Gosip mengenai kedekatan Askana dengan Ghalibie segera
menyebar ke seluruh penjuru sekolah, setiap siswa ketika berkumpul selalu
menceritakan tentang apa yang dilakukan Ghalibie untuk Askana. Askana hanya
membiarkan gosip itu berlalu melewatinya bagaikan angin. Dia tidak mau
memikirkannya, apalagi untuk menjalin hubungan khusus dengan Ghalibie adalah
hal yang mustahil. Ghalibie adalah seorang cowok tampan, kaya dan cerdas,
sangat bertolak belakang dengannya, hanya satu hal yang mungkin dapat ia
unggulkan dibandingkan Ghalibie, yaitu otaknya. Walaupun dengan kondisi ekonomi
yang kurang Askana tetaplah seorang siswi yang cerdas. Bukan bermaksud untuk
bermunafik kepada dirinya sendiri, tetapi dia terlampau sadar siapa dirinya dan
siapa Ghalibie itu, dia membuang jauh-jauh bayangan dan anggapan teman-temannya
bahwa apa yang dilakukan Ghalibie adalah suatu hal yang istimewa, dia tak mau
larut akan arus yang seolah-olah menariknya untuk mengambil kesimpulan bahwa
Ghalibie suka padanya, di benaknya
Ghalibie hanyalah cowok baik yang kasihan dengan gadis miskin seperti dirinya.
Dia tengah
membawa bekal ketika tiba-tiba ada tangan yang begitu ia kenal, menggandeng
tangan kirinya, kemudian tangan tersebut menariknya untuk berlari. Askana hanya
menurutkan langkahnya mengikuti cowok tersebut, mereka berhenti di bawah pohon
Flamboyan, tempat istimewa Askana. “duduk kan, hari ini gue juga bawa bekal,
kita makan bareng ya” ucapnya bersemangat. Askana hanya diam membisu, dia
memperhatikan senyuman yang menentramkan itu, “hai! Jangan ngelamun dong, ayok
dibuka, gue udah bangun subuh-subuh nih buat bikin bekal hari ini, gue ga
pernah liat lo ke kantin dan denger dari anak-anak lo sering makan kesini,
yaudah gue bawa bekal juga, biar bisa bareng makan sama lo” celotehnya. Askana
hanya melemparkan senyum padanya, bukan senyum yang biasa ia torehkan, kali ini
Askana tertawa tanpa suara ,terlihat deretan gigi putih nan rapi miliknya,
matanya sedikit menyipit, sungguh manis. Tak biasanya Askana dapat tertawa
seperti itu, bahkan kepada ibunya, Ghalibie adalah cowok yang beruntung yang
dapat melihat senyuman manis Askana. Kali ini giliran Ghalibie yang diam
membisu, dia terpesona dengan senyuman Askana, dia tidak menyangka bahwa gadis
pendiam ini memiliki senyum yang begitu manis, yang dapat membuat jantungnya
berdebar tak karuan. Secara refleks Ghalibie, menutup bibir Askana dengan
telunjuknya, “Kan, jangan pernah nunjukin tawamu yang seperti ini kepada orang
lain ya” ucapnya serius. Askana bengong dan hanya menganggukan kepalanya, bingung.
“Bukannya gue gak mau lo menderma senyum lo sama orang lain Kan, Cuma gue ga
mau orang lain terpesona sama senyum lo dan suka sama lo, gue ga mau!” ucapnya
dalam hati. Semilir angin siang itu begitu bersahabat, bunga-bunga Fla yang
sedang bersemipun jatuh menghiasi makan siang dua insan yang sedang saling
terpesona itu.
Sore itu
adalah jadwal Askana mengajari Ozi, dia sedang mengajarnya ketika telfon
selularnya berdering, segera dia mengangkatnya, “Assalamualaikum Halo”, “Halo
Kan ini bu Siti, ibu kamu tadi kepleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur,
sekarang Ibu kamu di RS Abdi Waras, segera kesini ya” ucap suara di sebrang
telfon panik. Askana menaruh telfon genggamnya tak berdaya, dia lemas dengan
berita yang didengarnya ini, matanya berkaca-kaca.”kakak kenapa?”, Askana
mengusap air matanya dan menjawab“hari ini pelajarannya ditutup dulu ya zi,
kita lanjutkan besok lagi, ibu kakak sakit”, ucapnya dengan melempar senyum.
Dia begitu tegar, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan orang, dengan
tenang dia menemui ibu Wibowo dan meminta maaf untuk menyudahi kelas sore itu,
Ibu Wibowopun mengerti dan mengizinkan Askana untuk pergi.
Dibawah
derasnya hujan, Askana mengayuh sepedanya dengan sangat kencang, dengan bulir-bulir
air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Ia menangis di bawah guyuran hujan,
karena dia tahu, hujan akan melindunginya dari penglihatan orang di sekitarnya,
bahwa dia sedang menangis. Saat tiba di RS di langsung menuju ke dalam bilik
yang telah di beritahukan bu Siti kepadanya, ternyata ibunya sedang dirawat di
ICU karena mengalami gegar otak dan pendarahan. Ibu Siti juga tidak menyangka
akan menjadi seperti ini, karena hal sepele sampai harus mengalami pendarahan
dan kehilangan banyak darah. Askana tak mampu membendungnya lagi dia jatuh
bersimpuh di lantai dan menangis tersedu-sedu. Dia menangis dengan begitu
kuatnya sampai siapapun yang lewat akan menatapnya. Ibu Siti sibuk mencari
pendonor untuk ibu Askana, karena Askana telah lemas dan tak mampu mendonorkan
darah miliknya. Cowok itu segera menyelimuti Askana yang tengah tersungkur
dengan jaket merah miliknya, kemudian dia menuntunnya untuk duduk di kursi
tunggu di depan ruang ICU. Dia mendudukkan Askana di sampingnya, memegang
kepalanya supaya bersandar di bahunya, juga mengusap air mata Askana
menggunakan tisu. “menangislah, keluarkan semuanya, jangan mencoba menjadi
kuat” ucapnya. Askana hanya menatap mata Ghalibie dengan matanya yang sembab,
cowok itu sekali lagi, dapat membuatnya tentram setiap Askana disisinya, dia
dapat membuat Askana merasa nyaman disampingnya.
Beberapa
jam kemudian, ibu Askana dapat keluar dari ICU setelah ibu Siti membawakan pendonor
kepadanya,”Kan nanti ucapkan terima kasih sama teman cowokmu ya, dia yang udah
donorin darah buat ibumu”, ucapnya dengan senyum. “siapa bu?” “ibu ga tahu
namanya, dia Cuma bilang temanmu, dia baru saja pulang kok kalo mau berterima
kasih, dia memakai jaket biru tua”, terangnya. Tanpa berpikir panjang Askana
mengambil langkah seribu, meninggalkan Ghalibie dengan Ibu Siti yang
terheran-heran dengan tingkah Askana, Askana memanglah gadis yang tidak dapat
ditebak. Askana lari dengan seribu pertanyaan di benaknya, kali ini dia harus
menemui sosok ini, mungkin ini adalah orang yang selalu menolongnya, dia sangat
ingin berterima kasih kepadanya. Sepanjang lorong menuju pintu keluar tidak
terlihat sosok menggunakan jaket biru tua seumuran dia, dia mencari
mengelilingi tempat parkir dan bertanya dengan orang-orang disekitar, mereka
sama sekali tidak tahu. Cowok berjaket biru tua itu hanya mengamati tindakan
Askana dari jauh, dia sembunyi di balik dinding pagar. Dia belum siap jika kali
ini dia harus membongkar identitasnya, saat ini bukanlah saat yang tepat bagi
Askana untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Askana sibuk mencari dan terhenti
di pagar RS itu, dia sedang menengok ke arah dinding pagar tempat cowok berjaket
biru tua itu bersembunyi dan melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya
terhenti saat Ghalibie memegang bahunya, “Kan, ibumu telah siuman dan
mencarimu”.
Dengan
lunglai dia membalikkan badannya dan mengikuti langkah Ghalibie menuju tempat
ibunya di rawat, dia masih penasaran siapakah orang itu, siapakah dia sehingga
harus selalu menolongnya.
Askana
sedang duduk disamping ibunya yang terbaring lemah, ketika tangan Ghalibie
menariknya keluar ruangan, Ghalibie menyerahkan kantung kresek putih kepadanya.
“mandi dan bilas rambut lo, pakai baju itu, gue ga mau ngeliat lo sakit karna
kehujanan” ucapnya penuh perhatian.
Askanapun menuruti permintaan Ghalibie, dan sebagai gantinya Ghalibie masuk ke
ruang tempat ibu Askana dirawat menjaganya sementara Askana mandi.
Senyum
berkembang dibibirnya, ketika melihat Ghalibie tertidur di samping ibunya, dia menyelimutkan jaket
merah itu ke pundak Ghalibie yang tertidur pulas. Askana segera mengambil kursi
di sampingnya, dan mengamati setiap lekuk wajah Ghalibie, wajah ini yang selalu
ada disampingnya saat dia dalam derita, wajah ini yang mampunyai senyum indah
yang selalu meronakan pipinya, wajah ini yang semua tindakannya selalu membuat
Askana merasa istimewa. Ghalibie terbangun, Askanapun segera memejamkan matanya
pura-pura tidur. Ghalibie segera menggendong Askana dan menidurkannya di sofa
tak jauh dari tempat tidur ibunya, dia mengambil selimut dan menyelimuti
Askana, “bahagialah kan, gue ga sanggup buat lihat lo nangis kaya tadi karena
gue sayang lo”, ucapnya lembut sambil mengusap-usap rambut Askana. Kemudian dia
memakai jaket merahnya dan pergi. Askana membuka matanya, dia menepuk-nepuk
pipinya, ini bukan mimpi pikirnya. Sangat jelas terdengar apa yang diucapkan
Ghalibie tadi, hatinya kembali berkecamuk.
Siang itu
ibunya telah diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit,
Askana telah membongkar tabungannya dan meminjam uang kepada Ibu Siti guna
membayar biaya perawatan ibunya. “maaf mbak, seluruh biaya perawatan ibu anda sudah ada yang
membayarnya” ucap suster. “siapa?”, “dia tidak mau memberikan identitasnya, dia
hanya meninggalkan surat ini buat mbak”, ucapnya menerangkan. Lagi-lagi kertas
biru muda itu, yang bertuliskan:
Tersenyumlah selalu, tangismu adalah deritaku
Bertambah
rasa penasarannya, mengapa dan siapakah orang ini, jika orang ini adalah
Ghalibie tidaklah mungkin karena dia selalu disampingku. Mengapa dia
melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir di benaknya.
No comments:
Post a Comment