Elegant Rose - Working In Background

Friday, 15 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (3)

          Gosip mengenai kedekatan Askana dengan Ghalibie segera menyebar ke seluruh penjuru sekolah, setiap siswa ketika berkumpul selalu menceritakan tentang apa yang dilakukan Ghalibie untuk Askana. Askana hanya membiarkan gosip itu berlalu melewatinya bagaikan angin. Dia tidak mau memikirkannya, apalagi untuk menjalin hubungan khusus dengan Ghalibie adalah hal yang mustahil. Ghalibie adalah seorang cowok tampan, kaya dan cerdas, sangat bertolak belakang dengannya, hanya satu hal yang mungkin dapat ia unggulkan dibandingkan Ghalibie, yaitu otaknya. Walaupun dengan kondisi ekonomi yang kurang Askana tetaplah seorang siswi yang cerdas. Bukan bermaksud untuk bermunafik kepada dirinya sendiri, tetapi dia terlampau sadar siapa dirinya dan siapa Ghalibie itu, dia membuang jauh-jauh bayangan dan anggapan teman-temannya bahwa apa yang dilakukan Ghalibie adalah suatu hal yang istimewa, dia tak mau larut akan arus yang seolah-olah menariknya untuk mengambil kesimpulan bahwa Ghalibie suka padanya,  di benaknya Ghalibie hanyalah cowok baik yang kasihan dengan gadis miskin seperti dirinya.

            Dia tengah membawa bekal ketika tiba-tiba ada tangan yang begitu ia kenal, menggandeng tangan kirinya, kemudian tangan tersebut menariknya untuk berlari. Askana hanya menurutkan langkahnya mengikuti cowok tersebut, mereka berhenti di bawah pohon Flamboyan, tempat istimewa Askana. “duduk kan, hari ini gue juga bawa bekal, kita makan bareng ya” ucapnya bersemangat. Askana hanya diam membisu, dia memperhatikan senyuman yang menentramkan itu, “hai! Jangan ngelamun dong, ayok dibuka, gue udah bangun subuh-subuh nih buat bikin bekal hari ini, gue ga pernah liat lo ke kantin dan denger dari anak-anak lo sering makan kesini, yaudah gue bawa bekal juga, biar bisa bareng makan sama lo” celotehnya. Askana hanya melemparkan senyum padanya, bukan senyum yang biasa ia torehkan, kali ini Askana tertawa tanpa suara ,terlihat deretan gigi putih nan rapi miliknya, matanya sedikit menyipit, sungguh manis. Tak biasanya Askana dapat tertawa seperti itu, bahkan kepada ibunya, Ghalibie adalah cowok yang beruntung yang dapat melihat senyuman manis Askana. Kali ini giliran Ghalibie yang diam membisu, dia terpesona dengan senyuman Askana, dia tidak menyangka bahwa gadis pendiam ini memiliki senyum yang begitu manis, yang dapat membuat jantungnya berdebar tak karuan. Secara refleks Ghalibie, menutup bibir Askana dengan telunjuknya, “Kan, jangan pernah nunjukin tawamu yang seperti ini kepada orang lain ya” ucapnya serius. Askana bengong dan hanya menganggukan kepalanya, bingung. “Bukannya gue gak mau lo menderma senyum lo sama orang lain Kan, Cuma gue ga mau orang lain terpesona sama senyum lo dan suka sama lo, gue ga mau!” ucapnya dalam hati. Semilir angin siang itu begitu bersahabat, bunga-bunga Fla yang sedang bersemipun jatuh menghiasi makan siang dua insan yang sedang saling terpesona itu.

            Sore itu adalah jadwal Askana mengajari Ozi, dia sedang mengajarnya ketika telfon selularnya berdering, segera dia mengangkatnya, “Assalamualaikum Halo”, “Halo Kan ini bu Siti, ibu kamu tadi kepleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur, sekarang Ibu kamu di RS Abdi Waras, segera kesini ya” ucap suara di sebrang telfon panik. Askana menaruh telfon genggamnya tak berdaya, dia lemas dengan berita yang didengarnya ini, matanya berkaca-kaca.”kakak kenapa?”, Askana mengusap air matanya dan menjawab“hari ini pelajarannya ditutup dulu ya zi, kita lanjutkan besok lagi, ibu kakak sakit”, ucapnya dengan melempar senyum. Dia begitu tegar, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan orang, dengan tenang dia menemui ibu Wibowo dan meminta maaf untuk menyudahi kelas sore itu, Ibu Wibowopun mengerti dan mengizinkan Askana untuk pergi.

            Dibawah derasnya hujan, Askana mengayuh sepedanya dengan sangat kencang, dengan bulir-bulir air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Ia menangis di bawah guyuran hujan, karena dia tahu, hujan akan melindunginya dari penglihatan orang di sekitarnya, bahwa dia sedang menangis. Saat tiba di RS di langsung menuju ke dalam bilik yang telah di beritahukan bu Siti kepadanya, ternyata ibunya sedang dirawat di ICU karena mengalami gegar otak dan pendarahan. Ibu Siti juga tidak menyangka akan menjadi seperti ini, karena hal sepele sampai harus mengalami pendarahan dan kehilangan banyak darah. Askana tak mampu membendungnya lagi dia jatuh bersimpuh di lantai dan menangis tersedu-sedu. Dia menangis dengan begitu kuatnya sampai siapapun yang lewat akan menatapnya. Ibu Siti sibuk mencari pendonor untuk ibu Askana, karena Askana telah lemas dan tak mampu mendonorkan darah miliknya. Cowok itu segera menyelimuti Askana yang tengah tersungkur dengan jaket merah miliknya, kemudian dia menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU. Dia mendudukkan Askana di sampingnya, memegang kepalanya supaya bersandar di bahunya, juga mengusap air mata Askana menggunakan tisu. “menangislah, keluarkan semuanya, jangan mencoba menjadi kuat” ucapnya. Askana hanya menatap mata Ghalibie dengan matanya yang sembab, cowok itu sekali lagi, dapat membuatnya tentram setiap Askana disisinya, dia dapat membuat Askana merasa nyaman disampingnya.

            Beberapa jam kemudian, ibu Askana dapat keluar dari ICU setelah ibu Siti membawakan pendonor kepadanya,”Kan nanti ucapkan terima kasih sama teman cowokmu ya, dia yang udah donorin darah buat ibumu”, ucapnya dengan senyum. “siapa bu?” “ibu ga tahu namanya, dia Cuma bilang temanmu, dia baru saja pulang kok kalo mau berterima kasih, dia memakai jaket biru tua”, terangnya. Tanpa berpikir panjang Askana mengambil langkah seribu, meninggalkan Ghalibie dengan Ibu Siti yang terheran-heran dengan tingkah Askana, Askana memanglah gadis yang tidak dapat ditebak. Askana lari dengan seribu pertanyaan di benaknya, kali ini dia harus menemui sosok ini, mungkin ini adalah orang yang selalu menolongnya, dia sangat ingin berterima kasih kepadanya. Sepanjang lorong menuju pintu keluar tidak terlihat sosok menggunakan jaket biru tua seumuran dia, dia mencari mengelilingi tempat parkir dan bertanya dengan orang-orang disekitar, mereka sama sekali tidak tahu. Cowok berjaket biru tua itu hanya mengamati tindakan Askana dari jauh, dia sembunyi di balik dinding pagar. Dia belum siap jika kali ini dia harus membongkar identitasnya, saat ini bukanlah saat yang tepat bagi Askana untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Askana sibuk mencari dan terhenti di pagar RS itu, dia sedang menengok ke arah dinding pagar tempat cowok berjaket biru tua itu bersembunyi dan melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Ghalibie memegang bahunya, “Kan, ibumu telah siuman dan mencarimu”.

            Dengan lunglai dia membalikkan badannya dan mengikuti langkah Ghalibie menuju tempat ibunya di rawat, dia masih penasaran siapakah orang itu, siapakah dia sehingga harus selalu menolongnya.

            Askana sedang duduk disamping ibunya yang terbaring lemah, ketika tangan Ghalibie menariknya keluar ruangan, Ghalibie menyerahkan kantung kresek putih kepadanya. “mandi dan bilas rambut lo, pakai baju itu, gue ga mau ngeliat lo sakit karna kehujanan”  ucapnya penuh perhatian. Askanapun menuruti permintaan Ghalibie, dan sebagai gantinya Ghalibie masuk ke ruang tempat ibu Askana dirawat menjaganya sementara Askana mandi.

            Senyum berkembang dibibirnya, ketika melihat Ghalibie tertidur  di samping ibunya, dia menyelimutkan jaket merah itu ke pundak Ghalibie yang tertidur pulas. Askana segera mengambil kursi di sampingnya, dan mengamati setiap lekuk wajah Ghalibie, wajah ini yang selalu ada disampingnya saat dia dalam derita, wajah ini yang mampunyai senyum indah yang selalu meronakan pipinya, wajah ini yang semua tindakannya selalu membuat Askana merasa istimewa. Ghalibie terbangun, Askanapun segera memejamkan matanya pura-pura tidur. Ghalibie segera menggendong Askana dan menidurkannya di sofa tak jauh dari tempat tidur ibunya, dia mengambil selimut dan menyelimuti Askana, “bahagialah kan, gue ga sanggup buat lihat lo nangis kaya tadi karena gue sayang lo”, ucapnya lembut sambil mengusap-usap rambut Askana. Kemudian dia memakai jaket merahnya dan pergi. Askana membuka matanya, dia menepuk-nepuk pipinya, ini bukan mimpi pikirnya. Sangat jelas terdengar apa yang diucapkan Ghalibie tadi, hatinya kembali berkecamuk.        

            Siang itu ibunya telah diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit, Askana telah membongkar tabungannya dan meminjam uang kepada Ibu Siti guna membayar biaya perawatan ibunya. “maaf mbak, seluruh  biaya perawatan ibu anda sudah ada yang membayarnya” ucap suster. “siapa?”, “dia tidak mau memberikan identitasnya, dia hanya meninggalkan surat ini buat mbak”, ucapnya menerangkan. Lagi-lagi kertas biru muda itu, yang bertuliskan:

Tersenyumlah selalu, tangismu adalah deritaku

            Bertambah rasa penasarannya, mengapa dan siapakah orang ini, jika orang ini adalah Ghalibie tidaklah mungkin karena dia selalu disampingku. Mengapa dia melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir di benaknya.
           
           
           

            

No comments:

Post a Comment