Karena kami ingin kelengkapan personil, maka Hada menyusul
kami menggunakan travel, karena tak ada cara lain maka ya sudahlah. Tapi
kelesuan kami hanya berlangsung beberapa menit, seakan lupa akan kekhawatiran
dan ketakutan, kami bersenda gurau lagi. Sepertinya di dalam gerbong itu kami
adalah satu-satunya kelompok yang sangat menikmati perjalanan ini. Stasiun
Kotabumi telah di depan mata, Ersa sudah berada disana untuk menunggu kami.
Akhirnya keretapun berhenti perlahan, kami saling mencari satu sama lain, Lili
terlihat sibuk dengan handphone ditelinganya, menghubungi Ersa, sambil berjalan
dari gerbong ke gerbong dan Lita menemaninya, Sereen dan Inar menunggu ditempat
kami duduk untuk menunggu jika sewaktu-waktu Ersa datang, sekaligus menjaga
barang-barang kami agar tidak dijarah. Sedangkan gue, keluar gerbong, turun ke
stasiun kereta untuk mencari Ersa siapa tahu dia sedang menunggu kami jemput di
luar. Suasana hiruk pikukpun terasa, seperti sedang mudik, banyak orang hilir
mudik, keluar masuk kereta. Cangcimen…. Cangcimeennn… krepeeekk…kreepeeekkk…
kreeepeeekkk… mizon….mizoonee…mizonnn.. sumpah gak suka banget gue suasana
siang itu. Brisik, bau dan penuh dengan orang-orang berdesak-desakkan mencari
tempat duduk. Terkadang ada orang tabrakan karena tidak ada yang mau mengalah,
untuk masuk dan keluar kereta. Lucu, tiba-tiba senyum tersungging di bibir gue,
inilah nikmatnya ngeteng, orang-orang disekeliling gue seakan berjalan slowmotion menunggu untuk senyumku pudar
dan kembali ke alam nyata.
Sangat
sulit ternyata mencari orang di suasana yang seperti ini, gue ngerasa kecil
banget, pendek sih sebenernya haha, ntah orang-orang ini makan apa bisa
setinggi-tinggi ini. Jadi gue harus sedikit loncat, untuk melihat-lihat, barangkali
gue nemuin Ersa. Bukannya Ersa yang gue temuin, tapi tunggu dulu, dua orang
remaja disana terlihat gak asing di mata gue, yup! Mereka adalah kedua adik
Ersa. Tanpa pikir panjang gue langsung pasang seribu langkah dan menghampiri
mereka. “dek, Ersa mana?” tanya gue. “udah naik kak, tadi dianter mamah, cari
kalian” ucap mereka berbarengan. Tak ayal guepun langsung balik lagi ke kereta,
tapi ya lagi, karena gue pendek , eh bukannya gue yang kependekan deng, tapi
emang tangga keretanya ketinggian. Jadi ya agak susah-susah manjah gitu
naiknya, hihi.
Okay,
sekarang telah berenam, setelah kami meminta restu dan pamitan kepada mamahnya
Ersa. Kitapun duduk manis, karena kereta telah berbunyi dan perjalanan
sebenernya baru dimulai, aku siaaaappp!.
Pada tiga jam
pertama kami sangat riang gembira, nerocos sana-sini, sampe-sampe orang-orang
di gerbong itu melihat kami dengan tatapan sinis. Mungkin terganggu ya karna
kami ribut mulu, sampai ada seorang penumpang yang menananyakan kepada kami,
kalo kami dikira udah lama gak ketemu, padahal juga baru dua hari doang, ya
itulah hebatnya kami, menurut orang itu adalah hal yang biasa, bagi kami bisa
jadi bahan becandaan yang menarik, apalagi ada Lili, dia bisa dibilang
pelawaklah. Yang bikin setiap perjalanan kita gak garing. Bahkan ketika ada
penjual kripik lewat, Krepeeekk..kreeepeekk…kreeepeekkk… ntah kenapa seketika
itu juga kami saling tatap dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Ntah kenapa
bunyinya terdengar seperti… G*reeepeeekkk….G*reepeeekk…G*reepeekk… ditelinga kami,aneh
kan? Itulah uniknya kami.
Ternyata
seperti inilah suasana kereta ekonomi, banyak penjual, banyak pengamen, banyak
pencopet. Tapi enggak semua pengamen itu nyebelin loh, walaupun kebanyakannya
sih iya. Setelah meroggoh kocek cukup dalam untuk diberikan kepada pengamen
yang ntah sudah berapa puluh kali menghampiri kami. Baru pengamen ini yang
menurut kami cukup menarik, musiknya sangat unik karena ada semacam alat musik
tepuk yang fungsinya seperti drum tapi dalam bentuk yang lebih sederhana, terbuat
dari paralon dengan berbagai ukuran kemudian atasnya, diberi karet untuk menutup lubangnya dan diikat sekelilingnya.
Bunyinya sungguh unik, ditambah lagi dengan suara pengamennya yang lumayan
merdu, untuk dan hanya untuk kelompok pengamen yang satu ininih kami mau kasih
lebih, karena selain suara bagus, goodlooking,
juga bisa request lagu lagi, asik
kan.
Keretapun
terus melaju, dan kami kelaparan. Untung mamah Ersa membawakan Ersa bekal yang
lumayan banyak, jadi kami bisa juga numpang makan. Setelah amunisi tercukupi
kami mulai merasakan kantuk, kemudian tidur.
Petang
telah menjelang, kami juga belum menentukan akan tidur dimana malam ini, masih
seperti rencana awal yaitu tidur di kosan paijo karena ada satu kamar kosong
atau tidak. Keraguan kamipun muncul, kemudian gue mengambil inisiatif untuk
bertanya kepada seorang bapak dengan kedua anaknya, bapak itu berumur sekitar
40 tahunan dengan rambut putih beruban, dengan wajah orang baik-baik. Dengan
SKSD, gue dan Lita pun mengajak ngobrol bapak itu, ya biasalah basa-basi busuk
dulu kan keramah-tamahannya dong ditunjukan, mahasiswa kan? Seeeet. Setelah
basa-basi busuknya kelar, kamipun langsung ke inti pertanyaan, bagaimana jika
kami menginap ke daerah sekitar kampus STAN pada tengah malam seperti ini. Iya,
perjalanan kami dari stasiun Kotabumi ke Stasiun Kertapati sekitar 15 jam, sehingga kita sampai di stasiun
Kertapati sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.
“disana
banyak begal dek, apalagi tengah malam seperti ini dan kalian cewek semua”.
ujar bapak itu. Kamipun mendengarkannya antusias, “jika kalian mencari
penginapan, sebaiknya kepenginapan disekitar Ampera, nanti kalo cari taksi
bilang saja ke “Pondok Asri”, disana harganya lumayan murah, ada yang 150 ribu
permalam” ujarnya lagi. Setelah mengucapkan terima kasih kamipun memutuskan
untuk mendengarkan nasihat bapak itu. Keretapun berhenti 30 menit setelah
percakapan singkat itu, karena tidak ada persiapan bahkan kami tidak memiliki
nomor taxi di kota ini (jangan ditiru ya, bagpacker yang kaya gini J).
Setelah
searching di google, telfon sana-sini, kamipun mendapatkan nomor telfon taxi
dan segera menghubungi dua buah taxi. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit
taxipun datang, kami langsung menaiki taxi tersebut, tiga orang setiap taxi.
Dengan kelelahan dan tenaga yang mulai terkuras, kami masih bisa menikamati
indahnya Jembatan Ampera yang penuh dengan sejarah dengan kerlap-kerlip
lampunya. Di bawah jempatan ampera juga sedang diadakan semacam pameran
sehingga lampu-lampunya sangat indah ketika memantul di pinggir sungai musi.
Gue ngerasa lelah malam itu terbayarkan, dengan pemandangan yang sangat
menggoda “Jembatan Ampera”. Senyumanpun tersungging dengan mata berkaca-kaca
gue terharu, kenekatan kami nyatanya menghantarkan kami kesini, tanah sungai
Musi.
To be continued...
No comments:
Post a Comment