Malam
itu askana hanya membaringkan dirinya di tempat tidur, sudah mencobanya tetapi
Askana tidak bisa melepaskan kenyataannya begitu saja, pena yang ada di dasbor
mobil riuza adalah pena yang sama, pena yang dia temukan di sekitar rumahnya
beberapa bulan yang lalu. Saat sedang membaca brosur les privat. Berjalan dia
perlahan mendekati jendela kamarnya, bulan malam ini begitu indah terang
bercahaya, bulat dan penuh. Mungkin serigala malam ini akan mengaum pikirnya,
konyol. Dia hanya sedang tidak ada kerjaan untuk melakukan apapun. Hari ini dan
seminggu kedepan masih liburan, dia tidak bisa bertemu dengan Ghalibie, cowok
yang selalu melindunginya. Senyumnya menyungging. Memutar matanya melihat ke
bawah, kamarnya memang ada dilantai dua, tidak ada pilihan untuk rumah sempit
yang dimilikinya dengan meluaskannya di bagian atap rumahnya, sebenarnya tidak
juga bisa disebut sebagai kamar dilantai dua sih. Sebenarnya kamar yang
ditempati oleh Askana di dalam rumahnya itu hanyalah, bagian dari atap rumah yang sedikit luas
dengan bagian genting yang lebih tinggi. Dia memilih untuk tidur dan melakukan
semua kegiatannya disitu karena lebih tenang dan nyaman, dia bisa dengan
leluasa memandangi bulan setipa malam dan merasa hanya dia yang mempunyai bulan
itu, dia bisa melihat lampu-lampu yang berkelip dari rumah-rumah disekitarnya
yang dibayangkan dengan kerlipan bintang dilangit, sederhana, namaun sangatlah
indah bagi Askana.
Ketika
dia sedang melihat kesekeliling, nampaklah seorang sosok cowok yang sedang
mengamatinya dari jauh, cowok itu
menggunakan jaket hoodie berwarna hitam, di dalam kegelapan yang samar dia
sekelebat dapat mengenali sosok itu. Iya Ghalibie, yang tiba-tiba saja waktu
itu menghilang dari peredaran setelah mereka pulang dari puncak. Dengan bergegas Askana
berlari tunggang langgang, secepat kilat dia berlari mencari sosok cowok yang
tadi mengamati dari bawah. “Askana, Askana!” teriak ibunya. Askana tidak mau
mendengarnya sedikitpun, dia hanya terus berlari dan bergegas mencari sosok
tersebut. Ibunya dengan bingung melihat kelakuan anaknya malam itu, yang dia
khawatirkan bukanlah apa-apa tapi buta ayam yang diidap Askana, karena pada
malam yang gelap seperti ini akan membuat Askana sulit untuk melihat dengan
jelas.
Askana
hanya terus lari dengan tangan tegak kedepan, sebagai sensornya apabila ada
sesuatu yang menghalanginya. Dia tidak perduli, dengan mata yang semakin tidak
jelas dalam melihat, dia hanya berlari dan terus berlari. Pada saat sedang
berlari askana tidak sadar, bahwa sedang menyebrang jalan raya, hampir saja
dirinya tertabrak, apabila tidak ada tangan yang dengan sigap menarik tangan
askana, dan membiarkan Askana jatuh dalam pelukannya untuk beberapa saat.
“jangan bodoh, Askana”, ucap cowok tersebut dengan lembutnya. Askana hanya diam
dalam hangatnya pelukan di depan jalanan
berasapal malam itu, entah mengapa dia belum pernah mengenal pelukan hangat
ini, pelukan yang sangat membuatnya nyaman, pelukan yang dia tak mau untuk
melepasnya. Dan suara itu, suara itu begitu lembut, bak suara malaikat yang
belum pernah sekalipun didengarnya.
Cowok
tersebut menggandeng Askana, yang turut di belakangnya dengan santai, entah
mengapa sepertinya di malam yang gelap itu ada begitu banyak kelopak bunga
flamboyan berjatuhan dengan tenangnya, bagi Askana malam itu dunia berjalan
begitu lambat, dia seperti sedang berada dalam film romantis yang mana dia dan
lelaki tersebut adalah pemeran utamanya, berjalanpun seakan di slowmotion oleh sang sutradara. Cowok
itu melepaskan genggaman tangannya “sudah sampai As,” ucapnya lembut. Segera
sadar Askana berteriak “kamu siapa”? namun tak ada sahutan dari cowok tersebut.
Kegundahannya bertambah, siapa lagi tokoh yang muncul dalam hidupnya kini, yang
dengan jelas suaranya sangat berbeda dengan Ghalibie yang telah menghilang.
Askana kembali lagi ke kamarnya, kegundahannya bertambah, alih-alih dia
mengingat Ghalibie, tapi mengingat mencoba menerka siapa cowok tadi, kenapa
lembut suara dan pstur tubuhnya seakan dia mengenalnya, cowok itu siapa?,
pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya.
Matahari
pagi ini begitu teriknya, menyambut pagi, menemaninya bersepeda menuju sekolah,
alangkah senangnya dia, yak hari ini dia akan bertemu dengan Ghalibie yang
telah lama menghilang. Mungkin dia kan tahu kenapa Ghalibie menghilang begitu saja
dan tidak memberinya kabar sama sekali. Setelah menyandarkan sepedanya, askana
lalu menuju ke dalam kelasnya, namun sayang ketika dia mencari-cari Ghalibie,
tak ditemukannya, bangkunya kososng, di kelaspun dia tidak ada. Askana mencoba mencarinya lagi keluar,
keseluruh sekolah, ke kantin bahkan dia menanyakannya pada Fla. Namun, nihil.
Entah mengapa ini terjadi kepadanya, Askana merasa sangat dipermainkan oleh
Ghalibie, bahkan saat dia sudah mulai menyukai Ghalibie yang sangat energik dan
lucu, justru ini yang didapatinya, Ghalibie pergi tanpa memberi kabar maupun
kejelasan kenapa dia pergi. Mungkin jika saja Ghalibie mau meberikan kejelasan,
Askana akan menerimanya, walaupun itu menyakiti hatinya. Hatinya begitu
bergemuruh, tak alang lagi, askana menuju di tempat peraduannya, dengan sahabat
satu-satunya yang menerimanya apa adanya, kemiskinannya, ketidakberdayaannya,
kesederhanaannya, ya Fla. Kembali dia dalam bahu fla yang mungkin akan
meredakan gemuruh hatinya. Semilir angin yang menemaninya, bersamaan dengan
mendung yang seakan tahu kesedihan Askana yang datang menemaninya. Pagi yang
cerah itu berubah menjadi hitam, mendung menggantung dengan hitamnya, tak
berapa lamapun hujan turun. Namun, tak mengapa hujan ini datang, hujan ini
datang diwaktu yang tepat, ketika dadanya sangat sesak, entah mengapa dadanya
begitu sesak ketika tak ditemuinya lagi Ghalibie, walau hanya wajah yang
mungkin dapat dilihatnya. Air matanya jatuh, semakin lama-semakin derasnya,
Askana ingin sekali meluapkan gemuruh hatinya pagi itu, di bawah hujan yang
mengguyur bersamaan mengguyur hatinya yng mungkin telah terluka, terluka karena
sesuatu yang belum pernah dirasainya. Terluka untuk sesuatu yang sangat
menyesakkan dadanya, yang tak tahu mengapa begini. Derasnya hujanpun, hanya menemani
derasnya air mata Askana pagi itu. Hanya duduk tak beralas, dengan tatapan
kosong Askana hanya menengadahkan tangannya, menerima nasib sebagai seseorang
yang tak berdaya, tak berdaya akan cinta yang mungkin telah di anugrahkan oleh
tuhan, tapi mengapa rasa ini begitu menusuk tak seindah di dalam cerita film
yang pernah ditontonnya.
Setelah
reda dengan basah kuyup dan tatapan kosong, Askana kembali ke dalam kelasnya.
Berjalan dengan lunglai, ketika sedang menyusuri koridor kelas yang telah sepi
karena mata pelajaran telah di mulai. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya,
mengajaknya lari, Askana tidak sanggup hanya untuk melepaskan tangan itu. Dia
masih sangat lemah, askana hanya mengikuti kemana saja tangan itu menariknya.
Tangan itu mengajaknya kembali ke bawah tubuh Fla, “Kan, lo kenapa?” ucap cowok
itu khawatir. Askana melihatnya dengan tatapan kosong, betapa terkejutnya dia,
ternyata cowok itu adalah Ghalibie. Tak mampu askana berucap sepatah katapun,
matanya hanya ingin melihat Ghalibie lagi dan lagi, setelah sekian lama tak
menjumpa. Tetesan air mata itupun hadir kembali, askana hanya menangis betapa
bahagianya dia melihat Ghalibie hari ini. Cowok inilah yang menjadi alasan
kenapa air matanya tertumpah ke bumi yang sungguh terlihat gersang saat ini. Tak
sanggup Ghalibie, mengucapkan bahwa sebenarnya, dia akan dipindahkan sekolah
oleh orang tuanya ke Singapura. Alih-alih berpamitan ke Askana dia justru
mengajaknya kencan, mungkin untuk yang pertama dan terakhir kalinya, mereka
akan menghabiskan waktu bersama.
Sepeda
berwarna pink itu melaju dengan santainya, diiringi ayuhan seorang anak manusia
dengan senyumannya yang begitu menawan. Ciiittt....ciiitt.... sepedanya
berhenti tiba-tiba ketika ada mobil yang menghentikan ayuhan sepedanya.
Keluarlah Ghalibie dengan pakaian SMA yang sangat pas dengan badannya yang
pelukable, dan tinggi. Dengan senyum Ghalibie menghampiri Askana, “kan, buat
hari ini aja kita bolos sekolah yuk, kita kencan” dengan seringainya yang
manis” ucapnya lembut. Askana hanya mampu mengangguk, kemudian sepeda Askana di
taruh di atas mobil. Dan mereka berangkat, berdua saja, iya berdua saja.
Tidak
pernah senyum Askana seindah itu, bahkan giginyapun terlihat ketika dia
tersenyum, Ghalibie selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa dengan
semua kekonyolannya. Askana merasa begitu nyaman dengan suasana seperti ini,
seakan semua masalahnya sirna, masalah hidupnya, kemiskinannya, kegundahnya,
semuanya, hilang.
Ghalibie
menghentikan mobilnya, ketika mereka sampai diujung jalan, dimana sebuah pohon
yang sangat besar berada diujung jalan yang bisa dibilang lembah. Pohon itu
seperti batas ujung lembah yang dibawahnya sedikit menjorok lebih rendah dari
daratan disekitarnya. Pohon itu sangat rindangnya, berdiri kokoh dengan
dedaunan yang rindang yang sedang di goyang-goyangkan oleh angin. Lalu mereka
turu dari mobil memandangi pohon yang rindang itu bersama. “lo punya Fla, kan,
begitupun gue, ketika banyak masalah dan gue pengen banget teriak, gue pergi
kesini di pohon ini gue tumpahin semua masalah gue ke pohon ini”, ucap
Ghalibie. Askana kemudian melihat wajah Ghalibie, untuk sesaat mereka saling
bertatapan beberapa saat kemudian saling tersenyum. Untuk kesekian kalinya
Ghalibie menarik tangan askana untuk mengikutinya, turun ke bawah pohon melewati
ilalang-ilalang liar, menuju ke sebuah tempat dimana bunga-bunga yang berjumlah
sangat banyak seperti ditaburkan tumbuh dengan indahnya, bunga itu berwarna
kuning, setinggi dada mereka. Askana hanya takjub melihat indahnya bunga
berwarna kuning yang begitu banyak ini, dia sangat takjub dan hanya mampu diam.
“indah ya kan, bunga ini, gue pernah berjanji sama diri gue sendiri, nanti
ketika gue suka dengan cewek dengan tulus untuk pertama kalinya gue bakalan
ngajak cewek itu kesini, ke tempat ini” ucap Ghalibie. “makasih bi, makasi
banget buat semuanya”, ucap Askana lembut. Tak tahan lagi Ghalibie melihat
senyum cewek yang amat disayanginya ini,
mungkin ini adalah hari terkhirnya untuk bisa bersama dengan cewek ini.
Langsung saja, Ghalibie menarik tangan Askana dan memeluknya erat, sangat erat
seakan tak mau melepasnya, Ghalibie hanya diam, dan diam-diam meneteskan air
matanya.
“Bie,
bie gue gak bisa nafas bie”, ucap Askana sesak. “oh, sorry kan” Ghalibie segera
melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. “lo, kenapa bie?”, “Ah, gak
apa-apa kan,kelilipan”, ungkap Ghalibie lalu tertawa. “pokoknya, hari ini kita
abisin waktu berdua ya kan, kita seneng-seneng, kita nonton bareng, kita foto
bareng, kita jalan-jalan bareng, pokoknya hari ini kita ngabisin semua waktu
harus bareng, hanya berdua ya. Askana hanya mengangguk dan tersenyum, hanya
aneh dalam pikirnya, kenapa Ghalibie seperti ini, tidak pernah sebelumnya
Askana melihat ghalibie menangis. Dalam hati yang terdalamnya, tak sanggup
Ghalibie mengatakan bahwa sebenarnya dia akan pergi, dia akan pindah yang
mungkin akan selamanya, tak sanggup juga dia menceritakan sebenarnya dia
menghilang seminggu tak ada kabar karena dia harus mengikuti serangkaian tes
untuk beasiswanya ke Singapura, dia tak sanggup mengatakannya, apalagi melihat
senyum Askana yang begitu tulus hari ini.
Hari
itu mereka menghabiskan waktu hanya berdua, melakukan segalanya berdua, foto
bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng. Mungkin hari ini salah satu hari yang
sangat indah dalam hidup Askana, bisa bersama dengan orang yang sangat
disayanginya. Atau itu juga yang dirasakan oleh Ghalibie, yang walaupun adalah
juga hari terakhirnya bersama Askana.
No comments:
Post a Comment