Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 16 January 2014

Calon Marinir


Awal november  ini begitu terik, sudah cukup untuk membuatku berkeringat di pagi ini. Cuaca sedang sulit untuk diprediksi, seharusnya hujan sudah turun untuk melepas dahaga bumi ini. Alam mungkin sedang mengingatkan kita, untuk berhenti terus-menerus mengeksploitasinya. Tetapi, panas ini tidak menyurutkankan niatku untuk berbagi ilmu dengan adik-adik kurang beruntung di Pulau Tegal. Aku sudah beberapa bulan ini aktif sebagai salah satu relawan Rumah Baca di Lampung. Ini adalah  komunitas yang berisi para pemuda yang bergerak di bidang pendidikan, dan peduli dengan nasib anak-anak bangsa yang tidak terjamah pendidikan formal. Awalnya aku tidak menyangka akan menemukan suatu desa yang tidak terjamah pendidikan, karena Rumah Baca ini aktif untuk mengajar anak-anak yang notabene sudah sekolah dan hanya memberi tambahan pelajaran saja. Sampai akhirnya para relawan ini diperbantukan untuk mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Pulau ini sebenarnya adalah salah satu tempat wisata yang berada di daerah Pesawaran, sehingga sungguhlah mengherankan ketika akses pendidikan tidak ada disana. Untuk mencapai kesana juga sangatlah mudah karena kita melewati jalanan beraspal, dan menyebrangi laut dengan menyewa perahu yang tersedia cukup banyak disana.
Perahu hijau inipun, serasa meriah diiringi arak-arakan awan putih yang berbaris rapi, berlatar belakang warna biru muda yang menawan. Serta bukit-bukit nan hijau yang membayang sebagai bingkainya. Kilauan cahaya di atas deburan ombak inipun seperti memanggilku untuk turut bersamanya.Alam tuhan yang sungguh indah. Ini adalah pertama bagiku untuk datang ke Pulau ini, tidaklah heran aku menikmati tiap detilnya. Tapi ada yang menarik bagiku, sebuah masjid apung yang berada di tengah-tengah laut. Masjid itu sungguh sederhana, hanya terbuat dari susunan papan-papan berwarna putih. Tempat para nelayan untuk memohon kepada tuhannya, setelah seharian bergelut dengan ombak. Lamunanku lenyap seketika, ketika mendengar suara anak-anak kecil yang begitu ceria. “itu mereka”! teriakku. Sekumpulan bocah dengan cerianya menyambut kedatangan kami. Mereka menyalami kami satu persatu, sambil berkata berbagai hal, tak henti-hentinya mereka mencecar kami dengan pertanyaan-pertanyaan lugu nan polos. Tapi inilah kesenanganku bertemu dengan mereka yang bersemangat dan ingin tahu banyak hal. Disana ada satu gedung yang boleh dibilang adalah “sekolah”, adalah sebuah ruangan kosong sebesar ruang kelas pada umumnya dan telah berisi buku-buku sumbangan dari donatur. Paling tidak ada tempat untuk mereka melihat jendela dunia, ketika kami tidak disana. Ya,  memang kami kesana hanya seminggu sekali, miris memang, tapi seperti demikianlah adanya kami juga hanyalah relawan dengan keterbatasan waktu.
Tawa mereka segera menghiasi Pulau tegal siang itu, dengan bergotong royong, kita bersama memindahkan bangku-bangku keluar ruangan. Menata bangku selayaknya di dalam sebuah ruang kelas, dan menaruh papan tulis di bawah rindangnya pohon kelapa. Kelas dimulai, kamipun berdo’a dengan khusyu’ untuk mengawalinya, kali ini mereka akan dibagi sesuai umurnya dan kemampuan membacanya. Aku mengajukan diri untuk mengajar anak-anak yang telah fasih membaca, saat itulah aku mengenal Riki. Dia adalah bocah berumur sebelas tahun, dengan kulit sawo matang serta kepala yang nyaris botak. Dia bercerita banyak hal kepadaku, bahwa dia pernah mengenyam bangku sekolah sampai kelas lima Sekolah Dasar, namun harus putus sekolah tatkala kedua orang tuanya memutuskan untuk hijrah ke Pulau itu. Mulut kecilnya tak sampai hati untuk menolaknya, saat dia tahu kondisi ekonomi kedua orang tuanya. Dia patuh, dia ikut hijrah ke pulau ini dengan harapan akan melanjutkan pendidikannya. Namun sayang, ternyata tidak ada sekolah di Pulau ini, mimpinya kandas. Namun senyum itu kembali, saat mengetahui akan ada para pengajar yang datang kesini, membawa secercah harapan yang walaupun bukan guru sekolah namun dapat menambah bekal ilmunya nanti. Anak ini cerdas, dia membaca dengan lancar buku yang aku berikan dan membaca sedikit kosakata bahasa inggris dengan baik. “Riki pengen jadi apa, kalo sudah besar nanti”,? Tanyaku. Dia terlihat bingung untuk menjawab pertanyaanku, matanya berputar-putar mencari jawaban atas pertanyaanku tadi. “Jadi marinir, kak”, ucapnya. Aku terdiam sejenak, siapa menyangka Marinir adalah cita-citanya. “kenapa Riki ingin menjadi Marinir”? tanyaku lagi. “Untuk mambasmi kejahatan kak”, ucapnya lugu. Mungkin yang ada dalam pikiranya yang masih polos, marinir adalah semacam superhero yang dapat memusnahkan para penjahat. Jawaban polosnya menyadarkanku, bahwa mereka yang hidup ditempat tanpa aliran listrik, bahwa mereka yang hidup di daerah yang jauh dari kepadatan dan hingar bingar kehidupan di kota, bahwa mereka yang tidak tersentuh pendidikan, mereka masih mempunyai mimpi. Mereka tak peduli seberapa besar mimpi itu, seberapa jauh jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkannya, mereka tetap bermimpi. Mereka bermimpi karena mereka yakin, jika sesuatu dapat dimimpikan bukanlah hal yang mustahil untuk membuatnya menjadi nyata. Cita-cita calon marinir cilik ini bukanlah hal yang mustahil, semua bisa terjadi jika Tuhan menghendaki. Senyumnya yang begitu sederhana mendorongku untuk mengamini semua ucapannya, jadilah Marinir Riki! Sukseslah! Amin. Bincang-bincang panjangkupun terasa begitu singkat. Ombak telah tinggi, sebagaimana melambai-lambaikan tangannya, mengingatkan kami bahwa matahari akan segera kembali ke peraduannya, sudah saatnya kembali ke dunia kami (lagi).

No comments:

Post a Comment