Elegant Rose - Working In Background

Friday, 23 January 2015

Flamboyan, Saksi Bisu (6)

Malam itu askana hanya membaringkan dirinya di tempat tidur, sudah mencobanya tetapi Askana tidak bisa melepaskan kenyataannya begitu saja, pena yang ada di dasbor mobil riuza adalah pena yang sama, pena yang dia temukan di sekitar rumahnya beberapa bulan yang lalu. Saat sedang membaca brosur les privat. Berjalan dia perlahan mendekati jendela kamarnya, bulan malam ini begitu indah terang bercahaya, bulat dan penuh. Mungkin serigala malam ini akan mengaum pikirnya, konyol. Dia hanya sedang tidak ada kerjaan untuk melakukan apapun. Hari ini dan seminggu kedepan masih liburan, dia tidak bisa bertemu dengan Ghalibie, cowok yang selalu melindunginya. Senyumnya menyungging. Memutar matanya melihat ke bawah, kamarnya memang ada dilantai dua, tidak ada pilihan untuk rumah sempit yang dimilikinya dengan meluaskannya di bagian atap rumahnya, sebenarnya tidak juga bisa disebut sebagai kamar dilantai dua sih. Sebenarnya kamar yang ditempati oleh Askana di dalam rumahnya itu hanyalah,  bagian dari atap rumah yang sedikit luas dengan bagian genting yang lebih tinggi. Dia memilih untuk tidur dan melakukan semua kegiatannya disitu karena lebih tenang dan nyaman, dia bisa dengan leluasa memandangi bulan setipa malam dan merasa hanya dia yang mempunyai bulan itu, dia bisa melihat lampu-lampu yang berkelip dari rumah-rumah disekitarnya yang dibayangkan dengan kerlipan bintang dilangit, sederhana, namaun sangatlah indah bagi Askana.

Ketika dia sedang melihat kesekeliling, nampaklah seorang sosok cowok yang sedang mengamatinya dari jauh,  cowok itu menggunakan jaket hoodie berwarna hitam, di dalam kegelapan yang samar dia sekelebat dapat mengenali sosok itu. Iya Ghalibie, yang tiba-tiba saja waktu itu menghilang dari peredaran setelah mereka  pulang dari puncak. Dengan bergegas Askana berlari tunggang langgang, secepat kilat dia berlari mencari sosok cowok yang tadi mengamati dari bawah. “Askana, Askana!” teriak ibunya. Askana tidak mau mendengarnya sedikitpun, dia hanya terus berlari dan bergegas mencari sosok tersebut. Ibunya dengan bingung melihat kelakuan anaknya malam itu, yang dia khawatirkan bukanlah apa-apa tapi buta ayam yang diidap Askana, karena pada malam yang gelap seperti ini akan membuat Askana sulit untuk melihat dengan jelas.

Askana hanya terus lari dengan tangan  tegak  kedepan, sebagai sensornya apabila ada sesuatu yang menghalanginya. Dia tidak perduli, dengan mata yang semakin tidak jelas dalam melihat, dia hanya berlari dan terus berlari. Pada saat sedang berlari askana tidak sadar, bahwa sedang menyebrang jalan raya, hampir saja dirinya tertabrak, apabila tidak ada tangan yang dengan sigap menarik tangan askana, dan membiarkan Askana jatuh dalam pelukannya untuk beberapa saat. “jangan bodoh, Askana”, ucap cowok tersebut dengan lembutnya. Askana hanya diam dalam hangatnya  pelukan di depan jalanan berasapal malam itu, entah mengapa dia belum pernah mengenal pelukan hangat ini, pelukan yang sangat membuatnya nyaman, pelukan yang dia tak mau untuk melepasnya. Dan suara itu, suara itu begitu lembut, bak suara malaikat yang belum pernah sekalipun didengarnya.

Cowok tersebut menggandeng Askana, yang turut di belakangnya dengan santai, entah mengapa sepertinya di malam yang gelap itu ada begitu banyak kelopak bunga flamboyan berjatuhan dengan tenangnya, bagi Askana malam itu dunia berjalan begitu lambat, dia seperti sedang berada dalam film romantis yang mana dia dan lelaki tersebut adalah pemeran utamanya, berjalanpun seakan di slowmotion oleh sang sutradara. Cowok itu melepaskan genggaman tangannya “sudah sampai As,” ucapnya lembut. Segera sadar Askana berteriak “kamu siapa”? namun tak ada sahutan dari cowok tersebut. Kegundahannya bertambah, siapa lagi tokoh yang muncul dalam hidupnya kini, yang dengan jelas suaranya sangat berbeda dengan Ghalibie yang telah menghilang. Askana kembali lagi ke kamarnya, kegundahannya bertambah, alih-alih dia mengingat Ghalibie, tapi mengingat mencoba menerka siapa cowok tadi, kenapa lembut suara dan pstur tubuhnya seakan dia mengenalnya, cowok itu siapa?, pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya.

Matahari pagi ini begitu teriknya, menyambut pagi, menemaninya bersepeda menuju sekolah, alangkah senangnya dia, yak hari ini dia akan bertemu dengan Ghalibie yang telah lama menghilang. Mungkin dia kan tahu kenapa Ghalibie menghilang begitu saja dan tidak memberinya kabar sama sekali. Setelah menyandarkan sepedanya, askana lalu menuju ke dalam kelasnya, namun sayang ketika dia mencari-cari Ghalibie, tak ditemukannya, bangkunya kososng, di kelaspun dia tidak ada.  Askana mencoba mencarinya lagi keluar, keseluruh sekolah, ke kantin bahkan dia menanyakannya pada Fla. Namun, nihil. Entah mengapa ini terjadi kepadanya, Askana merasa sangat dipermainkan oleh Ghalibie, bahkan saat dia sudah mulai menyukai Ghalibie yang sangat energik dan lucu, justru ini yang didapatinya, Ghalibie pergi tanpa memberi kabar maupun kejelasan kenapa dia pergi. Mungkin jika saja Ghalibie mau meberikan kejelasan, Askana akan menerimanya, walaupun itu menyakiti hatinya. Hatinya begitu bergemuruh, tak alang lagi, askana menuju di tempat peraduannya, dengan sahabat satu-satunya yang menerimanya apa adanya, kemiskinannya, ketidakberdayaannya, kesederhanaannya, ya Fla. Kembali dia dalam bahu fla yang mungkin akan meredakan gemuruh hatinya. Semilir angin yang menemaninya, bersamaan dengan mendung yang seakan tahu kesedihan Askana yang datang menemaninya. Pagi yang cerah itu berubah menjadi hitam, mendung menggantung dengan hitamnya, tak berapa lamapun hujan turun. Namun, tak mengapa hujan ini datang, hujan ini datang diwaktu yang tepat, ketika dadanya sangat sesak, entah mengapa dadanya begitu sesak ketika tak ditemuinya lagi Ghalibie, walau hanya wajah yang mungkin dapat dilihatnya. Air matanya jatuh, semakin lama-semakin derasnya, Askana ingin sekali meluapkan gemuruh hatinya pagi itu, di bawah hujan yang mengguyur bersamaan mengguyur hatinya yng mungkin telah terluka, terluka karena sesuatu yang belum pernah dirasainya. Terluka untuk sesuatu yang sangat menyesakkan dadanya, yang tak tahu mengapa begini. Derasnya hujanpun, hanya menemani derasnya air mata Askana pagi itu. Hanya duduk tak beralas, dengan tatapan kosong Askana hanya menengadahkan tangannya, menerima nasib sebagai seseorang yang tak berdaya, tak berdaya akan cinta yang mungkin telah di anugrahkan oleh tuhan, tapi mengapa rasa ini begitu menusuk tak seindah di dalam cerita film yang pernah ditontonnya.

Setelah reda dengan basah kuyup dan tatapan kosong, Askana kembali ke dalam kelasnya. Berjalan dengan lunglai, ketika sedang menyusuri koridor kelas yang telah sepi karena mata pelajaran telah di mulai. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya, mengajaknya lari, Askana tidak sanggup hanya untuk melepaskan tangan itu. Dia masih sangat lemah, askana hanya mengikuti kemana saja tangan itu menariknya. Tangan itu mengajaknya kembali ke bawah tubuh Fla, “Kan, lo kenapa?” ucap cowok itu khawatir. Askana melihatnya dengan tatapan kosong, betapa terkejutnya dia, ternyata cowok itu adalah Ghalibie. Tak mampu askana berucap sepatah katapun, matanya hanya ingin melihat Ghalibie lagi dan lagi, setelah sekian lama tak menjumpa. Tetesan air mata itupun hadir kembali, askana hanya menangis betapa bahagianya dia melihat Ghalibie hari ini. Cowok inilah yang menjadi alasan kenapa air matanya tertumpah ke bumi yang sungguh terlihat gersang saat ini. Tak sanggup Ghalibie, mengucapkan bahwa sebenarnya, dia akan dipindahkan sekolah oleh orang tuanya ke Singapura. Alih-alih berpamitan ke Askana dia justru mengajaknya kencan, mungkin untuk yang pertama dan terakhir kalinya, mereka akan menghabiskan waktu bersama.

Sepeda berwarna pink itu melaju dengan santainya, diiringi ayuhan seorang anak manusia dengan senyumannya yang begitu menawan. Ciiittt....ciiitt.... sepedanya berhenti tiba-tiba ketika ada mobil yang menghentikan ayuhan sepedanya. Keluarlah Ghalibie dengan pakaian SMA yang sangat pas dengan badannya yang pelukable, dan tinggi. Dengan senyum Ghalibie menghampiri Askana, “kan, buat hari ini aja kita bolos sekolah yuk, kita kencan” dengan seringainya yang manis” ucapnya lembut. Askana hanya mampu mengangguk, kemudian sepeda Askana di taruh di atas mobil. Dan mereka berangkat, berdua saja, iya berdua saja.

Tidak pernah senyum Askana seindah itu, bahkan giginyapun terlihat ketika dia tersenyum, Ghalibie selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa dengan semua kekonyolannya. Askana merasa begitu nyaman dengan suasana seperti ini, seakan semua masalahnya sirna, masalah hidupnya, kemiskinannya, kegundahnya, semuanya, hilang.

Ghalibie menghentikan mobilnya, ketika mereka sampai diujung jalan, dimana sebuah pohon yang sangat besar berada diujung jalan yang bisa dibilang lembah. Pohon itu seperti batas ujung lembah yang dibawahnya sedikit menjorok lebih rendah dari daratan disekitarnya. Pohon itu sangat rindangnya, berdiri kokoh dengan dedaunan yang rindang yang sedang di goyang-goyangkan oleh angin. Lalu mereka turu dari mobil memandangi pohon yang rindang itu bersama. “lo punya Fla, kan, begitupun gue, ketika banyak masalah dan gue pengen banget teriak, gue pergi kesini di pohon ini gue tumpahin semua masalah gue ke pohon ini”, ucap Ghalibie. Askana kemudian melihat wajah Ghalibie, untuk sesaat mereka saling bertatapan beberapa saat kemudian saling tersenyum. Untuk kesekian kalinya Ghalibie menarik tangan askana untuk mengikutinya, turun ke bawah pohon melewati ilalang-ilalang liar, menuju ke sebuah tempat dimana bunga-bunga yang berjumlah sangat banyak seperti ditaburkan tumbuh dengan indahnya, bunga itu berwarna kuning, setinggi dada mereka. Askana hanya takjub melihat indahnya bunga berwarna kuning yang begitu banyak ini, dia sangat takjub dan hanya mampu diam. “indah ya kan, bunga ini, gue pernah berjanji sama diri gue sendiri, nanti ketika gue suka dengan cewek dengan tulus untuk pertama kalinya gue bakalan ngajak cewek itu kesini, ke tempat ini” ucap Ghalibie. “makasih bi, makasi banget buat semuanya”, ucap Askana lembut. Tak tahan lagi Ghalibie melihat senyum  cewek yang amat disayanginya ini, mungkin ini adalah hari terkhirnya untuk bisa bersama dengan cewek ini. Langsung saja, Ghalibie menarik tangan Askana dan memeluknya erat, sangat erat seakan tak mau melepasnya, Ghalibie hanya diam, dan diam-diam meneteskan air matanya.

“Bie, bie gue gak bisa nafas bie”, ucap Askana sesak. “oh, sorry kan” Ghalibie segera melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. “lo, kenapa bie?”, “Ah, gak apa-apa kan,kelilipan”, ungkap Ghalibie lalu tertawa. “pokoknya, hari ini kita abisin waktu berdua ya kan, kita seneng-seneng, kita nonton bareng, kita foto bareng, kita jalan-jalan bareng, pokoknya hari ini kita ngabisin semua waktu harus bareng, hanya berdua ya. Askana hanya mengangguk dan tersenyum, hanya aneh dalam pikirnya, kenapa Ghalibie seperti ini, tidak pernah sebelumnya Askana melihat ghalibie menangis. Dalam hati yang terdalamnya, tak sanggup Ghalibie mengatakan bahwa sebenarnya dia akan pergi, dia akan pindah yang mungkin akan selamanya, tak sanggup juga dia menceritakan sebenarnya dia menghilang seminggu tak ada kabar karena dia harus mengikuti serangkaian tes untuk beasiswanya ke Singapura, dia tak sanggup mengatakannya, apalagi melihat senyum Askana yang begitu tulus hari ini.


Hari itu mereka menghabiskan waktu hanya berdua, melakukan segalanya berdua, foto bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng. Mungkin hari ini salah satu hari yang sangat indah dalam hidup Askana, bisa bersama dengan orang yang sangat disayanginya. Atau itu juga yang dirasakan oleh Ghalibie, yang walaupun adalah juga hari terakhirnya bersama Askana.

No comments:

Post a Comment