Elegant Rose - Working In Background

Tuesday, 12 August 2014

Flamboyan, Saksi Bisu

Masa SMA adalah masa yang paling membahagiakan bukan? Masa dimana hati yang dahulu kosong kini mulai ditanami benih-benih kasih sayang . tiap benih-benih itupun merangkaikan kisahnya masing-masing. Ini adalah salah satu kisah yang dirangkaikan oleh salah satu benihnya.

Senyum manis itu selalu tersungging dibibir manis Askana Sakhi, cewek yang duduk di bangku kelas XI SMA itu selalu semangat mengayuh sepeda mini berwarna maroon miliknya. Dia tak akan menyerah untuk mengubah nasib yang kini tengah membelenggunya. Iya, dia dan ibunya berjuang bersama dalam menjalani beratnya ujian hidup tuhan kepada mereka. Mengayuh sepeda sepanjang 8 Km setiap haripun tak dikeluhkannya. Dia sadar dia bukanlah orang kaya seperti teman-temannya yang menggunakan mobil diantar orang supirnya atau sekedar naik angkot. Uang yang diberikan ibunya yang seorang single fighter ditabung olehnya, terkadang dia tidak kekantin sama sekali dan hanya memakan bekal yang dibawakan oleh ibunnya. Walaupun dia sekolah di salah satu sekolah ternama di kotanya, tapi bukan menjadi alasan baginya untuk malu, untuk menjadi apa adanya di depan teman-temannya.

            Tetapi untungnya, dia termasuk murid teladan di SMA tersebut. Banyak sekali syukurnya kepada Maha Besar Alloh, setidaknya ada otak yang dapat dia andalkan untuk merubah nasib.

            Pagi itu adalah pagi yang menyejukkan, entah kenapa angin pagi itu terasa begitu mendayu, wangi bunga melati di pinggiran jalan begitu memabukkan indra penciumannya. Dia hanya melebarkan ujung bibirnya dan memandang langit. Dan menjawab tiap sapaan teman-temannya ketika mendahuluinya. “Aku bersyukur ya Alloh aku mempunyai ibu yang luar biasa, mempunyai hari yang luar biasa dan si merah yang selalu mengantarkanku kemana-mana”, lalu menepuk stang sepedanya itu.

            Teman-temannya selalu menyambutnya dengan hangat ketika dia mulai memasuki kelas, hanya satu orang saja yang selalu cuek dan kasar padanya, Riuza dia adalah pesaing beratnya mereka bersaing memperebutkan gelar juara semenjak kelas X, mungkin karena itu pikirnya Riuza begitu sinis padanya.

            Siang itu kelas kosong dikarenakan guru-guru sedang ada rapat kenaikan kelas, sehingga kelas begitu gaduh. Karena tak suka dengan kegaduhan Askana bangkit dan membawa buku cetak fisikannya keluar, “mau kemana kan?” ucap Uzda teman sebangkunya. “biasa” ucapnya diiringi senyuman. Dia berjalan tak lagi menggunakan matanya, sambil membawa buku ditangannya dia begitu serius membaca dan menelusuri lorong sekolah ketempat kesukaannya. “Permisi” sapa seseorang, Askana pun berhenti, “iya” ucapnya datar.  “kenalin gue Ghalibie anak baru disini, lo tau kelas XI IPA 1 ga? “oh iya diujung koridor sebelah kiri, ada tulisannya kok” ucap Askana. “okey makasi ya!” Askana hanya membalasnya dengan senyuman. Tanpa memperdulikan cowok tersebut diapun lalu.

            Tempat favorit yang dia tuju adalah sebuah pohon flamboyan yang sangat besar berusia puluhan tahun berada di belakang sekolah. Disinilah tempat yang selalu menjadi persinggahannya dan menjadi teman curhatnya ketika makhluk hidup disekelilingnya tak sanggup memahami beratnya kehidupan yang harus dijalaninya. Pohon flamboyan ini sangat besar diameternya akan cukup untuk duduk dua orang saling membelakangi tanpa saling tahu, Fla begitulah Askana memanggilnya. Diapun duduk bersandar di pohon itu, belajar tentang bagian bab yang tidak ia mengerti. Askana adalah pendiam yang sering menyendiri, karena terkadang teman-temannya yang mayoritas adalah orang kaya tidak memahami tentang kehidupannya. Kemudian dia menutup buku fisikanya, “Fla, kamu baik-baik sajakan hari ini?” “kamu udah makan belum? Aku bawa bekal tuh, nanti siang kita makan berdua ya. Fla aku lagi bingung nih, SPP ku belum dibayar, tapi ga mungkin minta Ibu, aku ga tega, dia sudah sangat bekerja keras untuk kami bertahan hidup. Fla, aku pengen kerja, ngajar anak SD juga tak apalah, asalkan bisa kutabung uangnya untuk bantu Ibu bayar SPP. Tapi siapa coba yang mau mempekerjakan anak kelas dua SMA?”. Pohon Flamboyan itupun hanya menggoyang-goyangkan dahannya yang tertiup angin, tapi bagi Askana itu sudahlah cukup menjawab semua kegelisahannya.

            Teriknya sang raja siang tidak menghalanginya untuk mengayuh sepeda kesayangannya menelusuri jalan untuk pulang. Sesampainya di gang depan rumahnya dia menemukan selebaran, “Subhanalloh!” pekiknya, Alloh telah menjawabnya. Diapun mengambil selebaran itu dan menghubungi nomor telfon yang tertera. “Assalamualaikum” ucapnya, “Waalaikumsallam” ucap suara di sebrang telfon. “saya Askana bu, apa benar ibu sedang membutuhkan guru privat untuk anak ibu?, jika benar saya bermaksud mendaftar.” tanya Askana, “iya benar mbak, langsung saja besok ke rumah ya jam empat sore, denah lokasinya ada di selebaran kok, nanti saya jelaskan lebih lanjut di rumah, bisa mbak? “iya bu tentu saja terima kasih” , matanya berkaca-kaca, hanya senyuman yang dapat mewakili betapa bersyukurnya dia hari itu, “Alhamdulillah ya Alloh”.  “Aduh!” terdengar suara lelaki kesakitan, Askanapun lansung berlari mencari asal suara tersebut, namun tidak ditemukannya, yang dia temukan hanyalah pena hitam bertuliskan “G” di batangnya.

            Esok hari setelah pulang sekolah dia langsung menuju alamat yang tertera dalam selebaran tersebut. Rumahnya luas dan sejuk, dihiasi pohon-pohon besar nan rindang, dikelilingi oleh pagar hidup. Rumahnya bergaya jawa yang klasik, banyak ukiran khas jepara disana-sini. Pastilah orang yang punya rumah memegang teguh kebudayaan jawa, pikirnya. Setelah memarkirkan sepedanya dia mengucapkan salam, “Assalamualaikum”, tak lama kemudian pintuyang berbentuk gebyok itupun terbuka. “Waalaikumsalam, Askana ya? Saya ibu wibowo, Ayo masuk” ucap ibu itu ramah. “silahkan duduk, sebentar ya ibu panggilkan Ozi yang akan nak Askana ajar”. Askana hanya tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian, ibu itupun kembali membawa seorang anak lelaki, “kenalkan nak Askana ini Ozi anak saya, langsung diajar saja, keputusan diterima atau enggaknya nanti saya kabarkan setelah Ozi memberi komentar, karena jika dia nyaman maka akan lebih mudah untuk menyerap ilmunya” ucapnya. “baik bu” jawab Askana. Kemudian mereka duduk disalah satu gazebo rumah dan acara ngajar mengajar itupun dimulai.

            Malam itu Aksana bemunajat kepada Alloh semoga usahanya kali ini diberikan kemudahan dan kelancaran, lalu membaringkan tubuh kecilnya. Karena kelelahan, pagi itu Aksana kesiangan, Ibunya juga tak tega untuk membangunkannya karena tidurnya begitu pulas. Dia kemudian bergegas dan mengayuh sepedanya sangat kencang, sesampainya di sekolah diapun langsung lari dan tidak melihat seseorang tepat di belokan koridor, Brruuukk!! merekapun jatuh. Malang nasib Aksana yang dia tabrak adalah anak yang terkenal angkuh dan sombong karena kekayaanya, Monalisa. Aksanapun seketika menolong dan meminta maaf padanya, tapi bukannya berterima kasih, Monalisa malah menampar Aksana, tapi sebelum tangan itu sampai menyentuh pipi Aksana, telah dipegang oleh Ghalibie. Aksana hanya terkesima melihat kejadian yang baru saja dia saksikan, dia tidak menyangka Ghalibie akan menyelamatkannya. “jaga sikap lo, ini sekolah ” ucap Ghalibie sinis kepada Monalisa. Belum sempat hilang rasa herannya, tiba-tiba tangan Ghalibie telah meraih tangannya, menggandeng Askana menuju kelas mereka.

            Tepat di depan kelas Ghalibie melepaskan tangannya, memutar badan  menyentuh kedua pundak Askana dan menatap dalam ke matanya, “kamu ga apa-apa kan?” ucapnya lirih. Askana tak mampu mengucapkan sepatah katapun ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.

            Dengan langkah gontai mereka masuk ke dalam kelas, diiringi puluhan pasang mata yang menatap heran dengan kedatangan mereka berdua. Askana tidak memperdulikannya dia langsung duduk di bangkunya cuek dengan keadaan sekitar. Dia malas memikirkannya, lebih baik otaknya ia gunakan untuk memikirkan materi pelajaran yang belum dimengerti. Seketika kelas menjadi riuh rendah, seisi kelas saling berbisik membicarakan apa yang mereka lihat pagi tadi di depan kelas mereka, ya apa yang dilakukan Ghalibie dan Askana.

            Seperti biasa ketika waktu istirahat tiba, Askana menuju tempat peraduannya, dia akan bertemu sahabatnya, Fla.  Dia berbincang dengan Fla, atas apa yang terjadi pagi tadi, bagaimana Ghalibie menyelamatkannya dari tamparan Monalisa. Fla menjawabnya dengan menggugurkan bunga-bunganya yang berwarna oranye, menerpa wajah bahagia Askana.

            Monalisa tidak bisa begitu saja melupakan kejadian pagi tadi, dia menaruh dendam pada Askana yang lolos dari tamparannya. Dia tidak mau terlihat lemah dan tidak berdaya, di mata gadis miskin itu. Dia berencana jahat untuk merusak sepeda Askana. Rencana jahat itu dilakukan pada jam istirahat kedua, ketika semua orang sibuk untuk ke kakantin dan sholat dzuhur. Dia menyuruh teman laki-lakinya untuk membocorkan kedua ban sepeda Askana. Dia hanya menyeringai puas, karena rencananya berhasil. Tapi, dia tidak menyadari dari kejauhan ada sesosok cowok yang mengintai apa yang sedang dilakukan teman lelaki Monalisa itu.

            Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar ruangan. Askana keluar paling terakhir, dia malas untuk berdesak-desakan dengan teman-temannya, lagipula dia menyukai keheningan. Ketika keluar dari kelas dia menemukan sebuah buku jatuh, diapun memungutnya kemudian membukanya untuk mengetahui siapa pemilik buku itu. Belum sempat membukanya, Riuza langsung mengambil buku itu dari tangannya. “ini buku gue, makasi udah ngambilin” ucap Riuza sinis, kemudian dia pergi begitu saja diiringi tatapan mata heran Askana. Tempat parkir kendaraan siswa telah sepi, hanya terlihat beberapa mobil milik siswa yang mengikuti ekstrakulikuler dan sepeda mini milik Askana. Dia begitu heran ketika melihat sepedanya, “ada yang aneh” pekiknya. Kemudian dia menyentuh kedua ban sepedanya, “baru?” ucapnya lirih. Dia mengendarai sepedanya dengan seribu pertanyaan yang ada dibenaknya, mengapa ban sepedanya baru? Apa mungkin ini bukan sepeda mini miliknya? Ah bukan! Tentu ini miliknya, karena hanya dia yang mengendarai sepeda mini di sekolah ini. Lalu siapa dan mengapa ada orang yang mengganti ban sepedanya, padahal keduanya dalam kondisi yang baik, pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir di benaknya. Tanpa ia sadari, ada yang memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum mengembang dari bibirnya.

            Sesampainya dirumah dia langsung berganti pakaian dan segera membantu ibunya untuk memasak, kukuruyuuuuukkkk…. Terdengar dering hape miliknya, ada sms rupanya,

            Mulai besok Askana bisa ngajar Ozi, seminggu 3x. dibayarnya setiap minggu 100rb ya nak, terima kasih loh sebelumnya, Ozi senang sekali diajar kemarin. Ibu Wibowo.
Melihat isi pesan tersebut senyum mengembang dibibir Askana matanya berkaca-kaca, kemudian dia lari memeluk ibunya. Ibunya hanya heran melihat tingkah anak tunggalnya ini, dia hanya tersenyum.

            Kegiatannya kini bertambah, sepulang sekolah dia harus datang kerumah Ozi untuk mengajarnya, tetapi Ozi adalah anak cerdas dan juga menyenangkan. Askana dapat melupakan masalah hidupnya untuk beberapa saat, tingkah lucu dan kepolosan Ozi kini yang menjadi hiburannya, lambat laun Askana dapat tersenyum dan sesekali tertawa melihat tingkahnya.

            Sore sepulang sekolah, Askana bergegas ke rumah Ozi karena dia sangat kuatir akan mendung yang tiba-tiba menutupi cerahnya sore itu. Dia lupa membawa payung ataupun jaket. Jadi dia terburu-buru mengayuh sepedanya supaya sampai di rumah Ozi sebelum hujan turun. Namun, naas baginya, langit sedang tak bersahabat. Butiran hujan turun dengan deras, memaksa Askana untuk menghentikan laju sepedanya dan berteduh. Kemudian dia menghentikan sepedanya tepat didepan teras sebuah toko, ada beberapa orang juga yang sedang berteduh. Langit mulai gelap, namun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dia telah menghubungi ibu wibowo bahwa dia akan datang terlambat karena terjebak hujan. Askana menengadahkan tangannya dan menatap langit, “masih deras,” pikirnya. “kak, kakak mau pergi apa?” ucap seorang anak kecil disampingnya. Anak kecil itu menyunggingkan senyumnya, “iya dek, kenapa?” ucapnya ramah. Anak itu kemudian menyerahkan payung motif  bunga berwarna merah muda dan sebuah jaket biru torqua ke tangan Askana. “ini buat aap, belum sempat Askana menyelesaikan ucapannya, anak itupun lari menerobos hujan. Askana hanya menatap bingung pada kedua benda yang sedang dipegangnya, dengan ragu dia membuka jaket itu untuk memakainya, ada secarik kertas jatuh dari lipatan jaket. Dia membuka kertas lipatan yang berwarna biru muda itu dan membacanya.

            Pakailah! Lindungi tubuhmu dari derasnya hujan. Aku tak mau melihatmu sakit.

Kertas itu bagai surat kaleng, tak ada nama maupun inisial di belakangnya. Askana hanya tersenyum dan menyimpan kertas itu di saku rok abu-abunya. Kemudian dia memakai jaket dan payung itu untuk pergi ke rumah Ozi. “makasi ya kak” Ucap anak kecil tadi kepada seorang cowok tinggi dengan jari-jari yang panjang yang menyuruhnya untuk memberikan jaket dan payung kepada Askana.

            

Friday, 11 July 2014

Kebrings : The last day Journey to Palembang

           Perjalanan hari kedua ke palembang, hari ini kita bakalan menjelajah Pulau Kemaro kata orang-orang sini sih, kalo dateng ke Palembang kudu harus wajib dateng ke pulau ini, karena pulau ini juga salah satu ikon Kota Palembang. Kali ini kita cinta perbedaan kita gak pake baju seragam lagi gais, udah bauk gitu bajunya. Perjalanan diawali dengan mengendarai angkot menuju pinggir sungai Musi, karena Pulau Kemaro itu ada di tengah Sungai Musi. Di pinggir sungai ini banyak banget perahu-perahu nelayan ada juga perahu-perahu wisata, dari mulai yang pake mesin jet gitu yang bisa 80km/jam sampe perahu yang pake mesin motor biasa yang jalannya pelan banget pengen rasanya gue dorong deh saking leletnya. Dan anehnya kami pilih perahu yang jalannya Naudzubillah leleet pol. Lo tau alasannya gais? Murah, Kalo mau bagpackeran jangan sok deh, pake alat transportasi itu yang paling murah, kalo bisa gratis malah. Berhubung dan di hubung-hubungkan kita bertujuh karena Hada udah pulang duluan gak bakal kan dapet tebengan mamangnya, sampai Kemaro gratis jadi cari yang murah.

            Perahu yang kami tumpangi ini sangat sederhana sekali, atapnya dari terpal yang disangga dengan kerangka besi yang sudah tua dan berkarat, miris ya, ya lo jangan ekspresinya gitu banget bacanya. Kami gakpapa kok waktu itu kami gak berasa gimana-gimana ko cumvah, kami enjoy the day banget. Untungnya pagi itu gak ujan ya, soalnya agak menghawatirkan atap terpalnya itu ada yang bolong sana-sini, bisa-bisa kami tenggelam kan karna air hujan masuk ke perahu semua. Angin sepoi-sepoi, kicauan kami tak henti-hentinya mengomentari semua yang ada di sepanjang penglihatan kami. Di sungai ini ada seperti Pom bensin gitu apung, ada rumah juga, toko kelontong, ada masjid apungnya juga. Kami juga sempat melihat semacam pabrik besar dengan kepulan asap memenuhi udara dari cerobong-cerobong asapnya, tapi juga gak tau itu pabrik apa. Yang miris ketika kami lihat di pinggiran sungai adalah rumah-rumah penduduk yang kumuh, seperti penyakit daerah pinggiran sungai-sungai yang lain di Indonesia, sama seperti juga disini, rumah kumuh, sampah berserakan dan air sungai yang menguning. Bahkan jembatan Ampera yang gue lihat pas malam itu sungguh indah tanpa cela ya, pas lo liat siang hari ternyata menipu. Jembatan Ampera ini seperti tak dirawat, catnya sudah tak merah lagi, orange. Warnanya telah pudar karena terpapar sinar matahari setiap hari, Jembatan yang layaknya menjadi Ikon Kota Palembang yang harusnya dijaga dan dirawat ini terlihat begitu memelas, kalo aja dia bisa ngomong dia akan bilang “cat aku, cat aku pak gubernur, kulitku udah kering nih gak pernah di cat udah lama”. Dulu Jembatan ini bagian bawahnya bisa terangkat gais, kaya jembatan di kota kelahiran gue London *mukasongong, tapi seiring berjalannya waktu sungai yang pada masa keemasnnya adalah pusat lalu lintas perdagangan lambat laun surut, sehingga tak banyak lagi kapal-kapal asing yang berlalu-lalang, jadi agak seret gitu kali jadi ga bisa diangkat lagi. Sejarah pembuatannya juga cukup ngeri, jembatan ini dibuat oleh bangsa Jepang dan memakan banyak korban jiwa dari warga pribumi pada masa pembuatannya.

            Walaupun kami menggunakan kapal yang lemot, tapi kami tahu cara menikmati hidup, terkadang perahu dengan mesin jet lewat, dan kami menyeru kepada mamang perahunya supaya perahu didekatkan ke  jalur perahu jet, ketika perahunya lewat, gelombang-gelombang yang cukup untuk menggoyangkan perahu keong kami berlarian, disaat itulah kami menghayal sedang naik Roller Coaster air haha itu kami lakukan berkali-kali sampai perahu kami bertambat pada dermaga Pulau Kemaro. Dari gerbangnya aja gue liat pengaruh kebudayaan tionghoa memang sangat memengaruhi arsitektur di pulau ini, gerbangnya di hiasi naga-naga yang di cat merah. Ketika kami memasuki lebih dalam, kami melihat makam yang dihiasi ornamen khas cina, menurut keterangan warga setempat, kedua makam itu adalah makam penemu pulau ini. Ketika kami berkeliling kamipun mengambil foto dan ada sebuah batu besar yang terukirkan sebuah kisah tentang pulau ini, berbunyi :

              Ada seorang putri raja bernama Siti Fatimah, yang dipersunting oleh saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada zaman Kerajaan Palembang, Siti Fatimah diajak kedaratan Tiongkok untuk melihat orang tua Tan Bun An setelah disana beberapa waktu Tan Bun An beserta istri pamit pulang ke Palembang dan dihadiahi 7 (tujuh) buah guci, sesampai di perairan Musi dekat Pulau Kemaro Tan Bun An mau melihat hadiah yang di berikan. Begitu dibuka Tan Bun An kaget sekali isinya sawi-sawi asin tanpa berpikir langsung dibuangnya ke sungai, tapi guci yang terakhir jatuh dan pecah di atas dek perahu layar, ternyata ada hadiah yang tersimpan didalamnya, Tan Bun An tidak banyak berpikir dia langsung lompat ke sungai untuk mencari guci-guci tadi, seorang pengawal juga terjun untuk membantu melihat 2 (dua) oarng tersebut tidak muncul Siti Fatimahpun ikut melompat untuk menolong, ternyata tiga-tiganya tidak muncul lagi, penduduk sekitar mendatangi Pulau Kemaro untuk mengenang tiga orang tersebut dan tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang keramat sekali.
          Anggapan masyarakat inilah mungkin yang kemudian menimbulkan kesan mistis ketika menginjakkan kaki di pulau ini. Kami begitu tertarik ketika dari kejauhan terlihat seperti pagoda dengan warna-warna yng indah, kamipun segera menghampirinya. Dari dekat pagoda ini ternyata jauh lebih indah, tapi sayangnya pagoda ini  sedang direnovasi jadi kami tidak diperbolehkan masuk. Pagoda ini berbentuk bangunan segi empat beratap tumpang, atapnya terdiri dari delapan tingkatan. Angka delapan ini dipercaya sebagi lambang dari kesempurnaan, sesuai dengan kepercayaan tionghoa, warna merah muda dan merah mendominasi bangunan ini. Atapnya berbentuk segi lima, pada pintu pagoda ada dua ekor naga berwarna hijau dengan mulut ternganga yang siap menyambut siapa saja yang masuk. Selain tempat untuk berwisata, pagoda ini juga sebagai tempat ibadah agama Budha. Hal ini terlihat sekali dari bagian depan Pagoda yang menjorok kesungai, banyak patung dewa-dewa khas agama budha, yang gue tau sih Dewi Quan In doang, itu juga karna sering nonton Sun Go Khong, setelah puas berfoto-foto ria, kami juga menyempatkan diri foto dengan kedua patung panda yang sedang berpelukan, yup gak ada secuil tempat dari pulau ini yang tak terjamah oleh kami, sampai patung Budha emas yang berdiri kokoh di depan Pagodapun kami ajak buat selfie.

            Setelah lelah menjelajahi pulau ini kamipun kembali menggunakan perahu kami tadi, kami akan melanjutkan perjalanan ke pusat kota Palembang. Lo pergi ke suatu tempat tanpa mengunjungi museumnya, pasti kurang banget gais, inget kata Presiden Soekarno Jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) karena peradaban yang lo liat sekarang, kemajuan budaya yang lo alamin sekarang, gak bakalan lo rasain tanpa perjuangan pahlwan-pahlawan dan orang-orang terdahulu sob, so jangan lupa kunjungi museum ya. Museumnya berada tepat disamping Jembatan Ampera, Museum Sultan Badarudin II namanya, ketika kami masuk, ternyata harga tiketnya beragam, kalo lo anak SMP Rp1000, SMA Rp 2000 dan kuliah Rp 3000. Kalo gue saranin ya biar murah besok kalo lo mampir kesitu jangan lupa bawa kartu OSIS SMP biar bayarnya Cuma seceng coy, mayan kan sisanya bisa buat beli cilok haha. Dari museum kita tau banyak tentang adat budaya Palembang, baju adat, rumah adat, sejarah sampai maxiatur duit juga ada, pokoknya lengkap deh. Usut punya usut ternyata bangunan yang dijadikan museum ini awalnya adalah rumah dari sultan, wow keren ya. Pantes bangunanya udah tua gitu, gak Cuma isinya, gedungnyapun bersejarah. Disamping lo bisa ningkatin wawasan, museum adalah tempat yang pas buat cari oleh-oleh, disini lo bisa beli baju bertuliskan I LOVE PALEMBANG, peci adat ada atau sekedar gantungan kunci yang ceban dapet sepuluh, yang dipake langsung koyak haha.

            Dari museum kami bergeser sedikit ke utara, yup kami melihat benteng, benteng ini namanya kuto besakh, dulu tempat pertahanan orang Palembang kalo lagi degempur sama musuh, yang kami liat Cuma benteng doang sih tembok tinggi bercat putih gitu, ya namanya juga benteng, mau bentuk apa yang lo arepin? Tak terasa sore telah menjelang, ternyata sore hari seperti ini, ada pasar kaget di bawah Jembatan Ampera banyak orang jualan, ada baju-baju bataman, pernak-pernik dan lain-lain. Salah satu program yang bagus dilakukan oleh pemerintah Kota Palembang, Jembatan Ampera sebagai ikon juga sekaligus tempat bertransaksi, sehinggi turis yang datang disini dapat dimanjakan oleh berbagai kerajinan tangan khas Palembang yang di jual di Pasar kaget ini. Ketika matahari tenggelam dan hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu, haha pas malemnya di tempat yang sama ternyata sedang ada semacam Lampung fair gitu, ada pameran, rumah hantu, pasar malam dll. Karena duit sudah mulai nipis, alhasil kami Cuma berkeliling-keliling aja gais, abisnya gue ngajakin kerumah hantu gak ada yang mau, masih trauma sama rumah hantu yang di Lotus. Tips dimanapun kalian berada, ketika lo di tempat ramai kaya gini, jangan lupa hape dompet diamankan, tas taro depan. Lebih aman lagi kalo lo pake tas ransel trus lo taro depan. Malam itu hape dan dompet kami dikumpulkan di tasnya Paijo, karena dialah satu-satunya lelaki di kelompok kami, tasnya juga anti copet, sapa yang berani nyopet dia, badan udah gede gitu. Gue juga pake tas Sereen, gimana gitu rasanya kalo ga pake tas, tapi tasnya Sereen gue taro di belakang karena isinya Cuma botol-botol air mineral. Pas gue lagi jalan santai gitu, tetiba ada ibu-ibu mepetin gue gitu, awalnya gue pikir ya wajarlah mungkin berdesak-desakan kan, karena pengunjung yang lumayan bejibun. Tapi setelah jalanan agak longgar ibu-ibu ini tetep aja mepetin gue, karena gue risih kan ya gue planting aja tu ibu-ibu, “ngapain sih bu!” ucap gue setengah teriak. Dengan selonong boy ibu itu pasang muka inosen terus pegi gitu aja, tanpa nengok sedikitpun. Ibu itu berambut pendek, orangnya berperawakan kecil tapi gak mungil loh ya, berusia sekitar 40 tahunan. Ati-ati kalian kalo ketemu sama ibu-ibu dengan ciri-ciri diatas, Danger!. Kemudian gue berinisiatif buat meriksa tas, ya ampun ternyata tas gue udah dirobek sebesar sejengkal tangan, “Ah, untung isinya botol air mineral doang” ucap gue kalem. “sobek run?” aduh hape gue didalem lagi!” ucap Sereen panik. “nah bukannya tadi semua hape sama dompet dititipin di tasnya Paijo ya?”, “iya tadi kan abis telpon minak (red: Bapak dalam bahasa Lampung) trus gue taro tas ini”. Sereen pun langsung merogoh semua isi tas, dan untung hape masih utuh tanpe lecet sedikitpun.

            Besok adalah hari terakhir kita di Palembang, meninggalkan Paijo dengan studinya, malam ini kami menyelesaikan misi perjalan di bawah cahaya rembulan Langit Palembang dan mengabadikannya di kamera. Setelah selesai, kamipun kembali ke peraduan kami, Pondok Asri. Malam itu kami kalut, uang semakin menipis, hanya cukup untuk naik kereta, ada sisa tapi Cuma sedikit. Guepun langsung telpon bokap gue buat minta kiriman uang, dan dijanjikan besok siang akan ditransfer.

            Di hari terakhir ini kami menyempatkan diri mampir ke salah satu taman di pusat Kota Palembang, yang menjadi tempat anak-anak gaulnya Palembang nongkrong. Namanya Kambang Iwakh seperti taman pada umumnya, dihiasi banyak pepohonan, ditengah taman ini ada semacam danau kecil dan ditengah-tengahnya terdapat jembatan. Disekeliling danau terdapat track buat orang-orang yang jogging, yup taman ini bukan tempat anak nongkrong doang kok. Banyak juga ibu, bapak, sanak-saudara yang kumpul di taman ini buat jogging bareng. Di antara pepohonannya juga ada tali-tali untuk flying fox, ya walaupun udah rusak gitu deh. Di bagian depan tamannya ada tanah lapang yang lumayan luas yang dilapisi keramik kasar, tempat anak-anak sketboard berkumpul. Setelah itu kami menikmati pempek Candy, jangan ketinggalan kalo lagi liburan ke Palembang. Pempek ini sangat terkenal seantero Palembang, karena rasanya yang hhmmm yummy banget. Tapi ya harga bawa rasa guys, mehong cyiin, tapi beneran enak kok cumvah.

            Abis nelpon bokap, senyumpun tersungging dibibir gue, duit udah dikirim coy, mayankan buat beli oleh-oleh, kapan lagi bakal ke Palembang coba. Guepun cari ATM paling deket, tapi adanya di dalem PIM. Cus langsung gue kesana, dan lagi-lagi cobaan hidup menghadang, kadang gue berpikir, apa ini karna bokap gue ga restui gue kesini makanya sial terus. Yup, ATM gue KEBLOKIR! Bertubi-tubi gini gue, abis aja seneng, udah sedih lagi coba. Untungnya tak jauh dari PIM ada Kantor cabang bank, jadi gue langsung kesitu dan minta buka blokiran. Dan apa yang terjadi gais? Udah jatuh ketimpa tangga ketiban duren pula palak barbie ini. Blokiran ATMnya gak bisa dibuka karena KTP gak ada, shit man! Sial banget. Kata mbaknya sih bisa asalkan bawa buku tabungannya bisa dibuka blokirnya, ya ada sih buku tabungannya tapikan di rumah, mana kepikiran gue liburan bawa-bawa buku tabungan. Harapan guepun pupus sudah, kecewa boy awecek aug.

            Dengan muka kecewa dan sungguh tak percaya, guepun balik ke Pondok Asri bareng temen-temen gue, kami mau beres-beres barang karena siang nanti kami bakalan balik lagi ke kampung halaman. Dengan wajah yang lunglai kami membereskan barang-barang kami, antara lelah dan duit yang menipis.

            Siang itu kami berangkat ke Stasiun Kertapati, diantar oleh Paijo. Ersa dan Lili masuk ke dalam untuk memesan tiket, kami menunggu di luar menjaga barang-barang. Tak lama kemudian Ersa dan Lili datang dengan muka lesu, ternyata tiket kereta pemberangkatan siang ini telah ludes karena weekend ada lagi malam, sedangkan duit udah gak memungkinkan lagi buat kita mempertahankan hidup buat sekedar beli makanan di negri orang. Akhirnya Lita mengusulkan untuk kita naik travel saja, sebenarnya kami enggan karena lebih mahal berkali-kali lipat. Kami juga takut karena kami wanita semua, enak dia kan mampir ke tempat bapaknya kerja di Palembang juga yang kejangkaunya Cuma bisa kalo naik travel. Namun tak ada pilihan lain, setelah tawar-menawar yang alot, Lita mendapatkan satu travel di sekitar stasiun yang memungkinkan kami berenam naik. Kami berdo’a sepanjang jalan, isi travelnya laki semua gais, mana lewat jalannya yang sepi, lewat hutan dan sawah-sawah, rumah pendudukpun masih jarang-jarang. Entah pikiran waktu itu sudah melalang buana, mungkin kalo udah sampai Lampung dengan selamat kita bakalan syukuran. Buat kalian yang kalo pengen liburan biar gak terjadi hal yang sama kaya kami, pesen tiket jauh-jauh hari ya di Alfamart kalo ga searching di Internet.

Malam itu kami berhenti di sebuah Rumah Makan Padang bertuliskan “Siang Malam”, supir dan satu temannya langsung menuju ke bagian belakang khusus supir, katanya sih makan gratis gitu karena udah bawa penumpang. Rumah makan ini besar banget, ada puluhan meja bulat yang terisi 6-8 kursi, dan bisa di bilang rumah makan mahal.kamipun langsung mencari meja yang berkursikan 6, semua makanan di hidangkan di meja kami. Duit tinggal Rp 30.000 sedangkan mulut orang enam harus terisi. Dan lo taukan berapa banyak nasi di rumah makan padang begini, dikit men. Akhirnya kami makan itu udah kaya iklan rokok, ambil nasinya sama kuahnya dituangin, lauknya kami ambil yang paling murah, sayur daun singkong yang dikit banget itu sama ayam di bagi untuk orang 6, ayamnya udah irisan lagi, wah pedih banget malam itu. Lauk segitu menggoda di atas meja dan hanya itulah yang kami makan. Ersapun tak kuasa menahan tangis, “baru kali ini gue makan ayam semiris ini”, ucapnya sambil meneteskan air mata.  Kami makan dalam kepedihan dan diam, Lita kemudian mengambil sebuah jeruk, “awas kalo harga satu jeruk itu goceng ta!” teriak Lili. “Enggak mungkinlah”, jawabnya. Alhasil buah jeruk yang gak seberapa itu dibagi untuk enam orang, sekedar cuci mulutlah. Setelah selesai, kami mendapatkan struk, dan betapa kagetnya kami harga  sayur daun singkong yang sedikit banget itu 8 ribu dan beneran harga jeruk tadi goceng, Alloh.

            Kamipun melanjutkan perjalanan dengan keheningan yang lain, keceriaan telah meninggalkan kami. Banyak penumpang yang telah berhenti, dan tak lama kemudian Lita juga berhenti di Perusahaan tempat bapaknya bekerja. Tinggalah kami enam orang dengan dengan supir dan temannya. Perjalanan malam ini lebih-lebih menyeramkan, jalan yang gelap kami lalui, jalanan rusak juga. Untuk menutup mata guepun tak kuasa. Gue harus selalu siaga.

            Finally perjalanan ini usai, Alloh telah menjaga kami selama disana, tugu selamat datang di Kota Bandar Lampung telah menyapa, Ersa bersama Lili berhenti di kontrakan Lili dengan Inar juga. Gue berhenti di depan Ramayana Karang bersama Sereen, yang kemudian di jemput kakak iparnya. Perjalanan ini gak bakalan gue lupa, kesialan-kesialan ini bakalan gue inget, kebersamaan kalian, canda-tawa kalian, perjalanan ini bakalan jadi kenangan yang gak mungkin bisa gue lupa, kenekatan di awal semester. Thanks for being my very good friends guys! Kebrings: I love you damn much!
           

            

Wednesday, 9 July 2014

Kebrings: Journey to Palembang part 3

            Dini hari itu taxi mengantarkan kami tepat di beranda Pondok Asri, pondokan ini bisa disebut sebagai sebuah motel karena seperti hotel yang berukuran lebih kecil. Motel ini didesain minimalis elegan ya cocoklah dengan jiwa muda kami yang simple. Lili dan Ersa lalu bergegas memesan satu kamar dengan dua kamar tidur untuk kami berenam, maklumlah mahasiswa duit tipis coy. Untungnya masih ada kamar yang tersisa untuk kami, karena sekarang sedang musim liburan. Setelah kamar dipesan kami langsung masuk dan menaruh barang-barang kami. Ternyata rasa lapar mulai merayapi kami, kemudian kamipun keluar untuk mencari makan. “bawa KTP gais, di negri orang ini kalo ada apa-apa tengah malem pula kan”, nasihat Lita. guepun segera mengambil KTP dari dompet. Karena gue gak bawa dompet, makanya KTP gue kantongin di kantongan celana bagian belakang sebelah kanan, sekalian KTP Lita yang kebetulan gue bawa.

            Inget banget gue jalanan palembang malam itu, gue lewat diantara gedung-gedung tinggi lalu masuk gang tikus, banyak wanita PSK dan om-om hidung belang sedang tawar-menawar di pinggiran jalan. Antara miris bercampur ngeri untuk pertama kalinya gue lihat pemandangan yang begini, malam itu sunyi banget. Cuma mereka wanita-wanita malam berpakaian seksi yang ada di luar. Kami jalan bergandengan dua-dua, gue sama Sereen dan kami saling bercengkraman, banyak do’a-do’a kami lafadzkan agar Alloh SWT senantiasa menjaga kami dari segala sisi. Kami berjalan kian cepat, untuk menghindari pemandangan yang tak mengenakan itu.

Karena tengah malam banyak tempat makan yang tutup, hanya ada satu warung sate madura yang masih buka, lumayanlah daripada gak ada makanan. Nyatanya rasa lapar telah menguatkan kami. Kami begitu kelaparan, malam itu kami makan seperti telah tidak makan berhari-hari, mungkin ini efek kecape’an juga kali ya gais. Setelah selesai, kami langsung kembali ke motel untuk mengistirahatkan diri, melepas lelah. Kami mencari jalan lain yang lebih ramai untuk menghindari pemandangan yang tidak mengenakkan tadi. Setelah sampai di receptionist motel, “gais periksa KTPnya!” teriak Lili. Dengan santai guepun merogoh kantung celana gue untuk mengambil KTP. Tapi apa yang terjadi gais, gak bakalan bisa lo bayangin, gue terpaku dengan tatapan nanar! Gue gak percaya dengan apa yang sedang gue alamin ini, KTP gue hilang! Udah gue cari kekantung celana bagian depan kanan-kiri yang belakang juga sampe kantong celana temen gue juga gue rogoh, kantung celana mas-mas OB juga haha gak gitu banget kok, gak ada gais. Gue udah linglung! Bingung mau ngapain lagi, ini di tempat orang dan KTP gue ga ada, karena KTP gue sama punya Lita jadi satu makannya punya do’I ilang juga. Gileee… udah berasa jatuh ketimpa tangga gini gue. Karena yang lain telah lelah dan mungkin kalo gue paksain buat tidur juga gak bakalan bisa tidur, akhirnya gue dan Lita cari itu KTP, gak mungkin banget kan gue pergi Cuma dua orang aja kaya duo racun ntar, so gue minta tolong mas-mas OB yang gue rogoh kantongnya tadi buat nemenin gue nyari itu KTP.

            Setelah perjalanan panjang nan melelahkan sampailah kami di warung sate yang kami kunjungi tadi, tanpa babibu lagi Lita langsung menanyakan keberadaan KTP kami. Dengan muka yang mencurigakan mas-mas penjual sate langsung merogoh sesuatu diantara lapisan kertas nasi yang terletak di gerobak sate bagian atas, anehnya saat mengambil KTP tangannya seperti memilin satu KTP, gue jadi curiga. “ini mbak, ada KTP tapi Cuma satu tadi ada di atas meja” ucapnya. Gue Cuma memicingkan mata curiga, di atas meja? OMG! Gak mungkin banget. Gue kan ga naro tu KTP di atas meja, disenggol aja kagak bisa nyampe atas meja segala, lagian itu KTP dua loh di press lagi pasti nyatu kan, bisa cuman punya gue doang yang ilang, Shit!. Akhirnya dengan muka pasrah gue Cuma bisa bilang “iya, makasih mas” pake emot senyum J. “kalo misalkan nanti pas bongkar tenda nemu KTP gimana, mbak?, ada nomor yang bisa saya hubungi?” ucapnya lagi. Buseeetttt modus amat nih orang, tambah numpuk aja kecurigaan gue kan. Selam aug nam, kasih-kasih nomor HP, sama orang gak dikenal lagi kan. Karena gue Cuma bengong, Lita kemudian kasih nomor HP dia ke Mas nya itu. Dengan langkah lunglai kamipun pulang melewati jalan yang sama ketika kami pulang setelah beli sate, berharap KTP itu terjatuh di jalan itu.

            Malam itu gue gak bisa tidur, padahal gue udah nyobain caranya Mr.Bean kalo lagi gak bisa tidur, yaitu ngitungin buah-buahan, ya karena gak ada lukisan domba, ya gue pake lukisan yang ada aja buah-buahan, simple kan. Di tengah gundah gulananya gue temen-temen gue udah pada asik berlayar di pulau kapuk masing-masning, lah gue? Pilu gais, ada aja cobaan hidup. Tepat ukul 03.00 WIB HP Lita berdering. Terlihat Lita sedang bercakap dengan seseorang, kemudian dia menyerahkan Hpnya ke gue, gue Cuma kasih isyarat ke dia, “siapa?” “mas sate”, ucapnya. Nah kaya kena angin surga gue, akhirnya KTP gue ketemu, duuuh senengnya gue udah kaya anak SD yang baru dibeliin baju lebaran emaknya. Tapi senyum gue sirna seketika, setelah gue dengerin penjelasan panjang kali lebar mas sate, setelah tendanya dibongkar KTP gue tak kunjung ditemukan. Malah, mas satenya ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, nyanyi-nyanyi segala, karena gue orang baik yakan gak enak ati buat matiin Hpnya ya gue biarin aja tu HP tetep idup, masnya tetep ngomong tapi gue tinggal tidur, ZZzzz.

            Pagi menuju siang yang cerah, gue terbangun dengan keikhlasan yang memenuhi rongga dada gue. Iya gue ikhlas gue harus ikhlas, mungkin gue kurang sedekah makanya KTP gue ilang (nah lo, mana nyambungnya?). gue udah pasrahin diri sama  Alloh semuannya semoga di kasih ganti KTP yang lebih baik, Amin. Gue ikhlasin karena, hari ini akan jadi hari yang sangat panjang, kita bakalan keliling kota Palembang, yeeeeaayyy!.

            Setelah mandi dan beberes, kamipun siap-siap membuat peta perjalanan yang bakal kita lalui hari ini, biar kompak kami pake kaos seragam, agak alay ya, tapi ada tujuannya kok gais, kita pake kaos samaan biar kalo ilang enak nyarinya kan kaosnya sama, kita juga sengaja memilih kaos yang berwarna jreng, merah coy!. Destinasi pertama adalah cari makan, haha walaupun semangat berkobar-kobar tapi isi amunisi itu harus gais, biar gak gampang lelah. Karena kita di Palembang, cari sarapannya ya yang aslei sini dong, yaitu nasi gemuk. Penasaran banget gue tu nasi kenapa bisa jadi gemuk, kurang olahraga? Sering makan malem? Atau keseringan ngemil junkfood? Yup! Salah semua, dia gemuk karena gak kurus ckck. Jadi nasi gemuk ini sebenernya kalo di Lampung disebutnya nasi uduk, rasanya sama persis gais Cuma bedanya yaitu nasinya gemuk. Ada kerupukya, ada sambelnya ada kering tempenya juga, ya sebelas duabelaslah sama nasi uduk.

            Setelah perut telah penuh, kami memulai perjalanan hari ini ke PIM (Palembang Indah Mall) sebenernya sih Cuma ngesot sebrang doang dari nasi gemuk tadi haha, tapi disana ya kita gak beli apa-apa sih Cuma window shoping doang, ya itung-itung ngulur waktulah. Mau kemana-mana juga masih kepagian belom pada buka pastikan. PIM bisa dibilang salah satu Mall terbesar di Sumatera, barang-barang yang ada disana komplit banget, mulai dari baju tas, keperluan rumah tangga, barang elektroniknyapun banyak jenisnya, jadi kalo lo mau cari-cari barang elektronik terlengkap ya kesini aja harganya juga lebih miring kok (promo), tapi ya sebenernya sama aja sih kalo di itung-itung sama kalo beli di Lampung, lo kan juga harus ngitung biaya buat ke Palembangnya. Setelah langkah kaki mulai lele\ah untuk berjalan dan penguluran waktu telah selesai, kita pergi ke destinasi selanjutnya, yaitu ke stadion yang pernah jadi tempat terselenggarannya sea games, yup Gelora Sriwijaya. Kami kesana menggunakan angkutan umum ya semacam mikrolet begitu, disana ada juga sih kaya busway ijonya Lampung, Cuma kalo jalur yang agak masuk gitu gak kejangkau, alhasil kami naik angkot. Tapi lain halnya angkot disini, angkotnya pake mobil sejenis kijang begitu trus tempat duduknya ke arah depan semua.

            Tips nih buat kalian yang tertarik buat bagpackeran ke Palembang, mereka itu menjujung tinggi bahasa daerah, jadi kalaupun lo di ibukota provinsinya tetep pake bahasa daerah. Jadi pendatang tu kentara banget, biar lo gak kena cuno, kalo bagpackeran ngajak kawan yang bisa bahasa Palembang, dan kalian udah diem aja kalo temen lo lagi tawar menawar, sok-sok aja ngerti dan layaknya warga pribumi biar gak kena cuno. Nah setelah digoncang-goncang angkot unik ini, sampailah kita di Gelora Sriwijaya, Stadion Jakabaring. Karean di Lampung kan gak ada ya stadion seluas ini, jadi ya kita agak-agak Alay gitu poto-poto di depan, semua hal dipoto, setiap adegan pokoknya tidak boleh terlewatkan. Sampai temen gue lagi ngupil aja kepoto, lagi nungging dipoto, lagi mangap juga haha pokoknya kamera itu cepet penuh deh memorinya. Tapi gakpapa ini yang bakal jadi kenangan buat kita 20 tahun 30 tahun lagi bahwa kita pernah muda dan Alay. Hidup lo bakalan basi kalo lo ga pernah Alay, itukan salah satu siklus hidup manusia sih, bayi-remaja-alay-dewasa. Tips lagi kalo pergi bareng temen, jangan lupa bawa laptop, buat mindahin poto-poto lo, gak lucukan lagi asiknya poto eh tetiba memori abis, padahal pas nemu background  yang keci bet. Bawa batre dua juga, biar pas lowbat langsung ganti.

            Suasana Stadion pagi menjelang siang itu cukup sepi sedikit sekali pengunjung yang mengunjungi, mungkin karena bukan hari libur ya, tapi enak malah kalo lagi libur begini serasa stadion sendiri, lo mau jungkir-balik, koprol, roll depan, roll belakang juga gaka bakalan malu. Karena pintu utama tutup kemudian kami masuk lewat jalan samping, inget ya jalan samping bukan jalan belakang (red:Backstreet) haha gak boleh lewat jalan belakang, kualat nyar sama ortu. Setelah kita masuk kita Cuma bisa ternganga gais, jauh banget sama stadion Pahoman, bersih terus rumputnya ijoooo…. Banget pake penyiram otomatis gitu, jadi secara gak langsung kami melihat beberapa pelangi kecil yang tercipta dari pembiasan cahaya matahari. Sebelum kami menjelajah lebih dalam kami diberi pesan oleh petugas penjaga stadion untuk tidak menginjak rumput lapangan. Bisa lo bayangin gak betapa BETEnya kami waktu itu, heloww! Itu kan lapangan bola, pemain bolakan mainnya pada nginjek ya gak sih, salah ga gue? Kalo salah mohon dikoreksi dan di benarkan, gak salah kan? Pake sepatu yang lancip-lancip gitu lagi bawahnya. Haha, bukan kita tapi kalo keabisan akal. Karena gak boleh nginjek, yaudah kita merangkak diatas rumputnya haa, awalnya ajasih kemudian ya sudahlah tanpa sadar kami telah menginjak-nginjak rumput tersebut.

            Puas kami menelusuri tiap sudut stadion, duduk di kursi penonton sambil ngebayangin Sriwijaya FC lawan Timnas German lagi main disitu, haha khayal banget, coba-coba adu penalti dengan bola imajinasi yang kemudian gol dan terdengar riuh-rendah penonton dan kita lari-lari selebrasi yah sekelas pemain internasional gitu deh, duduk di kursi pelatih, lah pokoknya semuanya udah kita cobain. Cacing-cacing diperut telah bernyanyi, dan kita lapar lagi, dan lagi-lagi kami bingung mau makan dimana, kami putuskan untuk  naik angkot dulu baru nanti dirundingkan dijalan. Setelah panjang kali lebar ternyata rundingan kami tak menghasilkan apa-apa, kami turun dari angkot dan menelusuri jalan di sekitar bundaran air mancur masjid agung Palembang, ssambil memegani perut kami serta meringis menahan terpaan matahari, sumpah kaya anak ilang kita siang itu.

            Matahari begitu terik, kami segera memutuskan untuk masuk ke Rumah makan yang lumayan besar bertuliskan “Semarang” khas Jawa Tengah. Haha bukannya kami mencari makanan khas sini malah kami makan di Rumah makan asli jawa. Karena jam makan siang, maka Rumah Makan tersebut rame banget, kita udah lapar benget, kalo kalian mampir ke Palembang jangan lupa ke sini ya, tongsengnya enak banget, gue nemuin tongseng yang bumbunya kentel dan enak ya baru disini harganya juga masih tergolong murah kok, pokoknya cobain ajalah.

            Adzan dzuhur telah berkumandang, waktunya menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yup kita mampir ke masjid Agung Palembang, masjid ini lumayan luas, dengan arsitektur modern, berwarna hijau. Jadi masjid ini ada dua, ketika lo masuk maka lo akan berada di lapisan masjid yang pertama, kemudian ada ruang terbuka sekitar 7 m2 dan ada masjid inti gitu didalemnya.

            Kami melanjutkan perjalanan lagi mencoba khas kuliner Palembang yaitu Martabak telor india, karena jauh kalo harus muter arah, maka kami memutuskan untuk naik becak ke Martabak Indianya, setelah tawar menawar yang cukup a lot ya, lo bayangin aja deh masa naik becak doang sekitar 100 m ya 25 ribu. Mau jalan-jalan ke Paris apa gimana itu tukang becaknya? Akhirnya deal 15 ribu, yaudah kita udah nglah nih karena kita gak tau sebenernya kalo Martabak Indianya itu ternyata Cuma berjarak 100 m dari Pangkalan becak tadi. Tauk gitu gue kasih goceng kan, ya paling gak sepuluh ribulah, tapi anehnya nih bapak-bapak tukang becak kurang ajar, tau kali ya kita ini pendatang akhirnya dia tetep kekeh minta 25 ribu, padahal tadikan udah deal ya 15 ribu ckckck, gue pikir aja ya gini amat di Palembang, naik taxi diputerin biar bayarnya lebih mahal, naik becak gitu juga. Segala KTP dicri juga, buat apasih? Ini sebenernya apa kitanya yang begok apa gimana. 

            Yang lebih ngeselin mungkin Martabaknya ya, jadi inikan Martabak India gitu, ya gue sih juga belom pernah makannya jadi ya penasaran, dari saran Ersa lah kita mampir kesini. Kata doi kita bakaln nyesel kalo ke Palembang gak nyobain martabak yang satu ini. Setelah beberapa lama hidanganpun datang, jadi ternyata martabaknya ittu ya sama seperti martabak telor pada umumnya, cuman dikasih kuah kuning kentel gitu disediain di piring putih lagi gak tega gue mau makannya berasa liat ta*i. maleg banget. Kalo kalian penasaran ya silahkan cari dan cobain rasanya tu, bener-bener tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Martabak India tersebut adalah menu penutup perjalanan kita hari itu, eits jangan kawatir perjalanan buat hari esok bakalan gue lanjutin di part 4 nya, comment ya kalo asik J.

Thursday, 3 July 2014

Kebrings : Journey to Palembang part 2

         Karena kami ingin kelengkapan personil, maka Hada menyusul kami menggunakan travel, karena tak ada cara lain maka ya sudahlah. Tapi kelesuan kami hanya berlangsung beberapa menit, seakan lupa akan kekhawatiran dan ketakutan, kami bersenda gurau lagi. Sepertinya di dalam gerbong itu kami adalah satu-satunya kelompok yang sangat menikmati perjalanan ini. Stasiun Kotabumi telah di depan mata, Ersa sudah berada disana untuk menunggu kami. Akhirnya keretapun berhenti perlahan, kami saling mencari satu sama lain, Lili terlihat sibuk dengan handphone ditelinganya, menghubungi Ersa, sambil berjalan dari gerbong ke gerbong dan Lita menemaninya, Sereen dan Inar menunggu ditempat kami duduk untuk menunggu jika sewaktu-waktu Ersa datang, sekaligus menjaga barang-barang kami agar tidak dijarah. Sedangkan gue, keluar gerbong, turun ke stasiun kereta untuk mencari Ersa siapa tahu dia sedang menunggu kami jemput di luar. Suasana hiruk pikukpun terasa, seperti sedang mudik, banyak orang hilir mudik, keluar masuk kereta. Cangcimen…. Cangcimeennn… krepeeekk…kreepeeekkk… kreeepeeekkk… mizon….mizoonee…mizonnn.. sumpah gak suka banget gue suasana siang itu. Brisik, bau dan penuh dengan orang-orang berdesak-desakkan mencari tempat duduk. Terkadang ada orang tabrakan karena tidak ada yang mau mengalah, untuk masuk dan keluar kereta. Lucu, tiba-tiba senyum tersungging di bibir gue, inilah nikmatnya ngeteng, orang-orang disekeliling gue seakan berjalan slowmotion menunggu untuk senyumku pudar dan kembali ke alam nyata.

            Sangat sulit ternyata mencari orang di suasana yang seperti ini, gue ngerasa kecil banget, pendek sih sebenernya haha, ntah orang-orang ini makan apa bisa setinggi-tinggi ini. Jadi gue harus sedikit loncat, untuk melihat-lihat, barangkali gue nemuin Ersa. Bukannya Ersa yang gue temuin, tapi tunggu dulu, dua orang remaja disana terlihat gak asing di mata gue, yup! Mereka adalah kedua adik Ersa. Tanpa pikir panjang gue langsung pasang seribu langkah dan menghampiri mereka. “dek, Ersa mana?” tanya gue. “udah naik kak, tadi dianter mamah, cari kalian” ucap mereka berbarengan. Tak ayal guepun langsung balik lagi ke kereta, tapi ya lagi, karena gue pendek , eh bukannya gue yang kependekan deng, tapi emang tangga keretanya ketinggian. Jadi ya agak susah-susah manjah gitu naiknya, hihi.

            Okay, sekarang telah berenam, setelah kami meminta restu dan pamitan kepada mamahnya Ersa. Kitapun duduk manis, karena kereta telah berbunyi dan perjalanan sebenernya baru dimulai, aku siaaaappp!.

            Pada tiga jam pertama kami sangat riang gembira, nerocos sana-sini, sampe-sampe orang-orang di gerbong itu melihat kami dengan tatapan sinis. Mungkin terganggu ya karna kami ribut mulu, sampai ada seorang penumpang yang menananyakan kepada kami, kalo kami dikira udah lama gak ketemu, padahal juga baru dua hari doang, ya itulah hebatnya kami, menurut orang itu adalah hal yang biasa, bagi kami bisa jadi bahan becandaan yang menarik, apalagi ada Lili, dia bisa dibilang pelawaklah. Yang bikin setiap perjalanan kita gak garing. Bahkan ketika ada penjual kripik lewat, Krepeeekk..kreeepeekk…kreeepeekkk… ntah kenapa seketika itu juga kami saling tatap dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Ntah kenapa bunyinya terdengar seperti… G*reeepeeekkk….G*reepeeekk…G*reepeekk… ditelinga kami,aneh kan? Itulah uniknya kami.

            Ternyata seperti inilah suasana kereta ekonomi, banyak penjual, banyak pengamen, banyak pencopet. Tapi enggak semua pengamen itu nyebelin loh, walaupun kebanyakannya sih iya. Setelah meroggoh kocek cukup dalam untuk diberikan kepada pengamen yang ntah sudah berapa puluh kali menghampiri kami. Baru pengamen ini yang menurut kami cukup menarik, musiknya sangat unik karena ada semacam alat musik tepuk yang fungsinya seperti drum tapi dalam bentuk yang lebih sederhana, terbuat dari paralon dengan berbagai ukuran kemudian atasnya, diberi karet untuk  menutup lubangnya dan diikat sekelilingnya. Bunyinya sungguh unik, ditambah lagi dengan suara pengamennya yang lumayan merdu, untuk dan hanya untuk kelompok pengamen yang satu ininih kami mau kasih lebih, karena selain suara bagus, goodlooking, juga bisa request lagu lagi, asik kan.

            Keretapun terus melaju, dan kami kelaparan. Untung mamah Ersa membawakan Ersa bekal yang lumayan banyak, jadi kami bisa juga numpang makan. Setelah amunisi tercukupi kami mulai merasakan kantuk, kemudian tidur.

            Petang telah menjelang, kami juga belum menentukan akan tidur dimana malam ini, masih seperti rencana awal yaitu tidur di kosan paijo karena ada satu kamar kosong atau tidak. Keraguan kamipun muncul, kemudian gue mengambil inisiatif untuk bertanya kepada seorang bapak dengan kedua anaknya, bapak itu berumur sekitar 40 tahunan dengan rambut putih beruban, dengan wajah orang baik-baik. Dengan SKSD, gue dan Lita pun mengajak ngobrol bapak itu, ya biasalah basa-basi busuk dulu kan keramah-tamahannya dong ditunjukan, mahasiswa kan? Seeeet. Setelah basa-basi busuknya kelar, kamipun langsung ke inti pertanyaan, bagaimana jika kami menginap ke daerah sekitar kampus STAN pada tengah malam seperti ini. Iya, perjalanan kami dari stasiun Kotabumi ke Stasiun Kertapati  sekitar 15 jam, sehingga kita sampai di stasiun Kertapati sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.

            “disana banyak begal dek, apalagi tengah malam seperti ini dan kalian cewek semua”. ujar bapak itu. Kamipun mendengarkannya antusias, “jika kalian mencari penginapan, sebaiknya kepenginapan disekitar Ampera, nanti kalo cari taksi bilang saja ke “Pondok Asri”, disana harganya lumayan murah, ada yang 150 ribu permalam” ujarnya lagi. Setelah mengucapkan terima kasih kamipun memutuskan untuk mendengarkan nasihat bapak itu. Keretapun berhenti 30 menit setelah percakapan singkat itu, karena tidak ada persiapan bahkan kami tidak memiliki nomor taxi di kota ini (jangan ditiru ya, bagpacker yang kaya gini J).

            Setelah searching di google, telfon sana-sini, kamipun mendapatkan nomor telfon taxi dan segera menghubungi dua buah taxi. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit taxipun datang, kami langsung menaiki taxi tersebut, tiga orang setiap taxi. Dengan kelelahan dan tenaga yang mulai terkuras, kami masih bisa menikamati indahnya Jembatan Ampera yang penuh dengan sejarah dengan kerlap-kerlip lampunya. Di bawah jempatan ampera juga sedang diadakan semacam pameran sehingga lampu-lampunya sangat indah ketika memantul di pinggir sungai musi. Gue ngerasa lelah malam itu terbayarkan, dengan pemandangan yang sangat menggoda “Jembatan Ampera”. Senyumanpun tersungging dengan mata berkaca-kaca gue terharu, kenekatan kami nyatanya menghantarkan kami kesini, tanah sungai Musi.
           
                                                                       To be continued...

            

Wednesday, 2 July 2014

Kebrings : Journey to Palembang

        Seiring berjalannya waktu gue udah mulai kenal dengan teman-teman sekelas gue, anak-anak kelas ganjil juga gue udah mulai kenal. Inar adalah anak kelas ganjil yang kemudian ngenalin gue ke Ersa dan paijo. Pertemanan guepun udah meluas, anak gaul meen. Kance gue udah banyak dan tabur-tabur. Setelah perkenalan gue dengan Lili, Lili ngenalin gue ke seorang pemuda yang kalem dan pendiam, namanya syamsul. Syamsul ini anak asli kota ini, orangnya kalem dan gak banyak bicara. Ersa pun begitu, dia tipe cewek lemah gemulai dan kalemnya Naudzubillah, kadang kalo ga diajak ngomong duluan ya gak bakalan bergeming. Lain halnya dengan Paijo, dia adalah orang dengan golongan darah B (eitss,, gue tahunya baru akhir-akhir ini aja ya) iya yang free dan tak terikat, semenjak gue pertama kenal sama do’i emang orangnya jauh dari kata kalem, cerewet betul coy. Dia tipe pria yang sedikit melambai, tapi dia cowok tulen kok, buktinya punya pacar, dari kelas satu SMA lagi coy, longlast ya buat lo. Si Paijo ini juga anggota Kebrings, yang paling pinter, gue kalah sama do’i. Kalo gue harus belajar biar pinter, kalo diamah dari orok juga udah pinter, keliatannya ga pernah belajar tapi bisa aja ngerjain ujian. Karena kepintarannya inilah yang ngebuat kita terpisah dari dia.

            Ersa si pendiam ini, ternyata bersuara emas, suarannya bagus gais, gue tahunya ya belakangan ini setelah kita pernah karokean bareng, cocok banget dah kalo sama si Syamsul, apalagi kalo mereka duet lagu dangdut, duh, gue langsung berasa liat konser D’Terongs (tau gak lo? Yang di Indosiar itu loh). Dikelas genap anggota Kebrings juga ada cowok selain si Syamsul, namanya Hada. Dia tipe cowok-cowok sholeh, yang tampilannya anak pesantren pokoknya matanya tuh sayu banget, kaya semaleman abis sholat malem gitu. Tiap kuliah dia selalu dateng telat dan ga seorang dosenpun pernah negor dia karna telat, gila dewa banget kan dia, bisa selamet. Mungkin dosen-dosen udah kasian duluan liat muka dia yang melas banget ya, tapi walaupun suka telat kaya gitu ya, dia tu paling banget bisa gue andelin, disaat gue butuh pertolongan ya dia itu yang paling sigap ngebantuin gue, selain sereen tentunya, trus pemikirannya dewasa juga. Jadi dibalik penampilan dia yang gak meyakinkan itu dia tu, ya lumayan bisa diandelinlah. Oh iya sebelum gue cerita panjang lebar tentang pengalaman Kebring jalan-jalan ke Palembang, gue mau ngenalin member Kebrings yang paling bontot nih, namanya Lita, wanita bingits ya namanya, tapi jangan salah gais dia wanita paling perkasa yang pernah gue kenal, dengan rambut ikel sepundak dengan kulit hitam ala wanita yogya, dan cara berjalan yang persis banget seorang cowok, dia yang kemudian bisa ngejaga kita ketika cowok-cowok ga ada.
            Here we go…. The journey start!
            Saat itu kami masih semester dua, ketika memutuskan untuk melakukan bagpacker. Tiiiiiit…tiiiittt..tiiitt…. malem itu gue masih inget banget hape gue berdering, pas gue baca ternyata gue dapet jarkoman dari Lili:
                                    Gais, besok pagi kumpul di stasiun kota pukul 07.00 WIB teet ya, gue udah pesen tiket kereta 7 buat kamuorang, siapin barang-barang mulai dari sekarang, good luck gais!:)
Darrr….Daarrrr…. tetiba bunyi senapan bokap gue, memecah gendang telinga gue. Gue pikir bagpacker ke Palembang ini isapan jempol belaka, ga nyangka kenekatan kita ini akan tak berujung. Sebenernya yang bikin gue kaget bukan kepalang adalah saat itu posisinya gue lagi di kampung, dan jarak dari kampung ke stasiun kota sekitar 63,5 km gitu, dan gak mungkin gue minta anter bokap gue ke stasiun itu pagi-pagi buta. Gue minta izinnya aja setengah mati, udah syukur banget dibolehin berangkat. Akhirnya tanpa pikir panjang setelah gue keluarin jurus maut dan muka memelas ke bokap gue, dengan izin Alloh SWT gue diizin pergi bareng temen-temen gue, dengan nasehat panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang, gue tanem dalam-dalam nasehat bokap gue itu. Malem itu gue gupek banget nyiapin baju dan barang-barang lain yang bakalan gue bawa ke Palembang, mak guepun ikut sibuk ngecek ini itu yang perlu dibawa. Semuanya beres, ternyata dalam keadaan keburupun yang namanya cewek mah bawaan masih banyak aja ya.

               Malam itu gue ga bisa tidur nyenyak, ternyata rasa takut gue mulai menyeruak kedalam otak dan membuat gue melihat film-film tenteng kejadian-kejadian mengerikan yang bakal gue alamin besok. Astagfirulloh,, besok adalah kali awal gue pergi tanpa didampingi oleh orang tua, dengan tujuan yang gak begitu jelas, bermodalkan nekat dan ego masa muda, halaaaahh. Tujuan kami kesana sebenarnya adalah untuk mengunjungi si Paijo yang telah ketrima di STAN Palembang, karna rasa kngen yang mendalam kami memutuskan untuk menjenguknya sekalian berjalan-jalan ke Palembang untuk beberapa hari, ya sekalian liburankan, setelah penat dengan UAS-UAS.

              “I’m sexy and freeee….” Alarm songnya Jessie J bangunin gue tepat pukul 05.00 WIB. Perasaan gue juga baru merem udah pagi aja, dengan lunglai gue bangun dan langsung mandi, sholat kemudian berkemas buat perjalanan yang pasti panjang banget hari ini. Gue dibonceng bukap gue dengan muka bantal menuju terminal bis yang bakal gue tumpangi menuju terminal kota, dengan berat hati gue liat ekspresi wajah bokap gue yang sayu. Sebenernya bokap gue ga rela liat anak perempuannya pergi, apalagi tanpa didampingi dia, takut ga ada yang ngejagain boy, ya gimanalah ya gue ini anak kesayangannya yang walaupun kewanitaan tapi suka nekat haha.

               Perjalanan menggunakan Bis gue lalui dengan bertidur-tidur ria, nyimpen tenagalah itung-itung. Gue gak bakalan tau apa yng bakalan gue lalui hari ini, sekitar pukul 06.30 WIB gue udah nyampe terminal bis kota, dengan tentengan yang lumayan banyak dan muka bantal yang masih terlihat jelas, gue segera cari angkot jurusan stasiun kota. Tanpa pikir panjang gue langsung naik angkot warna biru telur itu, dengan tulisan didepan “OJO DUMEH” haha gue juga ga tau artinya apa. Triiinggg…triiiinggg… handphone gue berdering, panggilan dari Lili jauh disana. “halo,, kenapa li? Ucap gue,, “dianam ul?” dia balik tanya, “gue udah naik angkot nih seperempat jam lagi nyampe kok, emang beneran itu kereta jam 07.00 berangkatnya?” jawab gue. “enggak kok jam 09.00 gue jarkom jam segitu biar Hada ga telat, ya lo taulah hahaha, yaudah ati-ati, BYE!” kemudian tuuuut mati. Untung gue juga ga buru-buru, masih bisa banget santai didalam angkot ini.

              Seperempat jam kemudian gue udah sampai di stasiun kota, di berandanya terliaht Lili, Sereen, Inar dan Lita teleh menunggu gue, ternyata bukan Cuma gue yang barang bawaannya banyak. Ternyata mereka lebih lebay ada yang bawa koper segala, padahalkan janjinya kita Cuma bakalan tinggal disana 3 hari. “Syamsul mana?” tanya gue. “Do’i ga ikutan, dia udah berangkat ke Jakarta dari kemaren bareng keluargannya” jawab Inar. Yah walaupun perjalanan Kebrings kali ini Cuma berdelapan tapi tak apalah ya, delapan orang toh sudah mewakili kita banget. Waktu sudah menunjukan pukul 08.45 wib, tapi batang hidung Hadapun tak kunjung terlihat, semua sibuk buat ngehubungin dia, tapi entah karna terlalu banyak yang ngehubungin, nomornya jadi ga bisa dihubungin. Kita berlima kalut, masa iya kita naik kereta tanpa seorang priapun, ya paling gak bisa ngejaga kita, mana kereta itukan lumayan bahaya gais, banyak copet berkeliaran, mana kita nanti harus transit dulu di stasiun Kotabumi untuk ngejemput Ersa.

            Deeeett…deeett… keretapun telah berbunyi menandakan kita sudah harus berangkat, ketika Hada dihubungi ternyata dia terjebak macet, bayangan gue udah kemana-mana gais, gue pikirnya gue bakalan narik tangan Hada buat naik ke kereta saat kereta sudah mulai berjalan, kaya difilm-film gitu. Lah tapi imajinasi ya cuma sebatas imajinasi, nyatanya ketika kereta telah melaju 10 m kedepan seujung kukunya aja ga keliatan, alhasil kita berlima perempuan semua dengan muka lesu, duduk berhadap-hadapn berdo’a semoga semuanya akan baik-baik saja, semoga Alloh disamping kami untuk menjaga kami. Keretapun melaju, meninggalkan asap-asapnya, dan Hada dibelakang sana.

                                                                        To be continued...

Friday, 27 June 2014

KebringS : Malam keakraban

           Obrolan kami berlanjut sejalan dengan kebersamaan kami di kosan kamboja, yah ini mungkin awal baru buat gue, ketemu sama orang yang sama sekali baru yang awalnya gue pikir songong dan nyebelin, dan ternyata gak seburuk itu kok. Inget gais, don’t judge the book from it’s cover, right? Awal perkenalan kami yang ga meyakinkan, ternyata berjalan dengan indah kok. Ini dia maksud gue, ibaratnya kalo lo liat goa lo harus masuk dulu ke dalem goa itu, jangan lo pikir goa itu bakalan gelap, bau, banyak serangga dan hal menyeramkan lainnya. Tapi lo masuk aja belom, coba dulu deh lo masuk, dengan lo masuk lo bakal ngeliat indahnya stalagtit dan stalagmit yang ada disitu, atau mungkin lo bakalan nemu, emas, berlian, batu rubi atau bahkan harta karun peninggalan bangsa eropa, who know kan? Ini dia yang gue temuin dalam dirinya sereen, iya cewek yang tempo hari itu namanya Sereen, jangan salah loh ya, bukan merek kue-kue itu BUKAN! Dia senasib sepenanggungan sama gue dan kita nyambung. Sama-sama dari luar kota, sama-sama wong ndeso yang tak tahu indahnya perkotaan, halaah.

            Awalnya sih gue pikir mana mungkin sih, gue temenan sama dia? Idih malesin banget deh songong gitu. Tapi ternyata enggak gais, si sereen ini rame banget orangnya, ya sesuai sama prediksi awal deh kalo yang itu mah, ga bisa diem, ngomong mulu, ntah apa yang dia omongin gue iyain aja dah biar dia seneng, eh bukan, maksudnya gue dengerin lantaran gue temen yang baik, ya kan? Betapa baiknya gue, lalu bercermin. Mulai saat gue tarik bajunya waktu itu, gue jadi akrab sama dia, kemana-mana gue bareng dia, makan, main, ke kampus, ke WC, eh enggak kok yang terakhir itu. Yah pokoknya kita tak terpisahkan lah satu sama lain, kaya dono sama indro pas kasino udah meninggal gitu. Gue udah mulai aktif ngampus, masa-masa perang kininya sudah berakhir, sekarang gue udah mulai menjalankan tugas negara. Di dikelas yang baru ini, kebetulan gue masuk kelas genap, karna angkatan Akuntansi tahun ini, di bagi kedalam genap dan ganjil. Dan gue kebagian yang genap, untungnya si Sereen sekelas sama gue. Jadi ya kita bisa berangkat pulang, main, ngerjain tugas juga bareng. Aneh pikir gue, setelah gue liat di pengumuman, sebenernya gue ga nemuin nama Sereen di kelas genap. Dan gue juga udah coba ngomong sama doi, tapi doi ga percaya gitu. Yaudahlah pikir gue juga, malah seneng kalo gue bisa sekelas sama dia. Paling ga gue ada temen kan ga sendirian kaya orang ilang.

            Waktu pun bergulir dengan cepat, gue udah mulai kenal sama anak-anak sekelas. Dan ternyata penglihatan gue di pengumuman ga salah kalo Sereen memang anak kelas ganjil. Ngeyel sih ni anak dibilangin dari awal juga. Akhirnya dia mulai ngurusin absen, dan mata kuliah yang dia ambil. Ya sebagai temen yang baik, gue anterin dia ngurusin ini itu ke rektorat ke dekanat juga. Dan yang paling nyebelin dari hal itu adalah lambannya pelayanan yang ada di rektorat, gila gais birokrasinya dipersulit, Sereen dilempar sana-sini, udah kaya shuttlecock aja smash sana-smash sini. Indonesia ini memang gitu, yang harusnya mudah dan cepat, di buat susah dan lama. Kurang kerjaan kali ya mereka itu, gue udah antri lama sama Sereen waktu ngambil form buat pindah kelas, dan banyak yang antri dan lo tau ga sih gais apa yang dilakuin sama petugasnya ketika panas-panas kita ngantri dan peluh sudah bercucuran? Main spider soliter, gila sapa yang ga panas coba, sapa yang ga pengen marah? Di mana kali tu orang naro otaknya. Tapi ya gini ga enaknya jadi mahasiswa baru yang ga punya dekengan, ga bisa protes, takut dikeluarin, gila cupu banget. Terserah lo oranglah kalo kali ini gue dibilang cupu, iya gue pasrah, gue nerima Aku Rapopo.

            Ya sesulit-sesulitnya cobaan, pasti bisa juga dilalui kan. Akhirnya Sereen pindah kelas, untungnya gue udah mulai bersosialisasi sama anak-anak kelas jadi gue ga begitu merasakan sepi yang mendalam atas kepergiannya, gue masih bisa lalui ini sendiri, gue tegar. Ternyata perang dalam dunia kampus ini belum sepenuhnya usai, masih ada lagi malam kekraban alias MAKRAB. Dengan manis senior-seniorpun mulai merayu kami, dengan kata-kata manis nan menggoda untuk mengajak kami ikut berpartisipasi dalam MAKRAB itu. Mulai dari alasan syarat wisuda, yang jelas salah dan gue taunya pas udah semester akhir dong, mahasiswa baru itu emang paling enak dikibulin, pasrah banget gak tau apa-apa. Dan dengan bodohnya gue ikutan MAKRAB, gue ngerasanya kaya di hipnotis gitu gais, nurut aja, disuruh bawa ini itu nurut, ya aku polos. Saatnya pembagian kelompok, dan taraaa gue ga sekelompok sama Sereen, yup gue agak sedih sih ga biasanya gue pisah sama dia. Tapi ga apa-apa, sapa tau gue bakalan ketemu sama orang asik dan seru yang lain. “lo aruna kan’? tanya seorang cewek berkulit hitam dan sedikit tambun. “iya, lo siapa’? tanya gue. “Gue Inar, kita satu kelompok MAKRAB”, ujarnya. Wah ramah nih anak, kayaknya asik “oh, iya sapa lagi yang lain nar’? tanya gue. Selanjutnya gue dikenalin sama temen-temen satu kelompok gue yang lan, iya dia yang ngenalin ke temen-temen satu kelompok yang lain, ya maklumlah gue kan pendiam. Satu orang yang selalu ada di samping inar, buat gue penasaran, kayaknya kita setipe, sama-sama pendiam. Usut punya usut namanya lili, dia gadis khas keturunan jawa sama kaya gue, tapi kulitnya ga item kaya gadis keturunan jawa pada umumnya, dia ga terlalu tinggi ya sekitar 150 cm, dengan rambut lurus sebahu dan dagu yang meruncing ketika tersenyum, dan deretan gigi putih nan rapi terlihat ketika gue ngobrol sama dia. Aksennya ketika ngomong udah cukup buat gue tahu, kalo dia gadis keturunan jawa. Karakter orang jawa ketika ngomong pasti huruf “D”, “G”, “B” nya tebal, iya dia gitu, kadang-kadang malah kita keterusan ngomong pake bahasa jawa, kita sama-sama japung, jawa yang kelahiran lampung.

            Segala peralatan dan perlengkapan yang sudah dibagikan masing-masing orang dalam kelompok telah siap, sore itu halaman parkir fakultas ekonomi universitas Bina Bangsa dipenuhi para mahasiswa yang berjubel dan kerepotan disana-sini membawa barang yang telah ditetapkan. “tiker, senter, galon”? ucap gue, “ceklis run”, teriak lili. Semua udah lengkap, udah saatnya kita berangkat, setelah adegan baris-berbaris dan pembukaan oleh Dekan, kita semua berangkat menggunakan bis ekonomi. Pas banget ya, mentang-mentang kita mahasiswa fakultas ekonomi kita juga pakenya bis ekonomi, biar apa gitu? Biar matching? Tapi paling enggak gue masih beruntung, ban bis gue ga bocor, ada dua bis yang bannya harus bocor karena kelebihan muatan, lebih tepatnya bisnya udah tua, dia butuh istirahat, pensiun kaya manusia. Alhasil, bis gue karena alasan kesetiakawanan berhenti untuk nunggu 2 bis tersebut. 3 jam kemudian kedua bis tersebut, telah selesai diperbaiki dan kita berangkat lagi, sebenernya tempat buat MAKRAB nya sih ga lumayan jauh, kalo ditempuh pake kendaraan yang masih sehat sekitar 2 jam, namun berhubung bisnya udah tua jadi kita sampai di tempat tujuan 5 jam kemudian, magrib barulah kita sampai.

            Tempatnya di pinggir pantai dengan ombak yang besar, tak terlihat layaknya pantai untuk berwisata, banyak semak belukar yang memenuhi daerah ini. Di dekat pantai ini ada rumah tua yang udah lama ga dihuni, jadi kesan horornya kerasa banget. Di samping sebelah kanan rumah tua tersebut ada dua tenda pleton yang berjarak kurang lebih 10 m, untuk mahasiswa dan mahasiswi peserta MAKRAB, ada beberapa tenda kecil untuk senior dan panitia juga. Setelah gue beberes, naro barang-barang, kita semua sholat magrib berjamaah aq        sunset senja telah tak terlihat, namun gue ngerasa adem banget pas sholat, khusyu banget Subhanalloh ciptaan Alloh sungguh luar biasa, jarang-jarang kan lo bisa sholat di pinggir pantai. Sembari gue melihat pemandangan, para panitia mulai perkenalan visi misi MAKRAB, serta berbagi nasi bungkus, yup kita lamplight dinner pake lampu emergency.

            Jam baru menunjukan pukul 21.00 WIB, dan anehnya kita sudah dibubarkan untuk istirahat, gue udah curiga masa acara seheboh ini udah disuruh tidur jam 9 malem, kaya anak SD aja jam segitu udah tidur. Dengan pikiran campur aduk, dan hati yang ga enak karena feeling mengatakan bakal terjadi sesuatu malam nanti. Ntah apa yang ada di pikiran anak-anak yang lain, wajah mereka begitu datar, gue ga bisa nebak apa isi kepalanya. Dengan langkah lunglai, gue, inar dan lili masuk kedalam tenda yang hanya diterangi dengan satu lampu emergency. Tanah yang kami tiduri, serasa menusuk-nusuk punggung, kayaknya bekas dari semak belukar yang dipaksa diratakan. Hening malam itu, tak ada hiburan, alat komunikasi kami dikumpulkan ke kakak pendamping kami, karena lelah ternyata telah mendera akupun terlelap.

            Tepat tengah malam, aku terkesiap mendengar suara langkah kaki dan bisikan-bisikan, sepertinya itu suara lelaki pikirku. “Banguuuuunnn dekk, banguuunn”!!! teriak semua lelaki tersebut. Teriakan tersebut dibarengi dengan suara galon yang dipukul-pukul, panci, teflon, kompor gas, ya pokoknya lah semua dipukulin berisik banget sumpah. Dengan tergopoh-gopoh gue dan lili lari keluar tenda dengan menerobos lewat sela-sela tenda, pintu sudah tak terlihat di mata kami. Suasana yang lebih mirip adegan penumpasan penjahat perang itu dimulai, mata kami semua ditutup. Hanya telinga yang mampu menyumbangkan suara tentang apa yang tengah terjadi di sekitar kami, teriakan senior, suara parau para junior yang meminta ampun, ironis. Segi mendidiknya apa acara seperti ini? Acara yang lebih mirip bullying ketimbang pendidikan ini tetap dilaksanakan dan turun menurun dilakukan dengan alibi mendekatkan diri dengan senior, kalo tujuannya itu kenapa kita ga ngopi bareng aja kan ya? Meet up di cafĂ© mana tah. Kalo kaya gini lebih mirip, ajang balas dendam.

            Semua junior diam, diteriakin diam, disuruh push up diam, disuruh joget-joget diam, ga ada yang berani protes. Ada sedikit protes, hukuman berlaku. Kalo lo pada pengen tau orang yang ga pernah salah tu ya senior, ketika mereka salah kembali ke pasal satu, gila mutlak kan, bahkan dosen aja ga punya hak veto buat protes. Itutu hebatnya senior. Kami di suruh bikin yel yel, jadi di setiap pos yang terdiri dari angkatan yang berbeda, kita disuruh nyanyiin yel yel. Gue, inar dan lili kebetulan suaranya cetar semua kan ya, jadi teriakan yel-yel kami membahana.

            Ternyata dengan suara kami yang cetar itu, kami jadi pusat perhatian gais, ya lo bisa bayanginlah cewek-cewek imut semacam kami ini ternyata punya suara yang cukup untuk menggemparkan MAKRAB malam itu, Aseekk. Kita mulai berjalan post to post berkenalan dengan kakak-kakak tingkat angkatan lawas yang biasa kita panggil om, karena usianya udah selisih belasan tahun gitu.

            Kita sudah sampe di post angkatan tahun 2008, dengan berjalan sambil berjongkok kami, di teriak-teriakin gais, ya gue sih kalo diteriakin tambah keras gue teriak baliknya hahah…  kalo lo lemah lo disini bakal disiksa! Makanya tunjukin kekuatan lo biar lo ga diremehin, dunia ini keras gais. “lili, lo suka sama G-Dragon ya? Coba lo ikutin ekspresinya”. Ucap senior. Wiih untung foto idola yang gue tempel tuh imut dan mempesona, yah jadi ga perlu aktinglah gue, udah pas banget sama muka manis manjah gue, jangan muntah ya bacanya ekspresinya biasa aja. Sial, buat lili malem itu, dia harus monyongin mulutnya, mejemin matanya, kasian gue denger dia kena oceh sama senior gegara kurang monyong, pokoknya gitulah mau cerita aja gue ga tega, udah kalian bayangi sendirilah gimana ekspresi muka G-dragon pas monyong, ya kurang lebih samalah sama mukanya lili malem itu. Kayaknya lili ini memang Primadona MAKRAB deh lagi-lagi dia kena, dia disuruh nyebutin orang yang dibelakang dia, dia berdiri dan kita semua dibelakang dia, disuruh jongkok semua, “siapa nama temen yang di belakang lo dek”? teriak salah satu senior .”Aruna kiay!” ga kalah cetar suara Lili. Terlihat ekspresi muka kakak senior ketawa-ketiwi karena telah berhasil memperdayai Lili. “bukan!” belakang lo itu bukan Aruna, kemudian salah satu senior menyuruh Inar yang berada dibelakang gue buat ngaku kalo dia yang ada dibelakang Lili, gile konspirasi ini gais, karena takut Inar pun bohong. Kalo gue sih ga mau disuruh bohong, dosa tau gue malah nahan ketawa lantaran adegan yang gue alamin, koplak sangat.

Ternyata akting memelas gue malam itu ga berguna gais, kena juga akhirnya gue rasa akibat gue ngetawain Lili kena karma gue, ternyata karma juga berlaku ya bahkan untuk hal-hal sepele kaya gini. “pisang ini warnanya apa dek”? buta apa gimana sih ini senior, udah tau gue ini pake penutup mata , nyari kesalahn orang aja ya, sengaja buat alasan ngehukum. Untungnya gue ini kan sedikit cerdas yah, ya walaupun sedikit tapi ya gue punya akal dong, jangan sedih, sedari tadi sebenarnya penutup mata gue ga rapet nutupnya, agak kebuka dikit. Ga bisa napas gue kalo rapet nutupnya, bukannya hidung gue di mata boy, ya tapi ya ngap aja gitu udah malem ga ada lampu, ditutup pula tu mata, ga bisa ngeliat indahnya dunia dong. “coklat kekuning-kuningan kaak”! teriak gue. “kuning-kuning coklat-coklat salah satu aja”! teriaknya. Ya gimanalah, gue kan ga suka bohong ya, gue liat warnanya emang kuning ada semburatnya coklat gitu geh hahaha cemerlang banget kan mata gue bisa nembus penutup mata, padahal, ahsudahlah.

Malam itu dan hari-hari berikutnya menjadi salah satu kenangan yang indah di mata kami bertiga walaupun ini ajang bullying ya, tapi dari acara malam itu kami jadi lebih kenal dengan om om yang notabene kakak tingkat kami sih, gue juga jadi kenal Lili, Inar dan teman-teman lain dari prodi lain juga. Ambil hikmahnya aja, mau ini ajang Bullying juga, ketika lo bisa liat sisi positifnya asik-asik aja kok. Malah sekarang senior yang neriakin gue tentang pisang jadi akrab banget di kampus, malah jadi kita yang sekarang sering nge-bully dia hahaha, karma. Yaudah deh sekian dulu serial Kebringsnya, kapan-kapan gue lanjutin lagi, kalian pasti penasarankan Kebrings itu apaan… komennya ya kalo asik.. J
           
           

            

Thursday, 26 June 2014

Ana Uhibbuka Fillah, Part 2…

           Semenjak saat itu  Ranis selalu memperhatikan Ghazi, melihat segala gerak-gerik dan tingkah lakunya. Bahkan dia sendiri tak menyadari inilah kali pertama dia begitu tertarik dengan seorang pemuda. Suaranya selalu terngiang, entah kenapa Ranis semakin sering mendengar suara Ghazi ditelinganya, suara itu terdengar berkali-kali “Lelaki baik pasti untuk wanita yang baik pula”. Pagi itu dia telat bangun, lantaran terlalu asik begadang mengerjakan tugas. Sial pikirnya, hari ini dia terlambat melihat siluet Ghazi, tapi tunggu, ternyata justru keterlambatanyalah yang mendatangkan keberuntungan. Ranis bertemu dengan anak kecil yang selalu berjumpa dengan Ghazi setiap pagi. Ranis lalu mengahampiri anak itu, “dek, kamu adiknya Ghazi?” ucapnya. Anak kecil itu hanya tertegun mendengar todongan pertanyaan yang dialamatkan padanya. “Bukan, kak. Kenapa emang?” ucapnya bingung. “tidak hanya kakak penasaran, mengapa kamu setiap pagi bertemu kak Ghazi, dan menyerahkan koran-koranmu padanya?” tanya Ranis. Kemudian anak kecil itu menceritakan panjang lebar, mengenai Ghazi dari awal pertemuan mereka hingga kini. Ghazi adalah malaikat penolongnya, ketika melihat anak kecil yatim piatu ini harus berjuang seorang diri setelah ayah dan ibunya tewas dalam tragedi kecelakaan kereta di Kotabumi, sehingga dia hanya dengan berjualan koran untuk melanjutkan hidupnya, sampai putus sekolahnya karena tak mempunyai biaya.

            Ghazi melihat anak yang malang ini ketika melihatnya di lampu merah didekat SMAnya saat berjualan koran. Karena merasa iba Ghazi menghampirinya dan memberinya semangat untuk melanjutkan sekolahnya dan berjanji untuk menjualkan korannya setiap pagi, sehingga anak itu bisa sekolah lagi. Jawaban anak kecil tadi meluruhkan dinding-dinding hatinya yang selama ini kaku dan keras. Tak terasa sebulir senyuman bergulir di bibir tipisnya, untuk kali pertama dia merasakan bunga sakura berguguran dan waktu berputar begitu perlahan disekelilingnya, seakan dunia tahu apa yang sedang dirasakannya, siapa yang sedang dikaguminya, dia orang yang sama dengan suara yang penuh keyakinan di balik tabbir itu. Seakan semuanya hanya kebetulan semata, tetapi Ranis merasa semua ini telah dijalurkan oleh Alloh, atas semua pertemuannya dengan Ghazi.

            Ranis berjalan begitu perlahan, menikmati bibit-bibit kekaguman yang mulai menjalari hatinya. “iya pak, saya tidak tahu setiap pagi selalu ada koran di meja saya, di meja guru lain juga ada”. “lalu siapakah yang mengirimkannya ton,?” tak sengaja Ranis mendengar perbincangan dua orang guru mengenai misteri koran yang selalu ada di meja para guru setiap hari. Keanehan ini muncul lagi, dia teringat ketika secara tak sengaja meliaht Ghazi keluar dari ruang guru dengan membawa korannya. “Apa mungkin Ghazi yang menaruh koran-koran itu?” pikirnya. “Ranis, Ranis, nis… terdengar suara orang memanggilnya. Diapun bangun dari lamunannya. Dia membalikan badannya, dan siapakah yang menyapanya? Siapa, gila apa saya bermimpi! ini tidak mungkin, degupan jantungnya begitu cepat, angin yang tenang menyentuhnya perlahan, bumi seakan berhenti berputar.

            Sorot matanya yang tajam adalah arti dari namanya Ghazi seperti salah satu pasukan khusus Sultan Mehmed saat menyerang constantine, suara yang sekali lagi menenangkan. Iya itu dia, pemuda yang tak mungkin pernah ia lupakan senyumannya, Ahmed Ghazi. “ini, kunci kamu jatuh. Aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kamu tak menyahut” ucapnya. Ranis hanya dapat tertegun, dia tak menyangka pemuda yang selama ini ia kagumi, mengetahui namanya. Tak mampu lagi dia menahan rasa penasarannya “zi, kamu ya yang menaruh koran setiap pagi, diruang guru? Buat apa?” tanyanya. Seperti biasa Ghazi hanya menyunggingkan senyum. “Aku telah berjanji pada seorang anak kecil untuk membantunya melanjutkan pendidikannya, aku berjanji akan menjualkan koran-korannya setiap hari agar uangnya bisa dia gunakan untuk melanjutkan sekolah, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Lalu aku selalu membagi-bagikan koran diruang guru samapai habis. Sebenarnya aku yang membeli koran-korannya setiap hari. Tetapi agar dia tidak tersinggung maka aku bilang telah menjualnya di sekolah ini,” terang Ghazi. Ranis tak mampu lagi berkata-kata, ucapan ghazi hanya menambah semakin besar saja rasa kagumnya. Dia hanya melemparkan senyumnya, Ghazi membalas senyumannya dan kemudian pergi. Mungkin bagi orang lain itu adalah hal paling biasa yang bisa terjadi pada setiap orang, tapi itu akan menjadi indah bila yang memanggil namamu adalah orang yang kamu kagumi.


            Bulat sudah tekadnya untuk menjalani nasehat Ghazi, berDO’A dengan berDO’A dapat merubah takdir Alloh. Dia tidak mau kekagumannya ini akan membuahkan kemaksiatan. “Ya Alloh jika Ahmed Ghazi baik untuk duniaku dan untuk Akhiratku, dan jika dengan bersamanya dapat mendekatkan diriku padaMU, maka persatukanlah aku dengannya dalam ikatan suci pernikahan”, ucap Ranis. Jauh di rumah yang lain, di ruang yang lain hal yang sama dilakukan Ghazi untuk Ranis. Walaupun, dia seperti tidak perduli, seakan tak mengenal tapi sebenarnya dia juga memperhatikan Ranis. “When you Look at me, I look back, When you look back, I look at you”. Itu yang dilakukan Ghazi, diam-diam dia memperhatikan Ranis. Ketika kita mengagumi seseorang, kamu tidak perlu menjatuhkan harga dirimu, agar orang itu tahu sebesar apa kekagumanmu padanya, cukupkan saja dengan DO’A Because Love Is Not As Cheap As It!