang sekolah. Disinilah tempat yang selalu menjadi persinggahannya dan menjadi teman curhatnya ketika makhluk hidup disekelilingnya tak sanggup memahami beratnya kehidupan yang harus dijalaninya. Pohon flamboyan ini sangat besar diameternya akan cukup untuk duduk dua orang saling membelakangi tanpa saling tahu, Fla begitulah Askana memanggilnya. Diapun duduk bersandar di pohon itu, belajar tentang bagian bab yang tidak ia mengerti. Askana adalah pendiam yang sering menyendiri, karena terkadang teman-temannya yang mayoritas adalah orang kaya tidak memahami tentang kehidupannya. Kemudian dia menutup buku fisikanya, “Fla, kamu baik-baik sajakan hari ini?” “kamu udah makan belum? Aku bawa bekal tuh, nanti siang kita makan berdua ya. Fla aku lagi bingung nih, SPP ku belum dibayar, tapi ga mungkin minta Ibu, aku ga tega, dia sudah sangat bekerja keras untuk kami bertahan hidup. Fla, aku pengen kerja, ngajar anak SD juga tak apalah, asalkan bisa kutabung uangnya untuk bantu Ibu bayar SPP. Tapi siapa coba yang mau mempekerjakan anak kelas dua SMA?”. Pohon Flamboyan itupun hanya menggoyang-goyangkan dahannya yang tertiup angin, tapi bagi Askana itu sudahlah cukup menjawab semua kegelisahannya.

            Teriknya sang raja siang tidak menghalanginya untuk mengayuh sepeda kesayangannya menelusuri jalan untuk pulang. Sesampainya di gang depan rumahnya dia menemukan selebaran, “Subhanalloh!” pekiknya, Alloh telah menjawabnya. Diapun mengambil selebaran itu dan menghubungi nomor telfon yang tertera. “Assalamualaikum” ucapnya, “Waalaikumsallam” ucap suara di sebrang telfon. “saya Askana bu, apa benar ibu sedang membutuhkan guru privat untuk anak ibu?, jika benar saya bermaksud mendaftar.” tanya Askana, “iya benar mbak, langsung saja besok ke rumah ya jam empat sore, denah lokasinya ada di selebaran kok, nanti saya jelaskan lebih lanjut di rumah, bisa mbak? “iya bu tentu saja terima kasih” , matanya berkaca-kaca, hanya senyuman yang dapat mewakili betapa bersyukurnya dia hari itu, “Alhamdulillah ya Alloh”.  “Aduh!” terdengar suara lelaki kesakitan, Askanapun lansung berlari mencari asal suara tersebut, namun tidak ditemukannya, yang dia temukan hanyalah pena hitam bertuliskan “G” di batangnya.

            Esok hari setelah pulang sekolah dia langsung menuju alamat yang tertera dalam selebaran tersebut. Rumahnya luas dan sejuk, dihiasi pohon-pohon besar nan rindang, dikelilingi oleh pagar hidup. Rumahnya bergaya jawa yang klasik, banyak ukiran khas jepara disana-sini. Pastilah orang yang punya rumah memegang teguh kebudayaan jawa, pikirnya. Setelah memarkirkan sepedanya dia mengucapkan salam, “Assalamualaikum”, tak lama kemudian pintuyang berbentuk gebyok itupun terbuka. “Waalaikumsalam, Askana ya? Saya ibu wibowo, Ayo masuk” ucap ibu itu ramah. “silahkan duduk, sebentar ya ibu panggilkan Ozi yang akan nak Askana ajar”. Askana hanya tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian, ibu itupun kembali membawa seorang anak lelaki, “kenalkan nak Askana ini Ozi anak saya, langsung diajar saja, keputusan diterima atau enggaknya nanti saya kabarkan setelah Ozi memberi komentar, karena jika dia nyaman maka akan lebih mudah untuk menyerap ilmunya” ucapnya. “baik bu” jawab Askana. Kemudian mereka duduk disalah satu gazebo rumah dan acara ngajar mengajar itupun dimulai.

            Malam itu Aksana bemunajat kepada Alloh semoga usahanya kali ini diberikan kemudahan dan kelancaran, lalu membaringkan tubuh kecilnya. Karena kelelahan, pagi itu Aksana kesiangan, Ibunya juga tak tega untuk membangunkannya karena tidurnya begitu pulas. Dia kemudian bergegas dan mengayuh sepedanya sangat kencang, sesampainya di sekolah diapun langsung lari dan tidak melihat seseorang tepat di belokan koridor, Brruuukk!! merekapun jatuh. Malang nasib Aksana yang dia tabrak adalah anak yang terkenal angkuh dan sombong karena kekayaanya, Monalisa. Aksanapun seketika menolong dan meminta maaf padanya, tapi bukannya berterima kasih, Monalisa malah menampar Aksana, tapi sebelum tangan itu sampai menyentuh pipi Aksana, telah dipegang oleh Ghalibie. Aksana hanya terkesima melihat kejadian yang baru saja dia saksikan, dia tidak menyangka Ghalibie akan menyelamatkannya. “jaga sikap lo, ini sekolah ” ucap Ghalibie sinis kepada Monalisa. Belum sempat hilang rasa herannya, tiba-tiba tangan Ghalibie telah meraih tangannya, menggandeng Askana menuju kelas mereka.

            Tepat di depan kelas Ghalibie melepaskan tangannya, memutar badan  menyentuh kedua pundak Askana dan menatap dalam ke matanya, “kamu ga apa-apa kan?” ucapnya lirih. Askana tak mampu mengucapkan sepatah katapun ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.

            Dengan langkah gontai mereka masuk ke dalam kelas, diiringi puluhan pasang mata yang menatap heran dengan kedatangan mereka berdua. Askana tidak memperdulikannya dia langsung duduk di bangkunya cuek dengan keadaan sekitar. Dia malas memikirkannya, lebih baik otaknya ia gunakan untuk memikirkan materi pelajaran yang belum dimengerti. Seketika kelas menjadi riuh rendah, seisi kelas saling berbisik membicarakan apa yang mereka lihat pagi tadi di depan kelas mereka, ya apa yang dilakukan Ghalibie dan Askana.

            Seperti biasa ketika waktu istirahat tiba, Askana menuju tempat peraduannya, dia akan bertemu sahabatnya, Fla.  Dia berbincang dengan Fla, atas apa yang terjadi pagi tadi, bagaimana Ghalibie menyelamatkannya dari tamparan Monalisa. Fla menjawabnya dengan menggugurkan bunga-bunganya yang berwarna oranye, menerpa wajah bahagia Askana.

            Monalisa tidak bisa begitu saja melupakan kejadian pagi tadi, dia menaruh dendam pada Askana yang lolos dari tamparannya. Dia tidak mau terlihat lemah dan tidak berdaya, di mata gadis miskin itu. Dia berencana jahat untuk merusak sepeda Askana. Rencana jahat itu dilakukan pada jam istirahat kedua, ketika semua orang sibuk untuk ke kakantin dan sholat dzuhur. Dia menyuruh teman laki-lakinya untuk membocorkan kedua ban sepeda Askana. Dia hanya menyeringai puas, karena rencananya berhasil. Tapi, dia tidak menyadari dari kejauhan ada sesosok cowok yang mengintai apa yang sedang dilakukan teman lelaki Monalisa itu.

            Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar ruangan. Askana keluar paling terakhir, dia malas untuk berdesak-desakan dengan teman-temannya, lagipula dia menyukai keheningan. Ketika keluar dari kelas dia menemukan sebuah buku jatuh, diapun memungutnya kemudian membukanya untuk mengetahui siapa pemilik buku itu. Belum sempat membukanya, Riuza langsung mengambil buku itu dari tangannya. “ini buku gue, makasi udah ngambilin” ucap Riuza sinis, kemudian dia pergi begitu saja diiringi tatapan mata heran Askana. Tempat parkir kendaraan siswa telah sepi, hanya terlihat beberapa mobil milik siswa yang mengikuti ekstrakulikuler dan sepeda mini milik Askana. Dia begitu heran ketika melihat sepedanya, “ada yang aneh” pekiknya. Kemudian dia menyentuh kedua ban sepedanya, “baru?” ucapnya lirih. Dia mengendarai sepedanya dengan seribu pertanyaan yang ada dibenaknya, mengapa ban sepedanya baru? Apa mungkin ini bukan sepeda mini miliknya? Ah bukan! Tentu ini miliknya, karena hanya dia yang mengendarai sepeda mini di sekolah ini. Lalu siapa dan mengapa ada orang yang mengganti ban sepedanya, padahal keduanya dalam kondisi yang baik, pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir di benaknya. Tanpa ia sadari, ada yang memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum mengembang dari bibirnya.

            Sesampainya dirumah dia langsung berganti pakaian dan segera membantu ibunya untuk memasak, kukuruyuuuuukkkk…. Terdengar dering hape miliknya, ada sms rupanya,

            Mulai besok Askana bisa ngajar Ozi, seminggu 3x. dibayarnya setiap minggu 100rb ya nak, terima kasih loh sebelumnya, Ozi senang sekali diajar kemarin. Ibu Wibowo.
Melihat isi pesan tersebut senyum mengembang dibibir Askana matanya berkaca-kaca, kemudian dia lari memeluk ibunya. Ibunya hanya heran melihat tingkah anak tunggalnya ini, dia hanya tersenyum.

            Kegiatannya kini bertambah, sepulang sekolah dia harus datang kerumah Ozi untuk mengajarnya, tetapi Ozi adalah anak cerdas dan juga menyenangkan. Askana dapat melupakan masalah hidupnya untuk beberapa saat, tingkah lucu dan kepolosan Ozi kini yang menjadi hiburannya, lambat laun Askana dapat tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkahnya.

            Sore sepulang sekolah, Askana bergegas ke rumah Ozi karena dia sangat kuatir akan mendung yang tiba-tiba menutupi cerahnya sore itu. Dia lupa membawa payung ataupun jaket. Jadi dia terburu-buru mengayuh sepedanya supaya sampai di rumah Ozi sebelum hujan turun. Namun, naas baginya, langit sedang tak bersahabat. Butiran hujan turun dengan deras, memaksa Askana untuk menghentikan laju sepedanya dan berteduh. Kemudian dia menghentikan sepedanya tepat didepan teras sebuah toko, ada beberapa orang juga yang sedang berteduh. Langit mulai gelap, namun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dia telah menghubungi ibu wibowo bahwa dia akan datang terlambat karena terjebak hujan. Askana menengadahkan tangannya dan menatap langit, “masih deras,” pikirnya. “kak, kakak mau pergi apa?” ucap seorang anak kecil disampingnya. Anak kecil itu menyunggingkan senyumnya, “iya dek, kenapa?” ucapnya ramah. Anak itu kemudian menyerahkan payung motif  bunga berwarna merah muda dan sebuah jaket biru torqua ke tangan Askana. “ini buat aap, belum sempat Askana menyelesaikan ucapannya, anak itupun lari menerobos hujan. Askana hanya menatap bingung pada kedua benda yang sedang dipegangnya, dengan ragu dia membuka jaket itu untuk memakainya, ada secarik kertas jatuh dari lipatan jaket. Dia membuka kertas lipatan yang berwarna biru muda itu dan membacanya.

            Pakailah! Lindungi tubuhmu dari derasnya hujan. Aku tak mau melihatmu sakit.

Kertas itu bagai surat kaleng, tak ada nama maupun inisial di belakangnya. Askana hanya tersenyum dan menyimpan kertas itu di saku rok abu-abunya. Kemudian dia memakai jaket dan payung itu untuk pergi ke rumah Ozi. “makasi ya kak” Ucap anak kecil tadi kepada seorang cowok tinggi dengan jari-jari yang panjang yang menyuruhnya untuk memberikan jaket dan payung kepada Askana.