Elegant Rose - Working In Background

Tuesday, 12 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu

Masa SMA adalah masa yang paling membahagiakan bukan? Masa dimana hati yang dahulu kosong kini mulai ditanami benih-benih kasih sayang . tiap benih-benih itupun merangkaikan kisahnya masing-masing. Ini adalah salah satu kisah yang dirangkaikan oleh salah satu benihnya.

Senyum manis itu selalu tersungging dibibir manis Askana Sakhi, cewek yang duduk di bangku kelas XI SMA itu selalu semangat mengayuh sepeda mini berwarna maroon miliknya. Dia tak akan menyerah untuk mengubah nasib yang kini tengah membelenggunya. Iya, dia dan ibunya berjuang bersama dalam menjalani beratnya ujian hidup tuhan kepada mereka. Mengayuh sepeda sepanjang 8 Km setiap haripun tak dikeluhkannya. Dia sadar dia bukanlah orang kaya seperti teman-temannya yang menggunakan mobil diantar orang supirnya atau sekedar naik angkot. Uang yang diberikan ibunya yang seorang single fighter ditabung olehnya, terkadang dia tidak kekantin sama sekali dan hanya memakan bekal yang dibawakan oleh ibunnya. Walaupun dia sekolah di salah satu sekolah ternama di kotanya, tapi bukan menjadi alasan baginya untuk malu, untuk menjadi apa adanya di depan teman-temannya.

            Tetapi untungnya, dia termasuk murid teladan di SMA tersebut. Banyak sekali syukurnya kepada Maha Besar Alloh, setidaknya ada otak yang dapat dia andalkan untuk merubah nasib.

            Pagi itu adalah pagi yang menyejukkan, entah kenapa angin pagi itu terasa begitu mendayu, wangi bunga melati di pinggiran jalan begitu memabukkan indra penciumannya. Dia hanya melebarkan ujung bibirnya dan memandang langit. Dan menjawab tiap sapaan teman-temannya ketika mendahuluinya. “Aku bersyukur ya Alloh aku mempunyai ibu yang luar biasa, mempunyai hari yang luar biasa dan si merah yang selalu mengantarkanku kemana-mana”, lalu menepuk stang sepedanya itu.

            Teman-temannya selalu menyambutnya dengan hangat ketika dia mulai memasuki kelas, hanya satu orang saja yang selalu cuek dan kasar padanya, Riuza dia adalah pesaing beratnya mereka bersaing memperebutkan gelar juara semenjak kelas X, mungkin karena itu pikirnya Riuza begitu sinis padanya.

            Siang itu kelas kosong dikarenakan guru-guru sedang ada rapat kenaikan kelas, sehingga kelas begitu gaduh. Karena tak suka dengan kegaduhan Askana bangkit dan membawa buku cetak fisikannya keluar, “mau kemana kan?” ucap Uzda teman sebangkunya. “biasa” ucapnya diiringi senyuman. Dia berjalan tak lagi menggunakan matanya, sambil membawa buku ditangannya dia begitu serius membaca dan menelusuri lorong sekolah ketempat kesukaannya. “Permisi” sapa seseorang, Askana pun berhenti, “iya” ucapnya datar.  “kenalin gue Ghalibie anak baru disini, lo tau kelas XI IPA 1 ga? “oh iya diujung koridor sebelah kiri, ada tulisannya kok” ucap Askana. “okey makasi ya!” Askana hanya membalasnya dengan senyuman. Tanpa memperdulikan cowok tersebut diapun lalu.

            Tempat favorit yang dia tuju adalah sebuah pohon flamboyan yang sangat besar berusia puluhan tahun berada di belakang sekolah. Disinilah tempat yang selalu menjadi persinggahannya dan menjadi teman curhatnya ketika makhluk hidup disekelilingnya tak sanggup memahami beratnya kehidupan yang harus dijalaninya. Pohon flamboyan ini sangat besar diameternya akan cukup untuk duduk dua orang saling membelakangi tanpa saling tahu, Fla begitulah Askana memanggilnya. Diapun duduk bersandar di pohon itu, belajar tentang bagian bab yang tidak ia mengerti. Askana adalah pendiam yang sering menyendiri, karena terkadang teman-temannya yang mayoritas adalah orang kaya tidak memahami tentang kehidupannya. Kemudian dia menutup buku fisikanya, “Fla, kamu baik-baik sajakan hari ini?” “kamu udah makan belum? Aku bawa bekal tuh, nanti siang kita makan berdua ya. Fla aku lagi bingung nih, SPP ku belum dibayar, tapi ga mungkin minta Ibu, aku ga tega, dia sudah sangat bekerja keras untuk kami bertahan hidup. Fla, aku pengen kerja, ngajar anak SD juga tak apalah, asalkan bisa kutabung uangnya untuk bantu Ibu bayar SPP. Tapi siapa coba yang mau mempekerjakan anak kelas dua SMA?”. Pohon Flamboyan itupun hanya menggoyang-goyangkan dahannya yang tertiup angin, tapi bagi Askana itu sudahlah cukup menjawab semua kegelisahannya.

            Teriknya sang raja siang tidak menghalanginya untuk mengayuh sepeda kesayangannya menelusuri jalan untuk pulang. Sesampainya di gang depan rumahnya dia menemukan selebaran, “Subhanalloh!” pekiknya, Alloh telah menjawabnya. Diapun mengambil selebaran itu dan menghubungi nomor telfon yang tertera. “Assalamualaikum” ucapnya, “Waalaikumsallam” ucap suara di sebrang telfon. “saya Askana bu, apa benar ibu sedang membutuhkan guru privat untuk anak ibu?, jika benar saya bermaksud mendaftar.” tanya Askana, “iya benar mbak, langsung saja besok ke rumah ya jam empat sore, denah lokasinya ada di selebaran kok, nanti saya jelaskan lebih lanjut di rumah, bisa mbak? “iya bu tentu saja terima kasih” , matanya berkaca-kaca, hanya senyuman yang dapat mewakili betapa bersyukurnya dia hari itu, “Alhamdulillah ya Alloh”.  “Aduh!” terdengar suara lelaki kesakitan, Askanapun lansung berlari mencari asal suara tersebut, namun tidak ditemukannya, yang dia temukan hanyalah pena hitam bertuliskan “G” di batangnya.

            Esok hari setelah pulang sekolah dia langsung menuju alamat yang tertera dalam selebaran tersebut. Rumahnya luas dan sejuk, dihiasi pohon-pohon besar nan rindang, dikelilingi oleh pagar hidup. Rumahnya bergaya jawa yang klasik, banyak ukiran khas jepara disana-sini. Pastilah orang yang punya rumah memegang teguh kebudayaan jawa, pikirnya. Setelah memarkirkan sepedanya dia mengucapkan salam, “Assalamualaikum”, tak lama kemudian pintuyang berbentuk gebyok itupun terbuka. “Waalaikumsalam, Askana ya? Saya ibu wibowo, Ayo masuk” ucap ibu itu ramah. “silahkan duduk, sebentar ya ibu panggilkan Ozi yang akan nak Askana ajar”. Askana hanya tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian, ibu itupun kembali membawa seorang anak lelaki, “kenalkan nak Askana ini Ozi anak saya, langsung diajar saja, keputusan diterima atau enggaknya nanti saya kabarkan setelah Ozi memberi komentar, karena jika dia nyaman maka akan lebih mudah untuk menyerap ilmunya” ucapnya. “baik bu” jawab Askana. Kemudian mereka duduk disalah satu gazebo rumah dan acara ngajar mengajar itupun dimulai.

            Malam itu Aksana bemunajat kepada Alloh semoga usahanya kali ini diberikan kemudahan dan kelancaran, lalu membaringkan tubuh kecilnya. Karena kelelahan, pagi itu Aksana kesiangan, Ibunya juga tak tega untuk membangunkannya karena tidurnya begitu pulas. Dia kemudian bergegas dan mengayuh sepedanya sangat kencang, sesampainya di sekolah diapun langsung lari dan tidak melihat seseorang tepat di belokan koridor, Brruuukk!! merekapun jatuh. Malang nasib Aksana yang dia tabrak adalah anak yang terkenal angkuh dan sombong karena kekayaanya, Monalisa. Aksanapun seketika menolong dan meminta maaf padanya, tapi bukannya berterima kasih, Monalisa malah menampar Aksana, tapi sebelum tangan itu sampai menyentuh pipi Aksana, telah dipegang oleh Ghalibie. Aksana hanya terkesima melihat kejadian yang baru saja dia saksikan, dia tidak menyangka Ghalibie akan menyelamatkannya. “jaga sikap lo, ini sekolah ” ucap Ghalibie sinis kepada Monalisa. Belum sempat hilang rasa herannya, tiba-tiba tangan Ghalibie telah meraih tangannya, menggandeng Askana menuju kelas mereka.

            Tepat di depan kelas Ghalibie melepaskan tangannya, memutar badan  menyentuh kedua pundak Askana dan menatap dalam ke matanya, “kamu ga apa-apa kan?” ucapnya lirih. Askana tak mampu mengucapkan sepatah katapun ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.

            Dengan langkah gontai mereka masuk ke dalam kelas, diiringi puluhan pasang mata yang menatap heran dengan kedatangan mereka berdua. Askana tidak memperdulikannya dia langsung duduk di bangkunya cuek dengan keadaan sekitar. Dia malas memikirkannya, lebih baik otaknya ia gunakan untuk memikirkan materi pelajaran yang belum dimengerti. Seketika kelas menjadi riuh rendah, seisi kelas saling berbisik membicarakan apa yang mereka lihat pagi tadi di depan kelas mereka, ya apa yang dilakukan Ghalibie dan Askana.

            Seperti biasa ketika waktu istirahat tiba, Askana menuju tempat peraduannya, dia akan bertemu sahabatnya, Fla.  Dia berbincang dengan Fla, atas apa yang terjadi pagi tadi, bagaimana Ghalibie menyelamatkannya dari tamparan Monalisa. Fla menjawabnya dengan menggugurkan bunga-bunganya yang berwarna oranye, menerpa wajah bahagia Askana.

            Monalisa tidak bisa begitu saja melupakan kejadian pagi tadi, dia menaruh dendam pada Askana yang lolos dari tamparannya. Dia tidak mau terlihat lemah dan tidak berdaya, di mata gadis miskin itu. Dia berencana jahat untuk merusak sepeda Askana. Rencana jahat itu dilakukan pada jam istirahat kedua, ketika semua orang sibuk untuk ke kakantin dan sholat dzuhur. Dia menyuruh teman laki-lakinya untuk membocorkan kedua ban sepeda Askana. Dia hanya menyeringai puas, karena rencananya berhasil. Tapi, dia tidak menyadari dari kejauhan ada sesosok cowok yang mengintai apa yang sedang dilakukan teman lelaki Monalisa itu.

            Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar ruangan. Askana keluar paling terakhir, dia malas untuk berdesak-desakan dengan teman-temannya, lagipula dia menyukai keheningan. Ketika keluar dari kelas dia menemukan sebuah buku jatuh, diapun memungutnya kemudian membukanya untuk mengetahui siapa pemilik buku itu. Belum sempat membukanya, Riuza langsung mengambil buku itu dari tangannya. “ini buku gue, makasi udah ngambilin” ucap Riuza sinis, kemudian dia pergi begitu saja diiringi tatapan mata heran Askana. Tempat parkir kendaraan siswa telah sepi, hanya terlihat beberapa mobil milik siswa yang mengikuti ekstrakulikuler dan sepeda mini milik Askana. Dia begitu heran ketika melihat sepedanya, “ada yang aneh” pekiknya. Kemudian dia menyentuh kedua ban sepedanya, “baru?” ucapnya lirih. Dia mengendarai sepedanya dengan seribu pertanyaan yang ada dibenaknya, mengapa ban sepedanya baru? Apa mungkin ini bukan sepeda mini miliknya? Ah bukan! Tentu ini miliknya, karena hanya dia yang mengendarai sepeda mini di sekolah ini. Lalu siapa dan mengapa ada orang yang mengganti ban sepedanya, padahal keduanya dalam kondisi yang baik, pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir di benaknya. Tanpa ia sadari, ada yang memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum mengembang dari bibirnya.

            Sesampainya dirumah dia langsung berganti pakaian dan segera membantu ibunya untuk memasak, kukuruyuuuuukkkk…. Terdengar dering hape miliknya, ada sms rupanya,

            Mulai besok Askana bisa ngajar Ozi, seminggu 3x. dibayarnya setiap minggu 100rb ya nak, terima kasih loh sebelumnya, Ozi senang sekali diajar kemarin. Ibu Wibowo.
Melihat isi pesan tersebut senyum mengembang dibibir Askana matanya berkaca-kaca, kemudian dia lari memeluk ibunya. Ibunya hanya heran melihat tingkah anak tunggalnya ini, dia hanya tersenyum.

            Kegiatannya kini bertambah, sepulang sekolah dia harus datang kerumah Ozi untuk mengajarnya, tetapi Ozi adalah anak cerdas dan juga menyenangkan. Askana dapat melupakan masalah hidupnya untuk beberapa saat, tingkah lucu dan kepolosan Ozi kini yang menjadi hiburannya, lambat laun Askana dapat tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkahnya.

            Sore sepulang sekolah, Askana bergegas ke rumah Ozi karena dia sangat kuatir akan mendung yang tiba-tiba menutupi cerahnya sore itu. Dia lupa membawa payung ataupun jaket. Jadi dia terburu-buru mengayuh sepedanya supaya sampai di rumah Ozi sebelum hujan turun. Namun, naas baginya, langit sedang tak bersahabat. Butiran hujan turun dengan deras, memaksa Askana untuk menghentikan laju sepedanya dan berteduh. Kemudian dia menghentikan sepedanya tepat didepan teras sebuah toko, ada beberapa orang juga yang sedang berteduh. Langit mulai gelap, namun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dia telah menghubungi ibu wibowo bahwa dia akan datang terlambat karena terjebak hujan. Askana menengadahkan tangannya dan menatap langit, “masih deras,” pikirnya. “kak, kakak mau pergi apa?” ucap seorang anak kecil disampingnya. Anak kecil itu menyunggingkan senyumnya, “iya dek, kenapa?” ucapnya ramah. Anak itu kemudian menyerahkan payung motif  bunga berwarna merah muda dan sebuah jaket biru torqua ke tangan Askana. “ini buat aap, belum sempat Askana menyelesaikan ucapannya, anak itupun lari menerobos hujan. Askana hanya menatap bingung pada kedua benda yang sedang dipegangnya, dengan ragu dia membuka jaket itu untuk memakainya, ada secarik kertas jatuh dari lipatan jaket. Dia membuka kertas lipatan yang berwarna biru muda itu dan membacanya.

            Pakailah! Lindungi tubuhmu dari derasnya hujan. Aku tak mau melihatmu sakit.

Kertas itu bagai surat kaleng, tak ada nama maupun inisial di belakangnya. Askana hanya tersenyum dan menyimpan kertas itu di saku rok abu-abunya. Kemudian dia memakai jaket dan payung itu untuk pergi ke rumah Ozi. “makasi ya kak” Ucap anak kecil tadi kepada seorang cowok tinggi dengan jari-jari yang panjang yang menyuruhnya untuk memberikan jaket dan payung kepada Askana.

            

No comments:

Post a Comment