Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pundaknya dia lalukan,
jikalau memang tuhan mengirimkan seorang malaikat penjaganya dia sangatlah
bersyukur. Sampai terkadang dia berfikir dia bukanlah seorang manusia, mungkin
dia semacam roh tau makhluk astral kiriman sang ayah untuk menjaganya. Tapi hal
itu adalah mustahil, mana mungkin di dunia nyata seperti sekarang masih ada hal
seperti itu. Yang demikian hanya ada dalam dongeng dan film imajinasi. Siapapun
orangnya titipkan rasa terima kasihku yang tak terungkapkan ya tuhan, semoga
orang itu selalu dalam lindungan, berkah dan rahmatmu.
Tak terasa
semester IV telah terlewati, tak diragukan lagi Askana tetaplah menjadi sang
juara umum. Tapi entah kenapa berat rasanya meninggalkan sekolah ini, padahal
biasanya hari libur sangat ditunggunya, dia dapat dengan leluasa membantu
ibunya bekerja untuk tambahan tabungannya masuk Universitas. Mungkin bukanlah
sekolah yang berat ia tinggalkan tapi Ghalaibie, jika masa liburan telah tiba
maka tak dapat dia melihat wajahnya lagi, dan mungkin tak ada hal istimewa dan
tidak terduga yang dilakukan Ghalibie untuknya, dan juga sahabatnya yang sangat
pendiam, Fla, pastilah harinya akan kesepian tanpa Fla dan Ghalibie
disampingnya. “Kan, liburan ini lo mau liburan kemana?” ucap Uzda. Dengan
senyumnya dia menjawab “seperti biasa da, bantu ibu di rumah”. “waah sayang
banget ya, padahalkan liburan”, Askana hanya menyunggingkan senyumnya. Bukanlah
hal yang berat ketika harus bekerja keras ketika liburan, hal inipun selalu
dilakukannya semenjak Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang di deritanya
tiga tahun lalu. Tak ada penyesalan baginya untuk membantu sang ibu, hanya
sedikit berat saat harus tak melihat wajah Ghalibie saat libur menjelang.
Ibu Askana
memiliki toko kelontong di rumahnya, ya walaupun tak terlalu besar, tapi toko
ini masih mampu menyokong kehidupan kedua wanita ini. Ketika libur menjelang
Askana membantu ibunya, membeli barang-barang yang akan di jual di pasar atau
membantu berjualan. Pagi itu dia sedang melayani pembeli ketika Ghalibie
nyelonong masuk ke tokonya dan menarik tangan Askana, meninggalkan begitu saja
pelanggan yang sedang membeli. Ghalibie menarik tangannya dan membawa Askana
masuk ke dalam rumahnya, dengan bingung Askana hanya pasrah kemanapun tangan
Ghalibie membawanya, walaupun Ghalibie kurus tetap saja Askana tak mampu
melepaskan tangannya. “bu, saya Ghalibie teman Askana yang tempo hari kemari,
saya ingin meminta izin untuk membawa Askana pergi berlibur bersama rombongan
kelas kami ke puncak” ucapnya tegas. Askana hanya diam dengan wajah bingung
mendengarkan ucapan Ghalibie, dia sama sekali tidak memberi kabar mengenai
liburan ini, padahal Ghalibie bisa saja menelfon atau sekedar sms untuk
mengabarinya terlebih dahulu. Askanapun langsung melepaskan tangannya kesal,
“kamu, belum sempat Askana menyelesaikan perkataannya ibunya menjawab “iya gak
apa-apa nak, saya izinkan tapi tolong Askana di jaga ya, dia anak ibu
satu-satunya dan paling ibu sayangi”. “tapi bu!” teriaknya. “gak apa-apa, pasti
kamu bosan kan liburan di rumah terus, kamu juga sudah sering membantu ibu, ini
saatnya kamu menikamti liburanmu”, ucap ibunya lembut. Ibu Askana begitu
bersemangat dia menanggalkan celemeknya dan membantu Askana berkemas. Dengan
senyum bahagia, Ghalibie menunggu di depan mobilnya.
Setelah
berpamitan dengan sang ibu, pagi itu Askanapun masuk ke dalam mobil Ghalibie,
dengan diantar sang supir. Rasa penasaran Askana memuncak seketika “liburan?sekelas?”
tanya Askana. “ iya rencananya juga dadakan, kan kita udah kelas XI takutnya
nanti gak bisa liburan bareng” ucapnya lembut. Mobil melaju menuju ke sekolah
mereka, pagi itu teman sekelas Askana telah ramai berkumpul di halaman sekolah
diantar orang tua mereka masing-masing, bis juga sudah menunggu, tak berapa
lama setelah mereka datang, guru memerintahkan mereka untuk segera masuk ke
dalam bis karena perjalanan akan segera dimulai.
Di dalam
bis Askana duduk dengan Ghalibie, sial baginya karena di sampingnya adalah
tempat Riuza duduk. Ini adalah saatnya aku bahagia, dia coba menyingkirkan
bayangan Riuza yang mungkin saja akan mengganggu liburannya, anggep dia ga ada,
anggap dia tembus pandang, dia coba mensugesti dirinya sendiri.
Perjalanan
panjangpun dimulai, bis melaju dengan kecepatan sedang. Bis siang itu begitu
ramai dengan siswa-siswi yang sesekali menyanyi bersama dan bersenda gurau. Askana
hanya tersenyum melihat pemandangan ini, baru kali ini dia merasakan masa-masa
indah SMA yang sering dibicarakan orang. Apalagi ada Ghalibie yang duduk
disampingnya, Ghalibie dengan celotehnya memberi tahu ini dan itu ketika
melihat sesuatu yang menarik di pinggiran jalan yang mereka lalui. Walaupun terkadang
hanya ditanggapi dengan senyuman, tapi, Ghalibie tak pernah bosan untuk
menceritakan semua hal yang diketahuinya kepada Askana. Askana begitu menikmati
perjalanan ini, dia dapat dengan leluasa memandangi siluet Ghalibie, betapa
sempurnanya wajah orang baik ini.
Malampun menjelang,
suasana bis yang riuh rendah kini telah disambut dengan kesunyian, mereka telah
lelah. Lampu di dalam bis mulai di matikan satu-persatu. Kantukpun segera
menyerang Askana, kepalanya hampir jatuh ketika tangan Ghalibie dengan cekatan
memegangnya dan menaruhnya ke pundaknya. Tak ada rasa yang dapat diungkapkan Ghalibie
malam itu, dadanya penuh sesak dengan limpahan rasa sukanya kepada Askana. Dan malam
ini, disampingnya tertidur gadis manis yang disukainya, dia tak mau melewatkan
momen ini, dia akan memandangi wajah ini sepanjang malam. “bahkan saat tertidur
kau terlihat begitu manis Askana”, ucapnya lembut.
Matahari begitu
terik ketika bis yang mereka tumpangi sampai di tanah perkemahan di puncak,
walaupun matahari begitu terik namun dingin masih merenggut haknya untuk
menyebarkan panas. Siang itu teteplah terasa begitu dingin di puncak, dengan
cekatan Ghalibie segera mengalungkan syalnya kepada Askana, dan untuk kesekian
kalinya Askana hanya menurutinya.
“silahkan
istirahat anak-anak, sebentar lagi kita akan makan siang”, ucap guru
pembimbing. Merekapun segera menempati tempat yang telah disediakan untuk
sejenak beristirahat. Setelah makan siang dibagikan, bersama-sama mereka
menyantap menu makan siang itu.
Tenda-tenda
segera didirikan, tenda antara laki-laki dan perempuan berbentuk melingkar berhadap-hadapan
di batasi dengan tanah lapang, untuk api unggun dan pentas seni. “anak-anak,
ayo semuanya berkumpul, kita akan bagi kelompok untuk hiking siang ini ya”
arahan sang guru. Merekapun dengan seksama medengarkan arahan-arahan sang guru
apa dan bagaimana hiking itu dilakukan. Setelah kelompok dibagikan,
masing-masing kelompok tersebut diberikan peta hiking yang akan mereka lalui. Seperti
biasa Ghalibie memaksa untuk satu kelompok dengan Askana, tapi hal itu ditolak
oleh panitia penyelenggara karena nanti ditakutkan akan terjadi kedengkian oleh
siswa yang lain. Karena pembagian kelompok ini dilaksanakan secara acak.
Sial bagi
Askana, alih-alih satu kelompok dengan Ghalibie, yang dapat melindunginya, dia
satu kelompok dengan Riuza. Ya satu-satunya teman cowok yang sangat sinis dan
membenci dirinya. Dia hanya menyugesti dirinya
bahwa Riuza transparan, anggap saja dia tidak berwujud, dan tak tampak wujud
nyatanya. Askana begitu takut bahwa hikingnya kali ini tak akan menyenangkan
bila harus satu kelompok dengan Riuza. Satu kelompok terdiri dari lima orang,
selain dirinya dan Riuza masih ada tiga temannya yang lain. Karena jalan yang
dilalui tidak memungkinkan untuk mereka berjalan bersama, maka mereka berjalan
beriringan pada jalan setapak itu. Askana berjalan paling akhir, karena tidak
mau terlalu dekat dengan Riuza yang berjalan paling depan sebagai ketua
kelompok.
Ketika berjalan
berkelompok mereka diharuskan agar selalu menyanyikan yel-yel kelompok sepanjang
jalan, hal ini dilakukan agar tidak ada yang melamun dan untuk memastikan
anggota kelompok masih lengkap. Senja telah membayang, saat mereka masih
berjalan dengan santainya sambil menyanyikan yel-yel kelompok, ketika Riuza
tiba-tiba berhenti, entah mengapa dia menghentikan langkahnya, dia menghitung
lagi anggotanya, dan betapa terkejutnya dia saat berhitung anggotanya hanya
tersisa tiga orang, Askana hilang. Riuza kalut, dia adalah ketua kelompoknya
dan hilangnya Askana adalah tanggung jawabnya, kemudian dia berpesan kepada
ketiga temannya untuk memfoto peta tersebut dan mengikutinya sampai akhir dan
beritahukan kepada guru bahwa Askana telah hilang. Dia akan mencari Askana
terlebih dahulu menggunakan peta yang asli.
“Kaaaan,
Kaaanaaa,,, teriaknya diikuti gema yang menggema pada hutan senja itu, langit
begitu gelapnya, tak ada sedikitpun sahutan dari Askana, dia berlari kesana
kemari berteriak-teriak mencari keberadaan Askana, tak habis pikir olehnya
kemana Askana pergi, tak ada suara apapun ketika Askana menghilang, dia juga
lupa membawa senter, dia hanya membawa korek api gas dikantongnya yang akan dia
pergunakan untuk menghidupkan api unggun malam ini. Malam telah tiba, hutan ini
begitu gelap dan menakutkan ketika malam menjelang apalagi dia hanya seorang
diri, mengapa tak ada bantuan datang pikirnya, apakah mereka kini sulit untuk
menemukannya? Apakah dia terlampau jauh masuk kedalam hutan? Ketakutan segera
merayapinya. “aaaaakkk… teriaknya ketika tiba-tiba ada tangan yang memegang
celananya, dia tak berani sama sekali melirik siapakah yang menarik celananya,
hanya bayangan suster ngesot yang ada dibenaknya. Dengan ketakutannya
diberanikanlah dirinya untuk membuka matanya pelan-pelan, ternyata yang dia
lihat adalah Askana sedang terbaring tak berdaya.
“kaan, ini
gue.. lo ga pa pa?” ucapnya lembut. “iya bie”, ucap Askana dengan suara
paraunya, Askana kedinginan suaranya habis, hal itu diperparah dengan buta
senja yang dideritanya, di hutan malam itu, Askana sama sekali tidak dapat melihat
apapun, termasuk siapa orang yang menolongnya malam itu.
Dengan cekatan
Riuza membopong Askana yang tengah lemas tak berdaya, ditengah gelapnya hutan
dia mencari-cari tempat yang sedikit terbuka dan aman yang dapat mereka tempati
untuk malam itu. Karena malam sangatlah dingin, untuk meletakkan Askana di
tanah tak tega dia melakukannya, kemudian Riuza mengumpulkan dedaunan yang
kering untuk dijadikan alas Askana berbaring dan beberapa dahan kering untuk
dibakarnya guna menghangatkan tubuh mungil Askana.
Askana tidur
meringkuk menahan dingin, tubuhnya gemetar, ternyata api yang dinyalakan tidak
cukup untuk menghangatkan tubuh Askana, Riuza segera melepaskan semua
pakaiannya guna menyelimuti tubuh Askana. Dia tak tega melihat Askana
kedinginan. Dengan berbalut celana jeans dan kaos dalamnya, Riuza menghangatkan
dirinya di dekat api unggun yang dibuatnya, serta menjaganya untuk tetap hidup,
dia membuat matanya tetap terjaga sepanjang malam kalau-kalau ada babi hutan
yang menyerang mereka.
Pagi-pagi
rombongan guru dan beberapa siswa menemukan mereka berdua di tengah hutan,
dengan kondisi Askana yang lemah dan Riuza yang meringkuk menahan dingin.
Ghalibie hanya menatap nanar kepada Askana yang tertidur tak berdaya di atas
tumpukan dedaunan kering. Dia berlari seribu langkah untuk segera membopong
Askana kedalam tandu, dia membuang begitu saja baju Riuza sembarangan, yang
ada dalam benaknya adalah tubuh pucat cewek yang disukainya, dan dia sama
sekali tidak dapat menolongnya. Setelah diselimuti, Riuzapun dipapah beberapa
temannya. Askana memegang tangan Ghalibie disampingnya, dengan mata sedikit
terpejam mengucapkan terima kasih kepada Ghalibie, diapun hanya membalasnya
dengan senyuman manis.
No comments:
Post a Comment