Elegant Rose - Working In Background

Friday, 17 January 2014

Friendzone


            Cukup lama sudah kukubur dalam-dalam rasa ini, rasa yang bermula saat kita satu SMA dulu. Awal dari persahabatan yang indah, berlanjut pengharapan yang lebih. Mungkin aku terlalu egois tuk memimpi bersanding denganmu dalam ikatan yang lebih dari sekedar sahabat. Persahabatan kita terlampau dekat, sehingga sulitku membedakan perhatianmu sebagai sahabat atau perhatian orang yang menyayangiku lebih. Tetapi kita telah satu misi, tidak berpacaran dulu sebelum lulus SMA, iya itu janji kita. Hal itu telah membuatku sangat bahagia, setidaknya walaupun aku tidak memilikimu, kamu juga bukan milik orang lain. Dekat denganmu dan menjadi sahabatmu terlampau cukup untuk hatiku. Ketidaktamakanku ternyata berbuah buruk, janji hanyalah janji, kau melupakan janji kita, kau robohkan tiang-tiang kepercayaanku kepadamu, kau patahkan hati ini yang telah begitu tegak menujumu. Kau remukkan pengharapanku itu, janji kita bagimu hanyalah sekedar untaian kata-kata kosong. Bagimu mungkin janji itu hanya buah dari percakapan sebagai sahabat semata,tapi tidak bagiku. Bagiku janji itu seperti benang pengharapanku, tapi kini benang itu telah putus! Kau telah merusaknya, aku membencimu.
Senyumku tetap merekah didepanmu, mataku tetap berbinar ketika melihatmu, ucapku tetap lembut kepadamu walau kau ceritakan tentang wanita itu, aku tetap tegar, kuusahakan agar tak kau curigaiku jika aku sudah terlanjur menyayangimu lebih dalam. Tegarku ternyata hanya mampu bertahan ketika dihadapmu saja, kau tau sebenarnya aku telah rapuh, aku lunglai tak sanggup untuk berdiri lagi. Tak tahukah kamu,  Betapa sakitnya aku ketika harus menderma senyumku untukmu? Tak tahukah kamu, betapa kuatnya kelopak mataku untuk menahan tetesan air yang mungkin jatuh? Tak tahukah kamu malamku hanya dipenuhi bayang-bayangmu saja? Tak tahukah kamu?
            Mungkin kau tak akan pernah tahu perasaan terpendam ini wahai sahabatku, aku terlalu naif untuk menunjukannya, harga diriku sebagai wanita menguatkanku untuk tetap bersikap elegan dan kuat di depanmu. Jika pada akhirnya kau sadar akan keberadaanku disampingmu, maka bahagialah sudah aku. Tapi ini tidak terjadi, kau tetaplah sebagai seorang sahabat, sahabat yang baik bagiku. Harapanku hanya bagian dari pemikiran liarku, mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai seorang sahabat dan akan selalu begitu.

No comments:

Post a Comment