Elegant Rose - Working In Background

Friday, 11 July 2014

Kebrings : The last day Journey to Palembang

           Perjalanan hari kedua ke palembang, hari ini kita bakalan menjelajah Pulau Kemaro kata orang-orang sini sih, kalo dateng ke Palembang kudu harus wajib dateng ke pulau ini, karena pulau ini juga salah satu ikon Kota Palembang. Kali ini kita cinta perbedaan kita gak pake baju seragam lagi gais, udah bauk gitu bajunya. Perjalanan diawali dengan mengendarai angkot menuju pinggir sungai Musi, karena Pulau Kemaro itu ada di tengah Sungai Musi. Di pinggir sungai ini banyak banget perahu-perahu nelayan ada juga perahu-perahu wisata, dari mulai yang pake mesin jet gitu yang bisa 80km/jam sampe perahu yang pake mesin motor biasa yang jalannya pelan banget pengen rasanya gue dorong deh saking leletnya. Dan anehnya kami pilih perahu yang jalannya Naudzubillah leleet pol. Lo tau alasannya gais? Murah, Kalo mau bagpackeran jangan sok deh, pake alat transportasi itu yang paling murah, kalo bisa gratis malah. Berhubung dan di hubung-hubungkan kita bertujuh karena Hada udah pulang duluan gak bakal kan dapet tebengan mamangnya, sampai Kemaro gratis jadi cari yang murah.

            Perahu yang kami tumpangi ini sangat sederhana sekali, atapnya dari terpal yang disangga dengan kerangka besi yang sudah tua dan berkarat, miris ya, ya lo jangan ekspresinya gitu banget bacanya. Kami gakpapa kok waktu itu kami gak berasa gimana-gimana ko cumvah, kami enjoy the day banget. Untungnya pagi itu gak ujan ya, soalnya agak menghawatirkan atap terpalnya itu ada yang bolong sana-sini, bisa-bisa kami tenggelam kan karna air hujan masuk ke perahu semua. Angin sepoi-sepoi, kicauan kami tak henti-hentinya mengomentari semua yang ada di sepanjang penglihatan kami. Di sungai ini ada seperti Pom bensin gitu apung, ada rumah juga, toko kelontong, ada masjid apungnya juga. Kami juga sempat melihat semacam pabrik besar dengan kepulan asap memenuhi udara dari cerobong-cerobong asapnya, tapi juga gak tau itu pabrik apa. Yang miris ketika kami lihat di pinggiran sungai adalah rumah-rumah penduduk yang kumuh, seperti penyakit daerah pinggiran sungai-sungai yang lain di Indonesia, sama seperti juga disini, rumah kumuh, sampah berserakan dan air sungai yang menguning. Bahkan jembatan Ampera yang gue lihat pas malam itu sungguh indah tanpa cela ya, pas lo liat siang hari ternyata menipu. Jembatan Ampera ini seperti tak dirawat, catnya sudah tak merah lagi, orange. Warnanya telah pudar karena terpapar sinar matahari setiap hari, Jembatan yang layaknya menjadi Ikon Kota Palembang yang harusnya dijaga dan dirawat ini terlihat begitu memelas, kalo aja dia bisa ngomong dia akan bilang “cat aku, cat aku pak gubernur, kulitku udah kering nih gak pernah di cat udah lama”. Dulu Jembatan ini bagian bawahnya bisa terangkat gais, kaya jembatan di kota kelahiran gue London *mukasongong, tapi seiring berjalannya waktu sungai yang pada masa keemasnnya adalah pusat lalu lintas perdagangan lambat laun surut, sehingga tak banyak lagi kapal-kapal asing yang berlalu-lalang, jadi agak seret gitu kali jadi ga bisa diangkat lagi. Sejarah pembuatannya juga cukup ngeri, jembatan ini dibuat oleh bangsa Jepang dan memakan banyak korban jiwa dari warga pribumi pada masa pembuatannya.

            Walaupun kami menggunakan kapal yang lemot, tapi kami tahu cara menikmati hidup, terkadang perahu dengan mesin jet lewat, dan kami menyeru kepada mamang perahunya supaya perahu didekatkan ke  jalur perahu jet, ketika perahunya lewat, gelombang-gelombang yang cukup untuk menggoyangkan perahu keong kami berlarian, disaat itulah kami menghayal sedang naik Roller Coaster air haha itu kami lakukan berkali-kali sampai perahu kami bertambat pada dermaga Pulau Kemaro. Dari gerbangnya aja gue liat pengaruh kebudayaan tionghoa memang sangat memengaruhi arsitektur di pulau ini, gerbangnya di hiasi naga-naga yang di cat merah. Ketika kami memasuki lebih dalam, kami melihat makam yang dihiasi ornamen khas cina, menurut keterangan warga setempat, kedua makam itu adalah makam penemu pulau ini. Ketika kami berkeliling kamipun mengambil foto dan ada sebuah batu besar yang terukirkan sebuah kisah tentang pulau ini, berbunyi :

              Ada seorang putri raja bernama Siti Fatimah, yang dipersunting oleh saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada zaman Kerajaan Palembang, Siti Fatimah diajak kedaratan Tiongkok untuk melihat orang tua Tan Bun An setelah disana beberapa waktu Tan Bun An beserta istri pamit pulang ke Palembang dan dihadiahi 7 (tujuh) buah guci, sesampai di perairan Musi dekat Pulau Kemaro Tan Bun An mau melihat hadiah yang di berikan. Begitu dibuka Tan Bun An kaget sekali isinya sawi-sawi asin tanpa berpikir langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci yang terakhir jatuh dan pecah di atas dek perahu layar, ternyata ada hadiah yang tersimpan didalamnya, Tan Bun An tidak banyak berpikir dia langsung lompat ke sungai untuk mencari guci-guci tadi, seorang pengawal juga terjun untuk membantu melihat 2 (dua) oarng tersebut tidak muncul Siti Fatimahpun ikut melompat untuk menolong, ternyata tiga-tiganya tidak muncul lagi, penduduk sekitar mendatangi Pulau Kemaro untuk mengenang tiga orang tersebut dan tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang keramat sekali.
          Anggapan masyarakat inilah mungkin yang kemudian menimbulkan kesan mistis ketika menginjakkan kaki di pulau ini. Kami begitu tertarik ketika dari kejauhan terlihat seperti pagoda dengan warna-warna yng indah, kamipun segera menghampirinya. Dari dekat pagoda ini ternyata jauh lebih indah, tapi sayangnya pagoda ini  sedang direnovasi jadi kami tidak diperbolehkan masuk. Pagoda ini berbentuk bangunan segi empat beratap tumpang, atapnya terdiri dari delapan tingkatan. Angka delapan ini dipercaya sebagi lambang dari kesempurnaan, sesuai dengan kepercayaan tionghoa, warna merah muda dan merah mendominasi bangunan ini. Atapnya berbentuk segi lima, pada pintu pagoda ada dua ekor naga berwarna hijau dengan mulut ternganga yang siap menyambut siapa saja yang masuk. Selain tempat untuk berwisata, pagoda ini juga sebagai tempat ibadah agama Budha. Hal ini terlihat sekali dari bagian depan Pagoda yang menjorok kesungai, banyak patung dewa-dewa khas agama budha, yang gue tau sih Dewi Quan In doang, itu juga karna sering nonton Sun Go Khong, setelah puas berfoto-foto ria, kami juga menyempatkan diri foto dengan kedua patung panda yang sedang berpelukan, yup gak ada secuil tempat dari pulau ini yang tak terjamah oleh kami, sampai patung Budha emas yang berdiri kokoh di depan Pagodapun kami ajak buat selfie.

            Setelah lelah menjelajahi pulau ini kamipun kembali menggunakan perahu kami tadi, kami akan melanjutkan perjalanan ke pusat kota Palembang. Lo pergi ke suatu tempat tanpa mengunjungi museumnya, pasti kurang banget gais, inget kata Presiden Soekarno Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) karena peradaban yang lo liat sekarang, kemajuan budaya yang lo alamin sekarang, gak bakalan lo rasain tanpa perjuangan pahlwan-pahlawan dan orang-orang terdahulu sob, so jangan lupa kunjungi museum ya. Museumnya berada tepat disamping Jembatan Ampera, Museum Sultan Badarudin II namanya, ketika kami masuk, ternyata harga tiketnya beragam, kalo lo anak SMP Rp1000, SMA Rp 2000 dan kuliah Rp 3000. Kalo gue saranin ya biar murah besok kalo lo mampir kesitu jangan lupa bawa kartu OSIS SMP biar bayarnya Cuma seceng coy, mayan kan sisanya bisa buat beli cilok haha. Dari museum kita tau banyak tentang adat budaya Palembang, baju adat, rumah adat, sejarah sampai maxiatur duit juga ada, pokoknya lengkap deh. Usut punya usut ternyata bangunan yang dijadikan museum ini awalnya adalah rumah dari sultan, wow keren ya. Pantes bangunanya udah tua gitu, gak Cuma isinya, gedungnyapun bersejarah. Disamping lo bisa ningkatin wawasan, museum adalah tempat yang pas buat cari oleh-oleh, disini lo bisa beli baju bertuliskan I LOVE PALEMBANG, peci adat ada atau sekedar gantungan kunci yang ceban dapet sepuluh, yang dipake langsung koyak haha.

            Dari museum kami bergeser sedikit ke utara, yup kami melihat benteng, benteng ini namanya kuto besakh, dulu tempat pertahanan orang Palembang kalo lagi degempur sama musuh, yang kami liat Cuma benteng doang sih tembok tinggi bercat putih gitu, ya namanya juga benteng, mau bentuk apa yang lo arepin? Tak terasa sore telah menjelang, ternyata sore hari seperti ini, ada pasar kaget di bawah Jembatan Ampera banyak orang jualan, ada baju-baju bataman, pernak-pernik dan lain-lain. Salah satu program yang bagus dilakukan oleh pemerintah Kota Palembang, Jembatan Ampera sebagai ikon juga sekaligus tempat bertransaksi, sehinggi turis yang datang disini dapat dimanjakan oleh berbagai kerajinan tangan khas Palembang yang di jual di Pasar kaget ini. Ketika matahari tenggelam dan hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu, haha pas malemnya di tempat yang sama ternyata sedang ada semacam Lampung fair gitu, ada pameran, rumah hantu, pasar malam dll. Karena duit sudah mulai nipis, alhasil kami Cuma berkeliling-keliling aja gais, abisnya gue ngajakin kerumah hantu gak ada yang mau, masih trauma sama rumah hantu yang di Lotus. Tips dimanapun kalian berada, ketika lo di tempat ramai kaya gini, jangan lupa hape dompet diamankan, tas taro depan. Lebih aman lagi kalo lo pake tas ransel trus lo taro depan. Malam itu hape dan dompet kami dikumpulkan di tasnya Paijo, karena dialah satu-satunya lelaki di kelompok kami, tasnya juga anti copet, sapa yang berani nyopet dia, badan udah gede gitu. Gue juga pake tas Sereen, gimana gitu rasanya kalo ga pake tas, tapi tasnya Sereen gue taro di belakang karena isinya Cuma botol-botol air mineral. Pas gue lagi jalan santai gitu, tetiba ada ibu-ibu mepetin gue gitu, awalnya gue pikir ya wajarlah mungkin berdesak-desakan kan, karena pengunjung yang lumayan bejibun. Tapi setelah jalanan agak longgar ibu-ibu ini tetep aja mepetin gue, karena gue risih kan ya gue planting aja tu ibu-ibu, “ngapain sih bu!” ucap gue setengah teriak. Dengan selonong boy ibu itu pasang muka inosen terus pegi gitu aja, tanpa nengok sedikitpun. Ibu itu berambut pendek, orangnya berperawakan kecil tapi gak mungil loh ya, berusia sekitar 40 tahunan. Ati-ati kalian kalo ketemu sama ibu-ibu dengan ciri-ciri diatas, Danger!. Kemudian gue berinisiatif buat meriksa tas, ya ampun ternyata tas gue udah dirobek sebesar sejengkal tangan, “Ah, untung isinya botol air mineral doang” ucap gue kalem. “sobek run?” aduh hape gue didalem lagi!” ucap Sereen panik. “nah bukannya tadi semua hape sama dompet dititipin di tasnya Paijo ya?”, “iya tadi kan abis telpon minak (red: Bapak dalam bahasa Lampung) trus gue taro tas ini”. Sereen pun langsung merogoh semua isi tas, dan untung hape masih utuh tanpe lecet sedikitpun.

            Besok adalah hari terakhir kita di Palembang, meninggalkan Paijo dengan studinya, malam ini kami menyelesaikan misi perjalan di bawah cahaya rembulan Langit Palembang dan mengabadikannya di kamera. Setelah selesai, kamipun kembali ke peraduan kami, Pondok Asri. Malam itu kami kalut, uang semakin menipis, hanya cukup untuk naik kereta, ada sisa tapi Cuma sedikit. Guepun langsung telpon bokap gue buat minta kiriman uang, dan dijanjikan besok siang akan ditransfer.

            Di hari terakhir ini kami menyempatkan diri mampir ke salah satu taman di pusat Kota Palembang, yang menjadi tempat anak-anak gaulnya Palembang nongkrong. Namanya Kambang Iwakh seperti taman pada umumnya, dihiasi banyak pepohonan, ditengah taman ini ada semacam danau kecil dan ditengah-tengahnya terdapat jembatan. Disekeliling danau terdapat track buat orang-orang yang jogging, yup taman ini bukan tempat anak nongkrong doang kok. Banyak juga ibu, bapak, sanak-saudara yang kumpul di taman ini buat jogging bareng. Di antara pepohonannya juga ada tali-tali untuk flying fox, ya walaupun udah rusak gitu deh. Di bagian depan tamannya ada tanah lapang yang lumayan luas yang dilapisi keramik kasar, tempat anak-anak sketboard berkumpul. Setelah itu kami menikmati pempek Candy, jangan ketinggalan kalo lagi liburan ke Palembang. Pempek ini sangat terkenal seantero Palembang, karena rasanya yang hhmmm yummy banget. Tapi ya harga bawa rasa guys, mehong cyiin, tapi beneran enak kok cumvah.

            Abis nelpon bokap, senyumpun tersungging dibibir gue, duit udah dikirim coy, mayankan buat beli oleh-oleh, kapan lagi bakal ke Palembang coba. Guepun cari ATM paling deket, tapi adanya di dalem PIM. Cus langsung gue kesana, dan lagi-lagi cobaan hidup menghadang, kadang gue berpikir, apa ini karna bokap gue ga restui gue kesini makanya sial terus. Yup, ATM gue KEBLOKIR! Bertubi-tubi gini gue, abis aja seneng, udah sedih lagi coba. Untungnya tak jauh dari PIM ada Kantor cabang bank, jadi gue langsung kesitu dan minta buka blokiran. Dan apa yang terjadi gais? Udah jatuh ketimpa tangga ketiban duren pula palak barbie ini. Blokiran ATMnya gak bisa dibuka karena KTP gak ada, shit man! Sial banget. Kata mbaknya sih bisa asalkan bawa buku tabungannya bisa dibuka blokirnya, ya ada sih buku tabungannya tapikan di rumah, mana kepikiran gue liburan bawa-bawa buku tabungan. Harapan guepun pupus sudah, kecewa boy awecek aug.

            Dengan muka kecewa dan sungguh tak percaya, guepun balik ke Pondok Asri bareng temen-temen gue, kami mau beres-beres barang karena siang nanti kami bakalan balik lagi ke kampung halaman. Dengan wajah yang lunglai kami membereskan barang-barang kami, antara lelah dan duit yang menipis.

            Siang itu kami berangkat ke Stasiun Kertapati, diantar oleh Paijo. Ersa dan Lili masuk ke dalam untuk memesan tiket, kami menunggu di luar menjaga barang-barang. Tak lama kemudian Ersa dan Lili datang dengan muka lesu, ternyata tiket kereta pemberangkatan siang ini telah ludes karena weekend ada lagi malam, sedangkan duit udah gak memungkinkan lagi buat kita mempertahankan hidup buat sekedar beli makanan di negri orang. Akhirnya Lita mengusulkan untuk kita naik travel saja, sebenarnya kami enggan karena lebih mahal berkali-kali lipat. Kami juga takut karena kami wanita semua, enak dia kan mampir ke tempat bapaknya kerja di Palembang juga yang kejangkaunya Cuma bisa kalo naik travel. Namun tak ada pilihan lain, setelah tawar-menawar yang alot, Lita mendapatkan satu travel di sekitar stasiun yang memungkinkan kami berenam naik. Kami berdo’a sepanjang jalan, isi travelnya laki semua gais, mana lewat jalannya yang sepi, lewat hutan dan sawah-sawah, rumah pendudukpun masih jarang-jarang. Entah pikiran waktu itu sudah melalang buana, mungkin kalo udah sampai Lampung dengan selamat kita bakalan syukuran. Buat kalian yang kalo pengen liburan biar gak terjadi hal yang sama kaya kami, pesen tiket jauh-jauh hari ya di Alfamart kalo ga searching di Internet.

Malam itu kami berhenti di sebuah Rumah Makan Padang bertuliskan “Siang Malam”, supir dan satu temannya langsung menuju ke bagian belakang khusus supir, katanya sih makan gratis gitu karena udah bawa penumpang. Rumah makan ini besar banget, ada puluhan meja bulat yang terisi 6-8 kursi, dan bisa di bilang rumah makan mahal.kamipun langsung mencari meja yang berkursikan 6, semua makanan di hidangkan di meja kami. Duit tinggal Rp 30.000 sedangkan mulut orang enam harus terisi. Dan lo taukan berapa banyak nasi di rumah makan padang begini, dikit men. Akhirnya kami makan itu udah kaya iklan rokok, ambil nasinya sama kuahnya dituangin, lauknya kami ambil yang paling murah, sayur daun singkong yang dikit banget itu sama ayam di bagi untuk orang 6, ayamnya udah irisan lagi, wah pedih banget malam itu. Lauk segitu menggoda di atas meja dan hanya itulah yang kami makan. Ersapun tak kuasa menahan tangis, “baru kali ini gue makan ayam semiris ini”, ucapnya sambil meneteskan air mata.  Kami makan dalam kepedihan dan diam, Lita kemudian mengambil sebuah jeruk, “awas kalo harga satu jeruk itu goceng ta!” teriak Lili. “Enggak mungkinlah”, jawabnya. Alhasil buah jeruk yang gak seberapa itu dibagi untuk enam orang, sekedar cuci mulutlah. Setelah selesai, kami mendapatkan struk, dan betapa kagetnya kami harga  sayur daun singkong yang sedikit banget itu 8 ribu dan beneran harga jeruk tadi goceng, Alloh.

            Kamipun melanjutkan perjalanan dengan keheningan yang lain, keceriaan telah meninggalkan kami. Banyak penumpang yang telah berhenti, dan tak lama kemudian Lita juga berhenti di Perusahaan tempat bapaknya bekerja. Tinggalah kami enam orang dengan dengan supir dan temannya. Perjalanan malam ini lebih-lebih menyeramkan, jalan yang gelap kami lalui, jalanan rusak juga. Untuk menutup mata guepun tak kuasa. Gue harus selalu siaga.

            Finally perjalanan ini usai, Alloh telah menjaga kami selama disana, tugu selamat datang di Kota Bandar Lampung telah menyapa, Ersa bersama Lili berhenti di kontrakan Lili dengan Inar juga. Gue berhenti di depan Ramayana Karang bersama Sereen, yang kemudian di jemput kakak iparnya. Perjalanan ini gak bakalan gue lupa, kesialan-kesialan ini bakalan gue inget, kebersamaan kalian, canda-tawa kalian, perjalanan ini bakalan jadi kenangan yang gak mungkin bisa gue lupa, kenekatan di awal semester. Thanks for being my very good friends guys! Kebrings: I love you damn much!
           

            

No comments:

Post a Comment