Kesendirianku ini begitu bebas, lepas, aku tak pernah merasa
kesepian, aku bebas bergaul dengan siapa saja, dan tak ada yang melarangku,
mencemburuiku, tak ada yang memaksaku untuk melakukan hal ini hal itu, hidupku
sempurna. Aku memiliki banyak teman yang selalu ada disampingku, selalu
menolongku, mereka sangat setia. Tak ada kata galau, aku begitu menikmati
kesendirianku ini daripada mempunyai pacar dan harus tersakiti lagi. Aku tak
mau jatuh cinta, itu membuatku sakit hati akut, mungkin ini yang dibilang
Philopobia, dimana orang merasa terlalu nyaman dengan kesendirianya dan takut
untuk menanggung resiko sakit hati jika jatuh cinta. Karna jatuh cinta itu
menguras energi, dan mengakibatkan kegalauan berkepanjangan, berbahaya. Tapi
sayangnya kita tidak bisa memilih, kapan jatuh cinta dan dengan siapa kita
jatuh cinta. Mengapa sih kita harus jatuh cinta? Apa itu kebutuhan? Apakah akan
merasa kesepian jika tak punya pacar? Pemikiranku hanya berkutat dengan hal itu
saja, cukup! aku tidak mau jatuh cinta.
Tapi
sepertinya tuhan mengutuk atas perkataanku, semuanya telah berbalik, entah
mengapa rasa itu datang ketika aku benar-benar ingin untuk menolaknya, tapi
sekali lagi cinta tak pernah memilih kepada siapa hati ini akan berlabuh.
Senandung hujan senja itu memulai
pertemuanku dengannya, pemuda kurus tinggi, berambut kribo dengan gingsul
menghiasi deretan gigi putihnya. Dia begitu manis, sekali lagi hujan telah
mengantarkanku kepada seseorang yang akan mengisi tempat di hati ini (lagi).
Langit memecah tak sekiranya, ia memuntahkan semua isi perutnya, membuat
semuanya basah, begitupun aku, dengan basah kuyup kuhentikan motorku dan berteduh di halte abu-abu itu. Sekiranya
hujan begitu deras, tapi mengapa hanya aku dan pemuda itu saja yang berteduh
menunggunya reda. Kami berdua seperti dua onggokan kayu yang disandingkan,
saling diam, tak ada seorangpun yang memulai percakapan. Dia begitu sibuk
dengan Hpnya dan begitupun aku, kami asik dengan dunia maya kami sendiri. Keheningan
itu pecah ketika dia tiba-tiba bertanya, “Ada powerbank ga”? aku berhenti
sejenak dengan handphone-ku, pemuda ini sungguh tak sopan, tak ada basa-basi
sama sekali. Aku merogoh ke dalam tasku dan memberikannya begitu saja, tanpa
melihat raut mukanya. Dia hanya memangambilnya tanpa mengucap kata terima
kasih, sungguh menyebalkan. Halte abu-abu itu sunyi kembali, kami tak saling
berucap kata, dan fokus dengan gadget kami masing-masing. Hujanpun tak kunjung
reda, petang ini telah menyapa kebersamaanku dengan pemuda tak tau sopan
itu. Tiba-tiba datang sebuah mobil
parkir tepat di depan kami berdua,
pintunya terbuka. Kemudian seorang wanita cantik dengan rambut hitam sebahu
turun dari kursi sopir dengan membawa payung
dan menghampirinya, mereka saling bersenda gurau, “mungkin itu
pacarnya”, ucapku dalam hati. Tak lama kemudian wanita itu mengajak pemuda itu
untuk turut bersamanya, akupu baru sadar ternyata pemuda itu tak membawa motor.
wanita itu kembali ke dalam mobilnya saat pemuda itu menghampiriku, dia
mengembalikan powerbank-ku dan memberiku jaket merahnya. “Pakailah, hujan
sepertinya tidak segera reda, segeralah pulang”, ucapnya lembut. lidahku kelu,
tak ada satu katapun terucap, aku hanya mampu melihat mimik mukanya, senyum
indah itu, aku hanya mampu melihatnya berlalu dan kemudian menghilang di
kejauhan bersama wanita cantik itu.
Benar
ucapnya, hujanpun tak kunjung reda. Ketika malam telah datang, kuputuskan untuk
menerjang tangisan awan dengan jaket merah miliknya. Parfumnya begitu hangat
merayap kedalam sela-sela indra penciumanku, menenangkan. Membuatku tersenyum
tanpa henti disepanjang perjalananku.
Ini tidak boleh! Ini bukanlah hal yang baik! Aku telah berjanji pada diriku
sendiri untuk tidak jatuh cinta. Aku tak mau terkubur di lubang yang sama untuk
kedua kalinya, pengalaman pahit yang lalu amatlah cukup menguras energi dan
pikiranku. Kucoba kupatahkan senyumku, biarlah hanya seperti hari yang biasa
saja tanpa pemuda dan jaket merah itu.
Kutanggalkan ingatanku tentang pemuda itu dan jaket
merahnya, aku menjadi philophobia lagi, kejadian waktu itu mungkin hanya sentilan
kecil tuhan kepadaku agar tak sembarang berucap. Sepertinya bumipun sedang
dalam keadaan yang tidak baik, sama sepertiku. Dia selalu dibasahi oleh
derasnya hujan, hampir setiap hari hujanpun mengguyur bumi ini. Waktu itu
terulang lagi, aku kehujanan dan harus berteduh karna bajuku basah kuyup. Namun
kali ini aku berteduh di sebuah toko depan halte abu-abu itu, dari tempat ini
terlihat jelas sosok lelaki berambut kribo itu, dia tak sendiri. Persis seperti
bersamaku waktu itu, dia bersama seorang perempuan yang tengah berteduh. Tak lama
kemudian wanita cantik itu datang dengan mengendarai mobil untuk menjemputnya, dan
lagi pemuda itu memberikan jaketnya kepada wanita yang sedang berteduh itu,
senyumnya memuai. Lama aku termenung, untuk mencerna apa yang baru kulihat
barusan. “dek sedang melihat apa”? tanya penjaga toko. “tidak pak, saya sedang
memperhatikan pemuda itu”, ucapku. Bapak itu tersenyum, dia menceritakan
bagaimana mulanya pemuda itu sering duduk di halte abu-abu itu, dia sedang
menunggu kekasihnya yang ternyata telah meninggal karena sebuah kecelakaan
tragis. Pemuda itu tidak percaya, dan otaknya mulai kacau, dia tidak bisa
menerima kenyataan sehingga membuat mentalnya terganggu. Wanita cantik itu
adalah kakaknya yang senantiasa menjemputnya, yang dengan sabar menunggu
adiknya untuk memberikan jaket-jaketnya kepada wanita mana saja yang berteduh
disitu, karna mereka mengingatkan dia dengan kekasihnya.
Ternyata tuhan tidak benar-benar
mengutukku, ini hanyalah sebagain kisah kecil dari beragamnya manusia hidup
menanggapi pengalaman hidupnya. Bagaimana seharusnya manusia bersikap menjalani
kepahitan hidup. Tuhan sedang mendampingiku dalam ke-philophobia-anku ini. Tuhan
sedang bersamaku menyembuhkan goresan-goresan luka di hatiku yang belum sembuh
dengan sempurna.