Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 26 June 2014

Ana Uhibbuka Fillah, Part 2…

           Semenjak saat itu  Ranis selalu memperhatikan Ghazi, melihat segala gerak-gerik dan tingkah lakunya. Bahkan dia sendiri tak menyadari inilah kali pertama dia begitu tertarik dengan seorang pemuda. Suaranya selalu terngiang, entah kenapa Ranis semakin sering mendengar suara Ghazi ditelinganya, suara itu terdengar berkali-kali “Lelaki baik pasti untuk wanita yang baik pula”. Pagi itu dia telat bangun, lantaran terlalu asik begadang mengerjakan tugas. Sial pikirnya, hari ini dia terlambat melihat siluet Ghazi, tapi tunggu, ternyata justru keterlambatanyalah yang mendatangkan keberuntungan. Ranis bertemu dengan anak kecil yang selalu berjumpa dengan Ghazi setiap pagi. Ranis lalu mengahampiri anak itu, “dek, kamu adiknya Ghazi?” ucapnya. Anak kecil itu hanya tertegun mendengar todongan pertanyaan yang dialamatkan padanya. “Bukan, kak. Kenapa emang?” ucapnya bingung. “tidak hanya kakak penasaran, mengapa kamu setiap pagi bertemu kak Ghazi, dan menyerahkan koran-koranmu padanya?” tanya Ranis. Kemudian anak kecil itu menceritakan panjang lebar, mengenai Ghazi dari awal pertemuan mereka hingga kini. Ghazi adalah malaikat penolongnya, ketika melihat anak kecil yatim piatu ini harus berjuang seorang diri setelah ayah dan ibunya tewas dalam tragedi kecelakaan kereta di Kotabumi, sehingga dia hanya dengan berjualan koran untuk melanjutkan hidupnya, sampai putus sekolahnya karena tak mempunyai biaya.

            Ghazi melihat anak yang malang ini ketika melihatnya di lampu merah didekat SMAnya saat berjualan koran. Karena merasa iba Ghazi menghampirinya dan memberinya semangat untuk melanjutkan sekolahnya dan berjanji untuk menjualkan korannya setiap pagi, sehingga anak itu bisa sekolah lagi. Jawaban anak kecil tadi meluruhkan dinding-dinding hatinya yang selama ini kaku dan keras. Tak terasa sebulir senyuman bergulir di bibir tipisnya, untuk kali pertama dia merasakan bunga sakura berguguran dan waktu berputar begitu perlahan disekelilingnya, seakan dunia tahu apa yang sedang dirasakannya, siapa yang sedang dikaguminya, dia orang yang sama dengan suara yang penuh keyakinan di balik tabbir itu. Seakan semuanya hanya kebetulan semata, tetapi Ranis merasa semua ini telah dijalurkan oleh Alloh, atas semua pertemuannya dengan Ghazi.

            Ranis berjalan begitu perlahan, menikmati bibit-bibit kekaguman yang mulai menjalari hatinya. “iya pak, saya tidak tahu setiap pagi selalu ada koran di meja saya, di meja guru lain juga ada”. “lalu siapakah yang mengirimkannya ton,?” tak sengaja Ranis mendengar perbincangan dua orang guru mengenai misteri koran yang selalu ada di meja para guru setiap hari. Keanehan ini muncul lagi, dia teringat ketika secara tak sengaja meliaht Ghazi keluar dari ruang guru dengan membawa korannya. “Apa mungkin Ghazi yang menaruh koran-koran itu?” pikirnya. “Ranis, Ranis, nis… terdengar suara orang memanggilnya. Diapun bangun dari lamunannya. Dia membalikan badannya, dan siapakah yang menyapanya? Siapa, gila apa saya bermimpi! ini tidak mungkin, degupan jantungnya begitu cepat, angin yang tenang menyentuhnya perlahan, bumi seakan berhenti berputar.

            Sorot matanya yang tajam adalah arti dari namanya Ghazi seperti salah satu pasukan khusus Sultan Mehmed saat menyerang constantine, suara yang sekali lagi menenangkan. Iya itu dia, pemuda yang tak mungkin pernah ia lupakan senyumannya, Ahmed Ghazi. “ini, kunci kamu jatuh. Aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kamu tak menyahut” ucapnya. Ranis hanya dapat tertegun, dia tak menyangka pemuda yang selama ini ia kagumi, mengetahui namanya. Tak mampu lagi dia menahan rasa penasarannya “zi, kamu ya yang menaruh koran setiap pagi, diruang guru? Buat apa?” tanyanya. Seperti biasa Ghazi hanya menyunggingkan senyum. “Aku telah berjanji pada seorang anak kecil untuk membantunya melanjutkan pendidikannya, aku berjanji akan menjualkan koran-korannya setiap hari agar uangnya bisa dia gunakan untuk melanjutkan sekolah, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Lalu aku selalu membagi-bagikan koran diruang guru samapai habis. Sebenarnya aku yang membeli koran-korannya setiap hari. Tetapi agar dia tidak tersinggung maka aku bilang telah menjualnya di sekolah ini,” terang Ghazi. Ranis tak mampu lagi berkata-kata, ucapan ghazi hanya menambah semakin besar saja rasa kagumnya. Dia hanya melemparkan senyumnya, Ghazi membalas senyumannya dan kemudian pergi. Mungkin bagi orang lain itu adalah hal paling biasa yang bisa terjadi pada setiap orang, tapi itu akan menjadi indah bila yang memanggil namamu adalah orang yang kamu kagumi.


            Bulat sudah tekadnya untuk menjalani nasehat Ghazi, berDO’A dengan berDO’A dapat merubah takdir Alloh. Dia tidak mau kekagumannya ini akan membuahkan kemaksiatan. “Ya Alloh jika Ahmed Ghazi baik untuk duniaku dan untuk Akhiratku, dan jika dengan bersamanya dapat mendekatkan diriku padaMU, maka persatukanlah aku dengannya dalam ikatan suci pernikahan”, ucap Ranis. Jauh di rumah yang lain, di ruang yang lain hal yang sama dilakukan Ghazi untuk Ranis. Walaupun, dia seperti tidak perduli, seakan tak mengenal tapi sebenarnya dia juga memperhatikan Ranis. “When you Look at me, I look back, When you look back, I look at you”. Itu yang dilakukan Ghazi, diam-diam dia memperhatikan Ranis. Ketika kita mengagumi seseorang, kamu tidak perlu menjatuhkan harga dirimu, agar orang itu tahu sebesar apa kekagumanmu padanya, cukupkan saja dengan DO’A Because Love Is Not As Cheap As It!

No comments:

Post a Comment