Awal november ini begitu terik, sudah cukup untuk membuatku
berkeringat di pagi ini. Cuaca sedang sulit untuk diprediksi, seharusnya hujan
sudah turun untuk melepas dahaga bumi ini. Alam mungkin sedang mengingatkan
kita, untuk berhenti terus-menerus mengeksploitasinya. Tetapi, panas ini tidak
menyurutkankan niatku untuk berbagi ilmu dengan adik-adik kurang beruntung di
Pulau Tegal. Aku sudah beberapa bulan ini aktif sebagai salah satu relawan
Rumah Baca di Lampung. Ini adalah komunitas yang berisi para pemuda yang
bergerak di bidang pendidikan, dan peduli dengan nasib anak-anak bangsa yang
tidak terjamah pendidikan formal. Awalnya aku tidak menyangka akan menemukan
suatu desa yang tidak terjamah pendidikan, karena Rumah Baca ini aktif untuk
mengajar anak-anak yang notabene sudah sekolah dan hanya memberi tambahan
pelajaran saja. Sampai akhirnya para relawan ini diperbantukan untuk mengajar
anak-anak di Pulau Tegal. Pulau ini sebenarnya adalah salah satu tempat wisata
yang berada di daerah Pesawaran, sehingga sungguhlah mengherankan ketika akses
pendidikan tidak ada disana. Untuk mencapai kesana juga sangatlah mudah karena
kita melewati jalanan beraspal, dan menyebrangi laut dengan menyewa perahu yang
tersedia cukup banyak disana.
Perahu hijau inipun, serasa
meriah diiringi arak-arakan awan putih yang berbaris rapi, berlatar belakang
warna biru muda yang menawan. Serta bukit-bukit nan hijau yang membayang
sebagai bingkainya. Kilauan cahaya di atas deburan ombak inipun seperti
memanggilku untuk turut bersamanya.Alam tuhan yang sungguh indah. Ini adalah
pertama bagiku untuk datang ke Pulau ini, tidaklah heran aku menikmati tiap
detilnya. Tapi ada yang menarik bagiku, sebuah masjid apung yang berada di
tengah-tengah laut. Masjid itu sungguh sederhana, hanya terbuat dari susunan
papan-papan berwarna putih. Tempat para nelayan untuk memohon kepada tuhannya,
setelah seharian bergelut dengan ombak. Lamunanku lenyap seketika, ketika
mendengar suara anak-anak kecil yang begitu ceria. “itu mereka”! teriakku. Sekumpulan
bocah dengan cerianya menyambut kedatangan kami. Mereka menyalami kami satu
persatu, sambil berkata berbagai hal, tak henti-hentinya mereka mencecar kami
dengan pertanyaan-pertanyaan lugu nan polos. Tapi inilah kesenanganku bertemu
dengan mereka yang bersemangat dan ingin tahu banyak hal. Disana ada satu
gedung yang boleh dibilang adalah “sekolah”, adalah sebuah ruangan kosong
sebesar ruang kelas pada umumnya dan telah berisi buku-buku sumbangan dari
donatur. Paling tidak ada tempat untuk mereka melihat jendela dunia, ketika
kami tidak disana. Ya, memang kami
kesana hanya seminggu sekali, miris memang, tapi seperti demikianlah adanya kami
juga hanyalah relawan dengan keterbatasan waktu.
Tawa mereka segera menghiasi
Pulau tegal siang itu, dengan bergotong royong, kita bersama memindahkan
bangku-bangku keluar ruangan. Menata bangku selayaknya di dalam sebuah ruang
kelas, dan menaruh papan tulis di bawah rindangnya pohon kelapa. Kelas dimulai,
kamipun berdo’a dengan khusyu’ untuk mengawalinya, kali ini mereka akan dibagi sesuai
umurnya dan kemampuan membacanya. Aku mengajukan diri untuk mengajar anak-anak
yang telah fasih membaca, saat itulah aku mengenal Riki. Dia adalah bocah
berumur sebelas tahun, dengan kulit sawo matang serta kepala yang nyaris botak.
Dia bercerita banyak hal kepadaku, bahwa dia pernah mengenyam bangku sekolah
sampai kelas lima Sekolah Dasar, namun harus putus sekolah tatkala kedua orang
tuanya memutuskan untuk hijrah ke Pulau itu. Mulut kecilnya tak sampai hati
untuk menolaknya, saat dia tahu kondisi ekonomi kedua orang tuanya. Dia patuh,
dia ikut hijrah ke pulau ini dengan harapan akan melanjutkan pendidikannya. Namun
sayang, ternyata tidak ada sekolah di Pulau ini, mimpinya kandas. Namun senyum
itu kembali, saat mengetahui akan ada para pengajar yang datang kesini, membawa
secercah harapan yang walaupun bukan guru sekolah namun dapat menambah bekal
ilmunya nanti. Anak ini cerdas, dia membaca dengan lancar buku yang aku berikan
dan membaca sedikit kosakata bahasa inggris dengan baik. “Riki pengen jadi apa,
kalo sudah besar nanti”,? Tanyaku. Dia terlihat bingung untuk menjawab
pertanyaanku, matanya berputar-putar mencari jawaban atas pertanyaanku tadi. “Jadi
marinir, kak”, ucapnya. Aku terdiam sejenak, siapa menyangka Marinir adalah
cita-citanya. “kenapa Riki ingin menjadi Marinir”? tanyaku lagi. “Untuk
mambasmi kejahatan kak”, ucapnya lugu. Mungkin yang ada dalam pikiranya yang
masih polos, marinir adalah semacam superhero yang dapat memusnahkan para
penjahat. Jawaban polosnya menyadarkanku, bahwa mereka yang hidup ditempat
tanpa aliran listrik, bahwa mereka yang hidup di daerah yang jauh dari
kepadatan dan hingar bingar kehidupan di kota, bahwa mereka yang tidak
tersentuh pendidikan, mereka masih mempunyai mimpi. Mereka tak peduli seberapa
besar mimpi itu, seberapa jauh jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkannya,
mereka tetap bermimpi. Mereka bermimpi karena mereka yakin, jika sesuatu dapat
dimimpikan bukanlah hal yang mustahil untuk membuatnya menjadi nyata. Cita-cita
calon marinir cilik ini bukanlah hal yang mustahil, semua bisa terjadi jika
Tuhan menghendaki. Senyumnya yang begitu sederhana mendorongku untuk mengamini
semua ucapannya, jadilah Marinir Riki! Sukseslah! Amin. Bincang-bincang
panjangkupun terasa begitu singkat. Ombak telah tinggi, sebagaimana
melambai-lambaikan tangannya, mengingatkan kami bahwa matahari akan segera
kembali ke peraduannya, sudah saatnya kembali ke dunia kami (lagi).
No comments:
Post a Comment