Usut
punya usut, dahulu rumah itu tidaklah semistis sekarang, rumah itu indah dan
terawat, namun semenjak ditinggalkan oleh mendiang istrinya, Juragan Gundowo
menjadi sosok yang berbeda, dia bukanlah lagi Juragan yang ramah dan baik akan
tetapi menjadi orang yang pendiam dan menutup diri, setiap hari beliau hanya
mengurung dirinya di rumah saja, tidak pernah keluar. Sampai pada akhirnya,
beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia, Juragan Gundowo hilang, entah
meninggal ataupun hilang entah kemana. Berita hilangnya Juragan Gundowopun
segera menjadi topik obrolan utama masyarakat desa, banyak isu bermunculan
apakah dibunuh oleh anaknya sendiri, ataupun dicuri oleh makhluk astral.
Kabarpun menjadi sangat tidak jelas menyebar, namun hingga saat ini jasadnya
belum diketemukan.
Rumah
belukar orang kampung Caruta menyebutnya, karena sejak zaman penjajahan Belanda
hingga sekarang tetaplah rumah itu dalam bentuk yang sama, tetap rumah tua yang
beraksitektur Belanda, dengan dinding bagian bawah yang ditata dari rangkaian
batu hitam, dan bagian atasnya bercat putih polosa namun telah pudar. Ruamh itu
telah berusaha dipugar oleh anak turun Juragan gundowo, namun tidak ada yang
pernah berhasil dari sekian anak turunnya, sampai sekarang yang menghuninya
adalah anak turunnya yang ke enam, rumah itu tetap seperti dulu, seperti
pertama kali dibangun, proses renovasi yang dilakukan tidak pernah berhasil,
alih-alih renovasi hanya untuk membersihkan semak belukar dan pohon-pohon saja
selalu gagal. Ketika semak belukar dibabat dan dibersihkan, maka keesokan harinya
semak belukar tersebut tumbuh seperti sedia kala, begitu juga pohon-pohon yang
telah ditebang yang bahkan batangnya telah digergaji kecil-kecil, mampu berdiri
dengan kokoh kembali seperti sedia kala. Sudah putus asa rasanya anak turunya
untuk membersihkan dan menghilangkan kesan mistis atas rumah itu.
Terkadang
bosan sudah anak turun dari Juragan Gundowo, menjadi bahan pergunjingan
masyarakat desa setempat, ingin rasanya mereka membaur bersama masyarakat
sekitar dan hidup layaknya manusia pada umumnya, namun tak bisa, nama Juragan
Gundowo telah menjadi tabu untuk diucap. Pernah suatu kali, keturunan Juragan
Gundowo yang ketiga bernama Juragan Gunawira memutuskan untuk meninggalkan
rumah itu beserta anak dan istrinya, namun hanya sempat pergi dari depan pintu
gerbang saja, bahkan pintu gerbangnyapun tak dapat dibuka, mereka mencoba melompat
pagar, namun ketika di panjatnya pagar itu, tak kunjung sampai, entah mengapa
pagar yang tingginya hanya sekitar tiga meter itu terasa sangat tinggi sekali,
hingga lelah mereka memanjatnyapun tak sampai melewatinya. Akhirnya ketika
lelah mereka menyerah dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah belukar
tersebut.
Waktu
terus berjalan, rumah belukar tersebut tetap dihuni oleh anak turunnya Juragan
gundowo yang masyur, ketika zaman penjajahan Belanda telah berakhir lama,
bahkan desa Caruta telah membenahi dirinya, rumah itu tetaplah tampak seperti
rumah tua yang menyeramkan. Adalah Juragan Gunadarma, keturunan ke-lima yang
menempati rumah itu sekarang beliau tinggal bersama istri dan seorang putra
tunggalnya yang berumur 8 tahun.
Gunara
adalah nama bocah 8 tahun tersebut, dia adalah seorang anak yang pendiam namun
sangat cerdas, kerap kali dia meninggalkan rumahnya secara diam-diam dan
berpetualang di sekitar rumahnya walaupun dilarang oleh kedua orang tuanya,
tetap bisa saja Gunara keluar dari Rumah Belukar itu. Gunara memilih untuk
menempati kamar di atas loteng rumahnya, dengan ruangan yang lumayan luas namun
kotor, disulapnya menjadi kamar tidur yang sedikit mistik namun menarik. Hanya ada
satu tempat tidur saja di kamar itu, kamar tidur berkasur satu dengan dipan
yang terbuat dari besi tua, peninggalan Belanda. Tak jauh dari kamar itu ada
sebuah jendela kecil yang cukup untuk memasukan kepala Gunara ke dalamnya. Sepasang
meja dan kursi kecil sederhana, menemani furniture
lain di kamarnya, hanya ada satu lemari pakaian yang sudah usang yang sejak
dahulu telah ada di kamar itu yang kini dipakainya, lemari kayu berpintu dua
yang terbuat dari kayu jadi dengan kaca berbentuk oval di pintu lemari yang
sebelah kanan, di bagian kiri pintu lemari itu terdapat banyak tempelan
gambar-gambar buatan Gunawa dari arang hitam, yang menggambarkan keramaian
kehidupan di luar rumahnya yang pernah diimpikannya ketika tidur, atau dari
cerita-cerita pegawai ayahnya yang diimajinasikannya dalam torehan arang. Gunawa sangat tertarik untuk mengetahui apa
yang ada di luaran sana, di pagar tembok rumahnya, Rumah Belukarnya.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment