Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 14 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu (2)

             Langit begitu terik ketika Askana pulang dari sekolahnya, hari ini adalah jadwalnya untuk mengajar Ozi. Dia segera mengambil sepeda dan mengayuhnya santai. Dia menikmati angin yang dihembuskan pepohonan sore itu. ketika menghindari lubang, tanpa sengaja ada mobil berkecepatan tinggi yang sedang melaju menyerempetnya, Askanapun ambruk dia tersungkur mencium panasnya aspal. Sepedanya koyak, tubuhnya terpental beberapa meter. Sialnya, mobil yang menabraknya melarikan diri dan tak bertanggung jawab. Dengan setengah kesadaran dia bangun, sembari duduk dia hanya dapat menatap nanar pada kondisi si merah, terlalu banyak goresan ditubuhnya, bahkan hanya untuk sekedar bangunpun tak mampu dilakukannya, dia lemas. Sosok yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi segera mengambil langkah seribu, dia lari. Tetapi langkahnya segera berhenti ketika ada cowok lain yang turun dari mobil dan membantu Askana.

            Cowok itu keluar dari mobilnya dengan langkah yang terburu, dia langsung menggendong Askana yang tengah lemas tak berdaya. “gak usah Bie, kamu ga perlu kaya gini, aku ga papa kok” ucap Askana dengan tangan yang menahan bahu Ghalibie supaya tidak menggendongnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ghalibie mendengar penolakan Askana, dia bangkit dan menggendong Askana di kedua tangannya, mukanya begitu kawatir melihat kondisi Askana dengan tubuh yang penuh goresan dan bermuka pucat. Askana tak mampu lagi menolaknya, tubuhnya terlalu lemas untuk menolak Ghalibie, dia hanya pasrah saat Ghalibie menggendong dan memasukkannya ke dalam mobil.

            Mobil Ghalibie melaju kencang dia hendak mengantarkan Askana ke rumah sakit terdekat, “kita ke rumah sakit ya kan,?” ucapnya. “ga usah bie, anter aku ke rumah aja, dikasih obat merah ntar juga sembuh kok”. Bukan bermaksud menolak ajakan Ghalibie, Askana hanya tidak ingin merepotkannya, karena dia juga tidak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit, dan jika dibawa  kesana Ghalibie pasti memaksa untuk membayarnya. Walaupun Askana adalah orang miskin, tapi dia pantang menerima pemberian orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu, itu adalah pelajaran yang sangat berharga yang diberikan sang ibu padanya. Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan mini mart, Ghalibie keluar meninggalkan Askana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Askana hanya termenung, apakah Ghalibie sangat marah karena penolakannya untuk membawanya ke rumah sakit sampai tidak mengucapkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian Ghalibie keluar dengan menenteng kantong kresek putih di tangan kanannya, saat masuk ke dalam mobil Ghalibie segera membuka dan mengambil plaster dan obat merah serta cairan pembersih luka. Dengan segera dia meraih tangan Askana yang dipenuhi goresan, “bie!” pekiknya Askana mencoba menarik tangannya namun Ghalibie dengan gesit menahannya. “gue pergi dengan diam, karena gue tau lo bakalan nolak kalo gue bilang beli obat ini, sekarang lo hanya perlu diam dan biarin gue obatin luka-luka lo ini” ucapnya sembari mengobati luka-luka Askana.

            Di jalanan tempat Askana jatuh, cowok yang sedari tadi memperhatikan Askana, hanya mampu mengumpat akan dirinya, mengumpat karena tak mempunyai cukup keberanian untuk menolong Askana. Dia memungut sepeda Askana yang telah rusak.

            Setelah selesai, Ghalabie memacu mobilnya kembali untuk mengantar Askana pulang, “sorry kan, gue lupa tadi bawa sepeda lo karena gue udah terlalu kalut liat kondisi lo yang lemah tadi, abis nganterin lo, gue bakalan balik buat ngambil sepeda lo” ucap Ghalibie. Askana hanya mampu tersenyum “terima kasih, bie!” hanya kalimat itu yang mampu terlontar dari bibirnya dari sekian banyak kata yang ingin diutarakan.

            Sesampainya di depan rumah, Ghalibie memapah Askana untuk masuk ke rumahnya, ibu Askana lari dari depan pintu dengan kecemasan yang tergambar jelas di raut wajahnya. “kenapa kamu nak?” sambil melihat goresan luka dari tubuh Askana, Ghalibie pun panjang lebar menjelaskan apa yang telah terjadi pada Askana, yang kemudian pamit karena hari sudah larut. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ghalibie, sang ibu memapah anaknya ke dalam rumah dan membaringkannya. “istirahatlah dulu nak, nanti ibu ambilkan makan buat kamu”, “tidak usah bu, aku terlalu lelah aku ingin tidur” ucap Askana. Kemudian ibunya meninggalkan Askana untuk beristirahat.

            Malam itu kenyataannya Askana tak mampu untuk memejamkan matanya, bayangan wajah Ghalibie terekam jelas oleh otaknya, dia coba untuk menyingkirkan wajah itu berkali-kali, namun berkali-kali pula wajah itu kembali. Kejadian saat Ghalibie menyelamatkannya dari Monalisa dan saat dengan sabar Ghalibie mengobati luka-lukanya seolah terputar kembali. Dia bahagia, dia bahagia melihat senyum Ghalibie saat menatapnya, dan tangan dengan jemari panjang itu menyentuhnya, tapi dengan segera dia menyingkirkan kebahagiaannya. Mungkin Ghalibie hanya orang baik yang mengasihani gadis miskin seperti aku, ucapnya dalam hati.

            Pagi itu Askana nekat ingin berangkat sekolah, larangan dari ibunya sama sekali tidak didengarkannya, dia bangun pagi sekali karena hari ini si merah tidak ada. Dia harus berjalan beberapa ratus meter ke depan gang untuk menunggu bis, ya dia sangat sayang jika satu haripun absen, dia menyayangkan jika ilmu hari ini tidak ia dapatkan padahal ibunya telah mati-matian membiayai sekolahnya. Betapa kagetnya dia ketika membuka pintu rumahnya pagi itu, si merah dengan kondisi sangat sehat berada di depan matanya, tak ada lagi bagian yang terkoyak, semua bagus seperti sedia kala, ada kertas kecil berwarna biru muda tertempel di sadel sepedanya,

         Aku telah memperbaikinya sepanjang malam, pakailah! Aku tak mau tak melihatmu di sekolah.

Kertas itu berwarna sama seperti kertas yang berada pada jaket waktu itu, tulisannyapun sama, tapi lagi-lagi tidak ada nama maupun inisialnya. Walaupun dengan badan penuh luka dan goresan semuanya tidak terasa, Askana begitu bahagia, dia bahagia melihat si merah telah sembuh, dan sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah memperbaiki sepedanya.

            Saat tiba di sekolah dia langsung memarkir sepedanya, dengan langkah perlahan dan sedikit pincang dia berjalan menuju kelasnya. Ketika dia memasuki kelas seisi kelas memerhatikannya, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Askana sehingga begitu banyak plaster menghiasi tubuhnya. “lo jatuh dimana kan?” ucap Uzda kawatir. “Ah, Cuma kesrempet mobil doang kok, aku gak papa” ucapnya dengan senyum. Tak lama kemudian bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk di dalam kelasnya masing-masing. Acara ajar-mengajarpun berlangsung, “Askana, tolong kerjakan latihan no 5 di papan tulis dan jelaskan jawabannya kepada teman-temanmu” ucap Pak Sugiarto yang tak lain adalah guru fisika. Dengan yakin Askanapun maju dan segera mengambil boardmarker, tapi apa yang terjadi, tangannya terlalu kaku untuk memegang boardmarker, tangannya gemetar sehingga boardmarker yang dipegangnya jatuh, dia pun jongkok untuk memungutnya tapi betapa kagetnya dia ketika ada tangan lain yang juga memungut boardmarker itu. “sini biar gue tulisin”, ucap Ghalibie dengan senyuman yang sudah cukup untuk membuat pipi Askana merona merah. Seisi kelaspun riuh segera, teman-teman kelas mereka membully apa yang barusan dilakukan oleh Ghalibie. “oke tenang anak-anak” ucap Pak Sugiarto sembari memukul meja. Kelaspun seketika tenang kembali, dengan cekatan Ghalibie menulis jawaban Askana di papan tulis sesuai yang diarahkan, setelah selesai Ghalibie menaruh boardmaker dan melemparkan senyum kepada Askana, Askana hanya menunjukan wajah datar tanpa ekspresi, dia bingung.

            Entah mengapa siang itu begitu berwarna bagi Askana, dia membuka bekal dan segera menyandarkan punggungnya pada Fla. “fla, hari ini kamu cantik banget sih, kayaknya bunga-bungamu terlihat lebih indah, Fla! Aku sedang tak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatiku, entah mengapa Ghalibie memenuhi memori otakku. Dia tak mau pergi barang sekejap, Fla! Apa ini yang dibilang orang jatuh cinta? Apa jangan-jangan orang yang memberiku kertas biru itu Ghalibie juga Fla? Duuuhh ya ampuun kenapa orang itu begitu mengangguku sih” ucap Askana tanpa henti. Fla segera menggoyangkan dahan-dahannya dan menjatuhkan beberapa bunganya. Pipi Askana merona merah, senyuman selalu mengembang di bibirnya bahkan ketika dia sedang menyantap makan siangnya. Tapi tanpa diketahui Askana, ada seorang cowok sedang berdiri dibalik pohon Flamboyan, tepat di belakangnya. Cowok itu mendengar semua ucapan Askana, semuanya, cowok tersebut hanya diam dan menatap lagit menahan tetesan air matanya jatuh.

            Setelah selesai dia segera membereskan bekal makannya dan kembali ke kelasnya. Namun sial baginya, ketika berjalan di koridor dia bertemu dengan Monalisa dan gengnya “gimana enak kan dorong sepeda nyampe rumah?” ucapnya kasar. “dorong?” ucap Askana, dia bingung atas apa yang diucapkan Monalisa barusan, apa yang dimaksud dengan dorong. Dia hanya berdiri mematung, “siapa yang dorong sepeda” ucap Askana polos,  “Apa! Lo “ belum sempat Monalisa menyelesaikan kata-katanya, Ghalibie datang, dia langsung memegang tangan kanan Askana dengan tangan kirinya, dia menggenggamnya erat dan membiarkan Askana berlindung di belakang tubuh tingginya. “ga usah gangguin pacar gue!” jeddarr!! Bagai petir di siang bolong Askana kaget luar biasa,seperti mimpi dia belum siap atas apa yang didengarnya ini, segera Askana melepaskan tangan Ghalibie dan lari. Dia lari dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia lari setelah Ghalibie mengucapkan kalimat itu, apakah dia takut? Tetapi apa yang dia takutkan? Dia juga tidak tahu, dia hanya lari dan lari ke dalam kelasnya dengan kebingungan yang memenuhi otaknya, mungkin yang dia takutkan adalah “jatuh cinta”.

            Tak lama setelah itu Ghalibie juga memasuki kelas, Askana mencoba menatap wajah Ghalibie dengan tatapan bersalah, tapi Ghalibie hanya membuang mukanya. Mungkin Ghalibie marah padanya karena telah lari begitu saja. Rasa bersalah kini begitu dalam dia rasakan, dia ingin berbicara dengan Ghalibie dan menjelaskan semuanya, tapi dia terlalu takut.


            Pada istirahat kedua Askana memutuskan pergi ke UKS untuk meminta obat, dia merasa kepalanya begitu pusing. Tetapi kondisi UKS siang itu sepi, mungkin karena istirahat petugas yang menunggu sedang sholat dzuhur, tak apalah pikirnya toh dia pernah menjadi petugas UKS dan mengetahui letak obat-obatan. Segera Askana mengambil obat di salah satu lemari, kemudian terdengar suara orang mengerang kesakitan, dengan segera Askana mencari sumber suara itu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ghalibie duduk tersungkur di lantai dengan tangan yang penuh darah, Askana mengambil langkah seribu diapun duduk di samping Ghalibie dan segera meraih tangannya, Ghalibie segera menarik tangannya kembali setelah mengetahui bahwa itu adalah Askana. “pergi” ucap Ghalibie perlahan, Askana hanya terdiam mematung. “pergi!” ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. Tubuh Askana bergetar namun tak mampu untuk meningbiekan Ghalibie seorang diri, dia duduk disamping Ghalibie dan menundukkan kepalanya. Ghaliabiepun hanya terdiam, karena dia tidak tega sebenarnya untuk mengusir Askana, rasa sukanya melebihi rasa bencinya. Kemudian Ghalibi menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Askana menggunakan telunjuknya, Askana hanya menjauh menghindari telunjuk Ghalibie.Ghalibiepun menyingkirkan rambut itu sekali lagi, dengan jelas dapat terlihat air mata Askana membasahi pipinya, Askana menangis. Dengan terisak Askana berucap “maafin aku bie, aku juga bingung kenapa aku tadi lari, tapi aku sama sekali ga bermaksud buat nyakitin hati kamu”. Ghalibie tak mampu berkata lagi, dia mengusap pipi Askana dan langsung meraih pundak cewek yang disukainya itu dan memeluknya.

No comments:

Post a Comment