Cukup lama sudah kukubur dalam-dalam rasa ini, rasa yang
bermula saat kita satu SMA dulu. Awal dari persahabatan yang indah, berlanjut
pengharapan yang lebih. Mungkin aku terlalu egois tuk memimpi bersanding
denganmu dalam ikatan yang lebih dari sekedar sahabat. Persahabatan kita
terlampau dekat, sehingga sulitku membedakan perhatianmu sebagai sahabat atau
perhatian orang yang menyayangiku lebih. Tetapi kita telah satu misi, tidak
berpacaran dulu sebelum lulus SMA, iya itu janji kita. Hal itu telah membuatku
sangat bahagia, setidaknya walaupun aku tidak memilikimu, kamu juga bukan milik
orang lain. Dekat denganmu dan menjadi sahabatmu terlampau cukup untuk hatiku. Ketidaktamakanku
ternyata berbuah buruk, janji hanyalah janji, kau melupakan janji kita, kau
robohkan tiang-tiang kepercayaanku kepadamu, kau patahkan hati ini yang telah
begitu tegak menujumu. Kau remukkan pengharapanku itu, janji kita bagimu
hanyalah sekedar untaian kata-kata kosong. Bagimu mungkin janji itu hanya buah
dari percakapan sebagai sahabat semata,tapi tidak bagiku. Bagiku janji itu
seperti benang pengharapanku, tapi kini benang itu telah putus! Kau telah
merusaknya, aku membencimu.
Senyumku tetap merekah didepanmu,
mataku tetap berbinar ketika melihatmu, ucapku tetap lembut kepadamu walau kau
ceritakan tentang wanita itu, aku tetap tegar, kuusahakan agar tak kau
curigaiku jika aku sudah terlanjur menyayangimu lebih dalam. Tegarku ternyata
hanya mampu bertahan ketika dihadapmu saja, kau tau sebenarnya aku telah rapuh,
aku lunglai tak sanggup untuk berdiri lagi. Tak tahukah kamu, Betapa sakitnya aku ketika harus menderma
senyumku untukmu? Tak tahukah kamu, betapa kuatnya kelopak mataku untuk menahan
tetesan air yang mungkin jatuh? Tak tahukah kamu malamku hanya dipenuhi
bayang-bayangmu saja? Tak tahukah kamu?
Mungkin kau tak akan pernah tahu perasaan terpendam ini wahai sahabatku, aku terlalu naif untuk menunjukannya, harga diriku sebagai wanita menguatkanku untuk tetap bersikap elegan dan kuat di depanmu. Jika pada akhirnya kau sadar akan keberadaanku disampingmu, maka bahagialah sudah aku. Tapi ini tidak terjadi, kau tetaplah sebagai seorang sahabat, sahabat yang baik bagiku. Harapanku hanya bagian dari pemikiran liarku, mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai seorang sahabat dan akan selalu begitu.
Mungkin kau tak akan pernah tahu perasaan terpendam ini wahai sahabatku, aku terlalu naif untuk menunjukannya, harga diriku sebagai wanita menguatkanku untuk tetap bersikap elegan dan kuat di depanmu. Jika pada akhirnya kau sadar akan keberadaanku disampingmu, maka bahagialah sudah aku. Tapi ini tidak terjadi, kau tetaplah sebagai seorang sahabat, sahabat yang baik bagiku. Harapanku hanya bagian dari pemikiran liarku, mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai seorang sahabat dan akan selalu begitu.
No comments:
Post a Comment