Elegant Rose - Working In Background

Sunday, 25 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (Final)

            Malam itu gerimis menjelang, saat Ghalibie mengantarkan askana pulang. Senyum mengembang, di kedua bibir mereka. Setelah menurunkan sepeda Askana, Ghalibie pun mengantarkna Askana sampai depan rumah Askana. “Kan, makasi ya buat hari ini, makasi buat semuanya”, ucap Ghalibie lembut. Askana hanya tersenyum “sama-sama bie”, ucapnya manis. Kemudian Ghalibie mengeluarkan sebuah kado berbentuk kubus, yang terbungkus rapih dengan pita berwarna pink dari saku celana SMAnya. “Kan, ini buat lo, semoga bisa jadi kenang-kenangan buat lo ketika nanti gue ga ada, kado ini semoga aja bisa jadi pengingat lo ketika lo kangen sama gue Kan”, ucapnya lembut. Askana meraih kado itu dengan tatapan bingung, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ghalibie. “lo ngomong apa sih bie? Lo mau pergi?” ucapnya heran. “hehe, iya gue mau pergi kan gue mau pulang sih Kan” ungkapnya diselingi tawanya yang khas. Dibawah rembulan dan langit yang teduh, serta angin yang meniup lembut mereka saling bertatapan dengan senyum menyungging pada wajah keduanya.

            Setelah membersihkan tubuhnya, Askana berbaring sembari membuka kado yang diberi Ghalibie. Askana membukanya perlahan, seakan untuk merusak bungkusnya saja dia tak tega. Kotak berbentuk kubus itu segera dibukanya,  ternyata yang ada didalam kotak tersebut adalah, gantungan kunci yang berbentuk hati yang terbuat dari kaca bening dengan kelopak bunga Flamboyan yang jingga kemerah-merahan di dalamnya, Askana hanya terdiam. Kado yang sangat indah pikirnya, kado yang tidak mungkin bisa dilupakannya sepanjang hidupnya, mungkin.

            Senyumnya kembali merekah pagi itu, ya setidaknya dia telah melalui hari yang sangat indah kemarin dengan Ghalibie. Askana memasuki kelasnya dengan senyuman menyungging di bibirnya. Ketika telah masuk ke dalam kelasnya, Ghalibie tidak muncul bahkan sampai saat pelajaran telah usai. Ghalibie tidak kunjung muncul jua. Askana mencoba untuk tetap tenang, namun tetap saja hatinya gundah, mengapa Ghalibie tidak muncul datang ke sekolah. Akhirnya dengan segala keberaniannya, dia menghampiri reno, teman sebangku Ghalibie untuk menanyakan kemanakah Ghalibie pergi. Betapa terkejutnya Askana saat mendengar apa yang diucapkan Reno. Bagai petir di siang bolong, sungguh tak menyangka bahwa kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Ghalibie, tak mengira Askana, Ghalibie akan pergi tanpa berpamitan dengannya. Tubuhnya lemas, lunglai seketika, dia berjalan sempoyongan, duduk termenung di bangkunya. Bahkan saat semua temannya pulang, dia hanya duduk di dalam bangkunya, sendirian.

            Sendirian, atau mungkin tidak, ada seseorang di belakang sana yang melihatnya, mengamati Askana yang sedang menangis sesenggukan yang telah mengira semua siswa telah pulang. Seseorang tersebut, berjalan menuju Askana berjalan santai, ketika sampai di depan bangku Askana meninggalkan sapu tangannya untuk askana mengusap air matanya. askana hanya ingin meluapkan air matanya, hari itu, mungkin dia dan Ghalibie hanyalah bagaikan langit dan bumi yang tak bisa saling menyatu, mungkin tuhan memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan Ghalibie hanya untuk menyenangkan hatinya dari cobaan kerasnya hidup yang harus dilaluinya. Dia telah bertekad, dia hanya akan menghabiskan air mata dan kesedihan untuk Ghalibie hari ini, siang ini saja. Yang kemudian dia akan kembali ke kehidupannya yang dahulu, belajar giat dan mencari beasiswa untuk kuliah guna memperbaiki kehidupan dia dan ibunnya nanti.

            Segera setelah air matanya mulai reda, dia segera mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru dongker yang ada di atas mejanya, yang entah punya siapa. Dia merasa bahwa sapu tangan itu sudah begitu saja ada di atas mejanya, bahkan dia tidak sadar siapa yang memberinya. Dengan muka sembab, dia pulang menaiki sepedanya dengan ayuhan yang lemas, namun tanpa disadarinya ada sesorang di luar penglihatannya yang mengikutinya untuk memastikan Askana pulang dengan selamat, dengan kondisi hati yang tengah terluka.

             3 tahun kemudian...

            Askana telah memasuki bangku perkuliahan, dengan mendapatkan beasiswa karena prestasi semasa SMA nya. Cerita indah masa SMA bersama Ghalibie tetaplah tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya, walaupun kini dirinya dan Ghalibie sama sekali lost contact dan tidak saling memberi kabar, tapi cukuplah cerita itu untuk dikenang. Kepergian Ghalibie juga memberinya hikmah yang luar biasa, Askana mempunyai semangat juang untuk hidup yang lebih baik, dia giat belajar untuk masa depan yang lebih baik.

            Waktu perkuliahan pun selesai, setelah itu langsung pulang ke rumahnya untuk membantu ibunya berdagang. Bis yang menumpanginya berwarna biru muda, dengan garis putih di badannya. Ketika Askana masuk ke dalam bis, ternyata tempat duduknya sudah penuh semua, tetapi ada seorang cowok yang mempersilahkan untuk menempati posisi duduknya sehingga askana dapat duduk dengan nyaman. Tepat di halte sekolah SMAnya dulu, cowok tersebut turun. Namun sebuah pena terjatuh dari kantong baju cowok tersebut ketika mengambil ongkos bis. Askana mengambil pena tersebut untuk dikembalikan kepada cowok itu. Namun, betapa terkejutnya dia ternyata ada simbol “G” di dalam pena tersebut. Dia hanya bengong, dan bispun kembali melaju, dia segera bergegas dan menghentikan bis tersebut untuk turun dan mengejar cowok yang telah mempersilahkannya duduk tadi. Tapi sosoknya telah hilang, dia melihat di sepanjangan jalan cowok dengan badan tinggi tadi telah menghilang, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk masuk ke dalam SMA nya dulu. Sore itu sekolah telah sepi, hanya ada beberapa petugas kebersihan dan penjaga sekolah. Dia terus berjalan mengelilingi sekolah, nampaklah dari kejauhan pohon flamboyan yang telah dia tinggalkan beberapa tahun ini, sahabat yang sering dipanggilnya Fla, sahabatnya yang sangat pendiam. Namun dari kejauhan pula dia melihat sosok cowok yang dicarinya tadi, cowok itu berdiri tegak dengan memejamkan matanya merasakan angin yang mengalun syahdu, diiringi bunga-bunga Fla yang telah mekar sedang berjatuhan lembut.

            Askana menghampiri cowok tersebut, dan apa yang dilihatnya mungkin sangat menggetarkan hatinya begitu hebat, “Za, lo ngapain disini?” ucapnya heran. Riuza kaget, dan segera pergi ketika tahu yang menyapanya adalah Askana. Dengan sigap Askana menarik tangan riuza, supaya tidak pergi. Mereka hanya mematung beberapa saat dengan posisi itu, diselingi bunga flamboyan yang terjatuh lembut. Askana tak mampu bertanya mengenai pena tersebut, dan rasanya hal yang tidak mungkin untuk Riuza lari, dia sudah tertangkap basah.

            “Za, pena bersimbol “G” ini punya lo?” akhirnya kalimat tersebut terlontar dari bibir askana setelkah sekian lama terdiam. Riuza hanya terdiam, dia mengangguk sekenanya. Askana hanya termenung kemudian, mereka saling terdiam lama. Akhirnya Riuza membalikkan badannya, menatap dalam mata Askana. “iya Kan, pena ini punya gue”, ucapnya lembut. Dunia bagai berputar, Askana hanya ingin menghentikan saja otaknya yang mulai berputar juga dengan cepat. Pena ini sama persis dengan pena yang di temukannya ketika dia membaca selebaran les privat, surat kaleng berwarna biru, sepeda rusaknya, jaket dan payung itu, dan kejadian ketika di puncak yang dia ketahui dari teman sekelasnya bahwa yang menolong dirinya sebenarnya bukanlah Ghalibie. Pikirannya melanglang buana untuk memikirkan semua yang terjadi dan inisial “G” yang misterius itu.

            “Za, jadi semua itu elo?, yang benerin sepeda gue, yang ngasih gue kerjaan les privat, yang ngasih gue jaket, surat kaleng, jadi semuanya itu lo yang ngelakuin za?” ucapnya lembut, tak terasa air matanya menetes begitu saja. “iya kan”. Ucapnya lembut. “Jangan-jangan yang donorin darah buat ibu gue itu juga elu, cowok berhoodie hitam malam-malam waktu itu juga elo, dan yang nolongin gue pas di puncak itu juga elo Za?” ucap Askana dengan bibir gemetar. “iya, Kan semua itu gue yang ngelakuin”. “terus, kenapa lo ga jujur ke gue Za, kenapa lo ga jujur kalo selama ini lo yang selalu nolong gue di saat gue benar-benar terpuruk, kenapa lo ga jujur, malah justru jutek ke gue Za, kenapa? Kalo gue tahu yang nolong gue selama ini adalah elo pasti gue juga ga jutek sama lo, Za, dan kenapa lo musti pake inisial “G” Za, di pena itu, di surat itu, di sapu tangan itu?” ucap Askana keras dengan air mata yang kian deras mengalir. “Karna GUE SAYANG SAMA ELO Kan, makanya gue ngelakuin itu semua” ucap Riuza tak kalah kerasnya. Keduanya terdiam, tenggorokan Askana tercekat dia menghentikan tangisannya. “gue pake inisial “G” karena itu emang nama gue Kan “Ghazi Riuza Akbar”, ucapnya lembut dengan senyum bergulir di bibirnya.

            Askana hanya terdiam, tangisannyapun telah berhenti yang kini digantikan senyum dalam senja sore itu, segera saja dia memeluk erat Ghazi, “GUE JUGA SAYANG ELO GHAZI” ucapnya lembut. Ghazi mengangkat tangannya dan memeluk Askana jua. Dalam senja itu mereka dipertemukan, Ghazi yang hanya bisa mendengar keluh kesah Askana di balik pohon Flamboyan itu kini bisa bersama dengan Askana, seakan mimpi pikirnya. Flamboyan itu telah menjadi saksi bisu kisah kasih mereka berdua, dalam diamnya dia telah membantu Askana untuk melalui berat hidupnya, menemukan cinta yang sebenarnya.

            Karena dalam hidup, kita tak selalu melakukan sesuatu supaya orang lain melihatnya, karena rasa sebenarnya adalah tak terbatas, begitu pula cinta yang bermula di bangku SMA. Rasa itu tak mengenal usia, besarnya juga tak terhingga. Jika sudah waktunya usahamu akan berbalas, cinta itu akan dipertemukan, cinta itu akan di taruh pada hati yang tepat, pada seseorang yang tepat.


...THE END...

No comments:

Post a Comment