Ini kisah tentang seorang remaja
yang sedang menuelusuri perjalanan menuju peraduannya mencari jati diri,
mencari apa yang selama ini menentramkan hati. Meloncati pijak-pijak bumi,
perjalanan mencari keridhoan ilahi. Gadis itu bernama Ranis, seorang remaja
dengan pendirian kuat dan keras. Hijab yang menutupi rambutnya, balutan busana
yang melingkari tubuhnya, tak menutupi betapa tegas dan kuatnya dia. Dia tidak
pernah memiliki ketertarikan khusus kepada seorang pemuda, dia selalu mengatakan
lebih baik aku sendiri ketimbang menghabiskan waktu dengan orang yang salah.
Dia adalah aktivis ROHIS (Rohani Islam) di SMAnya dari situlah dia belajar
semua tentang pelajaran hati, tentang bagaimana seorang wanita yang baik akan
bertemu dengan pria yang baik pula, tentang menyayangi seorang muslim karna
Alloh.
Pagi yang terik, sepagi itu
matahari telah menggelayut menyingkirkan tumpukan awan-awan putih, pagi hari
ini begitu cerah bahkan nyaris tanpa awan. Ranis tinggal dalam sebuah kamar kos
yang berjarak sekitar 100 m dari sekolahnya, dia berjalan sembari menyipitkan
mata karna terik matahari yang sangat. Sesosok siluet pemuda yang sedang
berjongkok menarik perhatiannya, dia menajamkan matanya, begitu menarik
perhatiannya apa yang sedang dilakukan pemuda di samping pagar sekolah. Lalu
Ranis semakin mendekati pemuda itu dan berhenti untuk melihat apa yang sedang
pemuda itu lakukan, tak lama kemudian pemuda itu berdiri dan berjalan menuju
sekolah. Ranispun melanjutkan derap langkahnya, dia terus berpikir apa yang
dilakukan pemuda tadi, dan kenapa ada anak kecil yang menyalaminya ketika dia
pergi, adiknyakah? Anak jalanan kah? Rasa penasaran itupun terus menggelayut di
dalam pikirannya. Pemuda itu berjalan ke arah yang sama dengannya, dan berhenti
di kelas sebelah kelas Ranis, ternyata pemuda itu tetangga kelasnya, mengapa
aku tidak pernah melihat pemuda ini, pikirnya.
Kegiatan berdiskusi dengan sesama
anggota ROHIS adalah kesenangannya sepulang sekolah, iya, sambil menunggu
jadwal les tiba, biasanya dia akan ke masjid untuk berbagi ilmu dan ngobrol
tentang agama dengan sesama anak ROHIS. Hari itu berbeda, jika biasanya hanya akhwat
saja yang berdiskusi, kali ini tidak. Para ikhwan juga ikut berdiskusi dan
berbagi ilu agama mereka. mereka berdiskusi menggunakan tabbir sebagai
penghalang. Ketika sedang berdiskusi mengenai cinta, ada seorang pemuda yang
tengah menjelaskan bagaimana cinta itu sepatutnya, “jikalau kalian menyukai
seseorang maka berDO’Alah, walaupun orang yang kalian sayangi tidak mengetahui
betapa menyayanginya kalian padanya, tapi paling tidak Alloh tau, Alloh maha
tau, biarkan Alloh yang mengubah takdir jika dia baik untuk kalian, Ana
Uhibbuki Fiilah,” jelasnya. Suara itu begitu menenangkan, ucapnya begitu tegas
dan penuh keyakinan. Betapapun penasarannya dia untuk sekedar mengetahui
siapakah yang berujar itu, tapi tak mampunya mulut untuk sekedar bertanya. Yang
pasti suara itu, kata-kata itu, selalu terngiang di hati Ranis, dan mengubah
cara pandangnya mengenai cinta.
Seperti pagi-pagi sebelumnya di
pagi ini dia melihat siluet pemuda tadi, karna terdorong rasa penasaran dia
berlari dan berdiri di balik pohon flamboyan yang berada di depan sekolahnya
untuk memperhatiakan apa yang pemuda itu lakukan. Perhatiannya terfokus pada
anak yang membawa koran yang sedang bercakap-cakap dengan pemuda itu, anak itu
lalu memberikan semua koran yang dibawanya kemudian pemuda tadi menyerahkan
sejumlah uang untuk anak tadi, anak itupun pergi setelah menyalami pemuda
tersebut. “untuk apa koran sebanyak itu?” pikirnya. Lelaki itupun kembali
berjalan kedalam kelas yang sama dengan tumpukan koran ditangannya. Ranis pun
menuju ke sekolah dengan segala pertanyaan yang menumpuk di kepalanya, tidak
biasanya dia begitu peduli dengan seorang pemuda, apalagi pemuda yang belum
dikenalnya, tapi pemuda ini begitu berbeda, dia membuat seorang Ranis yang
cenderung cuek dan keras kepala “Penasaran”.
Pikirannya di atas awan ketika Bu
Tike menjelaskan tentang puisi, dia tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran
ini. Untuk menghilangkan kejenuhannya dia meminta izin untuk ke kamar kecil.
Alih-alih ke kamar kecil, dia berjalan berkeliling di seluruh sudut sekolah
untuk sekedar menghilangkan kebosanannya. Kali ini dia melihat seorang siswa
yang mencurigakan, siswa itu mengendap-endap masuk kedalam kantor kepala
sekolah dan keluar dengan perlahan-lahan seolah-olah sedang mencuri sesuatu.
Tapi tunngu dulu siswa itu membawa tumpukan koran ditangannya. Lalu apa yang
dia lakukan masuk ke ruang guru di saat sepi seperti ini. “Tunggu”! Teriak Ranis.
Siswa itu tersentak dan kemudian lari. Tak ayal Ranispun mengejar siswa itu,
tak mengherankan jika Ranis berlari dengan begitu cepat, karna dia memang salah
satu atlit lari di sekolahnya. Kemudian, “Bruuuukk”! tumpukan koran itupun
jatuh berserakan di tanah, dan siswa itupun jatuh pula. Ranis langsung
menghampirinya, “hei! Apa yang kamu lakuakan di ruang guru saat jam belajar
begini?” kamu mencuri ya”? todong Ranis. Dengan gerakan yang memuakau siswa
tadi berdiri dengan santai dan hanya melempar senyumnya ke Ranis, lalu
memunguti koran-koran tadi dan kemudian pergi. Ranis hanya ternganga melihat
kejadian itu, dia hanya berdiri mematung tak sempat berkata-kata. Lalu dia
berlari dan menarik baju siswa tadi, “apa yang kamu lakukan di dalam ruang guru
tadi? Jika kamu tidak mencuri lalu apa yang kamu lakukan?” ucap Ranis.
Lagi-lagi siswa itu hanya tersenyum, dan melepas tangan Anis dari bajunya.
“Kamu ga bakalan ngerti apa yang aku lakukan”, jawabnya. Seperti petir yang
menyambar di siang bolong, suara itu suara itu, suara yang begitu berkesan ,
suara yang selalu terngiang di hati dan pikiran Ranis, hanya nama yang sempat
terbaca di seragam pemuda itu “ Ahmed Ghazi”. Ranis terpaku tak sadarkan diri,
dia hanya dapat melihat pemuda itu berjalan perlahan meninggalkannya.
Siluet pemuda itu kini semakin jelas tergambar, setiap pagi Ranis
selalu mengamati pertemuan pemuda itu dengan anak penjual koran, bahkan dia
sering mencuri-curi waktu untuk melihat pemuda itu di ruang guru, pemuda ini
sungguh membuat Ranis penasaran.
To be continued…
No comments:
Post a Comment