Obrolan kami berlanjut sejalan dengan kebersamaan kami di
kosan kamboja, yah ini mungkin awal baru buat gue, ketemu sama orang yang sama
sekali baru yang awalnya gue pikir songong dan nyebelin, dan ternyata gak
seburuk itu kok. Inget gais, don’t judge the book from it’s cover, right? Awal
perkenalan kami yang ga meyakinkan, ternyata berjalan dengan indah kok. Ini dia
maksud gue, ibaratnya kalo lo liat goa lo harus masuk dulu ke dalem goa itu,
jangan lo pikir goa itu bakalan gelap, bau, banyak serangga dan hal menyeramkan
lainnya. Tapi lo masuk aja belom, coba dulu deh lo masuk, dengan lo masuk lo
bakal ngeliat indahnya stalagtit dan stalagmit yang ada disitu, atau mungkin lo
bakalan nemu, emas, berlian, batu rubi atau bahkan harta karun peninggalan
bangsa eropa, who know kan? Ini dia yang gue temuin dalam dirinya sereen, iya
cewek yang tempo hari itu namanya Sereen, jangan salah loh ya, bukan merek
kue-kue itu BUKAN! Dia senasib sepenanggungan sama gue dan kita nyambung.
Sama-sama dari luar kota, sama-sama wong ndeso yang tak tahu indahnya
perkotaan, halaah.
Awalnya sih
gue pikir mana mungkin sih, gue temenan sama dia? Idih malesin banget deh
songong gitu. Tapi ternyata enggak gais, si sereen ini rame banget orangnya, ya
sesuai sama prediksi awal deh kalo yang itu mah, ga bisa diem, ngomong mulu,
ntah apa yang dia omongin gue iyain aja dah biar dia seneng, eh bukan,
maksudnya gue dengerin lantaran gue temen yang baik, ya kan? Betapa baiknya
gue, lalu bercermin. Mulai saat gue tarik bajunya waktu itu, gue jadi akrab
sama dia, kemana-mana gue bareng dia, makan, main, ke kampus, ke WC, eh enggak
kok yang terakhir itu. Yah pokoknya kita tak terpisahkan lah satu sama lain,
kaya dono sama indro pas kasino udah meninggal gitu. Gue udah mulai aktif
ngampus, masa-masa perang kininya sudah berakhir, sekarang gue udah mulai
menjalankan tugas negara. Di dikelas yang baru ini, kebetulan gue masuk kelas
genap, karna angkatan Akuntansi tahun ini, di bagi kedalam genap dan ganjil.
Dan gue kebagian yang genap, untungnya si Sereen sekelas sama gue. Jadi ya kita
bisa berangkat pulang, main, ngerjain tugas juga bareng. Aneh pikir gue,
setelah gue liat di pengumuman, sebenernya gue ga nemuin nama Sereen di kelas
genap. Dan gue juga udah coba ngomong sama doi, tapi doi ga percaya gitu.
Yaudahlah pikir gue juga, malah seneng kalo gue bisa sekelas sama dia. Paling
ga gue ada temen kan ga sendirian kaya orang ilang.
Waktu pun
bergulir dengan cepat, gue udah mulai kenal sama anak-anak sekelas. Dan
ternyata penglihatan gue di pengumuman ga salah kalo Sereen memang anak kelas
ganjil. Ngeyel sih ni anak dibilangin dari awal juga. Akhirnya dia mulai
ngurusin absen, dan mata kuliah yang dia ambil. Ya sebagai temen yang baik, gue
anterin dia ngurusin ini itu ke rektorat ke dekanat juga. Dan yang paling
nyebelin dari hal itu adalah lambannya pelayanan yang ada di rektorat, gila
gais birokrasinya dipersulit, Sereen dilempar sana-sini, udah kaya shuttlecock
aja smash sana-smash sini. Indonesia ini memang gitu, yang harusnya mudah dan
cepat, di buat susah dan lama. Kurang kerjaan kali ya mereka itu, gue udah
antri lama sama Sereen waktu ngambil form buat pindah kelas, dan banyak yang
antri dan lo tau ga sih gais apa yang dilakuin sama petugasnya ketika
panas-panas kita ngantri dan peluh sudah bercucuran? Main spider soliter, gila
sapa yang ga panas coba, sapa yang ga pengen marah? Di mana kali tu orang naro
otaknya. Tapi ya gini ga enaknya jadi mahasiswa baru yang ga punya dekengan, ga
bisa protes, takut dikeluarin, gila cupu banget. Terserah lo oranglah kalo kali
ini gue dibilang cupu, iya gue pasrah, gue nerima Aku Rapopo.
Ya sesulit-sesulitnya
cobaan, pasti bisa juga dilalui kan. Akhirnya Sereen pindah kelas, untungnya
gue udah mulai bersosialisasi sama anak-anak kelas jadi gue ga begitu merasakan
sepi yang mendalam atas kepergiannya, gue masih bisa lalui ini sendiri, gue
tegar. Ternyata perang dalam dunia kampus ini belum sepenuhnya usai, masih ada
lagi malam kekraban alias MAKRAB. Dengan manis senior-seniorpun mulai merayu
kami, dengan kata-kata manis nan menggoda untuk mengajak kami ikut
berpartisipasi dalam MAKRAB itu. Mulai dari alasan syarat wisuda, yang jelas
salah dan gue taunya pas udah semester akhir dong, mahasiswa baru itu emang
paling enak dikibulin, pasrah banget gak tau apa-apa. Dan dengan bodohnya gue
ikutan MAKRAB, gue ngerasanya kaya di hipnotis gitu gais, nurut aja, disuruh
bawa ini itu nurut, ya aku polos. Saatnya pembagian kelompok, dan taraaa gue ga
sekelompok sama Sereen, yup gue agak sedih sih ga biasanya gue pisah sama dia.
Tapi ga apa-apa, sapa tau gue bakalan ketemu sama orang asik dan seru yang
lain. “lo aruna kan’? tanya seorang cewek berkulit hitam dan sedikit tambun.
“iya, lo siapa’? tanya gue. “Gue Inar, kita satu kelompok MAKRAB”, ujarnya. Wah
ramah nih anak, kayaknya asik “oh, iya sapa lagi yang lain nar’? tanya gue.
Selanjutnya gue dikenalin sama temen-temen satu kelompok gue yang lan, iya dia
yang ngenalin ke temen-temen satu kelompok yang lain, ya maklumlah gue kan
pendiam. Satu orang yang selalu ada di samping inar, buat gue penasaran,
kayaknya kita setipe, sama-sama pendiam. Usut punya usut namanya lili, dia
gadis khas keturunan jawa sama kaya gue, tapi kulitnya ga item kaya gadis
keturunan jawa pada umumnya, dia ga terlalu tinggi ya sekitar 150 cm, dengan
rambut lurus sebahu dan dagu yang meruncing ketika tersenyum, dan deretan gigi
putih nan rapi terlihat ketika gue ngobrol sama dia. Aksennya ketika ngomong
udah cukup buat gue tahu, kalo dia gadis keturunan jawa. Karakter orang jawa
ketika ngomong pasti huruf “D”, “G”, “B” nya tebal, iya dia gitu, kadang-kadang
malah kita keterusan ngomong pake bahasa jawa, kita sama-sama japung, jawa yang
kelahiran lampung.
Segala
peralatan dan perlengkapan yang sudah dibagikan masing-masing orang dalam
kelompok telah siap, sore itu halaman parkir fakultas ekonomi universitas Bina
Bangsa dipenuhi para mahasiswa yang berjubel dan kerepotan disana-sini membawa
barang yang telah ditetapkan. “tiker, senter, galon”? ucap gue, “ceklis run”,
teriak lili. Semua udah lengkap, udah saatnya kita berangkat, setelah adegan
baris-berbaris dan pembukaan oleh Dekan, kita semua berangkat menggunakan bis
ekonomi. Pas banget ya, mentang-mentang kita mahasiswa fakultas ekonomi kita
juga pakenya bis ekonomi, biar apa gitu? Biar matching? Tapi paling enggak gue
masih beruntung, ban bis gue ga bocor, ada dua bis yang bannya harus bocor
karena kelebihan muatan, lebih tepatnya bisnya udah tua, dia butuh istirahat,
pensiun kaya manusia. Alhasil, bis gue karena alasan kesetiakawanan berhenti
untuk nunggu 2 bis tersebut. 3 jam kemudian kedua bis tersebut, telah selesai
diperbaiki dan kita berangkat lagi, sebenernya tempat buat MAKRAB nya sih ga
lumayan jauh, kalo ditempuh pake kendaraan yang masih sehat sekitar 2 jam,
namun berhubung bisnya udah tua jadi kita sampai di tempat tujuan 5 jam
kemudian, magrib barulah kita sampai.
Tempatnya
di pinggir pantai dengan ombak yang besar, tak terlihat layaknya pantai untuk
berwisata, banyak semak belukar yang memenuhi daerah ini. Di dekat pantai ini
ada rumah tua yang udah lama ga dihuni, jadi kesan horornya kerasa banget. Di
samping sebelah kanan rumah tua tersebut ada dua tenda pleton yang berjarak
kurang lebih 10 m, untuk mahasiswa dan mahasiswi peserta MAKRAB, ada beberapa
tenda kecil untuk senior dan panitia juga. Setelah gue beberes, naro
barang-barang, kita semua sholat magrib berjamaah aq sunset senja telah tak terlihat, namun gue ngerasa adem
banget pas sholat, khusyu banget Subhanalloh ciptaan Alloh sungguh luar biasa,
jarang-jarang kan lo bisa sholat di pinggir pantai. Sembari gue melihat
pemandangan, para panitia mulai perkenalan visi misi MAKRAB, serta berbagi nasi
bungkus, yup kita lamplight dinner pake lampu emergency.
Jam baru
menunjukan pukul 21.00 WIB, dan anehnya kita sudah dibubarkan untuk istirahat,
gue udah curiga masa acara seheboh ini udah disuruh tidur jam 9 malem, kaya
anak SD aja jam segitu udah tidur. Dengan pikiran campur aduk, dan hati yang ga
enak karena feeling mengatakan bakal terjadi sesuatu malam nanti. Ntah apa yang
ada di pikiran anak-anak yang lain, wajah mereka begitu datar, gue ga bisa
nebak apa isi kepalanya. Dengan langkah lunglai, gue, inar dan lili masuk
kedalam tenda yang hanya diterangi dengan satu lampu emergency. Tanah yang kami
tiduri, serasa menusuk-nusuk punggung, kayaknya bekas dari semak belukar yang
dipaksa diratakan. Hening malam itu, tak ada hiburan, alat komunikasi kami
dikumpulkan ke kakak pendamping kami, karena lelah ternyata telah mendera
akupun terlelap.
Tepat tengah
malam, aku terkesiap mendengar suara langkah kaki dan bisikan-bisikan,
sepertinya itu suara lelaki pikirku. “Banguuuuunnn dekk, banguuunn”!!! teriak
semua lelaki tersebut. Teriakan tersebut dibarengi dengan suara galon yang
dipukul-pukul, panci, teflon, kompor gas, ya pokoknya lah semua dipukulin
berisik banget sumpah. Dengan tergopoh-gopoh gue dan lili lari keluar tenda
dengan menerobos lewat sela-sela tenda, pintu sudah tak terlihat di mata kami.
Suasana yang lebih mirip adegan penumpasan penjahat perang itu dimulai, mata
kami semua ditutup. Hanya telinga yang mampu menyumbangkan suara tentang apa
yang tengah terjadi di sekitar kami, teriakan senior, suara parau para junior
yang meminta ampun, ironis. Segi mendidiknya apa acara seperti ini? Acara yang
lebih mirip bullying ketimbang pendidikan ini tetap dilaksanakan dan turun
menurun dilakukan dengan alibi mendekatkan diri dengan senior, kalo tujuannya
itu kenapa kita ga ngopi bareng aja kan ya? Meet up di café mana tah. Kalo kaya
gini lebih mirip, ajang balas dendam.
Semua
junior diam, diteriakin diam, disuruh push up diam, disuruh joget-joget diam,
ga ada yang berani protes. Ada sedikit protes, hukuman berlaku. Kalo lo pada
pengen tau orang yang ga pernah salah tu ya senior, ketika mereka salah kembali
ke pasal satu, gila mutlak kan, bahkan dosen aja ga punya hak veto buat protes.
Itutu hebatnya senior. Kami di suruh bikin yel yel, jadi di setiap pos yang
terdiri dari angkatan yang berbeda, kita disuruh nyanyiin yel yel. Gue, inar
dan lili kebetulan suaranya cetar semua kan ya, jadi teriakan yel-yel kami
membahana.
Ternyata dengan
suara kami yang cetar itu, kami jadi pusat perhatian gais, ya lo bisa
bayanginlah cewek-cewek imut semacam kami ini ternyata punya suara yang cukup
untuk menggemparkan MAKRAB malam itu, Aseekk. Kita mulai berjalan post to post
berkenalan dengan kakak-kakak tingkat angkatan lawas yang biasa kita panggil
om, karena usianya udah selisih belasan tahun gitu.
Kita sudah
sampe di post angkatan tahun 2008, dengan berjalan sambil berjongkok kami, di
teriak-teriakin gais, ya gue sih kalo diteriakin tambah keras gue teriak
baliknya hahah… kalo lo lemah lo disini
bakal disiksa! Makanya tunjukin kekuatan lo biar lo ga diremehin, dunia ini
keras gais. “lili, lo suka sama G-Dragon ya? Coba lo ikutin ekspresinya”. Ucap senior.
Wiih untung foto idola yang gue tempel tuh imut dan mempesona, yah jadi ga
perlu aktinglah gue, udah pas banget sama muka manis manjah gue, jangan muntah
ya bacanya ekspresinya biasa aja. Sial, buat lili malem itu, dia harus
monyongin mulutnya, mejemin matanya, kasian gue denger dia kena oceh sama
senior gegara kurang monyong, pokoknya gitulah mau cerita aja gue ga tega, udah
kalian bayangi sendirilah gimana ekspresi muka G-dragon pas monyong, ya kurang
lebih samalah sama mukanya lili malem itu. Kayaknya lili ini memang Primadona
MAKRAB deh lagi-lagi dia kena, dia disuruh nyebutin orang yang dibelakang dia,
dia berdiri dan kita semua dibelakang dia, disuruh jongkok semua, “siapa nama
temen yang di belakang lo dek”? teriak salah satu senior .”Aruna kiay!” ga
kalah cetar suara Lili. Terlihat ekspresi muka kakak senior ketawa-ketiwi
karena telah berhasil memperdayai Lili. “bukan!” belakang lo itu bukan Aruna,
kemudian salah satu senior menyuruh Inar yang berada dibelakang gue buat ngaku
kalo dia yang ada dibelakang Lili, gile konspirasi ini gais, karena takut Inar
pun bohong. Kalo gue sih ga mau disuruh bohong, dosa tau gue malah nahan ketawa
lantaran adegan yang gue alamin, koplak sangat.
Ternyata akting memelas gue malam
itu ga berguna gais, kena juga akhirnya gue rasa akibat gue ngetawain Lili kena
karma gue, ternyata karma juga berlaku ya bahkan untuk hal-hal sepele kaya
gini. “pisang ini warnanya apa dek”? buta apa gimana sih ini senior, udah tau
gue ini pake penutup mata , nyari kesalahn orang aja ya, sengaja buat alasan
ngehukum. Untungnya gue ini kan sedikit cerdas yah, ya walaupun sedikit tapi ya
gue punya akal dong, jangan sedih, sedari tadi sebenarnya penutup mata gue ga
rapet nutupnya, agak kebuka dikit. Ga bisa napas gue kalo rapet nutupnya,
bukannya hidung gue di mata boy, ya tapi ya ngap aja gitu udah malem ga ada
lampu, ditutup pula tu mata, ga bisa ngeliat indahnya dunia dong. “coklat
kekuning-kuningan kaak”! teriak gue. “kuning-kuning coklat-coklat salah satu
aja”! teriaknya. Ya gimanalah, gue kan ga suka bohong ya, gue liat warnanya
emang kuning ada semburatnya coklat gitu geh hahaha cemerlang banget kan mata
gue bisa nembus penutup mata, padahal, ahsudahlah.
Malam itu dan hari-hari
berikutnya menjadi salah satu kenangan yang indah di mata kami bertiga walaupun
ini ajang bullying ya, tapi dari acara malam itu kami jadi lebih kenal dengan
om om yang notabene kakak tingkat kami sih, gue juga jadi kenal Lili, Inar dan
teman-teman lain dari prodi lain juga. Ambil hikmahnya aja, mau ini ajang Bullying
juga, ketika lo bisa liat sisi positifnya asik-asik aja kok. Malah sekarang
senior yang neriakin gue tentang pisang jadi akrab banget di kampus, malah jadi
kita yang sekarang sering nge-bully dia hahaha, karma. Yaudah deh sekian dulu
serial Kebringsnya, kapan-kapan gue lanjutin lagi, kalian pasti penasarankan
Kebrings itu apaan… komennya ya kalo asik.. J