Langit begitu terik ketika Askana pulang dari sekolahnya,
hari ini adalah jadwalnya untuk mengajar Ozi. Dia segera mengambil sepeda dan
mengayuhnya santai. Dia menikmati angin yang dihembuskan pepohonan sore itu.
ketika menghindari lubang, tanpa sengaja ada mobil berkecepatan tinggi yang
sedang melaju menyerempetnya, Askanapun ambruk dia tersungkur mencium panasnya
aspal. Sepedanya koyak, tubuhnya terpental beberapa meter. Sialnya, mobil yang
menabraknya melarikan diri dan tak bertanggung jawab. Dengan setengah kesadaran
dia bangun, sembari duduk dia hanya dapat menatap nanar pada kondisi si merah,
terlalu banyak goresan ditubuhnya, bahkan hanya untuk sekedar bangunpun tak
mampu dilakukannya, dia lemas. Sosok yang sedari tadi memperhatikan apa yang
terjadi segera mengambil langkah seribu, dia lari. Tetapi langkahnya segera
berhenti ketika ada cowok lain yang turun dari mobil dan membantu Askana.
Cowok itu
keluar dari mobilnya dengan langkah yang terburu, dia langsung menggendong
Askana yang tengah lemas tak berdaya. “gak usah Bie, kamu ga perlu kaya gini,
aku ga papa kok” ucap Askana dengan tangan yang menahan bahu Ghalibie supaya
tidak menggendongnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ghalibie mendengar
penolakan Askana, dia bangkit dan menggendong Askana di kedua tangannya,
mukanya begitu kawatir melihat kondisi Askana dengan tubuh yang penuh goresan
dan bermuka pucat. Askana tak mampu lagi menolaknya, tubuhnya terlalu lemas
untuk menolak Ghalibie, dia hanya pasrah saat Ghalibie menggendong dan
memasukkannya ke dalam mobil.
Mobil
Ghalibie melaju kencang dia hendak mengantarkan Askana ke rumah sakit terdekat,
“kita ke rumah sakit ya kan,?” ucapnya. “ga usah bie, anter aku ke rumah aja,
dikasih obat merah ntar juga sembuh kok”. Bukan bermaksud menolak ajakan
Ghalibie, Askana hanya tidak ingin merepotkannya, karena dia juga tidak
mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit, dan jika dibawa kesana Ghalibie pasti memaksa untuk
membayarnya. Walaupun Askana adalah orang miskin, tapi dia pantang menerima pemberian
orang lain tanpa bekerja terlebih dahulu, itu adalah pelajaran yang sangat
berharga yang diberikan sang ibu padanya. Mobil yang mereka kendarai berhenti
di depan mini mart, Ghalibie keluar meninggalkan Askana tanpa mengucapkan
sepatah katapun. Askana hanya termenung, apakah Ghalibie sangat marah karena
penolakannya untuk membawanya ke rumah sakit sampai tidak mengucapkan sepatah
katapun. Beberapa saat kemudian Ghalibie keluar dengan menenteng kantong kresek
putih di tangan kanannya, saat masuk ke dalam mobil Ghalibie segera membuka dan
mengambil plaster dan obat merah serta cairan pembersih luka. Dengan segera dia
meraih tangan Askana yang dipenuhi goresan, “bie!” pekiknya Askana mencoba menarik
tangannya namun Ghalibie dengan gesit menahannya. “gue pergi dengan diam,
karena gue tau lo bakalan nolak kalo gue bilang beli obat ini, sekarang lo
hanya perlu diam dan biarin gue obatin luka-luka lo ini” ucapnya sembari
mengobati luka-luka Askana.
Di jalanan
tempat Askana jatuh, cowok yang sedari tadi memperhatikan Askana, hanya mampu
mengumpat akan dirinya, mengumpat karena tak mempunyai cukup keberanian untuk
menolong Askana. Dia memungut sepeda Askana yang telah rusak.
Setelah
selesai, Ghalabie memacu mobilnya kembali untuk mengantar Askana pulang, “sorry
kan, gue lupa tadi bawa sepeda lo karena gue udah terlalu kalut liat kondisi lo
yang lemah tadi, abis nganterin lo, gue bakalan balik buat ngambil sepeda lo”
ucap Ghalibie. Askana hanya mampu tersenyum “terima kasih, bie!” hanya kalimat
itu yang mampu terlontar dari bibirnya dari sekian banyak kata yang ingin
diutarakan.
Sesampainya
di depan rumah, Ghalibie memapah Askana untuk masuk ke rumahnya, ibu Askana
lari dari depan pintu dengan kecemasan yang tergambar jelas di raut wajahnya.
“kenapa kamu nak?” sambil melihat goresan luka dari tubuh Askana, Ghalibie pun
panjang lebar menjelaskan apa yang telah terjadi pada Askana, yang kemudian
pamit karena hari sudah larut. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ghalibie,
sang ibu memapah anaknya ke dalam rumah dan membaringkannya. “istirahatlah dulu
nak, nanti ibu ambilkan makan buat kamu”, “tidak usah bu, aku terlalu lelah aku
ingin tidur” ucap Askana. Kemudian ibunya meninggalkan Askana untuk
beristirahat.
Malam itu
kenyataannya Askana tak mampu untuk memejamkan matanya, bayangan wajah Ghalibie
terekam jelas oleh otaknya, dia coba untuk menyingkirkan wajah itu
berkali-kali, namun berkali-kali pula wajah itu kembali. Kejadian saat Ghalibie
menyelamatkannya dari Monalisa dan saat dengan sabar Ghalibie mengobati luka-lukanya
seolah terputar kembali. Dia bahagia, dia bahagia melihat senyum Ghalibie saat
menatapnya, dan tangan dengan jemari panjang itu menyentuhnya, tapi dengan
segera dia menyingkirkan kebahagiaannya. Mungkin Ghalibie hanya orang baik yang
mengasihani gadis miskin seperti aku, ucapnya dalam hati.
Pagi itu
Askana nekat ingin berangkat sekolah, larangan dari ibunya sama sekali tidak
didengarkannya, dia bangun pagi sekali karena hari ini si merah tidak ada. Dia
harus berjalan beberapa ratus meter ke depan gang untuk menunggu bis, ya dia
sangat sayang jika satu haripun absen, dia menyayangkan jika ilmu hari ini
tidak ia dapatkan padahal ibunya telah mati-matian membiayai sekolahnya. Betapa
kagetnya dia ketika membuka pintu rumahnya pagi itu, si merah dengan kondisi
sangat sehat berada di depan matanya, tak ada lagi bagian yang terkoyak, semua
bagus seperti sedia kala, ada kertas kecil berwarna biru muda tertempel di
sadel sepedanya,
Aku telah memperbaikinya sepanjang
malam, pakailah! Aku tak mau tak melihatmu di sekolah.
Kertas itu berwarna sama seperti kertas
yang berada pada jaket waktu itu, tulisannyapun sama, tapi lagi-lagi tidak ada
nama maupun inisialnya. Walaupun dengan badan penuh luka dan goresan semuanya
tidak terasa, Askana begitu bahagia, dia bahagia melihat si merah telah sembuh,
dan sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah memperbaiki
sepedanya.
Saat
tiba di sekolah dia langsung memarkir sepedanya, dengan langkah perlahan dan
sedikit pincang dia berjalan menuju kelasnya. Ketika dia memasuki kelas seisi
kelas memerhatikannya, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Askana
sehingga begitu banyak plaster menghiasi tubuhnya. “lo jatuh dimana kan?” ucap
Uzda kawatir. “Ah, Cuma kesrempet mobil doang kok, aku gak papa” ucapnya dengan
senyum. Tak lama kemudian bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk di dalam
kelasnya masing-masing. Acara ajar-mengajarpun berlangsung, “Askana, tolong
kerjakan latihan no 5 di papan tulis dan jelaskan jawabannya kepada
teman-temanmu” ucap Pak Sugiarto yang tak lain adalah guru fisika. Dengan yakin
Askanapun maju dan segera mengambil boardmarker,
tapi apa yang terjadi, tangannya terlalu kaku untuk memegang boardmarker, tangannya gemetar sehingga boardmarker yang dipegangnya jatuh, dia
pun jongkok untuk memungutnya tapi betapa kagetnya dia ketika ada tangan lain
yang juga memungut boardmarker itu.
“sini biar gue tulisin”, ucap Ghalibie dengan senyuman yang sudah cukup untuk
membuat pipi Askana merona merah. Seisi kelaspun riuh segera, teman-teman kelas
mereka membully apa yang barusan
dilakukan oleh Ghalibie. “oke tenang anak-anak” ucap Pak Sugiarto sembari
memukul meja. Kelaspun seketika tenang kembali, dengan cekatan Ghalibie menulis
jawaban Askana di papan tulis sesuai yang diarahkan, setelah selesai Ghalibie
menaruh boardmaker dan melemparkan
senyum kepada Askana, Askana hanya menunjukan wajah datar tanpa ekspresi, dia
bingung.
Entah
mengapa siang itu begitu berwarna bagi Askana, dia membuka bekal dan segera
menyandarkan punggungnya pada Fla. “fla, hari ini kamu cantik banget sih,
kayaknya bunga-bungamu terlihat lebih indah, Fla! Aku sedang tak tahu apa yang
sedang terjadi dengan hatiku, entah mengapa Ghalibie memenuhi memori otakku.
Dia tak mau pergi barang sekejap, Fla! Apa ini yang dibilang orang jatuh cinta?
Apa jangan-jangan orang yang memberiku kertas biru itu Ghalibie juga Fla?
Duuuhh ya ampuun kenapa orang itu begitu mengangguku sih” ucap Askana tanpa
henti. Fla segera menggoyangkan dahan-dahannya dan menjatuhkan beberapa
bunganya. Pipi Askana merona merah, senyuman selalu mengembang di bibirnya
bahkan ketika dia sedang menyantap makan siangnya. Tapi tanpa diketahui Askana,
ada seorang cowok sedang berdiri dibalik pohon Flamboyan, tepat di belakangnya.
Cowok itu mendengar semua ucapan Askana, semuanya, cowok tersebut hanya diam
dan menatap lagit menahan tetesan air matanya jatuh.
Setelah
selesai dia segera membereskan bekal makannya dan kembali ke kelasnya. Namun
sial baginya, ketika berjalan di koridor dia bertemu dengan Monalisa dan
gengnya “gimana enak kan dorong sepeda nyampe rumah?” ucapnya kasar. “dorong?”
ucap Askana, dia bingung atas apa yang diucapkan Monalisa barusan, apa yang
dimaksud dengan dorong. Dia hanya berdiri mematung, “siapa yang dorong sepeda”
ucap Askana polos, “Apa! Lo “ belum
sempat Monalisa menyelesaikan kata-katanya, Ghalibie datang, dia langsung
memegang tangan kanan Askana dengan tangan kirinya, dia menggenggamnya erat dan
membiarkan Askana berlindung di belakang tubuh tingginya. “ga usah gangguin
pacar gue!” jeddarr!! Bagai petir di siang bolong Askana kaget luar
biasa,seperti mimpi dia belum siap atas apa yang didengarnya ini, segera Askana
melepaskan tangan Ghalibie dan lari. Dia lari dengan kebingungan yang memenuhi
otaknya, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia lari setelah Ghalibie
mengucapkan kalimat itu, apakah dia takut? Tetapi apa yang dia takutkan? Dia
juga tidak tahu, dia hanya lari dan lari ke dalam kelasnya dengan kebingungan
yang memenuhi otaknya, mungkin yang dia takutkan adalah “jatuh cinta”.
Tak
lama setelah itu Ghalibie juga memasuki kelas, Askana mencoba menatap wajah
Ghalibie dengan tatapan bersalah, tapi Ghalibie hanya membuang mukanya. Mungkin
Ghalibie marah padanya karena telah lari begitu saja. Rasa bersalah kini begitu
dalam dia rasakan, dia ingin berbicara dengan Ghalibie dan menjelaskan
semuanya, tapi dia terlalu takut.
Pada
istirahat kedua Askana memutuskan pergi ke UKS untuk meminta obat, dia merasa
kepalanya begitu pusing. Tetapi kondisi UKS siang itu sepi, mungkin karena
istirahat petugas yang menunggu sedang sholat dzuhur, tak apalah pikirnya toh
dia pernah menjadi petugas UKS dan mengetahui letak obat-obatan. Segera Askana
mengambil obat di salah satu lemari, kemudian terdengar suara orang mengerang
kesakitan, dengan segera Askana mencari sumber suara itu. Dia tak percaya
dengan apa yang dilihatnya, Ghalibie duduk tersungkur di lantai dengan tangan yang
penuh darah, Askana mengambil langkah seribu diapun duduk di samping Ghalibie
dan segera meraih tangannya, Ghalibie segera menarik tangannya kembali setelah
mengetahui bahwa itu adalah Askana. “pergi” ucap Ghalibie perlahan, Askana
hanya terdiam mematung. “pergi!” ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih
tinggi. Tubuh Askana bergetar namun tak mampu untuk meningbiekan Ghalibie
seorang diri, dia duduk disamping Ghalibie dan menundukkan kepalanya.
Ghaliabiepun hanya terdiam, karena dia tidak tega sebenarnya untuk mengusir
Askana, rasa sukanya melebihi rasa bencinya. Kemudian Ghalibi menyingkirkan
rambut yang menutupi wajah Askana menggunakan telunjuknya, Askana hanya menjauh
menghindari telunjuk Ghalibie.Ghalibiepun menyingkirkan rambut itu sekali lagi,
dengan jelas dapat terlihat air mata Askana membasahi pipinya, Askana menangis.
Dengan terisak Askana berucap “maafin aku bie, aku juga bingung kenapa aku tadi
lari, tapi aku sama sekali ga bermaksud buat nyakitin hati kamu”. Ghalibie tak
mampu berkata lagi, dia mengusap pipi Askana dan langsung meraih pundak cewek
yang disukainya itu dan memeluknya.
No comments:
Post a Comment