Ini masih tentang pria tinggi lain itu, entah mengapa senyum
angkuh dan sorot matanya begitu membekas di hatiku, mungkin dia mempunyai
stempel khusus hati. Berapa kalipun aku
mencoba untuk membuang jauh-jauh dia dari pikiranku, wujud nyatanya tiba-tiba
hadir dengan sombongnya mengobrak-abrik usahaku. Dan ini membuatku sedih. Usahaku
kembali musnah, ketika kucoba bangkit dan merangkai kembali butir-butir permata
yang telah tercecer itu, maka datanglah dia menghancurkannya lagi.
Aku tak
bisa memusnahkannya begitu saja, itu terlampau berat. Mungkin, bayangannya akan
musnah segera setelah wujud nyatanya hilang. Jika dia tak mempu untuk segera
hilang dari jangkauan penglihaatanku, maka aku yang akan melakukannya.
Ini demi
kebaikanku, menghindar dari resiko jatuh hati yang terancam terlalu dalam. Kuputuskan
sudah aku memulai dunia baruku, akupun pindah. Kini aku bertempat yang baru,
dengan lingkungan baruku menanggalkan sosoknya jauh dibalik sejarah hidupku. Lupa
sudah, lupakan saja sosoknya. Tapi dugaanku salah, usahaku tuk pindah tak
menolongku sama sekali, padahal kita tak di satu kota yang sama, bahkan tak
satu pulau. Bayangnya tetap saja tak mau hengkang begitu saja. Dia sudah terlalu
lekat seperti bayangan yang menguntitku
kemanapun aku pergi, Please, don’t be my shadow! Just go! Enyahlah!. Kepindahanku
ini, justru menambah gundahnya mataku. Karna dia tidak ada disana, sejauh
jangkauan mataku dia tidak ada disana. Dia tak lagi seperti udara, dia telah
membayangi hidupku dan ini sungguh tak nyaman. Tolong pergilah dari pikiranku,
barang sekejap saja,,
No comments:
Post a Comment