Perahu yang
kami tumpangi ini sangat sederhana sekali, atapnya dari terpal yang disangga
dengan kerangka besi yang sudah tua dan berkarat, miris ya, ya lo jangan
ekspresinya gitu banget bacanya. Kami gakpapa kok waktu itu kami gak berasa
gimana-gimana ko cumvah, kami enjoy the
day banget. Untungnya pagi itu gak ujan ya, soalnya agak menghawatirkan
atap terpalnya itu ada yang bolong sana-sini, bisa-bisa kami tenggelam kan
karna air hujan masuk ke perahu semua. Angin sepoi-sepoi, kicauan kami tak
henti-hentinya mengomentari semua yang ada di sepanjang penglihatan kami. Di
sungai ini ada seperti Pom bensin gitu apung, ada rumah juga, toko kelontong,
ada masjid apungnya juga. Kami juga sempat melihat semacam pabrik besar dengan
kepulan asap memenuhi udara dari cerobong-cerobong asapnya, tapi juga gak tau
itu pabrik apa. Yang miris ketika kami lihat di pinggiran sungai adalah
rumah-rumah penduduk yang kumuh, seperti penyakit daerah pinggiran
sungai-sungai yang lain di Indonesia, sama seperti juga disini, rumah kumuh,
sampah berserakan dan air sungai yang menguning. Bahkan jembatan Ampera yang
gue lihat pas malam itu sungguh indah tanpa cela ya, pas lo liat siang hari
ternyata menipu. Jembatan Ampera ini seperti tak dirawat, catnya sudah tak
merah lagi, orange. Warnanya telah pudar karena terpapar sinar matahari setiap
hari, Jembatan yang layaknya menjadi Ikon Kota Palembang yang harusnya dijaga
dan dirawat ini terlihat begitu memelas, kalo aja dia bisa ngomong dia akan
bilang “cat aku, cat aku pak gubernur, kulitku udah kering nih gak pernah di cat
udah lama”. Dulu Jembatan ini bagian bawahnya bisa terangkat gais, kaya
jembatan di kota kelahiran gue London *mukasongong, tapi seiring berjalannya
waktu sungai yang pada masa keemasnnya adalah pusat lalu lintas perdagangan
lambat laun surut, sehingga tak banyak lagi kapal-kapal asing yang
berlalu-lalang, jadi agak seret gitu kali jadi ga bisa diangkat lagi. Sejarah
pembuatannya juga cukup ngeri, jembatan ini dibuat oleh bangsa Jepang dan
memakan banyak korban jiwa dari warga pribumi pada masa pembuatannya.
Walaupun
kami menggunakan kapal yang lemot, tapi kami tahu cara menikmati hidup,
terkadang perahu dengan mesin jet lewat, dan kami menyeru kepada mamang
perahunya supaya perahu didekatkan ke
jalur perahu jet, ketika perahunya lewat, gelombang-gelombang yang cukup
untuk menggoyangkan perahu keong kami berlarian, disaat itulah kami menghayal
sedang naik Roller Coaster air haha
itu kami lakukan berkali-kali sampai perahu kami bertambat pada dermaga Pulau Kemaro.
Dari gerbangnya aja gue liat pengaruh kebudayaan tionghoa memang sangat
memengaruhi arsitektur di pulau ini, gerbangnya di hiasi naga-naga yang di cat
merah. Ketika kami memasuki lebih dalam, kami melihat makam yang dihiasi
ornamen khas cina, menurut keterangan warga setempat, kedua makam itu adalah
makam penemu pulau ini. Ketika kami berkeliling kamipun mengambil foto dan ada
sebuah batu besar yang terukirkan sebuah kisah tentang pulau ini, berbunyi :
Ada seorang putri raja bernama Siti
Fatimah, yang dipersunting oleh saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada
zaman Kerajaan Palembang, Siti Fatimah diajak kedaratan Tiongkok untuk melihat
orang tua Tan Bun An setelah disana beberapa waktu Tan Bun An beserta istri
pamit pulang ke Palembang dan dihadiahi 7 (tujuh) buah guci, sesampai di
perairan Musi dekat Pulau Kemaro Tan Bun An mau melihat hadiah yang di berikan.
Begitu dibuka Tan Bun An kaget sekali isinya sawi-sawi asin tanpa berpikir
langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci yang terakhir jatuh dan pecah di atas
dek perahu layar, ternyata ada hadiah yang tersimpan didalamnya, Tan Bun An
tidak banyak berpikir dia langsung lompat ke sungai untuk mencari guci-guci
tadi, seorang pengawal juga terjun untuk membantu melihat 2 (dua) oarng
tersebut tidak muncul Siti Fatimahpun ikut melompat untuk menolong, ternyata
tiga-tiganya tidak muncul lagi, penduduk sekitar mendatangi Pulau Kemaro untuk
mengenang tiga orang tersebut dan tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang
keramat sekali.
Anggapan
masyarakat inilah mungkin yang kemudian menimbulkan kesan mistis ketika
menginjakkan kaki di pulau ini. Kami begitu tertarik ketika dari kejauhan terlihat
seperti pagoda dengan warna-warna yng indah, kamipun segera menghampirinya. Dari
dekat pagoda ini ternyata jauh lebih indah, tapi sayangnya pagoda ini sedang direnovasi jadi kami tidak diperbolehkan
masuk. Pagoda ini berbentuk bangunan segi empat beratap tumpang, atapnya
terdiri dari delapan tingkatan. Angka delapan ini dipercaya sebagi lambang dari
kesempurnaan, sesuai dengan kepercayaan tionghoa, warna merah muda dan merah
mendominasi bangunan ini. Atapnya berbentuk segi lima, pada pintu pagoda ada
dua ekor naga berwarna hijau dengan mulut ternganga yang siap menyambut siapa
saja yang masuk. Selain tempat untuk berwisata, pagoda ini juga sebagai tempat
ibadah agama Budha. Hal ini terlihat sekali dari bagian depan Pagoda yang
menjorok kesungai, banyak patung dewa-dewa khas agama budha, yang gue tau sih
Dewi Quan In doang, itu juga karna sering nonton Sun Go Khong, setelah puas
berfoto-foto ria, kami juga menyempatkan diri foto dengan kedua patung panda
yang sedang berpelukan, yup gak ada secuil tempat dari pulau ini yang tak
terjamah oleh kami, sampai patung Budha emas yang berdiri kokoh di depan
Pagodapun kami ajak buat selfie.
Setelah
lelah menjelajahi pulau ini kamipun kembali menggunakan perahu kami tadi, kami
akan melanjutkan perjalanan ke pusat kota Palembang. Lo pergi ke suatu tempat
tanpa mengunjungi museumnya, pasti kurang banget gais, inget kata Presiden
Soekarno Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) karena peradaban yang
lo liat sekarang, kemajuan budaya yang lo alamin sekarang, gak bakalan lo rasain
tanpa perjuangan pahlwan-pahlawan dan orang-orang terdahulu sob, so jangan lupa
kunjungi museum ya. Museumnya berada tepat disamping Jembatan Ampera, Museum
Sultan Badarudin II namanya, ketika kami masuk, ternyata harga tiketnya
beragam, kalo lo anak SMP Rp1000, SMA Rp 2000 dan kuliah Rp 3000. Kalo gue
saranin ya biar murah besok kalo lo mampir kesitu jangan lupa bawa kartu OSIS
SMP biar bayarnya Cuma seceng coy, mayan kan sisanya bisa buat beli cilok haha.
Dari museum kita tau banyak tentang adat budaya Palembang, baju adat, rumah
adat, sejarah sampai maxiatur duit juga ada, pokoknya lengkap deh. Usut punya
usut ternyata bangunan yang dijadikan museum ini awalnya adalah rumah dari
sultan, wow keren ya. Pantes bangunanya udah tua gitu, gak Cuma isinya, gedungnyapun
bersejarah. Disamping lo bisa ningkatin wawasan, museum adalah tempat yang pas
buat cari oleh-oleh, disini lo bisa beli baju bertuliskan I LOVE PALEMBANG,
peci adat ada atau sekedar gantungan kunci yang ceban dapet sepuluh, yang
dipake langsung koyak haha.
Dari
museum kami bergeser sedikit ke utara, yup kami melihat benteng, benteng ini
namanya kuto besakh, dulu tempat pertahanan orang Palembang kalo lagi degempur
sama musuh, yang kami liat Cuma benteng doang sih tembok tinggi bercat putih
gitu, ya namanya juga benteng, mau bentuk apa yang lo arepin? Tak terasa sore
telah menjelang, ternyata sore hari seperti ini, ada pasar kaget di bawah
Jembatan Ampera banyak orang jualan, ada baju-baju bataman, pernak-pernik dan
lain-lain. Salah satu program yang bagus dilakukan oleh pemerintah Kota
Palembang, Jembatan Ampera sebagai ikon juga sekaligus tempat bertransaksi,
sehinggi turis yang datang disini dapat dimanjakan oleh berbagai kerajinan
tangan khas Palembang yang di jual di Pasar kaget ini. Ketika matahari
tenggelam dan hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu, haha pas
malemnya di tempat yang sama ternyata sedang ada semacam Lampung fair gitu, ada
pameran, rumah hantu, pasar malam dll. Karena duit sudah mulai nipis, alhasil
kami Cuma berkeliling-keliling aja gais, abisnya gue ngajakin kerumah hantu gak
ada yang mau, masih trauma sama rumah hantu yang di Lotus. Tips dimanapun
kalian berada, ketika lo di tempat ramai kaya gini, jangan lupa hape dompet
diamankan, tas taro depan. Lebih aman lagi kalo lo pake tas ransel trus lo taro
depan. Malam itu hape dan dompet kami dikumpulkan di tasnya Paijo, karena
dialah satu-satunya lelaki di kelompok kami, tasnya juga anti copet, sapa yang
berani nyopet dia, badan udah gede gitu. Gue juga pake tas Sereen, gimana gitu
rasanya kalo ga pake tas, tapi tasnya Sereen gue taro di belakang karena isinya
Cuma botol-botol air mineral. Pas gue lagi jalan santai gitu, tetiba ada
ibu-ibu mepetin gue gitu, awalnya gue pikir ya wajarlah mungkin
berdesak-desakan kan, karena pengunjung yang lumayan bejibun. Tapi setelah
jalanan agak longgar ibu-ibu ini tetep aja mepetin gue, karena gue risih kan ya
gue planting aja tu ibu-ibu, “ngapain sih bu!” ucap gue setengah teriak. Dengan
selonong boy ibu itu pasang muka inosen terus pegi gitu aja, tanpa nengok
sedikitpun. Ibu itu berambut pendek, orangnya berperawakan kecil tapi gak mungil
loh ya, berusia sekitar 40 tahunan. Ati-ati kalian kalo ketemu sama ibu-ibu
dengan ciri-ciri diatas, Danger!. Kemudian
gue berinisiatif buat meriksa tas, ya ampun ternyata tas gue udah dirobek
sebesar sejengkal tangan, “Ah, untung isinya botol air mineral doang” ucap gue
kalem. “sobek run?” aduh hape gue didalem lagi!” ucap Sereen panik. “nah
bukannya tadi semua hape sama dompet dititipin di tasnya Paijo ya?”, “iya tadi
kan abis telpon minak (red: Bapak dalam bahasa Lampung) trus gue taro tas ini”.
Sereen pun langsung merogoh semua isi tas, dan untung hape masih utuh tanpe
lecet sedikitpun.
Besok
adalah hari terakhir kita di Palembang, meninggalkan Paijo dengan studinya,
malam ini kami menyelesaikan misi perjalan di bawah cahaya rembulan Langit
Palembang dan mengabadikannya di kamera. Setelah selesai, kamipun kembali ke
peraduan kami, Pondok Asri. Malam itu kami kalut, uang semakin menipis, hanya
cukup untuk naik kereta, ada sisa tapi Cuma sedikit. Guepun langsung telpon
bokap gue buat minta kiriman uang, dan dijanjikan besok siang akan ditransfer.
Di
hari terakhir ini kami menyempatkan diri mampir ke salah satu taman di pusat
Kota Palembang, yang menjadi tempat anak-anak gaulnya Palembang nongkrong. Namanya
Kambang Iwakh seperti taman pada umumnya, dihiasi banyak pepohonan, ditengah
taman ini ada semacam danau kecil dan ditengah-tengahnya terdapat jembatan. Disekeliling
danau terdapat track buat orang-orang
yang jogging, yup taman ini bukan
tempat anak nongkrong doang kok. Banyak juga ibu, bapak, sanak-saudara yang
kumpul di taman ini buat jogging bareng. Di antara pepohonannya juga ada
tali-tali untuk flying fox, ya
walaupun udah rusak gitu deh. Di bagian depan tamannya ada tanah lapang yang
lumayan luas yang dilapisi keramik kasar, tempat anak-anak sketboard berkumpul.
Setelah itu kami menikmati pempek Candy, jangan ketinggalan kalo lagi liburan
ke Palembang. Pempek ini sangat terkenal seantero Palembang, karena rasanya
yang hhmmm yummy banget. Tapi ya harga bawa rasa guys, mehong cyiin, tapi
beneran enak kok cumvah.
Abis
nelpon bokap, senyumpun tersungging dibibir gue, duit udah dikirim coy,
mayankan buat beli oleh-oleh, kapan lagi bakal ke Palembang coba. Guepun cari ATM
paling deket, tapi adanya di dalem PIM. Cus langsung gue kesana, dan lagi-lagi
cobaan hidup menghadang, kadang gue berpikir, apa ini karna bokap gue ga restui
gue kesini makanya sial terus. Yup, ATM gue KEBLOKIR! Bertubi-tubi gini gue,
abis aja seneng, udah sedih lagi coba. Untungnya tak jauh dari PIM ada Kantor
cabang bank, jadi gue langsung kesitu dan minta buka blokiran. Dan apa yang
terjadi gais? Udah jatuh ketimpa tangga ketiban duren pula palak barbie ini. Blokiran
ATMnya gak bisa dibuka karena KTP gak ada, shit man! Sial banget. Kata mbaknya
sih bisa asalkan bawa buku tabungannya bisa dibuka blokirnya, ya ada sih buku
tabungannya tapikan di rumah, mana kepikiran gue liburan bawa-bawa buku
tabungan. Harapan guepun pupus sudah, kecewa boy awecek aug.
Dengan
muka kecewa dan sungguh tak percaya, guepun balik ke Pondok Asri bareng
temen-temen gue, kami mau beres-beres barang karena siang nanti kami bakalan
balik lagi ke kampung halaman. Dengan wajah yang lunglai kami membereskan
barang-barang kami, antara lelah dan duit yang menipis.
Siang
itu kami berangkat ke Stasiun Kertapati, diantar oleh Paijo. Ersa dan Lili
masuk ke dalam untuk memesan tiket, kami menunggu di luar menjaga
barang-barang. Tak lama kemudian Ersa dan Lili datang dengan muka lesu,
ternyata tiket kereta pemberangkatan siang ini telah ludes karena weekend ada lagi malam, sedangkan duit
udah gak memungkinkan lagi buat kita mempertahankan hidup buat sekedar beli
makanan di negri orang. Akhirnya Lita mengusulkan untuk kita naik travel saja,
sebenarnya kami enggan karena lebih mahal berkali-kali lipat. Kami juga takut
karena kami wanita semua, enak dia kan mampir ke tempat bapaknya kerja di
Palembang juga yang kejangkaunya Cuma bisa kalo naik travel. Namun tak ada
pilihan lain, setelah tawar-menawar yang alot, Lita mendapatkan satu travel di
sekitar stasiun yang memungkinkan kami berenam naik. Kami berdo’a sepanjang
jalan, isi travelnya laki semua gais, mana lewat jalannya yang sepi, lewat
hutan dan sawah-sawah, rumah pendudukpun masih jarang-jarang. Entah pikiran
waktu itu sudah melalang buana, mungkin kalo udah sampai Lampung dengan selamat
kita bakalan syukuran. Buat kalian yang kalo pengen liburan biar gak terjadi
hal yang sama kaya kami, pesen tiket jauh-jauh hari ya di Alfamart kalo ga searching di Internet.
Malam itu kami
berhenti di sebuah Rumah Makan Padang bertuliskan “Siang Malam”, supir dan satu
temannya langsung menuju ke bagian belakang khusus supir, katanya sih makan
gratis gitu karena udah bawa penumpang. Rumah makan ini besar banget, ada
puluhan meja bulat yang terisi 6-8 kursi, dan bisa di bilang rumah makan mahal.kamipun
langsung mencari meja yang berkursikan 6, semua makanan di hidangkan di meja
kami. Duit tinggal Rp 30.000 sedangkan mulut orang enam harus terisi. Dan lo
taukan berapa banyak nasi di rumah makan padang begini, dikit men. Akhirnya kami
makan itu udah kaya iklan rokok, ambil nasinya sama kuahnya dituangin, lauknya
kami ambil yang paling murah, sayur daun singkong yang dikit banget itu sama
ayam di bagi untuk orang 6, ayamnya udah irisan lagi, wah pedih banget malam
itu. Lauk segitu menggoda di atas meja dan hanya itulah yang kami makan. Ersapun
tak kuasa menahan tangis, “baru kali ini gue makan ayam semiris ini”, ucapnya
sambil meneteskan air mata. Kami makan
dalam kepedihan dan diam, Lita kemudian mengambil sebuah jeruk, “awas kalo
harga satu jeruk itu goceng ta!” teriak Lili. “Enggak mungkinlah”, jawabnya. Alhasil
buah jeruk yang gak seberapa itu dibagi untuk enam orang, sekedar cuci
mulutlah. Setelah selesai, kami mendapatkan struk, dan betapa kagetnya kami
harga sayur daun singkong yang sedikit
banget itu 8 ribu dan beneran harga jeruk tadi goceng, Alloh.
Kamipun
melanjutkan perjalanan dengan keheningan yang lain, keceriaan telah
meninggalkan kami. Banyak penumpang yang telah berhenti, dan tak lama kemudian
Lita juga berhenti di Perusahaan tempat bapaknya bekerja. Tinggalah kami enam
orang dengan dengan supir dan temannya. Perjalanan malam ini lebih-lebih
menyeramkan, jalan yang gelap kami lalui, jalanan rusak juga. Untuk menutup
mata guepun tak kuasa. Gue harus selalu siaga.
Finally perjalanan ini usai, Alloh telah
menjaga kami selama disana, tugu selamat datang di Kota Bandar Lampung telah
menyapa, Ersa bersama Lili berhenti di kontrakan Lili dengan Inar juga. Gue berhenti
di depan Ramayana Karang bersama Sereen, yang kemudian di jemput kakak iparnya.
Perjalanan ini gak bakalan gue lupa, kesialan-kesialan ini bakalan gue inget,
kebersamaan kalian, canda-tawa kalian, perjalanan ini bakalan jadi kenangan
yang gak mungkin bisa gue lupa, kenekatan di awal semester. Thanks for being my
very good friends guys! Kebrings: I love you damn much!
No comments:
Post a Comment