Setelah kejadian malam
itu, semakin besar cinta Askana terhadap Ghalibie, dia selalu menderma
senyumnya untuk Ghalibie dalam kediaman yang penuh arti. Sampai saat inipun
Ghalibie tidak ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa bukan dia yang menolong
Askana, tetapi Riuza. Dia tidak ingin kehilangan moment saat Askana kini hanya
tersenyum untuk dirinya. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa dianggap
pahlawan dengan orang yang sangat dia sayangi adalah hal yang tidak ternilai.
Perasaannya kepada Askana semakin Indah dan terasa kian nyata saja, dia hanya
ingin melindungi Askana. Dan tidak mau melihat Askana dalam kesulitan.
Mata yang lain itu jauh, walaupun begitu tak pernah lepas
matanya menangkap kemanapun Askana pergi, dia kawatir dengan keadaan Askana
selepas malam itu dihutan.
Walaupun dengan kondisi badan yang lemah, namun tidak
dengan hati Askana, malam itu kekuatan hatinya serasa di recharge oleh Ghalibie, di dalam tenda kesehatan dengan terkulai
lemas dia tak hentinya tersenyum, melihat Ghalibie telah tertidur dengan wajah
yang tersangga di atas tempat tidur Askana. Tangan Ghalibie memegang erat
tangannya yang dingin. Tak ingin dia melepaskan tangan yang telah begitu hangat
ini, tangan seorang pahlawan yang telah menolongnya selalu, tangan orang yang
begitu menerimanya apa adanya, tangan orang yang selalu membuatnya tersenyum
disaat dirinya sendiri tak mampu buat tersenyum.
Bayangan yang selalu mengikuti Askana, hanya berdiri
mematung memandang bulan dari kejauhan, bulan malam ini begitu indahnya, terang
berani menampakkan sinarnya. Terkadang dia mengutuk dirinya sedniri karena tak
mampunya untuk sekedar dekat dengan Askana. Dan mengapa dia hanya berani
menolong disaat Askana tidak mengetahui bahwa yang menolongnya itu adalah dia,
yak dia hanya ingin segera menyerah saja, menyerah dengan perasaannya, menyerah
dengan semua usaha yang dia lakukan yang tampaknya hanya sia-sia saja.
Askana telah bosan hanya tidur seharian di tenda
kesehatan, kemudian malam itu dia niat keluar untuk berjalan-jalan memandangi
indahnya bulan dan awan yang terlihat bagai lukisan, dia ingin merefresh pikirannya. Dengan berbekal
senter dia berjalan menyusuri malam keluar tenda, dia tidak membangunkan
Ghalibie guna membangunkannya. Ghalibie terlalu capek pikirnya, dia sudah
seharian menjaga dan merawat Askana. Dari kejauhan Askana melihat sosok cowok
yang sedang berdiri juga memandangi indahnya bulan seperti dirinya, siluetnya
begitu sempurna, tinggi tegap dengan kedua tangan panjangnya yang dimasukan ke
dalam saku celananya. Lelaki itu memakai jaket berwarna biru dongker,
setidaknya itulah sedikit yang bisa dia lihat di kegelapan malam dengan buta
ayam yang dideritanya. Tepi entah mengapa, dia seperti mengenal sosok cowok
itu, kemudian dia mengingat-ingat tentang cowok berjaket biru dongker.
Pikirannya melayang, dia mengingat bahwa ibu Siti pernah memberitahunya bahwa
orang yang telah mentransfusi darah ke ibunya adalah orang yang memakai jaket
biru dongker. Lelaki itu dari kejauhan menatap ke arahnya, kaget dan kemudian
lari. Askana segera mengikuti cowok tersebut lari, dia sungguh penasaran,
walaupun sangat kecil kemungkinan bahwa yang menolong ibunya adalah lelaki yang
barusan dia lihat, namun kenapa lelaki itu harus lari ketika melihatnya. Dia
sedang mengejar lelaki itu saat Ghalibie memegang erat tangannya, “Kan, lo mau
kemana, lo rabun senja dan ini sudah malam, lagian badan lo belum sehat benar,
ayo kembali ke tenda”, ucapnya. Askana hanya tersenyum dan menuruti nasehat
Ghalibie, dengan pikirna tentang cowok itu yang masih bergelayut di benaknya.
Setelah berkemah selama tiga hari maka selesailah sudah,
mereka kembali bersiap-siap untuk pulang kembali ke Jakarta. Saat bertempat di
Bis dia duduk di dekat Ghalibie seperti saat mereka berangkat. Saat sebelum bis
berangkat, guru mengabsen satu-persatu murid yang ada di dalam bis apakah sudah
lengkap semua atau belu, saat guru itu melewati tempat duduk Askana, tidak
sengaja dia melihat inisial “G” di pulpen itu. Dia teringat dengan pulpen yang
dia temukan saat dia membaca sebuah pengumuman tentang les privat di gang
rumahnya. Inisial “G”nya sama dengan pulpen yang ditemukannya. Askana tidak
akan secara langsung menayakan kepada guru tersebut siapa pemiliknya, dia tidak
mau bertindak bodoh yang akan membuat orang misterius itu tak akan terbongkar
identitasnya selamanya, dia hanya mengamati guru tersebut, akan ke siapa pena
itu dikembalikan. Bis kembali berjalan untuk
mengantarkan mereka ke tempat asal. Di dalam perjalanan Ghalibie tak
henti-hentinya membuat Askana tercengang akan lawakannya yang membuatnya selalu
tertawa, dialah orang yang sangat membuat Askana nyaman dan aman jika
bersamanya.
Bis telah sampai di sekolah mereka, semua siswa telah
dijemput oleh supir pribadinya masing-masing, Askana hanya termenung. Ghalibie
yang sedari tadi bersamanya tiba-tiba saja menghilang, padahal dialah orang
yang memaksanya untuk mengikuti serangkaian acara ini. Dia masih saja menunggu,
terus menunggu samapai malam menjelang dan tidak ada satupun yang tersisa dalam
sekolah itu, mereka semuanya telah pulang.
“lo, sendirian?” ucap Riuza. Askana kaget bukan kepalang,
orang yang selama ini dianggapnya sinis dan kaku ternyata mau juga menyapanya.
“iya, za” ucapnya terbata-bata. “Ghalibie, mana?” ucapnya sekali lagi.” Aku
juga ga tau, sedari tadi aku nunggu dia tapi dia ga muncul-muncul”, ucapnya
dengan menunduk. Dengan cekatan Riuza mengambil tas dan barang-barang milik
Askana kemudian dimasukan ke dalam mobilnya. Askana berlarian dan menyusul
Riuza dengan bingung melihat tingkah laku Riuza, “Masuk!” ucap Riuza kasar.
Askana hanya diam saja, lo mau masuk apa mau tinggal sendirian di sekolah ini,
ucapnya lagi ketus. Riuza telah menstarter mobilnya saat Askana sedang di luar
bengong dengan semua ini, dia hanya bingung kenapa Riuza masih disini, padahal
tadi tak sengaja dia melihatnya sudah pulang dijemput sopir pribadinya. Namun,
tetap saja berdua di dalam mobil bersama Riuza tak membuatnya berdamai
dengannya, Riuza tak pernah mau ngobrol dengannya, bahkan hanya untuk melihat
Askana sekejap saja.
Mereka bagai sedang berada di dalam kuburan saja, tak ada
sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Riuza tetaplah seperti es
yang luar biasa dinginnya, yang bahkan Askana tak mampu hanya menyentuhnya
sesaat. Karena tak ada sepatah katapun yang terucap, saat mendekati gang
rumahnya untuk mengucapkan terima kasih, Askana hanya menuliskannya di atas
buku yang terletak di Dasbor mobil Riuza, namun betapa terkejutnya dia, pena
yang dia pegang berinisial “G” sama seperti yang di punyainya. Hatinya
berkecamuk, mungkinkan Riuza adalah orang yang selama ini selalu menolongnya,
tapi masa iya orang kaku dan keras kepala seperti itu mempunyai hati selembut
malaikat, ah inik tidak mungkin, pastilah aku mimpi, aku mimpii. Dia segera
mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut. Dengan tenang dia kembalikan kembali
buku dan pena tersebut di dasbor kembali.
No comments:
Post a Comment