Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 3 July 2014

Kebrings : Journey to Palembang part 2

         Karena kami ingin kelengkapan personil, maka Hada menyusul kami menggunakan travel, karena tak ada cara lain maka ya sudahlah. Tapi kelesuan kami hanya berlangsung beberapa menit, seakan lupa akan kekhawatiran dan ketakutan, kami bersenda gurau lagi. Sepertinya di dalam gerbong itu kami adalah satu-satunya kelompok yang sangat menikmati perjalanan ini. Stasiun Kotabumi telah di depan mata, Ersa sudah berada disana untuk menunggu kami. Akhirnya keretapun berhenti perlahan, kami saling mencari satu sama lain, Lili terlihat sibuk dengan handphone ditelinganya, menghubungi Ersa, sambil berjalan dari gerbong ke gerbong dan Lita menemaninya, Sereen dan Inar menunggu ditempat kami duduk untuk menunggu jika sewaktu-waktu Ersa datang, sekaligus menjaga barang-barang kami agar tidak dijarah. Sedangkan gue, keluar gerbong, turun ke stasiun kereta untuk mencari Ersa siapa tahu dia sedang menunggu kami jemput di luar. Suasana hiruk pikukpun terasa, seperti sedang mudik, banyak orang hilir mudik, keluar masuk kereta. Cangcimen…. Cangcimeennn… krepeeekk…kreepeeekkk… kreeepeeekkk… mizon….mizoonee…mizonnn.. sumpah gak suka banget gue suasana siang itu. Brisik, bau dan penuh dengan orang-orang berdesak-desakkan mencari tempat duduk. Terkadang ada orang tabrakan karena tidak ada yang mau mengalah, untuk masuk dan keluar kereta. Lucu, tiba-tiba senyum tersungging di bibir gue, inilah nikmatnya ngeteng, orang-orang disekeliling gue seakan berjalan slowmotion menunggu untuk senyumku pudar dan kembali ke alam nyata.

            Sangat sulit ternyata mencari orang di suasana yang seperti ini, gue ngerasa kecil banget, pendek sih sebenernya haha, ntah orang-orang ini makan apa bisa setinggi-tinggi ini. Jadi gue harus sedikit loncat, untuk melihat-lihat, barangkali gue nemuin Ersa. Bukannya Ersa yang gue temuin, tapi tunggu dulu, dua orang remaja disana terlihat gak asing di mata gue, yup! Mereka adalah kedua adik Ersa. Tanpa pikir panjang gue langsung pasang seribu langkah dan menghampiri mereka. “dek, Ersa mana?” tanya gue. “udah naik kak, tadi dianter mamah, cari kalian” ucap mereka berbarengan. Tak ayal guepun langsung balik lagi ke kereta, tapi ya lagi, karena gue pendek , eh bukannya gue yang kependekan deng, tapi emang tangga keretanya ketinggian. Jadi ya agak susah-susah manjah gitu naiknya, hihi.

            Okay, sekarang telah berenam, setelah kami meminta restu dan pamitan kepada mamahnya Ersa. Kitapun duduk manis, karena kereta telah berbunyi dan perjalanan sebenernya baru dimulai, aku siaaaappp!.

            Pada tiga jam pertama kami sangat riang gembira, nerocos sana-sini, sampe-sampe orang-orang di gerbong itu melihat kami dengan tatapan sinis. Mungkin terganggu ya karna kami ribut mulu, sampai ada seorang penumpang yang menananyakan kepada kami, kalo kami dikira udah lama gak ketemu, padahal juga baru dua hari doang, ya itulah hebatnya kami, menurut orang itu adalah hal yang biasa, bagi kami bisa jadi bahan becandaan yang menarik, apalagi ada Lili, dia bisa dibilang pelawaklah. Yang bikin setiap perjalanan kita gak garing. Bahkan ketika ada penjual kripik lewat, Krepeeekk..kreeepeekk…kreeepeekkk… ntah kenapa seketika itu juga kami saling tatap dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Ntah kenapa bunyinya terdengar seperti… G*reeepeeekkk….G*reepeeekk…G*reepeekk… ditelinga kami,aneh kan? Itulah uniknya kami.

            Ternyata seperti inilah suasana kereta ekonomi, banyak penjual, banyak pengamen, banyak pencopet. Tapi enggak semua pengamen itu nyebelin loh, walaupun kebanyakannya sih iya. Setelah meroggoh kocek cukup dalam untuk diberikan kepada pengamen yang ntah sudah berapa puluh kali menghampiri kami. Baru pengamen ini yang menurut kami cukup menarik, musiknya sangat unik karena ada semacam alat musik tepuk yang fungsinya seperti drum tapi dalam bentuk yang lebih sederhana, terbuat dari paralon dengan berbagai ukuran kemudian atasnya, diberi karet untuk  menutup lubangnya dan diikat sekelilingnya. Bunyinya sungguh unik, ditambah lagi dengan suara pengamennya yang lumayan merdu, untuk dan hanya untuk kelompok pengamen yang satu ininih kami mau kasih lebih, karena selain suara bagus, goodlooking, juga bisa request lagu lagi, asik kan.

            Keretapun terus melaju, dan kami kelaparan. Untung mamah Ersa membawakan Ersa bekal yang lumayan banyak, jadi kami bisa juga numpang makan. Setelah amunisi tercukupi kami mulai merasakan kantuk, kemudian tidur.

            Petang telah menjelang, kami juga belum menentukan akan tidur dimana malam ini, masih seperti rencana awal yaitu tidur di kosan paijo karena ada satu kamar kosong atau tidak. Keraguan kamipun muncul, kemudian gue mengambil inisiatif untuk bertanya kepada seorang bapak dengan kedua anaknya, bapak itu berumur sekitar 40 tahunan dengan rambut putih beruban, dengan wajah orang baik-baik. Dengan SKSD, gue dan Lita pun mengajak ngobrol bapak itu, ya biasalah basa-basi busuk dulu kan keramah-tamahannya dong ditunjukan, mahasiswa kan? Seeeet. Setelah basa-basi busuknya kelar, kamipun langsung ke inti pertanyaan, bagaimana jika kami menginap ke daerah sekitar kampus STAN pada tengah malam seperti ini. Iya, perjalanan kami dari stasiun Kotabumi ke Stasiun Kertapati  sekitar 15 jam, sehingga kita sampai di stasiun Kertapati sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.

            “disana banyak begal dek, apalagi tengah malam seperti ini dan kalian cewek semua”. ujar bapak itu. Kamipun mendengarkannya antusias, “jika kalian mencari penginapan, sebaiknya kepenginapan disekitar Ampera, nanti kalo cari taksi bilang saja ke “Pondok Asri”, disana harganya lumayan murah, ada yang 150 ribu permalam” ujarnya lagi. Setelah mengucapkan terima kasih kamipun memutuskan untuk mendengarkan nasihat bapak itu. Keretapun berhenti 30 menit setelah percakapan singkat itu, karena tidak ada persiapan bahkan kami tidak memiliki nomor taxi di kota ini (jangan ditiru ya, bagpacker yang kaya gini J).

            Setelah searching di google, telfon sana-sini, kamipun mendapatkan nomor telfon taxi dan segera menghubungi dua buah taxi. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit taxipun datang, kami langsung menaiki taxi tersebut, tiga orang setiap taxi. Dengan kelelahan dan tenaga yang mulai terkuras, kami masih bisa menikamati indahnya Jembatan Ampera yang penuh dengan sejarah dengan kerlap-kerlip lampunya. Di bawah jempatan ampera juga sedang diadakan semacam pameran sehingga lampu-lampunya sangat indah ketika memantul di pinggir sungai musi. Gue ngerasa lelah malam itu terbayarkan, dengan pemandangan yang sangat menggoda “Jembatan Ampera”. Senyumanpun tersungging dengan mata berkaca-kaca gue terharu, kenekatan kami nyatanya menghantarkan kami kesini, tanah sungai Musi.
           
                                                                       To be continued...

            

No comments:

Post a Comment