Elegant Rose - Working In Background

Tuesday, 19 August 2014

Flamboyan, saksi bisu (4)

            Pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pundaknya dia lalukan, jikalau memang tuhan mengirimkan seorang malaikat penjaganya dia sangatlah bersyukur. Sampai terkadang dia berfikir dia bukanlah seorang manusia, mungkin dia semacam roh tau makhluk astral kiriman sang ayah untuk menjaganya. Tapi hal itu adalah mustahil, mana mungkin di dunia nyata seperti sekarang masih ada hal seperti itu. Yang demikian hanya ada dalam dongeng dan film imajinasi. Siapapun orangnya titipkan rasa terima kasihku yang tak terungkapkan ya tuhan, semoga orang itu selalu dalam lindungan, berkah dan rahmatmu.

            Tak terasa semester IV telah terlewati, tak diragukan lagi Askana tetaplah menjadi sang juara umum. Tapi entah kenapa berat rasanya meninggalkan sekolah ini, padahal biasanya hari libur sangat ditunggunya, dia dapat dengan leluasa membantu ibunya bekerja untuk tambahan tabungannya masuk Universitas. Mungkin bukanlah sekolah yang berat ia tinggalkan tapi Ghalaibie, jika masa liburan telah tiba maka tak dapat dia melihat wajahnya lagi, dan mungkin tak ada hal istimewa dan tidak terduga yang dilakukan Ghalibie untuknya, dan juga sahabatnya yang sangat pendiam, Fla, pastilah harinya akan kesepian tanpa Fla dan Ghalibie disampingnya. “Kan, liburan ini lo mau liburan kemana?” ucap Uzda. Dengan senyumnya dia menjawab “seperti biasa da, bantu ibu di rumah”. “waah sayang banget ya, padahalkan liburan”, Askana hanya menyunggingkan senyumnya. Bukanlah hal yang berat ketika harus bekerja keras ketika liburan, hal inipun selalu dilakukannya semenjak Ayahnya meninggal dunia akibat sakit yang di deritanya tiga tahun lalu. Tak ada penyesalan baginya untuk membantu sang ibu, hanya sedikit berat saat harus tak melihat wajah Ghalibie saat libur menjelang.

            Ibu Askana memiliki toko kelontong di rumahnya, ya walaupun tak terlalu besar, tapi toko ini masih mampu menyokong kehidupan kedua wanita ini. Ketika libur menjelang Askana membantu ibunya, membeli barang-barang yang akan di jual di pasar atau membantu berjualan. Pagi itu dia sedang melayani pembeli ketika Ghalibie nyelonong masuk ke tokonya dan menarik tangan Askana, meninggalkan begitu saja pelanggan yang sedang membeli. Ghalibie menarik tangannya dan membawa Askana masuk ke dalam rumahnya, dengan bingung Askana hanya pasrah kemanapun tangan Ghalibie membawanya, walaupun Ghalibie kurus tetap saja Askana tak mampu melepaskan tangannya. “bu, saya Ghalibie teman Askana yang tempo hari kemari, saya ingin meminta izin untuk membawa Askana pergi berlibur bersama rombongan kelas kami ke puncak” ucapnya tegas. Askana hanya diam dengan wajah bingung mendengarkan ucapan Ghalibie, dia sama sekali tidak memberi kabar mengenai liburan ini, padahal Ghalibie bisa saja menelfon atau sekedar sms untuk mengabarinya terlebih dahulu. Askanapun langsung melepaskan tangannya kesal, “kamu, belum sempat Askana menyelesaikan perkataannya ibunya menjawab “iya gak apa-apa nak, saya izinkan tapi tolong Askana di jaga ya, dia anak ibu satu-satunya dan paling ibu sayangi”. “tapi bu!” teriaknya. “gak apa-apa, pasti kamu bosan kan liburan di rumah terus, kamu juga sudah sering membantu ibu, ini saatnya kamu menikamti liburanmu”, ucap ibunya lembut. Ibu Askana begitu bersemangat dia menanggalkan celemeknya dan membantu Askana berkemas. Dengan senyum bahagia, Ghalibie menunggu di depan mobilnya.

            Setelah berpamitan dengan sang ibu, pagi itu Askanapun masuk ke dalam mobil Ghalibie, dengan diantar sang supir. Rasa penasaran Askana memuncak seketika “liburan?sekelas?” tanya Askana. “ iya rencananya juga dadakan, kan kita udah kelas XI takutnya nanti gak bisa liburan bareng” ucapnya lembut. Mobil melaju menuju ke sekolah mereka, pagi itu teman sekelas Askana telah ramai berkumpul di halaman sekolah diantar orang tua mereka masing-masing, bis juga sudah menunggu, tak berapa lama setelah mereka datang, guru memerintahkan mereka untuk segera masuk ke dalam bis karena perjalanan akan segera dimulai.

            Di dalam bis Askana duduk dengan Ghalibie, sial baginya karena di sampingnya adalah tempat Riuza duduk. Ini adalah saatnya aku bahagia, dia coba menyingkirkan bayangan Riuza yang mungkin saja akan mengganggu liburannya, anggep dia ga ada, anggap dia tembus pandang, dia coba mensugesti dirinya sendiri.

            Perjalanan panjangpun dimulai, bis melaju dengan kecepatan sedang. Bis siang itu begitu ramai dengan siswa-siswi yang sesekali menyanyi bersama dan bersenda gurau. Askana hanya tersenyum melihat pemandangan ini, baru kali ini dia merasakan masa-masa indah SMA yang sering dibicarakan orang. Apalagi ada Ghalibie yang duduk disampingnya, Ghalibie dengan celotehnya memberi tahu ini dan itu ketika melihat sesuatu yang menarik di pinggiran jalan yang mereka lalui. Walaupun terkadang hanya ditanggapi dengan senyuman, tapi, Ghalibie tak pernah bosan untuk menceritakan semua hal yang diketahuinya kepada Askana. Askana begitu menikmati perjalanan ini, dia dapat dengan leluasa memandangi siluet Ghalibie, betapa sempurnanya wajah orang baik ini.

            Malampun menjelang, suasana bis yang riuh rendah kini telah disambut dengan kesunyian, mereka telah lelah. Lampu di dalam bis mulai di matikan satu-persatu. Kantukpun segera menyerang Askana, kepalanya hampir jatuh ketika tangan Ghalibie dengan cekatan memegangnya dan menaruhnya ke pundaknya. Tak ada rasa yang dapat diungkapkan Ghalibie malam itu, dadanya penuh sesak dengan limpahan rasa sukanya kepada Askana. Dan malam ini, disampingnya tertidur gadis manis yang disukainya, dia tak mau melewatkan momen ini, dia akan memandangi wajah ini sepanjang malam. “bahkan saat tertidur kau terlihat begitu manis Askana”, ucapnya lembut.  
    
            Matahari begitu terik ketika bis yang mereka tumpangi sampai di tanah perkemahan di puncak, walaupun matahari begitu terik namun dingin masih merenggut haknya untuk menyebarkan panas. Siang itu teteplah terasa begitu dingin di puncak, dengan cekatan Ghalibie segera mengalungkan syalnya kepada Askana, dan untuk kesekian kalinya Askana hanya menurutinya.

            “silahkan istirahat anak-anak, sebentar lagi kita akan makan siang”, ucap guru pembimbing. Merekapun segera menempati tempat yang telah disediakan untuk sejenak beristirahat. Setelah makan siang dibagikan, bersama-sama mereka menyantap menu makan siang itu.

            Tenda-tenda segera didirikan, tenda antara laki-laki dan perempuan berbentuk melingkar berhadap-hadapan di batasi dengan tanah lapang, untuk api unggun dan pentas seni. “anak-anak, ayo semuanya berkumpul, kita akan bagi kelompok untuk hiking siang ini ya” arahan sang guru. Merekapun dengan seksama medengarkan arahan-arahan sang guru apa dan bagaimana hiking itu dilakukan. Setelah kelompok dibagikan, masing-masing kelompok tersebut diberikan peta hiking yang akan mereka lalui. Seperti biasa Ghalibie memaksa untuk satu kelompok dengan Askana, tapi hal itu ditolak oleh panitia penyelenggara karena nanti ditakutkan akan terjadi kedengkian oleh siswa yang lain. Karena pembagian kelompok ini dilaksanakan secara acak.

            Sial bagi Askana, alih-alih satu kelompok dengan Ghalibie, yang dapat melindunginya, dia satu kelompok dengan Riuza. Ya satu-satunya teman cowok yang sangat sinis dan membenci dirinya.  Dia hanya menyugesti dirinya bahwa Riuza transparan, anggap saja dia tidak berwujud, dan tak tampak wujud nyatanya. Askana begitu takut bahwa hikingnya kali ini tak akan menyenangkan bila harus satu kelompok dengan Riuza. Satu kelompok terdiri dari lima orang, selain dirinya dan Riuza masih ada tiga temannya yang lain. Karena jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk mereka berjalan bersama, maka mereka berjalan beriringan pada jalan setapak itu. Askana berjalan paling akhir, karena tidak mau terlalu dekat dengan Riuza yang berjalan paling depan sebagai ketua kelompok.

            Ketika berjalan berkelompok mereka diharuskan agar selalu menyanyikan yel-yel kelompok sepanjang jalan, hal ini dilakukan agar tidak ada yang melamun dan untuk memastikan anggota kelompok masih lengkap. Senja telah membayang, saat mereka masih berjalan dengan santainya sambil menyanyikan yel-yel kelompok, ketika Riuza tiba-tiba berhenti, entah mengapa dia menghentikan langkahnya, dia menghitung lagi anggotanya, dan betapa terkejutnya dia saat berhitung anggotanya hanya tersisa tiga orang, Askana hilang. Riuza kalut, dia adalah ketua kelompoknya dan hilangnya Askana adalah tanggung jawabnya, kemudian dia berpesan kepada ketiga temannya untuk memfoto peta tersebut dan mengikutinya sampai akhir dan beritahukan kepada guru bahwa Askana telah hilang. Dia akan mencari Askana terlebih dahulu menggunakan peta yang asli.

            “Kaaaan, Kaaanaaa,,, teriaknya diikuti gema yang menggema pada hutan senja itu, langit begitu gelapnya, tak ada sedikitpun sahutan dari Askana, dia berlari kesana kemari berteriak-teriak mencari keberadaan Askana, tak habis pikir olehnya kemana Askana pergi, tak ada suara apapun ketika Askana menghilang, dia juga lupa membawa senter, dia hanya membawa korek api gas dikantongnya yang akan dia pergunakan untuk menghidupkan api unggun malam ini. Malam telah tiba, hutan ini begitu gelap dan menakutkan ketika malam menjelang apalagi dia hanya seorang diri, mengapa tak ada bantuan datang pikirnya, apakah mereka kini sulit untuk menemukannya? Apakah dia terlampau jauh masuk kedalam hutan? Ketakutan segera merayapinya. “aaaaakkk… teriaknya ketika tiba-tiba ada tangan yang memegang celananya, dia tak berani sama sekali melirik siapakah yang menarik celananya, hanya bayangan suster ngesot yang ada dibenaknya. Dengan ketakutannya diberanikanlah dirinya untuk membuka matanya pelan-pelan, ternyata yang dia lihat adalah Askana sedang terbaring tak berdaya.

            “kaan, ini gue.. lo ga pa pa?” ucapnya lembut. “iya bie”, ucap Askana dengan suara paraunya, Askana kedinginan suaranya habis, hal itu diperparah dengan buta senja yang dideritanya, di hutan malam itu, Askana sama sekali tidak dapat melihat apapun, termasuk siapa orang yang menolongnya malam itu.

            Dengan cekatan Riuza membopong Askana yang tengah lemas tak berdaya, ditengah gelapnya hutan dia mencari-cari tempat yang sedikit terbuka dan aman yang dapat mereka tempati untuk malam itu. Karena malam sangatlah dingin, untuk meletakkan Askana di tanah tak tega dia melakukannya, kemudian Riuza mengumpulkan dedaunan yang kering untuk dijadikan alas Askana berbaring dan beberapa dahan kering untuk dibakarnya guna menghangatkan tubuh mungil Askana.

            Askana tidur meringkuk menahan dingin, tubuhnya gemetar, ternyata api yang dinyalakan tidak cukup untuk menghangatkan tubuh Askana, Riuza segera melepaskan semua pakaiannya guna menyelimuti tubuh Askana. Dia tak tega melihat Askana kedinginan. Dengan berbalut celana jeans dan kaos dalamnya, Riuza menghangatkan dirinya di dekat api unggun yang dibuatnya, serta menjaganya untuk tetap hidup, dia membuat matanya tetap terjaga sepanjang malam kalau-kalau ada babi hutan yang menyerang mereka.


            Pagi-pagi rombongan guru dan beberapa siswa menemukan mereka berdua di tengah hutan, dengan kondisi Askana yang lemah dan Riuza yang meringkuk menahan dingin. Ghalibie hanya menatap nanar kepada Askana yang tertidur tak berdaya di atas tumpukan dedaunan kering. Dia berlari seribu langkah untuk segera membopong Askana kedalam tandu, dia membuang begitu saja baju Riuza sembarangan, yang ada dalam benaknya adalah tubuh pucat cewek yang disukainya, dan dia sama sekali tidak dapat menolongnya. Setelah diselimuti, Riuzapun dipapah beberapa temannya. Askana memegang tangan Ghalibie disampingnya, dengan mata sedikit terpejam mengucapkan terima kasih kepada Ghalibie, diapun hanya membalasnya dengan senyuman manis.

No comments:

Post a Comment