Seperti biasa mendung selalu punya cerita yang harus
diungkap, seperti senja hari ini, kilatan jingganya tak kunjung terlihat
tertutup pekatnya awan hitam. Tetapi aku tetap bersyukur, aku terlindung dari
terik matahari yang beberapa hari ini begitu menyengat. Walaupun begitu,
mentari tetaplah selalu dirindukan setiap insan manusia. Iya dirindukan,
seperti aku yang sedang merindu kamu, merindu melihat sosokmu, merindu melihat
senyumanmu, merindu tawa renyahmu, merindu tiap kata yang begitu saja tergulir
dari bibirmu.
Beberapa
waktu ini kau seperti disambut awan, mataku tak lagi mampu untuk menjangkau
wajahmu lagi, tak ada komunikasi lagi. Kamu yang nyata namun tak terungkap
dimana keberadaanya, ingin sekali aku menghubungimu, bertanya kabar, apakah
yang sedang kamu lakukan? Apakah kau sedang dalam masalah? Jika benar maka
ceritakanlah kepadaku, ceritakan keluh kesahmu, jangan kau kurung dirimu dan
mengurung kerinduanku bersama hilangnya kamu. Aku kalut, tak dapat berujar
lagi, aku tak bisa apa-apa, aku bukan siapa-siapa.
Jikalau
waktu memberikan kesempatan untukmu berbagi keluh kesahmu kepadaku niscaya aku
akan menjadi pendengar yang baik, iya itu hal terkecil yang akan aku lakukan
jika aku tidak dapat membantumu. Tapi tolonglah, keluarlah dari lorong-lorong
gelap yang sedang kau huni, hiduplah kembali seperti obor-obor api yang
gemerlapan di malam yang gelap. Bermekaran lagi, bagai bunga-bunga indah
warna-warni, ditengah taman kota.
Jangan kau
tutupi sendiri luka-lukamu, berbagilah, berbahagialah, tersenyumlah, tertawalah
lagi,lagi dan lagi. Aku rindu, dan tak banyak yang bisa aku lakukan, bisaku hanya
berdo’a untukmu, berdo’a demi kebaikanmu,berdo’a kembalinya kamu dan mampu ku
melihatmu lagi.
No comments:
Post a Comment