Elegant Rose - Working In Background

Saturday, 31 January 2015

Huldra (Rumah Belukar)

         Matahari yang terik pagi ini tak mampu menerangi rumah buruk itu, sebenarnya rumah yang telah beratapkan genting dan bertembok kekar itu tidak sepenuhnya buruk. Hanya saja rumah yang sangat luas itu terlihat seperti tak berpenghuni. Rumah yang lebih mirip sarang penyamun itu, hampir tak terlihat, terletak di ujung kampung Caruta, jika kita tidak memperhatikannya secara jeli niscaya tak ada rumah disitu hanya rimbunnya semak belukar dan pohon-pohon yang tinggi menjulang yang menutupinya. Warna tembok rumahnyapun kini telah pudar termakan usia. Tumbuhan merambati seluruh dinding rumah yang menambah kesan horor dari rumah tersebut. Rumah tua ini dikelilingi oleh kebun teh yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kesan mistis menyelimuti rumah Juragan Gundowo itu, seorang juragan tanah yang kaya raya dengan kepemilikan kebun teh  yang sangat luasnya.

Usut punya usut, dahulu rumah itu tidaklah semistis sekarang, rumah itu indah dan terawat, namun semenjak ditinggalkan oleh mendiang istrinya, Juragan Gundowo menjadi sosok yang berbeda, dia bukanlah lagi Juragan yang ramah dan baik akan tetapi menjadi orang yang pendiam dan menutup diri, setiap hari beliau hanya mengurung dirinya di rumah saja, tidak pernah keluar. Sampai pada akhirnya, beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia, Juragan Gundowo hilang, entah meninggal ataupun hilang entah kemana. Berita hilangnya Juragan Gundowopun segera menjadi topik obrolan utama masyarakat desa, banyak isu bermunculan apakah dibunuh oleh anaknya sendiri, ataupun dicuri oleh makhluk astral. Kabarpun menjadi sangat tidak jelas menyebar, namun hingga saat ini jasadnya belum diketemukan.

Rumah belukar orang kampung Caruta menyebutnya, karena sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang tetaplah rumah itu dalam bentuk yang sama, tetap rumah tua yang beraksitektur Belanda, dengan dinding bagian bawah yang ditata dari rangkaian batu hitam, dan bagian atasnya bercat putih polosa namun telah pudar. Ruamh itu telah berusaha dipugar oleh anak turun Juragan gundowo, namun tidak ada yang pernah berhasil dari sekian anak turunnya, sampai sekarang yang menghuninya adalah anak turunnya yang ke enam, rumah itu tetap seperti dulu, seperti pertama kali dibangun, proses renovasi yang dilakukan tidak pernah berhasil, alih-alih renovasi hanya untuk membersihkan semak belukar dan pohon-pohon saja selalu gagal. Ketika semak belukar dibabat dan dibersihkan, maka keesokan harinya semak belukar tersebut tumbuh seperti sedia kala, begitu juga pohon-pohon yang telah ditebang yang bahkan batangnya telah digergaji kecil-kecil, mampu berdiri dengan kokoh kembali seperti sedia kala. Sudah putus asa rasanya anak turunya untuk membersihkan dan menghilangkan kesan mistis atas rumah itu.

Terkadang bosan sudah anak turun dari Juragan Gundowo, menjadi bahan pergunjingan masyarakat desa setempat, ingin rasanya mereka membaur bersama masyarakat sekitar dan hidup layaknya manusia pada umumnya, namun tak bisa, nama Juragan Gundowo telah menjadi tabu untuk diucap. Pernah suatu kali, keturunan Juragan Gundowo yang ketiga bernama Juragan Gunawira memutuskan untuk meninggalkan rumah itu beserta anak dan istrinya, namun hanya sempat pergi dari depan pintu gerbang saja, bahkan pintu gerbangnyapun tak dapat dibuka, mereka mencoba melompat pagar, namun ketika di panjatnya pagar itu, tak kunjung sampai, entah mengapa pagar yang tingginya hanya sekitar tiga meter itu terasa sangat tinggi sekali, hingga lelah mereka memanjatnyapun tak sampai melewatinya. Akhirnya ketika lelah mereka menyerah dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah belukar tersebut.

Waktu terus berjalan, rumah belukar tersebut tetap dihuni oleh anak turunnya Juragan gundowo yang masyur, ketika zaman penjajahan Belanda telah berakhir lama, bahkan desa Caruta telah membenahi dirinya, rumah itu tetaplah tampak seperti rumah tua yang menyeramkan. Adalah Juragan Gunadarma, keturunan ke-lima yang menempati rumah itu sekarang beliau tinggal bersama istri dan seorang putra tunggalnya yang berumur 8 tahun.

Gunara adalah nama bocah 8 tahun tersebut, dia adalah seorang anak yang pendiam namun sangat cerdas, kerap kali dia meninggalkan rumahnya secara diam-diam dan berpetualang di sekitar rumahnya walaupun dilarang oleh kedua orang tuanya, tetap bisa saja Gunara keluar dari Rumah Belukar itu. Gunara memilih untuk menempati kamar di atas loteng rumahnya, dengan ruangan yang lumayan luas namun kotor, disulapnya menjadi kamar tidur yang sedikit mistik namun menarik. Hanya ada satu tempat tidur saja di kamar itu, kamar tidur berkasur satu dengan dipan yang terbuat dari besi tua, peninggalan Belanda. Tak jauh dari kamar itu ada sebuah jendela kecil yang cukup untuk memasukan kepala Gunara ke dalamnya. Sepasang meja dan kursi kecil sederhana, menemani furniture lain di kamarnya, hanya ada satu lemari pakaian yang sudah usang yang sejak dahulu telah ada di kamar itu yang kini dipakainya, lemari kayu berpintu dua yang terbuat dari kayu jadi dengan kaca berbentuk oval di pintu lemari yang sebelah kanan, di bagian kiri pintu lemari itu terdapat banyak tempelan gambar-gambar buatan Gunawa dari arang hitam, yang menggambarkan keramaian kehidupan di luar rumahnya yang pernah diimpikannya ketika tidur, atau dari cerita-cerita pegawai ayahnya yang diimajinasikannya dalam torehan arang.  Gunawa sangat tertarik untuk mengetahui apa yang ada di luaran sana, di pagar tembok rumahnya, Rumah Belukarnya.
Bersambung...


















No comments:

Post a Comment