Malam itu gerimis menjelang, saat Ghalibie mengantarkan
askana pulang. Senyum mengembang, di kedua bibir mereka. Setelah menurunkan
sepeda Askana, Ghalibie pun mengantarkna Askana sampai depan rumah Askana.
“Kan, makasi ya buat hari ini, makasi buat semuanya”, ucap Ghalibie lembut.
Askana hanya tersenyum “sama-sama bie”, ucapnya manis. Kemudian Ghalibie
mengeluarkan sebuah kado berbentuk kubus, yang terbungkus rapih dengan pita
berwarna pink dari saku celana SMAnya. “Kan, ini buat lo, semoga bisa jadi
kenang-kenangan buat lo ketika nanti gue ga ada, kado ini semoga aja bisa jadi
pengingat lo ketika lo kangen sama gue Kan”, ucapnya lembut. Askana meraih kado
itu dengan tatapan bingung, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh
Ghalibie. “lo ngomong apa sih bie? Lo mau pergi?” ucapnya heran. “hehe, iya gue
mau pergi kan gue mau pulang sih Kan” ungkapnya diselingi tawanya yang khas.
Dibawah rembulan dan langit yang teduh, serta angin yang meniup lembut mereka
saling bertatapan dengan senyum menyungging pada wajah keduanya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Askana berbaring sembari
membuka kado yang diberi Ghalibie. Askana membukanya perlahan, seakan untuk
merusak bungkusnya saja dia tak tega. Kotak berbentuk kubus itu segera
dibukanya, ternyata yang ada didalam
kotak tersebut adalah, gantungan kunci yang berbentuk hati yang terbuat dari
kaca bening dengan kelopak bunga Flamboyan yang jingga kemerah-merahan di
dalamnya, Askana hanya terdiam. Kado yang sangat indah pikirnya, kado yang
tidak mungkin bisa dilupakannya sepanjang hidupnya, mungkin.
Senyumnya kembali merekah pagi itu, ya setidaknya dia
telah melalui hari yang sangat indah kemarin dengan Ghalibie. Askana memasuki
kelasnya dengan senyuman menyungging di bibirnya. Ketika telah masuk ke dalam
kelasnya, Ghalibie tidak muncul bahkan sampai saat pelajaran telah usai.
Ghalibie tidak kunjung muncul jua. Askana mencoba untuk tetap tenang, namun
tetap saja hatinya gundah, mengapa Ghalibie tidak muncul datang ke sekolah.
Akhirnya dengan segala keberaniannya, dia menghampiri reno, teman sebangku
Ghalibie untuk menanyakan kemanakah Ghalibie pergi. Betapa terkejutnya Askana
saat mendengar apa yang diucapkan Reno. Bagai petir di siang bolong, sungguh
tak menyangka bahwa kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Ghalibie, tak
mengira Askana, Ghalibie akan pergi tanpa berpamitan dengannya. Tubuhnya lemas,
lunglai seketika, dia berjalan sempoyongan, duduk termenung di bangkunya.
Bahkan saat semua temannya pulang, dia hanya duduk di dalam bangkunya,
sendirian.
Sendirian, atau mungkin tidak, ada seseorang di belakang
sana yang melihatnya, mengamati Askana yang sedang menangis sesenggukan yang
telah mengira semua siswa telah pulang. Seseorang tersebut, berjalan menuju
Askana berjalan santai, ketika sampai di depan bangku Askana meninggalkan sapu
tangannya untuk askana mengusap air matanya. askana hanya ingin meluapkan air
matanya, hari itu, mungkin dia dan Ghalibie hanyalah bagaikan langit dan bumi
yang tak bisa saling menyatu, mungkin tuhan memberikan kesempatan untuknya
bertemu dengan Ghalibie hanya untuk menyenangkan hatinya dari cobaan kerasnya
hidup yang harus dilaluinya. Dia telah bertekad, dia hanya akan menghabiskan
air mata dan kesedihan untuk Ghalibie hari ini, siang ini saja. Yang kemudian
dia akan kembali ke kehidupannya yang dahulu, belajar giat dan mencari beasiswa
untuk kuliah guna memperbaiki kehidupan dia dan ibunnya nanti.
Segera setelah air matanya mulai reda, dia segera
mengusap air mata dengan sapu tangan berwarna biru dongker yang ada di atas mejanya, yang entah punya siapa.
Dia merasa bahwa sapu tangan itu sudah begitu saja ada di atas mejanya, bahkan dia
tidak sadar siapa yang memberinya. Dengan muka sembab, dia pulang menaiki
sepedanya dengan ayuhan yang lemas, namun tanpa disadarinya ada sesorang di
luar penglihatannya yang mengikutinya untuk memastikan Askana pulang dengan
selamat, dengan kondisi hati yang tengah terluka.
3 tahun kemudian...
Askana telah memasuki bangku perkuliahan, dengan mendapatkan
beasiswa karena prestasi semasa SMA nya. Cerita indah masa SMA bersama Ghalibie
tetaplah tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya, walaupun kini dirinya dan
Ghalibie sama sekali lost contact dan
tidak saling memberi kabar, tapi cukuplah cerita itu untuk dikenang. Kepergian Ghalibie
juga memberinya hikmah yang luar biasa, Askana mempunyai semangat juang untuk
hidup yang lebih baik, dia giat belajar untuk masa depan yang lebih baik.
Waktu perkuliahan pun selesai, setelah itu langsung
pulang ke rumahnya untuk membantu ibunya berdagang. Bis yang menumpanginya
berwarna biru muda, dengan garis putih di badannya. Ketika Askana masuk ke
dalam bis, ternyata tempat duduknya sudah penuh semua, tetapi ada seorang cowok
yang mempersilahkan untuk menempati posisi duduknya sehingga askana dapat duduk
dengan nyaman. Tepat di halte sekolah SMAnya dulu, cowok tersebut turun. Namun
sebuah pena terjatuh dari kantong baju cowok tersebut ketika mengambil ongkos
bis. Askana mengambil pena tersebut untuk dikembalikan kepada cowok itu. Namun,
betapa terkejutnya dia ternyata ada simbol “G” di dalam pena tersebut. Dia hanya
bengong, dan bispun kembali melaju, dia segera bergegas dan menghentikan bis
tersebut untuk turun dan mengejar cowok yang telah mempersilahkannya duduk
tadi. Tapi sosoknya telah hilang, dia melihat di sepanjangan jalan cowok dengan
badan tinggi tadi telah menghilang, tapi entah mengapa ada sesuatu yang
mendorongnya untuk masuk ke dalam SMA nya dulu. Sore itu sekolah telah sepi,
hanya ada beberapa petugas kebersihan dan penjaga sekolah. Dia terus berjalan
mengelilingi sekolah, nampaklah dari kejauhan pohon flamboyan yang telah dia
tinggalkan beberapa tahun ini, sahabat yang sering dipanggilnya Fla, sahabatnya
yang sangat pendiam. Namun dari kejauhan pula dia melihat sosok cowok yang
dicarinya tadi, cowok itu berdiri tegak dengan memejamkan matanya merasakan
angin yang mengalun syahdu, diiringi bunga-bunga Fla yang telah mekar sedang berjatuhan
lembut.
Askana menghampiri cowok tersebut, dan apa yang
dilihatnya mungkin sangat menggetarkan hatinya begitu hebat, “Za, lo ngapain
disini?” ucapnya heran. Riuza kaget, dan segera pergi ketika tahu yang
menyapanya adalah Askana. Dengan sigap Askana menarik tangan riuza, supaya
tidak pergi. Mereka hanya mematung beberapa saat dengan posisi itu, diselingi
bunga flamboyan yang terjatuh lembut. Askana tak mampu bertanya mengenai pena
tersebut, dan rasanya hal yang tidak mungkin untuk Riuza lari, dia sudah
tertangkap basah.
“Za, pena bersimbol “G” ini punya lo?” akhirnya kalimat
tersebut terlontar dari bibir askana setelkah sekian lama terdiam. Riuza hanya terdiam, dia mengangguk
sekenanya. Askana hanya termenung kemudian, mereka saling terdiam lama. Akhirnya
Riuza membalikkan badannya, menatap dalam mata Askana. “iya Kan, pena ini punya
gue”, ucapnya lembut. Dunia bagai berputar, Askana hanya ingin menghentikan
saja otaknya yang mulai berputar juga dengan cepat. Pena ini sama persis dengan
pena yang di temukannya ketika dia membaca selebaran les privat, surat kaleng
berwarna biru, sepeda rusaknya, jaket dan payung itu, dan kejadian ketika di
puncak yang dia ketahui dari teman sekelasnya bahwa yang menolong dirinya
sebenarnya bukanlah Ghalibie. Pikirannya melanglang buana untuk memikirkan
semua yang terjadi dan inisial “G” yang misterius itu.
“Za, jadi semua itu elo?, yang benerin sepeda gue, yang
ngasih gue kerjaan les privat, yang ngasih gue jaket, surat kaleng, jadi
semuanya itu lo yang ngelakuin za?” ucapnya lembut, tak terasa air matanya
menetes begitu saja. “iya kan”. Ucapnya lembut. “Jangan-jangan yang donorin
darah buat ibu gue itu juga elu, cowok berhoodie
hitam malam-malam waktu itu juga elo, dan yang nolongin gue pas di puncak itu
juga elo Za?” ucap Askana dengan bibir gemetar. “iya, Kan semua itu gue yang
ngelakuin”. “terus, kenapa lo ga jujur ke gue Za, kenapa lo ga jujur kalo
selama ini lo yang selalu nolong gue di saat gue benar-benar terpuruk, kenapa
lo ga jujur, malah justru jutek ke gue Za, kenapa? Kalo gue tahu yang nolong
gue selama ini adalah elo pasti gue juga ga jutek sama lo, Za, dan kenapa lo
musti pake inisial “G” Za, di pena itu, di surat itu, di sapu tangan itu?” ucap
Askana keras dengan air mata yang kian deras mengalir. “Karna GUE SAYANG SAMA
ELO Kan, makanya gue ngelakuin itu semua” ucap Riuza tak kalah kerasnya. Keduanya
terdiam, tenggorokan Askana tercekat dia menghentikan tangisannya. “gue pake
inisial “G” karena itu emang nama gue Kan “Ghazi Riuza Akbar”, ucapnya lembut
dengan senyum bergulir di bibirnya.
Askana hanya terdiam, tangisannyapun telah berhenti yang
kini digantikan senyum dalam senja sore itu, segera saja dia memeluk erat
Ghazi, “GUE JUGA SAYANG ELO GHAZI” ucapnya lembut. Ghazi mengangkat tangannya
dan memeluk Askana jua. Dalam senja itu mereka dipertemukan, Ghazi yang hanya bisa mendengar keluh kesah Askana di balik pohon Flamboyan itu kini bisa bersama dengan Askana, seakan mimpi pikirnya. Flamboyan itu
telah menjadi saksi bisu kisah kasih mereka berdua, dalam diamnya dia telah membantu Askana untuk melalui berat hidupnya, menemukan cinta yang sebenarnya.
Karena dalam hidup,
kita tak selalu melakukan sesuatu supaya orang lain melihatnya, karena rasa
sebenarnya adalah tak terbatas, begitu pula cinta yang bermula di bangku SMA. Rasa
itu tak mengenal usia, besarnya juga tak terhingga. Jika sudah waktunya usahamu
akan berbalas, cinta itu akan dipertemukan, cinta itu akan di taruh pada hati
yang tepat, pada seseorang yang tepat.
...THE
END...
No comments:
Post a Comment