Elegant Rose - Working In Background

Saturday, 31 January 2015

Huldra (Rumah Belukar)

         Matahari yang terik pagi ini tak mampu menerangi rumah buruk itu, sebenarnya rumah yang telah beratapkan genting dan bertembok kekar itu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja rumah yang sangat luas itu terlihat seperti tak berpenghuni. Rumah yang lebih mirip sarang penyamun itu, hampir tak terlihat, terletak di ujung kampung Caruta, jika kita tidak memperhatikannya secara jeli niscaya tak ada rumah disitu hanya rimbunnya semak belukar dan pohon-pohon yang tinggi menjulang yang menutupinya. Warna tembok rumahnyapun kini telah pudar termakan usia. Tumbuhan merambati seluruh dinding rumah yang menambah kesan horor dari rumah tersebut. Rumah tua ini dikelilingi oleh kebun teh yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kesan mistis menyelimuti rumah Juragan Gundowo itu, seorang juragan tanah yang kaya raya dengan kepemilikan kebun teh  yang sangat luasnya.

Usut punya usut, dahulu rumah itu tidaklah semistis sekarang, rumah itu indah dan terawat, namun semenjak ditinggalkan oleh mendiang istrinya, Juragan Gundowo menjadi sosok yang berbeda, dia bukanlah lagi Juragan yang ramah dan baik akan tetapi menjadi orang yang pendiam dan menutup diri, setiap hari beliau hanya mengurung dirinya di rumah saja, tidak pernah keluar. Sampai pada akhirnya, beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia, Juragan Gundowo hilang, entah meninggal ataupun hilang entah kemana. Berita hilangnya Juragan Gundowopun segera menjadi topik obrolan utama masyarakat desa, banyak isu bermunculan apakah dibunuh oleh anaknya sendiri, ataupun dicuri oleh makhluk astral. Kabarpun menjadi sangat tidak jelas menyebar, namun hingga saat ini jasadnya belum diketemukan.

Rumah belukar orang kampung Caruta menyebutnya, karena sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang tetaplah rumah itu dalam bentuk yang sama, tetap rumah tua yang beraksitektur Belanda, dengan dinding bagian bawah yang ditata dari rangkaian batu hitam, dan bagian atasnya bercat putih polosa namun telah pudar. Ruamh itu telah berusaha dipugar oleh anak turun Juragan gundowo, namun tidak ada yang pernah berhasil dari sekian anak turunnya, sampai sekarang yang menghuninya adalah anak turunnya yang ke enam, rumah itu tetap seperti dulu, seperti pertama kali dibangun, proses renovasi yang dilakukan tidak pernah berhasil, alih-alih renovasi hanya untuk membersihkan semak belukar dan pohon-pohon saja selalu gagal. Ketika semak belukar dibabat dan dibersihkan, maka keesokan harinya semak belukar tersebut tumbuh seperti sedia kala, begitu juga pohon-pohon yang telah ditebang yang bahkan batangnya telah digergaji kecil-kecil, mampu berdiri dengan kokoh kembali seperti sedia kala. Sudah putus asa rasanya anak turunya untuk membersihkan dan menghilangkan kesan mistis atas rumah itu.

Terkadang bosan sudah anak turun dari Juragan Gundowo, menjadi bahan pergunjingan masyarakat desa setempat, ingin rasanya mereka membaur bersama masyarakat sekitar dan hidup layaknya manusia pada umumnya, namun tak bisa, nama Juragan Gundowo telah menjadi tabu untuk diucap. Pernah suatu kali, keturunan Juragan Gundowo yang ketiga bernama Juragan Gunawira memutuskan untuk meninggalkan rumah itu beserta anak dan istrinya, namun hanya sempat pergi dari depan pintu gerbang saja, bahkan pintu gerbangnyapun tak dapat dibuka, mereka mencoba melompat pagar, namun ketika di panjatnya pagar itu, tak kunjung sampai, entah mengapa pagar yang tingginya hanya sekitar tiga meter itu terasa sangat tinggi sekali, hingga lelah mereka memanjatnyapun tak sampai melewatinya. Akhirnya ketika lelah mereka menyerah dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah belukar tersebut.

Waktu terus berjalan, rumah belukar tersebut tetap dihuni oleh anak turunnya Juragan gundowo yang masyur, ketika zaman penjajahan Belanda telah berakhir lama, bahkan desa Caruta telah membenahi dirinya, rumah itu tetaplah tampak seperti rumah tua yang menyeramkan. Adalah Juragan Gunadarma, keturunan ke-lima yang menempati rumah itu sekarang beliau tinggal bersama istri dan seorang putra tunggalnya yang berumur 8 tahun.

Gunara adalah nama bocah 8 tahun tersebut, dia adalah seorang anak yang pendiam namun sangat cerdas, kerap kali dia meninggalkan rumahnya secara diam-diam dan berpetualang di sekitar rumahnya walaupun dilarang oleh kedua orang tuanya, tetap bisa saja Gunara keluar dari Rumah Belukar itu. Gunara memilih untuk menempati kamar di atas loteng rumahnya, dengan ruangan yang lumayan luas namun kotor, disulapnya menjadi kamar tidur yang sedikit mistik namun menarik. Hanya ada satu tempat tidur saja di kamar itu, kamar tidur berkasur satu dengan dipan yang terbuat dari besi tua, peninggalan Belanda. Tak jauh dari kamar itu ada sebuah jendela kecil yang cukup untuk memasukan kepala Gunara ke dalamnya. Sepasang meja dan kursi kecil sederhana, menemani furniture lain di kamarnya, hanya ada satu lemari pakaian yang sudah usang yang sejak dahulu telah ada di kamar itu yang kini dipakainya, lemari kayu berpintu dua yang terbuat dari kayu jadi dengan kaca berbentuk oval di pintu lemari yang sebelah kanan, di bagian kiri pintu lemari itu terdapat banyak tempelan gambar-gambar buatan Gunawa dari arang hitam, yang menggambarkan keramaian kehidupan di luar rumahnya yang pernah diimpikannya ketika tidur, atau dari cerita-cerita pegawai ayahnya yang diimajinasikannya dalam torehan arang.  Gunawa sangat tertarik untuk mengetahui apa yang ada di luaran sana, di pagar tembok rumahnya, Rumah Belukarnya.
Bersambung...


















Sunday, 25 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (Final)

            Malam itu gerimis menjelang, saat Ghalibie mengantarkan askana pulang. Senyum mengembang, di kedua bibir mereka. Setelah menurunkan sepeda Askana, Ghalibie pun mengantarkna Askana sampai depan rumah Askana. “Kan, makasi ya buat hari ini, makasi buat semuanya”, ucap Ghalibie lembut. Askana hanya tersenyum “sama-sama bie”, ucapnya manis. Kemudian Ghalibie mengeluarkan sebuah kado berbentuk kubus, yang terbungkus rapih dengan pita berwarna pink dari saku celana SMAnya. “Kan, ini buat lo, semoga bisa jadi kenang-kenangan buat lo ketika nanti gue ga ada, kado ini semoga aja bisa jadi pengingat lo ketika lo kangen sama gue Kan”, ucapnya lembut. Askana meraih kado itu dengan tatapan bingung, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ghalibie. “lo ngomong apa sih bie? Lo mau pergi?” ucapnya heran. “hehe, iya gue mau pergi kan gue mau pulang sih Kan” ungkapnya diselingi tawanya yang khas. Dibawah rembulan dan langit yang teduh, serta angin yang meniup lembut mereka saling bertatapan dengan senyum menyungging pada wajah keduanya.

            Setelah membersihkan tubuhnya, Askana berbaring sembari membuka kado yang diberi Ghalibie. Askana membukanya perlahan, seakan untuk merusak bungkusnya saja dia tak tega. Kotak berbentuk kubus itu segera dibukanya,  ternyata yang ada didalam kotak tersebut adalah, gantungan kunci yang berbentuk hati yang terbuat dari kaca bening dengan kelopak bunga Flamboyan yang jingga kemerah-merahan di dalamnya, Askana hanya terdiam. Kado yang sangat indah pikirnya, kado yang tidak mungkin bisa dilupakannya sepanjang hidupnya, mungkin.

            Senyumnya kembali merekah pagi itu, ya setidaknya dia telah melalui hari yang sangat indah kemarin dengan Ghalibie. Askana memasuki kelasnya dengan senyuman menyungging di bibirnya. Ketika telah masuk ke dalam kelasnya, Ghalibie tidak muncul bahkan sampai saat pelajaran telah usai. Ghalibie tidak kunjung muncul jua. Askana mencoba untuk tetap tenang, namun tetap saja hatinya gundah, mengapa Ghalibie tidak muncul datang ke sekolah. Akhirnya dengan segala keberaniannya, dia menghampiri reno, teman sebangku Ghalibie untuk menanyakan kemanakah Ghalibie pergi. Betapa terkejutnya Askana saat mendengar apa yang diucapkan Reno. Bagai petir di siang bolong, sungguh tak menyangka bahwa kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Ghalibie, tak mengira Askana, Ghalibie akan pergi tanpa berpamitan dengannya. Tubuhnya lemas, lunglai seketika, dia berjalan sempoyongan, duduk termenung di bangkunya. Bahkan saat semua temannya pulang, dia hanya duduk di dalam bangkunya, sendirian.

            Sendirian, atau mungkin tidak, ada seseorang di belakang sana yang melihatnya, mengamati Askana yang sedang menangis sesenggukan yang telah mengira semua siswa telah pulang. Seseorang tersebut, berjalan menuju Askana berjalan santai, ketika sampai di depan bangku Askana meninggalkan sapu tangannya untuk askana mengusap air matanya. askana hanya ingin meluapkan air matanya, hari itu, mungkin dia dan Ghalibie hanyalah bagaikan langit dan bumi yang tak bisa saling menyatu, mungkin tuhan memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan Ghalibie hanya untuk menyenangkan hatinya dari cobaan kerasnya hidup yang harus dilaluinya. Dia telah bertekad, dia hanya akan menghabiskan air mata dan kesedihan untuk Ghalibie hari ini, siang ini saja. Yang kemudian dia akan kembali ke kehidupannya yang dahulu, belajar giat dan mencari beasiswa untuk kuliah guna memperbaiki kehidupan dia dan ibunnya nanti.

            Segera setelah air matanya mulai reda, dia segera mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru dongker yang ada di atas mejanya, yang entah punya siapa. Dia merasa bahwa sapu tangan itu sudah begitu saja ada di atas mejanya, bahkan dia tidak sadar siapa yang memberinya. Dengan muka sembab, dia pulang menaiki sepedanya dengan ayuhan yang lemas, namun tanpa disadarinya ada sesorang di luar penglihatannya yang mengikutinya untuk memastikan Askana pulang dengan selamat, dengan kondisi hati yang tengah terluka.

             3 tahun kemudian...

            Askana telah memasuki bangku perkuliahan, dengan mendapatkan beasiswa karena prestasi semasa SMA nya. Cerita indah masa SMA bersama Ghalibie tetaplah tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya, walaupun kini dirinya dan Ghalibie sama sekali lost contact dan tidak saling memberi kabar, tapi cukuplah cerita itu untuk dikenang. Kepergian Ghalibie juga memberinya hikmah yang luar biasa, Askana mempunyai semangat juang untuk hidup yang lebih baik, dia giat belajar untuk masa depan yang lebih baik.

            Waktu perkuliahan pun selesai, setelah itu langsung pulang ke rumahnya untuk membantu ibunya berdagang. Bis yang menumpanginya berwarna biru muda, dengan garis putih di badannya. Ketika Askana masuk ke dalam bis, ternyata tempat duduknya sudah penuh semua, tetapi ada seorang cowok yang mempersilahkan untuk menempati posisi duduknya sehingga askana dapat duduk dengan nyaman. Tepat di halte sekolah SMAnya dulu, cowok tersebut turun. Namun sebuah pena terjatuh dari kantong baju cowok tersebut ketika mengambil ongkos bis. Askana mengambil pena tersebut untuk dikembalikan kepada cowok itu. Namun, betapa terkejutnya dia ternyata ada simbol “G” di dalam pena tersebut. Dia hanya bengong, dan bispun kembali melaju, dia segera bergegas dan menghentikan bis tersebut untuk turun dan mengejar cowok yang telah mempersilahkannya duduk tadi. Tapi sosoknya telah hilang, dia melihat di sepanjangan jalan cowok dengan badan tinggi tadi telah menghilang, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk masuk ke dalam SMA nya dulu. Sore itu sekolah telah sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan dan penjaga sekolah. Dia terus berjalan mengelilingi sekolah, nampaklah dari kejauhan pohon flamboyan yang telah dia tinggalkan beberapa tahun ini, sahabat yang sering dipanggilnya Fla, sahabatnya yang sangat pendiam. Namun dari kejauhan pula dia melihat sosok cowok yang dicarinya tadi, cowok itu berdiri tegak dengan memejamkan matanya merasakan angin yang mengalun syahdu, diiringi bunga-bunga Fla yang telah mekar sedang berjatuhan lembut.

            Askana menghampiri cowok tersebut, dan apa yang dilihatnya mungkin sangat menggetarkan hatinya begitu hebat, “Za, lo ngapain disini?” ucapnya heran. Riuza kaget, dan segera pergi ketika tahu yang menyapanya adalah Askana. Dengan sigap Askana menarik tangan riuza, supaya tidak pergi. Mereka hanya mematung beberapa saat dengan posisi itu, diselingi bunga flamboyan yang terjatuh lembut. Askana tak mampu bertanya mengenai pena tersebut, dan rasanya hal yang tidak mungkin untuk Riuza lari, dia sudah tertangkap basah.

            “Za, pena bersimbol “G” ini punya lo?” akhirnya kalimat tersebut terlontar dari bibir askana setelkah sekian lama terdiam. Riuza hanya terdiam, dia mengangguk sekenanya. Askana hanya termenung kemudian, mereka saling terdiam lama. Akhirnya Riuza membalikkan badannya, menatap dalam mata Askana. “iya Kan, pena ini punya gue”, ucapnya lembut. Dunia bagai berputar, Askana hanya ingin menghentikan saja otaknya yang mulai berputar juga dengan cepat. Pena ini sama persis dengan pena yang di temukannya ketika dia membaca selebaran les privat, surat kaleng berwarna biru, sepeda rusaknya, jaket dan payung itu, dan kejadian ketika di puncak yang dia ketahui dari teman sekelasnya bahwa yang menolong dirinya sebenarnya bukanlah Ghalibie. Pikirannya melanglang buana untuk memikirkan semua yang terjadi dan inisial “G” yang misterius itu.

            “Za, jadi semua itu elo?, yang benerin sepeda gue, yang ngasih gue kerjaan les privat, yang ngasih gue jaket, surat kaleng, jadi semuanya itu lo yang ngelakuin za?” ucapnya lembut, tak terasa air matanya menetes begitu saja. “iya kan”. Ucapnya lembut. “Jangan-jangan yang donorin darah buat ibu gue itu juga elu, cowok berhoodie hitam malam-malam waktu itu juga elo, dan yang nolongin gue pas di puncak itu juga elo Za?” ucap Askana dengan bibir gemetar. “iya, Kan semua itu gue yang ngelakuin”. “terus, kenapa lo ga jujur ke gue Za, kenapa lo ga jujur kalo selama ini lo yang selalu nolong gue di saat gue benar-benar terpuruk, kenapa lo ga jujur, malah justru jutek ke gue Za, kenapa? Kalo gue tahu yang nolong gue selama ini adalah elo pasti gue juga ga jutek sama lo, Za, dan kenapa lo musti pake inisial “G” Za, di pena itu, di surat itu, di sapu tangan itu?” ucap Askana keras dengan air mata yang kian deras mengalir. “Karna GUE SAYANG SAMA ELO Kan, makanya gue ngelakuin itu semua” ucap Riuza tak kalah kerasnya. Keduanya terdiam, tenggorokan Askana tercekat dia menghentikan tangisannya. “gue pake inisial “G” karena itu emang nama gue Kan “Ghazi Riuza Akbar”, ucapnya lembut dengan senyum bergulir di bibirnya.

            Askana hanya terdiam, tangisannyapun telah berhenti yang kini digantikan senyum dalam senja sore itu, segera saja dia memeluk erat Ghazi, “GUE JUGA SAYANG ELO GHAZI” ucapnya lembut. Ghazi mengangkat tangannya dan memeluk Askana jua. Dalam senja itu mereka dipertemukan, Ghazi yang hanya bisa mendengar keluh kesah Askana di balik pohon Flamboyan itu kini bisa bersama dengan Askana, seakan mimpi pikirnya. Flamboyan itu telah menjadi saksi bisu kisah kasih mereka berdua, dalam diamnya dia telah membantu Askana untuk melalui berat hidupnya, menemukan cinta yang sebenarnya.

            Karena dalam hidup, kita tak selalu melakukan sesuatu supaya orang lain melihatnya, karena rasa sebenarnya adalah tak terbatas, begitu pula cinta yang bermula di bangku SMA. Rasa itu tak mengenal usia, besarnya juga tak terhingga. Jika sudah waktunya usahamu akan berbalas, cinta itu akan dipertemukan, cinta itu akan di taruh pada hati yang tepat, pada seseorang yang tepat.


...THE END...

Friday, 23 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (6)

Malam itu askana hanya membaringkan dirinya di tempat tidur, sudah mencobanya tetapi Askana tidak bisa melepaskan kenyataannya begitu saja, pena yang ada di dasbor mobil riuza adalah pena yang sama, pena yang dia temukan di sekitar rumahnya beberapa bulan yang lalu. Saat sedang membaca brosur les privat. Berjalan dia perlahan mendekati jendela kamarnya, bulan malam ini begitu indah terang bercahaya, bulat dan penuh. Mungkin serigala malam ini akan mengaum pikirnya, konyol. Dia hanya sedang tidak ada kerjaan untuk melakukan apapun. Hari ini dan seminggu kedepan masih liburan, dia tidak bisa bertemu dengan Ghalibie, cowok yang selalu melindunginya. Senyumnya menyungging. Memutar matanya melihat ke bawah, kamarnya memang ada dilantai dua, tidak ada pilihan untuk rumah sempit yang dimilikinya dengan meluaskannya di bagian atap rumahnya, sebenarnya tidak juga bisa disebut sebagai kamar dilantai dua sih. Sebenarnya kamar yang ditempati oleh Askana di dalam rumahnya itu hanyalah,  bagian dari atap rumah yang sedikit luas dengan bagian genting yang lebih tinggi. Dia memilih untuk tidur dan melakukan semua kegiatannya disitu karena lebih tenang dan nyaman, dia bisa dengan leluasa memandangi bulan setipa malam dan merasa hanya dia yang mempunyai bulan itu, dia bisa melihat lampu-lampu yang berkelip dari rumah-rumah disekitarnya yang dibayangkan dengan kerlipan bintang dilangit, sederhana, namaun sangatlah indah bagi Askana.

Ketika dia sedang melihat kesekeliling, nampaklah seorang sosok cowok yang sedang mengamatinya dari jauh,  cowok itu menggunakan jaket hoodie berwarna hitam, di dalam kegelapan yang samar dia sekelebat dapat mengenali sosok itu. Iya Ghalibie, yang tiba-tiba saja waktu itu menghilang dari peredaran setelah mereka  pulang dari puncak. Dengan bergegas Askana berlari tunggang langgang, secepat kilat dia berlari mencari sosok cowok yang tadi mengamati dari bawah. “Askana, Askana!” teriak ibunya. Askana tidak mau mendengarnya sedikitpun, dia hanya terus berlari dan bergegas mencari sosok tersebut. Ibunya dengan bingung melihat kelakuan anaknya malam itu, yang dia khawatirkan bukanlah apa-apa tapi buta ayam yang diidap Askana, karena pada malam yang gelap seperti ini akan membuat Askana sulit untuk melihat dengan jelas.

Askana hanya terus lari dengan tangan  tegak  kedepan, sebagai sensornya apabila ada sesuatu yang menghalanginya. Dia tidak perduli, dengan mata yang semakin tidak jelas dalam melihat, dia hanya berlari dan terus berlari. Pada saat sedang berlari askana tidak sadar, bahwa sedang menyebrang jalan raya, hampir saja dirinya tertabrak, apabila tidak ada tangan yang dengan sigap menarik tangan askana, dan membiarkan Askana jatuh dalam pelukannya untuk beberapa saat. “jangan bodoh, Askana”, ucap cowok tersebut dengan lembutnya. Askana hanya diam dalam hangatnya  pelukan di depan jalanan berasapal malam itu, entah mengapa dia belum pernah mengenal pelukan hangat ini, pelukan yang sangat membuatnya nyaman, pelukan yang dia tak mau untuk melepasnya. Dan suara itu, suara itu begitu lembut, bak suara malaikat yang belum pernah sekalipun didengarnya.

Cowok tersebut menggandeng Askana, yang turut di belakangnya dengan santai, entah mengapa sepertinya di malam yang gelap itu ada begitu banyak kelopak bunga flamboyan berjatuhan dengan tenangnya, bagi Askana malam itu dunia berjalan begitu lambat, dia seperti sedang berada dalam film romantis yang mana dia dan lelaki tersebut adalah pemeran utamanya, berjalanpun seakan di slowmotion oleh sang sutradara. Cowok itu melepaskan genggaman tangannya “sudah sampai As,” ucapnya lembut. Segera sadar Askana berteriak “kamu siapa”? namun tak ada sahutan dari cowok tersebut. Kegundahannya bertambah, siapa lagi tokoh yang muncul dalam hidupnya kini, yang dengan jelas suaranya sangat berbeda dengan Ghalibie yang telah menghilang. Askana kembali lagi ke kamarnya, kegundahannya bertambah, alih-alih dia mengingat Ghalibie, tapi mengingat mencoba menerka siapa cowok tadi, kenapa lembut suara dan pstur tubuhnya seakan dia mengenalnya, cowok itu siapa?, pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya.

Matahari pagi ini begitu teriknya, menyambut pagi, menemaninya bersepeda menuju sekolah, alangkah senangnya dia, yak hari ini dia akan bertemu dengan Ghalibie yang telah lama menghilang. Mungkin dia kan tahu kenapa Ghalibie menghilang begitu saja dan tidak memberinya kabar sama sekali. Setelah menyandarkan sepedanya, askana lalu menuju ke dalam kelasnya, namun sayang ketika dia mencari-cari Ghalibie, tak ditemukannya, bangkunya kososng, di kelaspun dia tidak ada.  Askana mencoba mencarinya lagi keluar, keseluruh sekolah, ke kantin bahkan dia menanyakannya pada Fla. Namun, nihil. Entah mengapa ini terjadi kepadanya, Askana merasa sangat dipermainkan oleh Ghalibie, bahkan saat dia sudah mulai menyukai Ghalibie yang sangat energik dan lucu, justru ini yang didapatinya, Ghalibie pergi tanpa memberi kabar maupun kejelasan kenapa dia pergi. Mungkin jika saja Ghalibie mau meberikan kejelasan, Askana akan menerimanya, walaupun itu menyakiti hatinya. Hatinya begitu bergemuruh, tak alang lagi, askana menuju di tempat peraduannya, dengan sahabat satu-satunya yang menerimanya apa adanya, kemiskinannya, ketidakberdayaannya, kesederhanaannya, ya Fla. Kembali dia dalam bahu fla yang mungkin akan meredakan gemuruh hatinya. Semilir angin yang menemaninya, bersamaan dengan mendung yang seakan tahu kesedihan Askana yang datang menemaninya. Pagi yang cerah itu berubah menjadi hitam, mendung menggantung dengan hitamnya, tak berapa lamapun hujan turun. Namun, tak mengapa hujan ini datang, hujan ini datang diwaktu yang tepat, ketika dadanya sangat sesak, entah mengapa dadanya begitu sesak ketika tak ditemuinya lagi Ghalibie, walau hanya wajah yang mungkin dapat dilihatnya. Air matanya jatuh, semakin lama-semakin derasnya, Askana ingin sekali meluapkan gemuruh hatinya pagi itu, di bawah hujan yang mengguyur bersamaan mengguyur hatinya yng mungkin telah terluka, terluka karena sesuatu yang belum pernah dirasainya. Terluka untuk sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya, yang tak tahu mengapa begini. Derasnya hujanpun, hanya menemani derasnya air mata Askana pagi itu. Hanya duduk tak beralas, dengan tatapan kosong Askana hanya menengadahkan tangannya, menerima nasib sebagai seseorang yang tak berdaya, tak berdaya akan cinta yang mungkin telah di anugrahkan oleh tuhan, tapi mengapa rasa ini begitu menusuk tak seindah di dalam cerita film yang pernah ditontonnya.

Setelah reda dengan basah kuyup dan tatapan kosong, Askana kembali ke dalam kelasnya. Berjalan dengan lunglai, ketika sedang menyusuri koridor kelas yang telah sepi karena mata pelajaran telah di mulai. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya, mengajaknya lari, Askana tidak sanggup hanya untuk melepaskan tangan itu. Dia masih sangat lemah, askana hanya mengikuti kemana saja tangan itu menariknya. Tangan itu mengajaknya kembali ke bawah tubuh Fla, “Kan, lo kenapa?” ucap cowok itu khawatir. Askana melihatnya dengan tatapan kosong, betapa terkejutnya dia, ternyata cowok itu adalah Ghalibie. Tak mampu askana berucap sepatah katapun, matanya hanya ingin melihat Ghalibie lagi dan lagi, setelah sekian lama tak menjumpa. Tetesan air mata itupun hadir kembali, askana hanya menangis betapa bahagianya dia melihat Ghalibie hari ini. Cowok inilah yang menjadi alasan kenapa air matanya tertumpah ke bumi yang sungguh terlihat gersang saat ini. Tak sanggup Ghalibie, mengucapkan bahwa sebenarnya, dia akan dipindahkan sekolah oleh orang tuanya ke Singapura. Alih-alih berpamitan ke Askana dia justru mengajaknya kencan, mungkin untuk yang pertama dan terakhir kalinya, mereka akan menghabiskan waktu bersama.

Sepeda berwarna pink itu melaju dengan santainya, diiringi ayuhan seorang anak manusia dengan senyumannya yang begitu menawan. Ciiittt....ciiitt.... sepedanya berhenti tiba-tiba ketika ada mobil yang menghentikan ayuhan sepedanya. Keluarlah Ghalibie dengan pakaian SMA yang sangat pas dengan badannya yang pelukable, dan tinggi. Dengan senyum Ghalibie menghampiri Askana, “kan, buat hari ini aja kita bolos sekolah yuk, kita kencan” dengan seringainya yang manis” ucapnya lembut. Askana hanya mampu mengangguk, kemudian sepeda Askana di taruh di atas mobil. Dan mereka berangkat, berdua saja, iya berdua saja.

Tidak pernah senyum Askana seindah itu, bahkan giginyapun terlihat ketika dia tersenyum, Ghalibie selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa dengan semua kekonyolannya. Askana merasa begitu nyaman dengan suasana seperti ini, seakan semua masalahnya sirna, masalah hidupnya, kemiskinannya, kegundahnya, semuanya, hilang.

Ghalibie menghentikan mobilnya, ketika mereka sampai diujung jalan, dimana sebuah pohon yang sangat besar berada diujung jalan yang bisa dibilang lembah. Pohon itu seperti batas ujung lembah yang dibawahnya sedikit menjorok lebih rendah dari daratan disekitarnya. Pohon itu sangat rindangnya, berdiri kokoh dengan dedaunan yang rindang yang sedang di goyang-goyangkan oleh angin. Lalu mereka turu dari mobil memandangi pohon yang rindang itu bersama. “lo punya Fla, kan, begitupun gue, ketika banyak masalah dan gue pengen banget teriak, gue pergi kesini di pohon ini gue tumpahin semua masalah gue ke pohon ini”, ucap Ghalibie. Askana kemudian melihat wajah Ghalibie, untuk sesaat mereka saling bertatapan beberapa saat kemudian saling tersenyum. Untuk kesekian kalinya Ghalibie menarik tangan askana untuk mengikutinya, turun ke bawah pohon melewati ilalang-ilalang liar, menuju ke sebuah tempat dimana bunga-bunga yang berjumlah sangat banyak seperti ditaburkan tumbuh dengan indahnya, bunga itu berwarna kuning, setinggi dada mereka. Askana hanya takjub melihat indahnya bunga berwarna kuning yang begitu banyak ini, dia sangat takjub dan hanya mampu diam. “indah ya kan, bunga ini, gue pernah berjanji sama diri gue sendiri, nanti ketika gue suka dengan cewek dengan tulus untuk pertama kalinya gue bakalan ngajak cewek itu kesini, ke tempat ini” ucap Ghalibie. “makasih bi, makasi banget buat semuanya”, ucap Askana lembut. Tak tahan lagi Ghalibie melihat senyum  cewek yang amat disayanginya ini, mungkin ini adalah hari terkhirnya untuk bisa bersama dengan cewek ini. Langsung saja, Ghalibie menarik tangan Askana dan memeluknya erat, sangat erat seakan tak mau melepasnya, Ghalibie hanya diam, dan diam-diam meneteskan air matanya.

“Bie, bie gue gak bisa nafas bie”, ucap Askana sesak. “oh, sorry kan” Ghalibie segera melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. “lo, kenapa bie?”, “Ah, gak apa-apa kan,kelilipan”, ungkap Ghalibie lalu tertawa. “pokoknya, hari ini kita abisin waktu berdua ya kan, kita seneng-seneng, kita nonton bareng, kita foto bareng, kita jalan-jalan bareng, pokoknya hari ini kita ngabisin semua waktu harus bareng, hanya berdua ya. Askana hanya mengangguk dan tersenyum, hanya aneh dalam pikirnya, kenapa Ghalibie seperti ini, tidak pernah sebelumnya Askana melihat ghalibie menangis. Dalam hati yang terdalamnya, tak sanggup Ghalibie mengatakan bahwa sebenarnya dia akan pergi, dia akan pindah yang mungkin akan selamanya, tak sanggup juga dia menceritakan sebenarnya dia menghilang seminggu tak ada kabar karena dia harus mengikuti serangkaian tes untuk beasiswanya ke Singapura, dia tak sanggup mengatakannya, apalagi melihat senyum Askana yang begitu tulus hari ini.


Hari itu mereka menghabiskan waktu hanya berdua, melakukan segalanya berdua, foto bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng. Mungkin hari ini salah satu hari yang sangat indah dalam hidup Askana, bisa bersama dengan orang yang sangat disayanginya. Atau itu juga yang dirasakan oleh Ghalibie, yang walaupun adalah juga hari terakhirnya bersama Askana.

Sunday, 18 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (5)

              Setelah kejadian malam itu, semakin besar cinta Askana terhadap Ghalibie, dia selalu menderma senyumnya untuk Ghalibie dalam kediaman yang penuh arti. Sampai saat inipun Ghalibie tidak ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa bukan dia yang menolong Askana, tetapi Riuza. Dia tidak ingin kehilangan moment saat Askana kini hanya tersenyum untuk dirinya. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dianggap pahlawan dengan orang yang sangat dia sayangi adalah hal yang tidak ternilai. Perasaannya kepada Askana semakin Indah dan terasa kian nyata saja, dia hanya ingin melindungi Askana. Dan tidak mau melihat Askana dalam kesulitan.

            Mata yang lain itu jauh, walaupun begitu tak pernah lepas matanya menangkap kemanapun Askana pergi, dia kawatir dengan keadaan Askana selepas malam itu dihutan.

            Walaupun dengan kondisi badan yang lemah, namun tidak dengan hati Askana, malam itu kekuatan hatinya serasa di recharge oleh Ghalibie, di dalam tenda kesehatan dengan terkulai lemas dia tak hentinya tersenyum, melihat Ghalibie telah tertidur dengan wajah yang tersangga di atas tempat tidur Askana. Tangan Ghalibie memegang erat tangannya yang dingin. Tak ingin dia melepaskan tangan yang telah begitu hangat ini, tangan seorang pahlawan yang telah menolongnya selalu, tangan orang yang begitu menerimanya apa adanya, tangan orang yang selalu membuatnya tersenyum disaat dirinya sendiri tak mampu buat tersenyum.

            Bayangan yang selalu mengikuti Askana, hanya berdiri mematung memandang bulan dari kejauhan, bulan malam ini begitu indahnya, terang berani menampakkan sinarnya. Terkadang dia mengutuk dirinya sedniri karena tak mampunya untuk sekedar dekat dengan Askana. Dan mengapa dia hanya berani menolong disaat Askana tidak mengetahui bahwa yang menolongnya itu adalah dia, yak dia hanya ingin segera menyerah saja, menyerah dengan perasaannya, menyerah dengan semua usaha yang dia lakukan yang tampaknya hanya sia-sia saja.

            Askana telah bosan hanya tidur seharian di tenda kesehatan, kemudian malam itu dia niat keluar untuk berjalan-jalan memandangi indahnya bulan dan awan yang terlihat bagai lukisan, dia ingin merefresh pikirannya. Dengan berbekal senter dia berjalan menyusuri malam keluar tenda, dia tidak membangunkan Ghalibie guna membangunkannya. Ghalibie terlalu capek pikirnya, dia sudah seharian menjaga dan merawat Askana. Dari kejauhan Askana melihat sosok cowok yang sedang berdiri juga memandangi indahnya bulan seperti dirinya, siluetnya begitu sempurna, tinggi tegap dengan kedua tangan panjangnya yang dimasukan ke dalam saku celananya. Lelaki itu memakai jaket berwarna biru dongker, setidaknya itulah sedikit yang bisa dia lihat di kegelapan malam dengan buta ayam yang dideritanya. Tepi entah mengapa, dia seperti mengenal sosok cowok itu, kemudian dia mengingat-ingat tentang cowok berjaket biru dongker. Pikirannya melayang, dia mengingat bahwa ibu Siti pernah memberitahunya bahwa orang yang telah mentransfusi darah ke ibunya adalah orang yang memakai jaket biru dongker. Lelaki itu dari kejauhan menatap ke arahnya, kaget dan kemudian lari. Askana segera mengikuti cowok tersebut lari, dia sungguh penasaran, walaupun sangat kecil kemungkinan bahwa yang menolong ibunya adalah lelaki yang barusan dia lihat, namun kenapa lelaki itu harus lari ketika melihatnya. Dia sedang mengejar lelaki itu saat Ghalibie memegang erat tangannya, “Kan, lo mau kemana, lo rabun senja dan ini sudah malam, lagian badan lo belum sehat benar, ayo kembali ke tenda”, ucapnya. Askana hanya tersenyum dan menuruti nasehat Ghalibie, dengan pikirna tentang cowok itu yang masih bergelayut di benaknya.

            Setelah berkemah selama tiga hari maka selesailah sudah, mereka kembali bersiap-siap untuk pulang kembali ke Jakarta. Saat bertempat di Bis dia duduk di dekat Ghalibie seperti saat mereka berangkat. Saat sebelum bis berangkat, guru mengabsen satu-persatu murid yang ada di dalam bis apakah sudah lengkap semua atau belu, saat guru itu melewati tempat duduk Askana, tidak sengaja dia melihat inisial “G” di pulpen itu. Dia teringat dengan pulpen yang dia temukan saat dia membaca sebuah pengumuman tentang les privat di gang rumahnya. Inisial “G”nya sama dengan pulpen yang ditemukannya. Askana tidak akan secara langsung menayakan kepada guru tersebut siapa pemiliknya, dia tidak mau bertindak bodoh yang akan membuat orang misterius itu tak akan terbongkar identitasnya selamanya, dia hanya mengamati guru tersebut, akan ke siapa pena itu dikembalikan. Bis kembali berjalan untuk  mengantarkan mereka ke tempat asal. Di dalam perjalanan Ghalibie tak henti-hentinya membuat Askana tercengang akan lawakannya yang membuatnya selalu tertawa, dialah orang yang sangat membuat Askana nyaman dan aman jika bersamanya.

            Bis telah sampai di sekolah mereka, semua siswa telah dijemput oleh supir pribadinya masing-masing, Askana hanya termenung. Ghalibie yang sedari tadi bersamanya tiba-tiba saja menghilang, padahal dialah orang yang memaksanya untuk mengikuti serangkaian acara ini. Dia masih saja menunggu, terus menunggu samapai malam menjelang dan tidak ada satupun yang tersisa dalam sekolah itu, mereka semuanya telah pulang.

            “lo, sendirian?” ucap Riuza. Askana kaget bukan kepalang, orang yang selama ini dianggapnya sinis dan kaku ternyata mau juga menyapanya. “iya, za” ucapnya terbata-bata. “Ghalibie, mana?” ucapnya sekali lagi.” Aku juga ga tau, sedari tadi aku nunggu dia tapi dia ga muncul-muncul”, ucapnya dengan menunduk. Dengan cekatan Riuza mengambil tas dan barang-barang milik Askana kemudian dimasukan ke dalam mobilnya. Askana berlarian dan menyusul Riuza dengan bingung melihat tingkah laku Riuza, “Masuk!” ucap Riuza kasar. Askana hanya diam saja, lo mau masuk apa mau tinggal sendirian di sekolah ini, ucapnya lagi ketus. Riuza telah menstarter mobilnya saat Askana sedang di luar bengong dengan semua ini, dia hanya bingung kenapa Riuza masih disini, padahal tadi tak sengaja dia melihatnya sudah pulang dijemput sopir pribadinya. Namun, tetap saja berdua di dalam mobil bersama Riuza tak membuatnya berdamai dengannya, Riuza tak pernah mau ngobrol dengannya, bahkan hanya untuk melihat Askana sekejap saja.

            Mereka bagai sedang berada di dalam kuburan saja, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Riuza tetaplah seperti es yang luar biasa dinginnya, yang bahkan Askana tak mampu hanya menyentuhnya sesaat. Karena tak ada sepatah katapun yang terucap, saat mendekati gang rumahnya untuk mengucapkan terima kasih, Askana hanya menuliskannya di atas buku yang terletak di Dasbor mobil Riuza, namun betapa terkejutnya dia, pena yang dia pegang berinisial “G” sama seperti yang di punyainya. Hatinya berkecamuk, mungkinkan Riuza adalah orang yang selama ini selalu menolongnya, tapi masa iya orang kaku dan keras kepala seperti itu mempunyai hati selembut malaikat, ah inik tidak mungkin, pastilah aku mimpi, aku mimpii. Dia segera mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Dengan tenang dia kembalikan kembali buku dan pena tersebut di dasbor kembali.
           


Tuesday, 19 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (4)

            Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pundaknya dia lalukan, jikalau memang tuhan mengirimkan seorang malaikat penjaganya dia sangatlah bersyukur. Sampai terkadang dia berfikir dia bukanlah seorang manusia, mungkin dia semacam roh tau makhluk astral kiriman sang ayah untuk menjaganya. Tapi hal itu adalah mustahil, mana mungkin di dunia nyata seperti sekarang masih ada hal seperti itu. Yang demikian hanya ada dalam dongeng dan film imajinasi. Siapapun orangnya titipkan rasa terima kasihku yang tak terungkapkan ya tuhan, semoga orang itu selalu dalam lindungan, berkah dan rahmatmu.

            Tak terasa semester IV telah terlewati, tak diragukan lagi Askana tetaplah menjadi sang juara umum. Tapi entah kenapa berat rasanya meninggalkan sekolah ini, padahal biasanya hari libur sangat ditunggunya, dia dapat dengan leluasa membantu ibunya bekerja untuk tambahan tabungannya masuk Universitas. Mungkin bukanlah sekolah yang berat ia tinggalkan tapi Ghalaibie, jika masa liburan telah tiba maka tak dapat dia melihat wajahnya lagi, dan mungkin tak ada hal istimewa dan tidak terduga yang dilakukan Ghalibie untuknya, dan juga sahabatnya yang sangat pendiam, Fla, pastilah harinya akan kesepian tanpa Fla dan Ghalibie disampingnya. “Kan, liburan ini lo mau liburan kemana?” ucap Uzda. Dengan senyumnya dia menjawab “seperti biasa da, bantu ibu di rumah”. “waah sayang banget ya, padahalkan liburan”, Askana hanya menyunggingkan senyumnya. Bukanlah hal yang berat ketika harus bekerja keras ketika liburan, hal inipun selalu dilakukannya semenjak Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang di deritanya tiga tahun lalu. Tak ada penyesalan baginya untuk membantu sang ibu, hanya sedikit berat saat harus tak melihat wajah Ghalibie saat libur menjelang.

            Ibu Askana memiliki toko kelontong di rumahnya, ya walaupun tak terlalu besar, tapi toko ini masih mampu menyokong kehidupan kedua wanita ini. Ketika libur menjelang Askana membantu ibunya, membeli barang-barang yang akan di jual di pasar atau membantu berjualan. Pagi itu dia sedang melayani pembeli ketika Ghalibie nyelonong masuk ke tokonya dan menarik tangan Askana, meninggalkan begitu saja pelanggan yang sedang membeli. Ghalibie menarik tangannya dan membawa Askana masuk ke dalam rumahnya, dengan bingung Askana hanya pasrah kemanapun tangan Ghalibie membawanya, walaupun Ghalibie kurus tetap saja Askana tak mampu melepaskan tangannya. “bu, saya Ghalibie teman Askana yang tempo hari kemari, saya ingin meminta izin untuk membawa Askana pergi berlibur bersama rombongan kelas kami ke puncak” ucapnya tegas. Askana hanya diam dengan wajah bingung mendengarkan ucapan Ghalibie, dia sama sekali tidak memberi kabar mengenai liburan ini, padahal Ghalibie bisa saja menelfon atau sekedar sms untuk mengabarinya terlebih dahulu. Askanapun langsung melepaskan tangannya kesal, “kamu, belum sempat Askana menyelesaikan perkataannya ibunya menjawab “iya gak apa-apa nak, saya izinkan tapi tolong Askana di jaga ya, dia anak ibu satu-satunya dan paling ibu sayangi”. “tapi bu!” teriaknya. “gak apa-apa, pasti kamu bosan kan liburan di rumah terus, kamu juga sudah sering membantu ibu, ini saatnya kamu menikamti liburanmu”, ucap ibunya lembut. Ibu Askana begitu bersemangat dia menanggalkan celemeknya dan membantu Askana berkemas. Dengan senyum bahagia, Ghalibie menunggu di depan mobilnya.

            Setelah berpamitan dengan sang ibu, pagi itu Askanapun masuk ke dalam mobil Ghalibie, dengan diantar sang supir. Rasa penasaran Askana memuncak seketika “liburan?sekelas?” tanya Askana. “ iya rencananya juga dadakan, kan kita udah kelas XI takutnya nanti gak bisa liburan bareng” ucapnya lembut. Mobil melaju menuju ke sekolah mereka, pagi itu teman sekelas Askana telah ramai berkumpul di halaman sekolah diantar orang tua mereka masing-masing, bis juga sudah menunggu, tak berapa lama setelah mereka datang, guru memerintahkan mereka untuk segera masuk ke dalam bis karena perjalanan akan segera dimulai.

            Di dalam bis Askana duduk dengan Ghalibie, sial baginya karena di sampingnya adalah tempat Riuza duduk. Ini adalah saatnya aku bahagia, dia coba menyingkirkan bayangan Riuza yang mungkin saja akan mengganggu liburannya, anggep dia ga ada, anggap dia tembus pandang, dia coba mensugesti dirinya sendiri.

            Perjalanan panjangpun dimulai, bis melaju dengan kecepatan sedang. Bis siang itu begitu ramai dengan siswa-siswi yang sesekali menyanyi bersama dan bersenda gurau. Askana hanya tersenyum melihat pemandangan ini, baru kali ini dia merasakan masa-masa indah SMA yang sering dibicarakan orang. Apalagi ada Ghalibie yang duduk disampingnya, Ghalibie dengan celotehnya memberi tahu ini dan itu ketika melihat sesuatu yang menarik di pinggiran jalan yang mereka lalui. Walaupun terkadang hanya ditanggapi dengan senyuman, tapi, Ghalibie tak pernah bosan untuk menceritakan semua hal yang diketahuinya kepada Askana. Askana begitu menikmati perjalanan ini, dia dapat dengan leluasa memandangi siluet Ghalibie, betapa sempurnanya wajah orang baik ini.

            Malampun menjelang, suasana bis yang riuh rendah kini telah disambut dengan kesunyian, mereka telah lelah. Lampu di dalam bis mulai di matikan satu-persatu. Kantukpun segera menyerang Askana, kepalanya hampir jatuh ketika tangan Ghalibie dengan cekatan memegangnya dan menaruhnya ke pundaknya. Tak ada rasa yang dapat diungkapkan Ghalibie malam itu, dadanya penuh sesak dengan limpahan rasa sukanya kepada Askana. Dan malam ini, disampingnya tertidur gadis manis yang disukainya, dia tak mau melewatkan momen ini, dia akan memandangi wajah ini sepanjang malam. “bahkan saat tertidur kau terlihat begitu manis Askana”, ucapnya lembut.  
    
            Matahari begitu terik ketika bis yang mereka tumpangi sampai di tanah perkemahan di puncak, walaupun matahari begitu terik namun dingin masih merenggut haknya untuk menyebarkan panas. Siang itu teteplah terasa begitu dingin di puncak, dengan cekatan Ghalibie segera mengalungkan syalnya kepada Askana, dan untuk kesekian kalinya Askana hanya menurutinya.

            “silahkan istirahat anak-anak, sebentar lagi kita akan makan siang”, ucap guru pembimbing. Merekapun segera menempati tempat yang telah disediakan untuk sejenak beristirahat. Setelah makan siang dibagikan, bersama-sama mereka menyantap menu makan siang itu.

            Tenda-tenda segera didirikan, tenda antara laki-laki dan perempuan berbentuk melingkar berhadap-hadapan di batasi dengan tanah lapang, untuk api unggun dan pentas seni. “anak-anak, ayo semuanya berkumpul, kita akan bagi kelompok untuk hiking siang ini ya” arahan sang guru. Merekapun dengan seksama medengarkan arahan-arahan sang guru apa dan bagaimana hiking itu dilakukan. Setelah kelompok dibagikan, masing-masing kelompok tersebut diberikan peta hiking yang akan mereka lalui. Seperti biasa Ghalibie memaksa untuk satu kelompok dengan Askana, tapi hal itu ditolak oleh panitia penyelenggara karena nanti ditakutkan akan terjadi kedengkian oleh siswa yang lain. Karena pembagian kelompok ini dilaksanakan secara acak.

            Sial bagi Askana, alih-alih satu kelompok dengan Ghalibie, yang dapat melindunginya, dia satu kelompok dengan Riuza. Ya satu-satunya teman cowok yang sangat sinis dan membenci dirinya.  Dia hanya menyugesti dirinya bahwa Riuza transparan, anggap saja dia tidak berwujud, dan tak tampak wujud nyatanya. Askana begitu takut bahwa hikingnya kali ini tak akan menyenangkan bila harus satu kelompok dengan Riuza. Satu kelompok terdiri dari lima orang, selain dirinya dan Riuza masih ada tiga temannya yang lain. Karena jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk mereka berjalan bersama, maka mereka berjalan beriringan pada jalan setapak itu. Askana berjalan paling akhir, karena tidak mau terlalu dekat dengan Riuza yang berjalan paling depan sebagai ketua kelompok.

            Ketika berjalan berkelompok mereka diharuskan agar selalu menyanyikan yel-yel kelompok sepanjang jalan, hal ini dilakukan agar tidak ada yang melamun dan untuk memastikan anggota kelompok masih lengkap. Senja telah membayang, saat mereka masih berjalan dengan santainya sambil menyanyikan yel-yel kelompok, ketika Riuza tiba-tiba berhenti, entah mengapa dia menghentikan langkahnya, dia menghitung lagi anggotanya, dan betapa terkejutnya dia saat berhitung anggotanya hanya tersisa tiga orang, Askana hilang. Riuza kalut, dia adalah ketua kelompoknya dan hilangnya Askana adalah tanggung jawabnya, kemudian dia berpesan kepada ketiga temannya untuk memfoto peta tersebut dan mengikutinya sampai akhir dan beritahukan kepada guru bahwa Askana telah hilang. Dia akan mencari Askana terlebih dahulu menggunakan peta yang asli.

            “Kaaaan, Kaaanaaa,,, teriaknya diikuti gema yang menggema pada hutan senja itu, langit begitu gelapnya, tak ada sedikitpun sahutan dari Askana, dia berlari kesana kemari berteriak-teriak mencari keberadaan Askana, tak habis pikir olehnya kemana Askana pergi, tak ada suara apapun ketika Askana menghilang, dia juga lupa membawa senter, dia hanya membawa korek api gas dikantongnya yang akan dia pergunakan untuk menghidupkan api unggun malam ini. Malam telah tiba, hutan ini begitu gelap dan menakutkan ketika malam menjelang apalagi dia hanya seorang diri, mengapa tak ada bantuan datang pikirnya, apakah mereka kini sulit untuk menemukannya? Apakah dia terlampau jauh masuk kedalam hutan? Ketakutan segera merayapinya. “aaaaakkk… teriaknya ketika tiba-tiba ada tangan yang memegang celananya, dia tak berani sama sekali melirik siapakah yang menarik celananya, hanya bayangan suster ngesot yang ada dibenaknya. Dengan ketakutannya diberanikanlah dirinya untuk membuka matanya pelan-pelan, ternyata yang dia lihat adalah Askana sedang terbaring tak berdaya.

            “kaan, ini gue.. lo ga pa pa?” ucapnya lembut. “iya bie”, ucap Askana dengan suara paraunya, Askana kedinginan suaranya habis, hal itu diperparah dengan buta senja yang dideritanya, di hutan malam itu, Askana sama sekali tidak dapat melihat apapun, termasuk siapa orang yang menolongnya malam itu.

            Dengan cekatan Riuza membopong Askana yang tengah lemas tak berdaya, ditengah gelapnya hutan dia mencari-cari tempat yang sedikit terbuka dan aman yang dapat mereka tempati untuk malam itu. Karena malam sangatlah dingin, untuk meletakkan Askana di tanah tak tega dia melakukannya, kemudian Riuza mengumpulkan dedaunan yang kering untuk dijadikan alas Askana berbaring dan beberapa dahan kering untuk dibakarnya guna menghangatkan tubuh mungil Askana.

            Askana tidur meringkuk menahan dingin, tubuhnya gemetar, ternyata api yang dinyalakan tidak cukup untuk menghangatkan tubuh Askana, Riuza segera melepaskan semua pakaiannya guna menyelimuti tubuh Askana. Dia tak tega melihat Askana kedinginan. Dengan berbalut celana jeans dan kaos dalamnya, Riuza menghangatkan dirinya di dekat api unggun yang dibuatnya, serta menjaganya untuk tetap hidup, dia membuat matanya tetap terjaga sepanjang malam kalau-kalau ada babi hutan yang menyerang mereka.


            Pagi-pagi rombongan guru dan beberapa siswa menemukan mereka berdua di tengah hutan, dengan kondisi Askana yang lemah dan Riuza yang meringkuk menahan dingin. Ghalibie hanya menatap nanar kepada Askana yang tertidur tak berdaya di atas tumpukan dedaunan kering. Dia berlari seribu langkah untuk segera membopong Askana kedalam tandu, dia membuang begitu saja baju Riuza sembarangan, yang ada dalam benaknya adalah tubuh pucat cewek yang disukainya, dan dia sama sekali tidak dapat menolongnya. Setelah diselimuti, Riuzapun dipapah beberapa temannya. Askana memegang tangan Ghalibie disampingnya, dengan mata sedikit terpejam mengucapkan terima kasih kepada Ghalibie, diapun hanya membalasnya dengan senyuman manis.

Friday, 15 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (3)

          Gosip mengenai kedekatan Askana dengan Ghalibie segera menyebar ke seluruh penjuru sekolah, setiap siswa ketika berkumpul selalu menceritakan tentang apa yang dilakukan Ghalibie untuk Askana. Askana hanya membiarkan gosip itu berlalu melewatinya bagaikan angin. Dia tidak mau memikirkannya, apalagi untuk menjalin hubungan khusus dengan Ghalibie adalah hal yang mustahil. Ghalibie adalah seorang cowok tampan, kaya dan cerdas, sangat bertolak belakang dengannya, hanya satu hal yang mungkin dapat ia unggulkan dibandingkan Ghalibie, yaitu otaknya. Walaupun dengan kondisi ekonomi yang kurang Askana tetaplah seorang siswi yang cerdas. Bukan bermaksud untuk bermunafik kepada dirinya sendiri, tetapi dia terlampau sadar siapa dirinya dan siapa Ghalibie itu, dia membuang jauh-jauh bayangan dan anggapan teman-temannya bahwa apa yang dilakukan Ghalibie adalah suatu hal yang istimewa, dia tak mau larut akan arus yang seolah-olah menariknya untuk mengambil kesimpulan bahwa Ghalibie suka padanya,  di benaknya Ghalibie hanyalah cowok baik yang kasihan dengan gadis miskin seperti dirinya.

            Dia tengah membawa bekal ketika tiba-tiba ada tangan yang begitu ia kenal, menggandeng tangan kirinya, kemudian tangan tersebut menariknya untuk berlari. Askana hanya menurutkan langkahnya mengikuti cowok tersebut, mereka berhenti di bawah pohon Flamboyan, tempat istimewa Askana. “duduk kan, hari ini gue juga bawa bekal, kita makan bareng ya” ucapnya bersemangat. Askana hanya diam membisu, dia memperhatikan senyuman yang menentramkan itu, “hai! Jangan ngelamun dong, ayok dibuka, gue udah bangun subuh-subuh nih buat bikin bekal hari ini, gue ga pernah liat lo ke kantin dan denger dari anak-anak lo sering makan kesini, yaudah gue bawa bekal juga, biar bisa bareng makan sama lo” celotehnya. Askana hanya melemparkan senyum padanya, bukan senyum yang biasa ia torehkan, kali ini Askana tertawa tanpa suara ,terlihat deretan gigi putih nan rapi miliknya, matanya sedikit menyipit, sungguh manis. Tak biasanya Askana dapat tertawa seperti itu, bahkan kepada ibunya, Ghalibie adalah cowok yang beruntung yang dapat melihat senyuman manis Askana. Kali ini giliran Ghalibie yang diam membisu, dia terpesona dengan senyuman Askana, dia tidak menyangka bahwa gadis pendiam ini memiliki senyum yang begitu manis, yang dapat membuat jantungnya berdebar tak karuan. Secara refleks Ghalibie, menutup bibir Askana dengan telunjuknya, “Kan, jangan pernah nunjukin tawamu yang seperti ini kepada orang lain ya” ucapnya serius. Askana bengong dan hanya menganggukan kepalanya, bingung. “Bukannya gue gak mau lo menderma senyum lo sama orang lain Kan, Cuma gue ga mau orang lain terpesona sama senyum lo dan suka sama lo, gue ga mau!” ucapnya dalam hati. Semilir angin siang itu begitu bersahabat, bunga-bunga Fla yang sedang bersemipun jatuh menghiasi makan siang dua insan yang sedang saling terpesona itu.

            Sore itu adalah jadwal Askana mengajari Ozi, dia sedang mengajarnya ketika telfon selularnya berdering, segera dia mengangkatnya, “Assalamualaikum Halo”, “Halo Kan ini bu Siti, ibu kamu tadi kepleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur, sekarang Ibu kamu di RS Abdi Waras, segera kesini ya” ucap suara di sebrang telfon panik. Askana menaruh telfon genggamnya tak berdaya, dia lemas dengan berita yang didengarnya ini, matanya berkaca-kaca.”kakak kenapa?”, Askana mengusap air matanya dan menjawab“hari ini pelajarannya ditutup dulu ya zi, kita lanjutkan besok lagi, ibu kakak sakit”, ucapnya dengan melempar senyum. Dia begitu tegar, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan orang, dengan tenang dia menemui ibu Wibowo dan meminta maaf untuk menyudahi kelas sore itu, Ibu Wibowopun mengerti dan mengizinkan Askana untuk pergi.

            Dibawah derasnya hujan, Askana mengayuh sepedanya dengan sangat kencang, dengan bulir-bulir air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Ia menangis di bawah guyuran hujan, karena dia tahu, hujan akan melindunginya dari penglihatan orang di sekitarnya, bahwa dia sedang menangis. Saat tiba di RS di langsung menuju ke dalam bilik yang telah di beritahukan bu Siti kepadanya, ternyata ibunya sedang dirawat di ICU karena mengalami gegar otak dan pendarahan. Ibu Siti juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini, karena hal sepele sampai harus mengalami pendarahan dan kehilangan banyak darah. Askana tak mampu membendungnya lagi dia jatuh bersimpuh di lantai dan menangis tersedu-sedu. Dia menangis dengan begitu kuatnya sampai siapapun yang lewat akan menatapnya. Ibu Siti sibuk mencari pendonor untuk ibu Askana, karena Askana telah lemas dan tak mampu mendonorkan darah miliknya. Cowok itu segera menyelimuti Askana yang tengah tersungkur dengan jaket merah miliknya, kemudian dia menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU. Dia mendudukkan Askana di sampingnya, memegang kepalanya supaya bersandar di bahunya, juga mengusap air mata Askana menggunakan tisu. “menangislah, keluarkan semuanya, jangan mencoba menjadi kuat” ucapnya. Askana hanya menatap mata Ghalibie dengan matanya yang sembab, cowok itu sekali lagi, dapat membuatnya tentram setiap Askana disisinya, dia dapat membuat Askana merasa nyaman disampingnya.

            Beberapa jam kemudian, ibu Askana dapat keluar dari ICU setelah ibu Siti membawakan pendonor kepadanya,”Kan nanti ucapkan terima kasih sama teman cowokmu ya, dia yang udah donorin darah buat ibumu”, ucapnya dengan senyum. “siapa bu?” “ibu ga tahu namanya, dia Cuma bilang temanmu, dia baru saja pulang kok kalo mau berterima kasih, dia memakai jaket biru tua”, terangnya. Tanpa berpikir panjang Askana mengambil langkah seribu, meninggalkan Ghalibie dengan Ibu Siti yang terheran-heran dengan tingkah Askana, Askana memanglah gadis yang tidak dapat ditebak. Askana lari dengan seribu pertanyaan di benaknya, kali ini dia harus menemui sosok ini, mungkin ini adalah orang yang selalu menolongnya, dia sangat ingin berterima kasih kepadanya. Sepanjang lorong menuju pintu keluar tidak terlihat sosok menggunakan jaket biru tua seumuran dia, dia mencari mengelilingi tempat parkir dan bertanya dengan orang-orang disekitar, mereka sama sekali tidak tahu. Cowok berjaket biru tua itu hanya mengamati tindakan Askana dari jauh, dia sembunyi di balik dinding pagar. Dia belum siap jika kali ini dia harus membongkar identitasnya, saat ini bukanlah saat yang tepat bagi Askana untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Askana sibuk mencari dan terhenti di pagar RS itu, dia sedang menengok ke arah dinding pagar tempat cowok berjaket biru tua itu bersembunyi dan melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Ghalibie memegang bahunya, “Kan, ibumu telah siuman dan mencarimu”.

            Dengan lunglai dia membalikkan badannya dan mengikuti langkah Ghalibie menuju tempat ibunya di rawat, dia masih penasaran siapakah orang itu, siapakah dia sehingga harus selalu menolongnya.

            Askana sedang duduk disamping ibunya yang terbaring lemah, ketika tangan Ghalibie menariknya keluar ruangan, Ghalibie menyerahkan kantung kresek putih kepadanya. “mandi dan bilas rambut lo, pakai baju itu, gue ga mau ngeliat lo sakit karna kehujanan”  ucapnya penuh perhatian. Askanapun menuruti permintaan Ghalibie, dan sebagai gantinya Ghalibie masuk ke ruang tempat ibu Askana dirawat menjaganya sementara Askana mandi.

            Senyum berkembang dibibirnya, ketika melihat Ghalibie tertidur  di samping ibunya, dia menyelimutkan jaket merah itu ke pundak Ghalibie yang tertidur pulas. Askana segera mengambil kursi di sampingnya, dan mengamati setiap lekuk wajah Ghalibie, wajah ini yang selalu ada disampingnya saat dia dalam derita, wajah ini yang mampunyai senyum indah yang selalu meronakan pipinya, wajah ini yang semua tindakannya selalu membuat Askana merasa istimewa. Ghalibie terbangun, Askanapun segera memejamkan matanya pura-pura tidur. Ghalibie segera menggendong Askana dan menidurkannya di sofa tak jauh dari tempat tidur ibunya, dia mengambil selimut dan menyelimuti Askana, “bahagialah kan, gue ga sanggup buat lihat lo nangis kaya tadi karena gue sayang lo”, ucapnya lembut sambil mengusap-usap rambut Askana. Kemudian dia memakai jaket merahnya dan pergi. Askana membuka matanya, dia menepuk-nepuk pipinya, ini bukan mimpi pikirnya. Sangat jelas terdengar apa yang diucapkan Ghalibie tadi, hatinya kembali berkecamuk.        

            Siang itu ibunya telah diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit, Askana telah membongkar tabungannya dan meminjam uang kepada Ibu Siti guna membayar biaya perawatan ibunya. “maaf mbak, seluruh  biaya perawatan ibu anda sudah ada yang membayarnya” ucap suster. “siapa?”, “dia tidak mau memberikan identitasnya, dia hanya meninggalkan surat ini buat mbak”, ucapnya menerangkan. Lagi-lagi kertas biru muda itu, yang bertuliskan:

Tersenyumlah selalu, tangismu adalah deritaku

            Bertambah rasa penasarannya, mengapa dan siapakah orang ini, jika orang ini adalah Ghalibie tidaklah mungkin karena dia selalu disampingku. Mengapa dia melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir di benaknya.
           
           
           

            

Thursday, 14 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu (2)

             Langit begitu terik ketika Askana pulang dari sekolahnya, hari ini adalah jadwalnya untuk mengajar Ozi. Dia segera mengambil sepeda dan mengayuhnya santai. Dia menikmati angin yang dihembuskan pepohonan sore itu. ketika menghindari lubang, tanpa sengaja ada mobil berkecepatan tinggi yang sedang melaju menyerempetnya, Askanapun ambruk dia tersungkur mencium panasnya aspal. Sepedanya koyak, tubuhnya terpental beberapa meter. Sialnya, mobil yang menabraknya melarikan diri dan tak bertanggung jawab. Dengan setengah kesadaran dia bangun, sembari duduk dia hanya dapat menatap nanar pada kondisi si merah, terlalu banyak goresan ditubuhnya, bahkan hanya untuk sekedar bangunpun tak mampu dilakukannya, dia lemas. Sosok yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi segera mengambil langkah seribu, dia lari. Tetapi langkahnya segera berhenti ketika ada cowok lain yang turun dari mobil dan membantu Askana.

            Cowok itu keluar dari mobilnya dengan langkah yang terburu, dia langsung menggendong Askana yang tengah lemas tak berdaya. “gak usah Bie, kamu ga perlu kaya gini, aku ga papa kok” ucap Askana dengan tangan yang menahan bahu Ghalibie supaya tidak menggendongnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ghalibie mendengar penolakan Askana, dia bangkit dan menggendong Askana di kedua tangannya, mukanya begitu kawatir melihat kondisi Askana dengan tubuh yang penuh goresan dan bermuka pucat. Askana tak mampu lagi menolaknya, tubuhnya terlalu lemas untuk menolak Ghalibie, dia hanya pasrah saat Ghalibie menggendong dan memasukkannya ke dalam mobil.

            Mobil Ghalibie melaju kencang dia hendak mengantarkan Askana ke rumah sakit terdekat, “kita ke rumah sakit ya kan,?” ucapnya. “ga usah bie, anter aku ke rumah aja, dikasih obat merah ntar juga sembuh kok”. Bukan bermaksud menolak ajakan Ghalibie, Askana hanya tidak ingin merepotkannya, karena dia juga tidak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit, dan jika dibawa  kesana Ghalibie pasti memaksa untuk membayarnya. Walaupun Askana adalah orang miskin, tapi dia pantang menerima pemberian orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu, itu adalah pelajaran yang sangat berharga yang diberikan sang ibu padanya. Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan mini mart, Ghalibie keluar meninggalkan Askana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Askana hanya termenung, apakah Ghalibie sangat marah karena penolakannya untuk membawanya ke rumah sakit sampai tidak mengucapkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian Ghalibie keluar dengan menenteng kantong kresek putih di tangan kanannya, saat masuk ke dalam mobil Ghalibie segera membuka dan mengambil plaster dan obat merah serta cairan pembersih luka. Dengan segera dia meraih tangan Askana yang dipenuhi goresan, “bie!” pekiknya Askana mencoba menarik tangannya namun Ghalibie dengan gesit menahannya. “gue pergi dengan diam, karena gue tau lo bakalan nolak kalo gue bilang beli obat ini, sekarang lo hanya perlu diam dan biarin gue obatin luka-luka lo ini” ucapnya sembari mengobati luka-luka Askana.

            Di jalanan tempat Askana jatuh, cowok yang sedari tadi memperhatikan Askana, hanya mampu mengumpat akan dirinya, mengumpat karena tak mempunyai cukup keberanian untuk menolong Askana. Dia memungut sepeda Askana yang telah rusak.

            Setelah selesai, Ghalabie memacu mobilnya kembali untuk mengantar Askana pulang, “sorry kan, gue lupa tadi bawa sepeda lo karena gue udah terlalu kalut liat kondisi lo yang lemah tadi, abis nganterin lo, gue bakalan balik buat ngambil sepeda lo” ucap Ghalibie. Askana hanya mampu tersenyum “terima kasih, bie!” hanya kalimat itu yang mampu terlontar dari bibirnya dari sekian banyak kata yang ingin diutarakan.

            Sesampainya di depan rumah, Ghalibie memapah Askana untuk masuk ke rumahnya, ibu Askana lari dari depan pintu dengan kecemasan yang tergambar jelas di raut wajahnya. “kenapa kamu nak?” sambil melihat goresan luka dari tubuh Askana, Ghalibie pun panjang lebar menjelaskan apa yang telah terjadi pada Askana, yang kemudian pamit karena hari sudah larut. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ghalibie, sang ibu memapah anaknya ke dalam rumah dan membaringkannya. “istirahatlah dulu nak, nanti ibu ambilkan makan buat kamu”, “tidak usah bu, aku terlalu lelah aku ingin tidur” ucap Askana. Kemudian ibunya meninggalkan Askana untuk beristirahat.

            Malam itu kenyataannya Askana tak mampu untuk memejamkan matanya, bayangan wajah Ghalibie terekam jelas oleh otaknya, dia coba untuk menyingkirkan wajah itu berkali-kali, namun berkali-kali pula wajah itu kembali. Kejadian saat Ghalibie menyelamatkannya dari Monalisa dan saat dengan sabar Ghalibie mengobati luka-lukanya seolah terputar kembali. Dia bahagia, dia bahagia melihat senyum Ghalibie saat menatapnya, dan tangan dengan jemari panjang itu menyentuhnya, tapi dengan segera dia menyingkirkan kebahagiaannya. Mungkin Ghalibie hanya orang baik yang mengasihani gadis miskin seperti aku, ucapnya dalam hati.

            Pagi itu Askana nekat ingin berangkat sekolah, larangan dari ibunya sama sekali tidak didengarkannya, dia bangun pagi sekali karena hari ini si merah tidak ada. Dia harus berjalan beberapa ratus meter ke depan gang untuk menunggu bis, ya dia sangat sayang jika satu haripun absen, dia menyayangkan jika ilmu hari ini tidak ia dapatkan padahal ibunya telah mati-matian membiayai sekolahnya. Betapa kagetnya dia ketika membuka pintu rumahnya pagi itu, si merah dengan kondisi sangat sehat berada di depan matanya, tak ada lagi bagian yang terkoyak, semua bagus seperti sedia kala, ada kertas kecil berwarna biru muda tertempel di sadel sepedanya,

         Aku telah memperbaikinya sepanjang malam, pakailah! Aku tak mau tak melihatmu di sekolah.

Kertas itu berwarna sama seperti kertas yang berada pada jaket waktu itu, tulisannyapun sama, tapi lagi-lagi tidak ada nama maupun inisialnya. Walaupun dengan badan penuh luka dan goresan semuanya tidak terasa, Askana begitu bahagia, dia bahagia melihat si merah telah sembuh, dan sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah memperbaiki sepedanya.

            Saat tiba di sekolah dia langsung memarkir sepedanya, dengan langkah perlahan dan sedikit pincang dia berjalan menuju kelasnya. Ketika dia memasuki kelas seisi kelas memerhatikannya, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Askana sehingga begitu banyak plaster menghiasi tubuhnya. “lo jatuh dimana kan?” ucap Uzda kawatir. “Ah, Cuma kesrempet mobil doang kok, aku gak papa” ucapnya dengan senyum. Tak lama kemudian bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk di dalam kelasnya masing-masing. Acara ajar-mengajarpun berlangsung, “Askana, tolong kerjakan latihan no 5 di papan tulis dan jelaskan jawabannya kepada teman-temanmu” ucap Pak Sugiarto yang tak lain adalah guru fisika. Dengan yakin Askanapun maju dan segera mengambil boardmarker, tapi apa yang terjadi, tangannya terlalu kaku untuk memegang boardmarker, tangannya gemetar sehingga boardmarker yang dipegangnya jatuh, dia pun jongkok untuk memungutnya tapi betapa kagetnya dia ketika ada tangan lain yang juga memungut boardmarker itu. “sini biar gue tulisin”, ucap Ghalibie dengan senyuman yang sudah cukup untuk membuat pipi Askana merona merah. Seisi kelaspun riuh segera, teman-teman kelas mereka membully apa yang barusan dilakukan oleh Ghalibie. “oke tenang anak-anak” ucap Pak Sugiarto sembari memukul meja. Kelaspun seketika tenang kembali, dengan cekatan Ghalibie menulis jawaban Askana di papan tulis sesuai yang diarahkan, setelah selesai Ghalibie menaruh boardmaker dan melemparkan senyum kepada Askana, Askana hanya menunjukan wajah datar tanpa ekspresi, dia bingung.

            Entah mengapa siang itu begitu berwarna bagi Askana, dia membuka bekal dan segera menyandarkan punggungnya pada Fla. “fla, hari ini kamu cantik banget sih, kayaknya bunga-bungamu terlihat lebih indah, Fla! Aku sedang tak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatiku, entah mengapa Ghalibie memenuhi memori otakku. Dia tak mau pergi barang sekejap, Fla! Apa ini yang dibilang orang jatuh cinta? Apa jangan-jangan orang yang memberiku kertas biru itu Ghalibie juga Fla? Duuuhh ya ampuun kenapa orang itu begitu mengangguku sih” ucap Askana tanpa henti. Fla segera menggoyangkan dahan-dahannya dan menjatuhkan beberapa bunganya. Pipi Askana merona merah, senyuman selalu mengembang di bibirnya bahkan ketika dia sedang menyantap makan siangnya. Tapi tanpa diketahui Askana, ada seorang cowok sedang berdiri dibalik pohon Flamboyan, tepat di belakangnya. Cowok itu mendengar semua ucapan Askana, semuanya, cowok tersebut hanya diam dan menatap lagit menahan tetesan air matanya jatuh.

            Setelah selesai dia segera membereskan bekal makannya dan kembali ke kelasnya. Namun sial baginya, ketika berjalan di koridor dia bertemu dengan Monalisa dan gengnya “gimana enak kan dorong sepeda nyampe rumah?” ucapnya kasar. “dorong?” ucap Askana, dia bingung atas apa yang diucapkan Monalisa barusan, apa yang dimaksud dengan dorong. Dia hanya berdiri mematung, “siapa yang dorong sepeda” ucap Askana polos,  “Apa! Lo “ belum sempat Monalisa menyelesaikan kata-katanya, Ghalibie datang, dia langsung memegang tangan kanan Askana dengan tangan kirinya, dia menggenggamnya erat dan membiarkan Askana berlindung di belakang tubuh tingginya. “ga usah gangguin pacar gue!” jeddarr!! Bagai petir di siang bolong Askana kaget luar biasa,seperti mimpi dia belum siap atas apa yang didengarnya ini, segera Askana melepaskan tangan Ghalibie dan lari. Dia lari dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia lari setelah Ghalibie mengucapkan kalimat itu, apakah dia takut? Tetapi apa yang dia takutkan? Dia juga tidak tahu, dia hanya lari dan lari ke dalam kelasnya dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, mungkin yang dia takutkan adalah “jatuh cinta”.

            Tak lama setelah itu Ghalibie juga memasuki kelas, Askana mencoba menatap wajah Ghalibie dengan tatapan bersalah, tapi Ghalibie hanya membuang mukanya. Mungkin Ghalibie marah padanya karena telah lari begitu saja. Rasa bersalah kini begitu dalam dia rasakan, dia ingin berbicara dengan Ghalibie dan menjelaskan semuanya, tapi dia terlalu takut.


            Pada istirahat kedua Askana memutuskan pergi ke UKS untuk meminta obat, dia merasa kepalanya begitu pusing. Tetapi kondisi UKS siang itu sepi, mungkin karena istirahat petugas yang menunggu sedang sholat dzuhur, tak apalah pikirnya toh dia pernah menjadi petugas UKS dan mengetahui letak obat-obatan. Segera Askana mengambil obat di salah satu lemari, kemudian terdengar suara orang mengerang kesakitan, dengan segera Askana mencari sumber suara itu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ghalibie duduk tersungkur di lantai dengan tangan yang penuh darah, Askana mengambil langkah seribu diapun duduk di samping Ghalibie dan segera meraih tangannya, Ghalibie segera menarik tangannya kembali setelah mengetahui bahwa itu adalah Askana. “pergi” ucap Ghalibie perlahan, Askana hanya terdiam mematung. “pergi!” ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. Tubuh Askana bergetar namun tak mampu untuk meningbiekan Ghalibie seorang diri, dia duduk disamping Ghalibie dan menundukkan kepalanya. Ghaliabiepun hanya terdiam, karena dia tidak tega sebenarnya untuk mengusir Askana, rasa sukanya melebihi rasa bencinya. Kemudian Ghalibi menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Askana menggunakan telunjuknya, Askana hanya menjauh menghindari telunjuk Ghalibie.Ghalibiepun menyingkirkan rambut itu sekali lagi, dengan jelas dapat terlihat air mata Askana membasahi pipinya, Askana menangis. Dengan terisak Askana berucap “maafin aku bie, aku juga bingung kenapa aku tadi lari, tapi aku sama sekali ga bermaksud buat nyakitin hati kamu”. Ghalibie tak mampu berkata lagi, dia mengusap pipi Askana dan langsung meraih pundak cewek yang disukainya itu dan memeluknya.