Elegant Rose - Working In Background

Friday, 17 January 2014

Philophobia


            Kesendirianku ini begitu bebas, lepas, aku tak pernah merasa kesepian, aku bebas bergaul dengan siapa saja, dan tak ada yang melarangku, mencemburuiku, tak ada yang memaksaku untuk melakukan hal ini hal itu, hidupku sempurna. Aku memiliki banyak teman yang selalu ada disampingku, selalu menolongku, mereka sangat setia. Tak ada kata galau, aku begitu menikmati kesendirianku ini daripada mempunyai pacar dan harus tersakiti lagi. Aku tak mau jatuh cinta, itu membuatku sakit hati akut, mungkin ini yang dibilang Philopobia, dimana orang merasa terlalu nyaman dengan kesendirianya dan takut untuk menanggung resiko sakit hati jika jatuh cinta. Karna jatuh cinta itu menguras energi, dan mengakibatkan kegalauan berkepanjangan, berbahaya. Tapi sayangnya kita tidak bisa memilih, kapan jatuh cinta dan dengan siapa kita jatuh cinta. Mengapa sih kita harus jatuh cinta? Apa itu kebutuhan? Apakah akan merasa kesepian jika tak punya pacar? Pemikiranku hanya berkutat dengan hal itu saja, cukup! aku tidak mau jatuh cinta.
            Tapi sepertinya tuhan mengutuk atas perkataanku, semuanya telah berbalik, entah mengapa rasa itu datang ketika aku benar-benar ingin untuk menolaknya, tapi sekali lagi cinta tak pernah memilih kepada siapa hati ini akan berlabuh. Senandung hujan senja itu  memulai pertemuanku dengannya, pemuda kurus tinggi, berambut kribo dengan gingsul menghiasi deretan gigi putihnya. Dia begitu manis, sekali lagi hujan telah mengantarkanku kepada seseorang yang akan mengisi tempat di hati ini (lagi). Langit memecah tak sekiranya, ia memuntahkan semua isi perutnya, membuat semuanya basah, begitupun aku, dengan basah kuyup kuhentikan motorku  dan berteduh di halte abu-abu itu. Sekiranya hujan begitu deras, tapi mengapa hanya aku dan pemuda itu saja yang berteduh menunggunya reda. Kami berdua seperti dua onggokan kayu yang disandingkan, saling diam, tak ada seorangpun yang memulai percakapan. Dia begitu sibuk dengan Hpnya dan begitupun aku, kami asik dengan dunia maya kami sendiri. Keheningan itu pecah ketika dia tiba-tiba bertanya, “Ada powerbank ga”? aku berhenti sejenak dengan handphone-ku, pemuda ini sungguh tak sopan, tak ada basa-basi sama sekali. Aku merogoh ke dalam tasku dan memberikannya begitu saja, tanpa melihat raut mukanya. Dia hanya memangambilnya tanpa mengucap kata terima kasih, sungguh menyebalkan. Halte abu-abu itu sunyi kembali, kami tak saling berucap kata, dan fokus dengan gadget kami masing-masing. Hujanpun tak kunjung reda, petang ini telah menyapa kebersamaanku dengan pemuda tak tau sopan itu.  Tiba-tiba datang sebuah mobil parkir tepat  di depan kami berdua, pintunya terbuka. Kemudian seorang wanita cantik dengan rambut hitam sebahu turun dari kursi sopir dengan membawa payung  dan menghampirinya, mereka saling bersenda gurau, “mungkin itu pacarnya”, ucapku dalam hati. Tak lama kemudian wanita itu mengajak pemuda itu untuk turut bersamanya, akupu baru sadar ternyata pemuda itu tak membawa motor. wanita itu kembali ke dalam mobilnya saat pemuda itu menghampiriku, dia mengembalikan powerbank-ku dan memberiku jaket merahnya. “Pakailah, hujan sepertinya tidak segera reda, segeralah pulang”, ucapnya lembut. lidahku kelu, tak ada satu katapun terucap, aku hanya mampu melihat mimik mukanya, senyum indah itu, aku hanya mampu melihatnya berlalu dan kemudian menghilang di kejauhan bersama wanita cantik itu.
            Benar ucapnya, hujanpun tak kunjung reda. Ketika malam telah datang, kuputuskan untuk menerjang tangisan awan dengan jaket merah miliknya. Parfumnya begitu hangat merayap kedalam sela-sela indra penciumanku, menenangkan. Membuatku tersenyum tanpa henti disepanjang  perjalananku. Ini tidak boleh! Ini bukanlah hal yang baik! Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta. Aku tak mau terkubur di lubang yang sama untuk kedua kalinya, pengalaman pahit yang lalu amatlah cukup menguras energi dan pikiranku. Kucoba kupatahkan senyumku, biarlah hanya seperti hari yang biasa saja tanpa pemuda dan jaket merah itu.
Kutanggalkan  ingatanku tentang pemuda itu dan jaket merahnya, aku menjadi philophobia lagi, kejadian waktu itu mungkin hanya sentilan kecil tuhan kepadaku agar tak sembarang berucap. Sepertinya bumipun sedang dalam keadaan yang tidak baik, sama sepertiku. Dia selalu dibasahi oleh derasnya hujan, hampir setiap hari hujanpun mengguyur bumi ini. Waktu itu terulang lagi, aku kehujanan dan harus berteduh karna bajuku basah kuyup. Namun kali ini aku berteduh di sebuah toko depan halte abu-abu itu, dari tempat ini terlihat jelas sosok lelaki berambut kribo itu, dia tak sendiri. Persis seperti bersamaku waktu itu, dia bersama seorang perempuan yang tengah berteduh. Tak lama kemudian wanita cantik itu datang dengan mengendarai mobil untuk menjemputnya, dan lagi pemuda itu memberikan jaketnya kepada wanita yang sedang berteduh itu, senyumnya memuai. Lama aku termenung, untuk mencerna apa yang baru kulihat barusan. “dek sedang melihat apa”? tanya penjaga toko. “tidak pak, saya sedang memperhatikan pemuda itu”, ucapku. Bapak itu tersenyum, dia menceritakan bagaimana mulanya pemuda itu sering duduk di halte abu-abu itu, dia sedang menunggu kekasihnya yang ternyata telah meninggal karena sebuah kecelakaan tragis. Pemuda itu tidak percaya, dan otaknya mulai kacau, dia tidak bisa menerima kenyataan sehingga membuat mentalnya terganggu. Wanita cantik itu adalah kakaknya yang senantiasa menjemputnya, yang dengan sabar menunggu adiknya untuk memberikan jaket-jaketnya kepada wanita mana saja yang berteduh disitu, karna mereka mengingatkan dia dengan kekasihnya.
Ternyata tuhan tidak benar-benar mengutukku, ini hanyalah sebagain kisah kecil dari beragamnya manusia hidup menanggapi pengalaman hidupnya. Bagaimana seharusnya manusia bersikap menjalani kepahitan hidup. Tuhan sedang mendampingiku dalam ke-philophobia-anku ini. Tuhan sedang bersamaku menyembuhkan goresan-goresan luka di hatiku yang belum sembuh dengan sempurna.
           

No comments:

Post a Comment