Cerita yang lalu itu masih terus berlanjut, kenangan manis 6
tahun yang lalu telah berubah menjadi pahit dan kini tanpa rasa, rasaku telah
mati untuknya yang telah dahulu menikam hatiku dalam-dalam. Ini tentang pria
masa lalu yang tak urung muncul lagi dalam dorama hidupku kini. Cerita itu
berlanjut tatkala keputusan untuk tidak memberinya kesempatan menghubungiku
sama sekali, telah kuhapuskan, hatiku telah stabil sekarang. Bulat keputusanku
untuk menerimanya kembali dalam kehidupanku yang sekarang, tapi tidak untuk
pangeran hatiku. Tidak! Cukupkan hanya untuk menyambung kembali tali
silaturahmi yang hampir setahun ini tak kentara.
Kita mulai
kembali, kubuka blokir untuknya, kita kembali menyapa dan berucap salam. Tak kusangka,
aku tetap terpesona dengan pesannya yang renyah, suaranya yang menggema. Iya, dia
tetap memesonaku. Perang batin dimulai lagi, sepertinya rasa itu belum
sepenuhnya hilang, belum sepenuhnya mati. Dia tetaplah pria yang masih
kusanjung di dalam hati. Tak peduli betapa kuatnya otakku untuk menolak, tak
peduli betapa kerasnya usahaku untuk melupakannya, tetapi seiring canda tawanya
rasa itupun kembali membuncah. Seakan-akan aku telah lupa ingatan bagaimana dia
telah mencacah paksa hatiku dulu.
Itulah mengapa
aku selalu berfikir betapa bodohnya aku, bodohnya aku sampai rela membuka
kembali pintu yang sebelumnya telah kukunci. Mengapa tak kubuang saja kuncinya,
sehingga tak akan mungkin lagi untuk membuka pintu yang sama untuk orang yang
sama untuk kedua kalinya. Berputar otakku berfikir bagaimana caranya aku bisa
menghilangkan dia dari rasaku.
Setelah pesan-pesan
itu akupun memintanya untuk menemuiku, kita telah 6 tahun tak bertemu. Bahkan kita tak sempat bertemu
ketika kita masih bersama, dan permintaankupun dikabulkannya.
Hari itu
adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah 6 tahun ini, tetapi
getaran-getaran itu ternyata telah musnah. Dia hanyalah sekeping kenangan dan
sebuah pelajaran untukku, dia tak lagi ada disana. Getaran yang ada hanyalah
ilusi atas ketidakberdayaanku melepas cinta pertama.
No comments:
Post a Comment