Masa SMA adalah masa yang paling
membahagiakan bukan? Masa dimana hati yang dahulu kosong kini mulai ditanami
benih-benih kasih sayang . tiap benih-benih itupun merangkaikan kisahnya
masing-masing. Ini adalah salah satu kisah yang dirangkaikan oleh salah satu
benihnya.
Senyum manis itu selalu
tersungging dibibir manis Askana Sakhi, cewek yang duduk di bangku kelas XI SMA
itu selalu semangat mengayuh sepeda mini berwarna maroon miliknya. Dia tak akan
menyerah untuk mengubah nasib yang kini tengah membelenggunya. Iya, dia dan
ibunya berjuang bersama dalam menjalani beratnya ujian hidup tuhan kepada
mereka. Mengayuh sepeda sepanjang 8 Km setiap haripun tak dikeluhkannya. Dia
sadar dia bukanlah orang kaya seperti teman-temannya yang menggunakan mobil diantar
orang supirnya atau sekedar naik angkot. Uang yang diberikan ibunya yang
seorang single fighter ditabung olehnya, terkadang dia tidak kekantin sama
sekali dan hanya memakan bekal yang dibawakan oleh ibunnya. Walaupun dia
sekolah di salah satu sekolah ternama di kotanya, tapi bukan menjadi alasan
baginya untuk malu, untuk menjadi apa adanya di depan teman-temannya.
Tetapi
untungnya, dia termasuk murid teladan di SMA tersebut. Banyak sekali syukurnya
kepada Maha Besar Alloh, setidaknya ada otak yang dapat dia andalkan untuk
merubah nasib.
Pagi itu adalah
pagi yang menyejukkan, entah kenapa angin pagi itu terasa begitu mendayu, wangi
bunga melati di pinggiran jalan begitu memabukkan indra penciumannya. Dia hanya
melebarkan ujung bibirnya dan memandang langit. Dan menjawab tiap sapaan
teman-temannya ketika mendahuluinya. “Aku bersyukur ya Alloh aku mempunyai ibu
yang luar biasa, mempunyai hari yang luar biasa dan si merah yang selalu
mengantarkanku kemana-mana”, lalu menepuk stang sepedanya itu.
Teman-temannya
selalu menyambutnya dengan hangat ketika dia mulai memasuki kelas, hanya satu
orang saja yang selalu cuek dan kasar padanya, Riuza dia adalah pesaing
beratnya mereka bersaing memperebutkan gelar juara semenjak kelas X, mungkin
karena itu pikirnya Riuza begitu sinis padanya.
Siang itu
kelas kosong dikarenakan guru-guru sedang ada rapat kenaikan kelas, sehingga
kelas begitu gaduh. Karena tak suka dengan kegaduhan Askana bangkit dan membawa
buku cetak fisikannya keluar, “mau kemana kan?” ucap Uzda teman sebangkunya.
“biasa” ucapnya diiringi senyuman. Dia berjalan tak lagi menggunakan matanya,
sambil membawa buku ditangannya dia begitu serius membaca dan menelusuri lorong
sekolah ketempat kesukaannya. “Permisi” sapa seseorang, Askana pun berhenti,
“iya” ucapnya datar. “kenalin gue
Ghalibie anak baru disini, lo tau kelas XI IPA 1 ga? “oh iya diujung koridor
sebelah kiri, ada tulisannya kok” ucap Askana. “okey makasi ya!” Askana hanya
membalasnya dengan senyuman. Tanpa memperdulikan cowok tersebut diapun lalu.
Tempat
favorit yang dia tuju adalah sebuah pohon flamboyan yang sangat besar berusia
puluhan tahun berada di belakang sekolah. Disinilah tempat yang selalu menjadi
persinggahannya dan menjadi teman curhatnya ketika makhluk hidup
disekelilingnya tak sanggup memahami beratnya kehidupan yang harus dijalaninya.
Pohon flamboyan ini sangat besar diameternya akan cukup untuk duduk dua orang
saling membelakangi tanpa saling tahu, Fla begitulah Askana memanggilnya.
Diapun duduk bersandar di pohon itu, belajar tentang bagian bab yang tidak ia
mengerti. Askana adalah pendiam yang sering menyendiri, karena terkadang
teman-temannya yang mayoritas adalah orang kaya tidak memahami tentang
kehidupannya. Kemudian dia menutup buku fisikanya, “Fla, kamu baik-baik sajakan
hari ini?” “kamu udah makan belum? Aku bawa bekal tuh, nanti siang kita makan
berdua ya. Fla aku lagi bingung nih, SPP ku belum dibayar, tapi ga mungkin
minta Ibu, aku ga tega, dia sudah sangat bekerja keras untuk kami bertahan
hidup. Fla, aku pengen kerja, ngajar anak SD juga tak apalah, asalkan bisa
kutabung uangnya untuk bantu Ibu bayar SPP. Tapi siapa coba yang mau
mempekerjakan anak kelas dua SMA?”. Pohon Flamboyan itupun hanya
menggoyang-goyangkan dahannya yang tertiup angin, tapi bagi Askana itu sudahlah
cukup menjawab semua kegelisahannya.
Teriknya
sang raja siang tidak menghalanginya untuk mengayuh sepeda kesayangannya
menelusuri jalan untuk pulang. Sesampainya di gang depan rumahnya dia menemukan
selebaran, “Subhanalloh!” pekiknya, Alloh telah menjawabnya. Diapun mengambil
selebaran itu dan menghubungi nomor telfon yang tertera. “Assalamualaikum”
ucapnya, “Waalaikumsallam” ucap suara di sebrang telfon. “saya Askana bu, apa
benar ibu sedang membutuhkan guru privat untuk anak ibu?, jika benar saya
bermaksud mendaftar.” tanya Askana, “iya benar mbak, langsung saja besok ke
rumah ya jam empat sore, denah lokasinya ada di selebaran kok, nanti saya
jelaskan lebih lanjut di rumah, bisa mbak? “iya bu tentu saja terima kasih” ,
matanya berkaca-kaca, hanya senyuman yang dapat mewakili betapa bersyukurnya
dia hari itu, “Alhamdulillah ya Alloh”.
“Aduh!” terdengar suara lelaki kesakitan, Askanapun lansung berlari
mencari asal suara tersebut, namun tidak ditemukannya, yang dia temukan
hanyalah pena hitam bertuliskan “G” di batangnya.
Esok hari
setelah pulang sekolah dia langsung menuju alamat yang tertera dalam selebaran
tersebut. Rumahnya luas dan sejuk, dihiasi pohon-pohon besar nan rindang,
dikelilingi oleh pagar hidup. Rumahnya bergaya jawa yang klasik, banyak ukiran
khas jepara disana-sini. Pastilah orang yang punya rumah memegang teguh
kebudayaan jawa, pikirnya. Setelah memarkirkan sepedanya dia mengucapkan salam,
“Assalamualaikum”, tak lama kemudian pintuyang berbentuk gebyok itupun terbuka.
“Waalaikumsalam, Askana ya? Saya ibu wibowo, Ayo masuk” ucap ibu itu ramah.
“silahkan duduk, sebentar ya ibu panggilkan Ozi yang akan nak Askana ajar”.
Askana hanya tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian, ibu itupun kembali membawa
seorang anak lelaki, “kenalkan nak Askana ini Ozi anak saya, langsung diajar
saja, keputusan diterima atau enggaknya nanti saya kabarkan setelah Ozi memberi
komentar, karena jika dia nyaman maka akan lebih mudah untuk menyerap ilmunya”
ucapnya. “baik bu” jawab Askana. Kemudian mereka duduk disalah satu gazebo
rumah dan acara ngajar mengajar itupun dimulai.
Malam itu
Aksana bemunajat kepada Alloh semoga usahanya kali ini diberikan kemudahan dan
kelancaran, lalu membaringkan tubuh kecilnya. Karena kelelahan, pagi itu Aksana
kesiangan, Ibunya juga tak tega untuk membangunkannya karena tidurnya begitu
pulas. Dia kemudian bergegas dan mengayuh sepedanya sangat kencang, sesampainya
di sekolah diapun langsung lari dan tidak melihat seseorang tepat di belokan
koridor, Brruuukk!! merekapun jatuh. Malang nasib Aksana yang dia tabrak adalah
anak yang terkenal angkuh dan sombong karena kekayaanya, Monalisa. Aksanapun
seketika menolong dan meminta maaf padanya, tapi bukannya berterima kasih,
Monalisa malah menampar Aksana, tapi sebelum tangan itu sampai menyentuh pipi
Aksana, telah dipegang oleh Ghalibie. Aksana hanya terkesima melihat kejadian
yang baru saja dia saksikan, dia tidak menyangka Ghalibie akan
menyelamatkannya. “jaga sikap lo, ini sekolah ” ucap Ghalibie sinis kepada
Monalisa. Belum sempat hilang rasa herannya, tiba-tiba tangan Ghalibie telah
meraih tangannya, menggandeng Askana menuju kelas mereka.
Tepat di
depan kelas Ghalibie melepaskan tangannya, memutar badan menyentuh kedua pundak Askana dan menatap
dalam ke matanya, “kamu ga apa-apa kan?” ucapnya lirih. Askana tak mampu
mengucapkan sepatah katapun ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Dengan langkah
gontai mereka masuk ke dalam kelas, diiringi puluhan pasang mata yang menatap
heran dengan kedatangan mereka berdua. Askana tidak memperdulikannya dia
langsung duduk di bangkunya cuek dengan keadaan sekitar. Dia malas memikirkannya,
lebih baik otaknya ia gunakan untuk memikirkan materi pelajaran yang belum
dimengerti. Seketika kelas menjadi riuh rendah, seisi kelas saling berbisik
membicarakan apa yang mereka lihat pagi tadi di depan kelas mereka, ya apa yang
dilakukan Ghalibie dan Askana.
Seperti biasa
ketika waktu istirahat tiba, Askana menuju tempat peraduannya, dia akan bertemu
sahabatnya, Fla. Dia berbincang dengan
Fla, atas apa yang terjadi pagi tadi, bagaimana Ghalibie menyelamatkannya dari
tamparan Monalisa. Fla menjawabnya dengan menggugurkan bunga-bunganya yang
berwarna oranye, menerpa wajah bahagia Askana.
Monalisa tidak
bisa begitu saja melupakan kejadian pagi tadi, dia menaruh dendam pada Askana
yang lolos dari tamparannya. Dia tidak mau terlihat lemah dan tidak berdaya, di
mata gadis miskin itu. Dia berencana jahat untuk merusak sepeda Askana. Rencana
jahat itu dilakukan pada jam istirahat kedua, ketika semua orang sibuk untuk ke
kakantin dan sholat dzuhur. Dia menyuruh teman laki-lakinya untuk membocorkan
kedua ban sepeda Askana. Dia hanya menyeringai puas, karena rencananya
berhasil. Tapi, dia tidak menyadari dari kejauhan ada sesosok cowok yang
mengintai apa yang sedang dilakukan teman lelaki Monalisa itu.
Bel pulang
sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar ruangan. Askana keluar
paling terakhir, dia malas untuk berdesak-desakan dengan teman-temannya,
lagipula dia menyukai keheningan. Ketika keluar dari kelas dia menemukan sebuah
buku jatuh, diapun memungutnya kemudian membukanya untuk mengetahui siapa
pemilik buku itu. Belum sempat membukanya, Riuza langsung mengambil buku itu dari
tangannya. “ini buku gue, makasi udah ngambilin” ucap Riuza sinis, kemudian dia
pergi begitu saja diiringi tatapan mata heran Askana. Tempat parkir kendaraan
siswa telah sepi, hanya terlihat beberapa mobil milik siswa yang mengikuti
ekstrakulikuler dan sepeda mini milik Askana. Dia begitu heran ketika melihat
sepedanya, “ada yang aneh” pekiknya. Kemudian dia menyentuh kedua ban
sepedanya, “baru?” ucapnya lirih. Dia mengendarai sepedanya dengan seribu
pertanyaan yang ada dibenaknya, mengapa ban sepedanya baru? Apa mungkin ini
bukan sepeda mini miliknya? Ah bukan! Tentu ini miliknya, karena hanya dia yang
mengendarai sepeda mini di sekolah ini. Lalu siapa dan mengapa ada orang yang
mengganti ban sepedanya, padahal keduanya dalam kondisi yang baik,
pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir di benaknya. Tanpa ia sadari, ada yang
memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum mengembang dari bibirnya.
Sesampainya
dirumah dia langsung berganti pakaian dan segera membantu ibunya untuk memasak,
kukuruyuuuuukkkk…. Terdengar dering hape miliknya, ada sms rupanya,
Mulai besok Askana bisa ngajar Ozi,
seminggu 3x. dibayarnya setiap minggu 100rb ya nak, terima kasih loh
sebelumnya, Ozi senang sekali diajar kemarin. Ibu Wibowo.
Melihat isi pesan tersebut senyum
mengembang dibibir Askana matanya berkaca-kaca, kemudian dia lari memeluk
ibunya. Ibunya hanya heran melihat tingkah anak tunggalnya ini, dia hanya
tersenyum.
Kegiatannya
kini bertambah, sepulang sekolah dia harus datang kerumah Ozi untuk
mengajarnya, tetapi Ozi adalah anak cerdas dan juga menyenangkan. Askana dapat
melupakan masalah hidupnya untuk beberapa saat, tingkah lucu dan kepolosan Ozi
kini yang menjadi hiburannya, lambat laun Askana dapat tersenyum dan sesekali
tertawa melihat tingkahnya.
Sore
sepulang sekolah, Askana bergegas ke rumah Ozi karena dia sangat kuatir akan
mendung yang tiba-tiba menutupi cerahnya sore itu. Dia lupa membawa payung
ataupun jaket. Jadi dia terburu-buru mengayuh sepedanya supaya sampai di rumah Ozi
sebelum hujan turun. Namun, naas baginya, langit sedang tak bersahabat. Butiran
hujan turun dengan deras, memaksa Askana untuk menghentikan laju sepedanya dan
berteduh. Kemudian dia menghentikan sepedanya tepat didepan teras sebuah toko,
ada beberapa orang juga yang sedang berteduh. Langit mulai gelap, namun tak ada
tanda-tanda hujan akan berhenti. Dia telah menghubungi ibu wibowo bahwa dia
akan datang terlambat karena terjebak hujan. Askana menengadahkan tangannya dan
menatap langit, “masih deras,” pikirnya. “kak, kakak mau pergi apa?” ucap
seorang anak kecil disampingnya. Anak kecil itu menyunggingkan senyumnya, “iya
dek, kenapa?” ucapnya ramah. Anak itu kemudian menyerahkan payung motif bunga berwarna merah muda dan sebuah jaket
biru torqua ke tangan Askana. “ini buat aap, belum sempat Askana menyelesaikan
ucapannya, anak itupun lari menerobos hujan. Askana hanya menatap bingung pada
kedua benda yang sedang dipegangnya, dengan ragu dia membuka jaket itu untuk
memakainya, ada secarik kertas jatuh dari lipatan jaket. Dia membuka kertas
lipatan yang berwarna biru muda itu dan membacanya.
Pakailah! Lindungi tubuhmu dari derasnya hujan. Aku tak mau
melihatmu sakit.
Kertas itu bagai surat kaleng, tak ada
nama maupun inisial di belakangnya. Askana hanya tersenyum dan menyimpan kertas
itu di saku rok abu-abunya. Kemudian dia memakai jaket dan payung itu untuk
pergi ke rumah Ozi. “makasi ya kak” Ucap anak kecil tadi kepada seorang cowok tinggi
dengan jari-jari yang panjang yang menyuruhnya untuk memberikan jaket dan
payung kepada Askana.
No comments:
Post a Comment