Semenjak saat itu
Ranis selalu memperhatikan Ghazi, melihat segala gerak-gerik dan tingkah
lakunya. Bahkan dia sendiri tak menyadari inilah kali pertama dia begitu
tertarik dengan seorang pemuda. Suaranya selalu terngiang, entah kenapa Ranis
semakin sering mendengar suara Ghazi ditelinganya, suara itu terdengar
berkali-kali “Lelaki baik pasti untuk wanita yang baik pula”. Pagi itu dia
telat bangun, lantaran terlalu asik begadang mengerjakan tugas. Sial pikirnya,
hari ini dia terlambat melihat siluet Ghazi, tapi tunggu, ternyata justru
keterlambatanyalah yang mendatangkan keberuntungan. Ranis bertemu dengan anak
kecil yang selalu berjumpa dengan Ghazi setiap pagi. Ranis lalu mengahampiri
anak itu, “dek, kamu adiknya Ghazi?” ucapnya. Anak kecil itu hanya tertegun
mendengar todongan pertanyaan yang dialamatkan padanya. “Bukan, kak. Kenapa
emang?” ucapnya bingung. “tidak hanya kakak penasaran, mengapa kamu setiap pagi
bertemu kak Ghazi, dan menyerahkan koran-koranmu padanya?” tanya Ranis.
Kemudian anak kecil itu menceritakan panjang lebar, mengenai Ghazi dari awal
pertemuan mereka hingga kini. Ghazi adalah malaikat penolongnya, ketika melihat
anak kecil yatim piatu ini harus berjuang seorang diri setelah ayah dan ibunya
tewas dalam tragedi kecelakaan kereta di Kotabumi, sehingga dia hanya dengan
berjualan koran untuk melanjutkan hidupnya, sampai putus sekolahnya karena tak
mempunyai biaya.
Ghazi
melihat anak yang malang ini ketika melihatnya di lampu merah didekat SMAnya
saat berjualan koran. Karena merasa iba Ghazi menghampirinya dan memberinya
semangat untuk melanjutkan sekolahnya dan berjanji untuk menjualkan korannya
setiap pagi, sehingga anak itu bisa sekolah lagi. Jawaban anak kecil tadi
meluruhkan dinding-dinding hatinya yang selama ini kaku dan keras. Tak terasa
sebulir senyuman bergulir di bibir tipisnya, untuk kali pertama dia merasakan
bunga sakura berguguran dan waktu berputar begitu perlahan disekelilingnya,
seakan dunia tahu apa yang sedang dirasakannya, siapa yang sedang dikaguminya,
dia orang yang sama dengan suara yang penuh keyakinan di balik tabbir itu.
Seakan semuanya hanya kebetulan semata, tetapi Ranis merasa semua ini telah
dijalurkan oleh Alloh, atas semua pertemuannya dengan Ghazi.
Ranis
berjalan begitu perlahan, menikmati bibit-bibit kekaguman yang mulai menjalari
hatinya. “iya pak, saya tidak tahu setiap pagi selalu ada koran di meja saya,
di meja guru lain juga ada”. “lalu siapakah yang mengirimkannya ton,?” tak
sengaja Ranis mendengar perbincangan dua orang guru mengenai misteri koran yang
selalu ada di meja para guru setiap hari. Keanehan ini muncul lagi, dia
teringat ketika secara tak sengaja meliaht Ghazi keluar dari ruang guru dengan
membawa korannya. “Apa mungkin Ghazi yang menaruh koran-koran itu?” pikirnya. “Ranis,
Ranis, nis… terdengar suara orang memanggilnya. Diapun bangun dari lamunannya. Dia
membalikan badannya, dan siapakah yang menyapanya? Siapa, gila apa saya
bermimpi! ini tidak mungkin, degupan jantungnya begitu cepat, angin yang tenang
menyentuhnya perlahan, bumi seakan berhenti berputar.
Sorot matanya
yang tajam adalah arti dari namanya Ghazi seperti salah satu pasukan khusus
Sultan Mehmed saat menyerang constantine,
suara yang sekali lagi menenangkan. Iya itu dia, pemuda yang tak mungkin pernah
ia lupakan senyumannya, Ahmed Ghazi. “ini, kunci kamu jatuh. Aku sudah memanggilmu
berulang kali tapi kamu tak menyahut” ucapnya. Ranis hanya dapat tertegun, dia
tak menyangka pemuda yang selama ini ia kagumi, mengetahui namanya. Tak mampu
lagi dia menahan rasa penasarannya “zi, kamu ya yang menaruh koran setiap pagi,
diruang guru? Buat apa?” tanyanya. Seperti biasa Ghazi hanya menyunggingkan
senyum. “Aku telah berjanji pada seorang anak kecil untuk membantunya
melanjutkan pendidikannya, aku berjanji akan menjualkan koran-korannya setiap
hari agar uangnya bisa dia gunakan untuk melanjutkan sekolah, tapi aku tak
punya waktu untuk itu. Lalu aku selalu membagi-bagikan koran diruang guru
samapai habis. Sebenarnya aku yang membeli koran-korannya setiap hari. Tetapi agar
dia tidak tersinggung maka aku bilang telah menjualnya di sekolah ini,” terang
Ghazi. Ranis tak mampu lagi berkata-kata, ucapan ghazi hanya menambah semakin
besar saja rasa kagumnya. Dia hanya melemparkan senyumnya, Ghazi membalas
senyumannya dan kemudian pergi. Mungkin bagi orang lain itu adalah hal paling
biasa yang bisa terjadi pada setiap orang, tapi itu akan menjadi indah bila
yang memanggil namamu adalah orang yang kamu kagumi.
Bulat sudah
tekadnya untuk menjalani nasehat Ghazi, berDO’A dengan berDO’A dapat merubah
takdir Alloh. Dia tidak mau kekagumannya ini akan membuahkan kemaksiatan. “Ya
Alloh jika Ahmed Ghazi baik untuk duniaku dan untuk Akhiratku, dan jika dengan
bersamanya dapat mendekatkan diriku padaMU, maka persatukanlah aku dengannya
dalam ikatan suci pernikahan”, ucap Ranis. Jauh di rumah yang lain, di ruang
yang lain hal yang sama dilakukan Ghazi untuk Ranis. Walaupun, dia seperti
tidak perduli, seakan tak mengenal tapi sebenarnya dia juga memperhatikan
Ranis. “When you Look at me, I look back, When you look back, I look at you”. Itu
yang dilakukan Ghazi, diam-diam dia memperhatikan Ranis. Ketika kita mengagumi
seseorang, kamu tidak perlu menjatuhkan harga dirimu, agar orang itu tahu
sebesar apa kekagumanmu padanya, cukupkan saja dengan DO’A Because Love Is Not As Cheap As It!
No comments:
Post a Comment