Elegant Rose - Working In Background

Wednesday, 25 June 2014

Ana Uhibbuka Fillah!

Ini kisah tentang seorang remaja yang sedang menuelusuri perjalanan menuju peraduannya mencari jati diri, mencari apa yang selama ini menentramkan hati. Meloncati pijak-pijak bumi, perjalanan mencari keridhoan ilahi. Gadis itu bernama Ranis, seorang remaja dengan pendirian kuat dan keras. Hijab yang menutupi rambutnya, balutan busana yang melingkari tubuhnya, tak menutupi betapa tegas dan kuatnya dia. Dia tidak pernah memiliki ketertarikan khusus kepada seorang pemuda, dia selalu mengatakan lebih baik aku sendiri ketimbang menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Dia adalah aktivis ROHIS (Rohani Islam) di SMAnya dari situlah dia belajar semua tentang pelajaran hati, tentang bagaimana seorang wanita yang baik akan bertemu dengan pria yang baik pula, tentang menyayangi seorang muslim karna Alloh.

Pagi yang terik, sepagi itu matahari telah menggelayut menyingkirkan tumpukan awan-awan putih, pagi hari ini begitu cerah bahkan nyaris tanpa awan. Ranis tinggal dalam sebuah kamar kos yang berjarak sekitar 100 m dari sekolahnya, dia berjalan sembari menyipitkan mata karna terik matahari yang sangat. Sesosok siluet pemuda yang sedang berjongkok menarik perhatiannya, dia menajamkan matanya, begitu menarik perhatiannya apa yang sedang dilakukan pemuda di samping pagar sekolah. Lalu Ranis semakin mendekati pemuda itu dan berhenti untuk melihat apa yang sedang pemuda itu lakukan, tak lama kemudian pemuda itu berdiri dan berjalan menuju sekolah. Ranispun melanjutkan derap langkahnya, dia terus berpikir apa yang dilakukan pemuda tadi, dan kenapa ada anak kecil yang menyalaminya ketika dia pergi, adiknyakah? Anak jalanan kah? Rasa penasaran itupun terus menggelayut di dalam pikirannya. Pemuda itu berjalan ke arah yang sama dengannya, dan berhenti di kelas sebelah kelas Ranis, ternyata pemuda itu tetangga kelasnya, mengapa aku tidak pernah melihat pemuda ini, pikirnya.

Kegiatan berdiskusi dengan sesama anggota ROHIS adalah kesenangannya sepulang sekolah, iya, sambil menunggu jadwal les tiba, biasanya dia akan ke masjid untuk berbagi ilmu dan ngobrol tentang agama dengan sesama anak ROHIS. Hari itu berbeda, jika biasanya hanya akhwat saja yang berdiskusi, kali ini tidak. Para ikhwan juga ikut berdiskusi dan berbagi ilu agama mereka. mereka berdiskusi menggunakan tabbir sebagai penghalang. Ketika sedang berdiskusi mengenai cinta, ada seorang pemuda yang tengah menjelaskan bagaimana cinta itu sepatutnya, “jikalau kalian menyukai seseorang maka berDO’Alah, walaupun orang yang kalian sayangi tidak mengetahui betapa menyayanginya kalian padanya, tapi paling tidak Alloh tau, Alloh maha tau, biarkan Alloh yang mengubah takdir jika dia baik untuk kalian, Ana Uhibbuki Fiilah,” jelasnya. Suara itu begitu menenangkan, ucapnya begitu tegas dan penuh keyakinan. Betapapun penasarannya dia untuk sekedar mengetahui siapakah yang berujar itu, tapi tak mampunya mulut untuk sekedar bertanya. Yang pasti suara itu, kata-kata itu, selalu terngiang di hati Ranis, dan mengubah cara pandangnya mengenai cinta.

Seperti pagi-pagi sebelumnya di pagi ini dia melihat siluet pemuda tadi, karna terdorong rasa penasaran dia berlari dan berdiri di balik pohon flamboyan yang berada di depan sekolahnya untuk memperhatiakan apa yang pemuda itu lakukan. Perhatiannya terfokus pada anak yang membawa koran yang sedang bercakap-cakap dengan pemuda itu, anak itu lalu memberikan semua koran yang dibawanya kemudian pemuda tadi menyerahkan sejumlah uang untuk anak tadi, anak itupun pergi setelah menyalami pemuda tersebut. “untuk apa koran sebanyak itu?” pikirnya. Lelaki itupun kembali berjalan kedalam kelas yang sama dengan tumpukan koran ditangannya. Ranis pun menuju ke sekolah dengan segala pertanyaan yang menumpuk di kepalanya, tidak biasanya dia begitu peduli dengan seorang pemuda, apalagi pemuda yang belum dikenalnya, tapi pemuda ini begitu berbeda, dia membuat seorang Ranis yang cenderung cuek dan keras kepala “Penasaran”.

Pikirannya di atas awan ketika Bu Tike menjelaskan tentang puisi, dia tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran ini. Untuk menghilangkan kejenuhannya dia meminta izin untuk ke kamar kecil. Alih-alih ke kamar kecil, dia berjalan berkeliling di seluruh sudut sekolah untuk sekedar menghilangkan kebosanannya. Kali ini dia melihat seorang siswa yang mencurigakan, siswa itu mengendap-endap masuk kedalam kantor kepala sekolah dan keluar dengan perlahan-lahan seolah-olah sedang mencuri sesuatu. Tapi tunngu dulu siswa itu membawa tumpukan koran ditangannya. Lalu apa yang dia lakukan masuk ke ruang guru di saat sepi seperti ini. “Tunggu”! Teriak Ranis. Siswa itu tersentak dan kemudian lari. Tak ayal Ranispun mengejar siswa itu, tak mengherankan jika Ranis berlari dengan begitu cepat, karna dia memang salah satu atlit lari di sekolahnya. Kemudian, “Bruuuukk”! tumpukan koran itupun jatuh berserakan di tanah, dan siswa itupun jatuh pula. Ranis langsung menghampirinya, “hei! Apa yang kamu lakuakan di ruang guru saat jam belajar begini?” kamu mencuri ya”? todong Ranis. Dengan gerakan yang memuakau siswa tadi berdiri dengan santai dan hanya melempar senyumnya ke Ranis, lalu memunguti koran-koran tadi dan kemudian pergi. Ranis hanya ternganga melihat kejadian itu, dia hanya berdiri mematung tak sempat berkata-kata. Lalu dia berlari dan menarik baju siswa tadi, “apa yang kamu lakukan di dalam ruang guru tadi? Jika kamu tidak mencuri lalu apa yang kamu lakukan?” ucap Ranis. Lagi-lagi siswa itu hanya tersenyum, dan melepas tangan Anis dari bajunya. “Kamu ga bakalan ngerti apa yang aku lakukan”, jawabnya. Seperti petir yang menyambar di siang bolong, suara itu suara itu, suara yang begitu berkesan , suara yang selalu terngiang di hati dan pikiran Ranis, hanya nama yang sempat terbaca di seragam pemuda itu “ Ahmed Ghazi”. Ranis terpaku tak sadarkan diri, dia hanya dapat melihat pemuda itu berjalan perlahan meninggalkannya.

Siluet pemuda itu kini  semakin jelas tergambar, setiap pagi Ranis selalu mengamati pertemuan pemuda itu dengan anak penjual koran, bahkan dia sering mencuri-curi waktu untuk melihat pemuda itu di ruang guru, pemuda ini sungguh membuat Ranis penasaran.
                                                              To be continued…


No comments:

Post a Comment