Elegant Rose - Working In Background

Monday, 13 January 2014

Mawar, si Awan Hitam


           Hujan memang adalah saat-saat yang menyenangkan untuk ku tunggu. Dia bercerita dan menceritakan banyak hal kepadaku. Dia memberiku sisi penglihatan lain melalui salah satu bagian dari siklus hidrologinya, yaitu awan. Lihatlah rupanya! bagaimana awan mendung yang rela menangguhkan tangisnya demi hujan yang luruh tepat pada waktunya, bagaimana awan rela menjadi muram, hitam untuk menahan tangis yang sebenarnya telah membuncah. Sebagaimana sungai yang tak sengaja mengalir ketika kuingat luka lama yang telah terjahit rapi dan tak berbekas tiba-tiba terkoyak kembali. Perih, belum sempat aku menikmati saat-saat indah bersamamu harus kucoba tuk meniti luka ini (lagi). Aku hanyalah wanita  biasa sama seperti yang lain, aku hanya mau satu dan akupun yang satu hanya untukmu. Tapi sepertinya rasaku hanya mainan bagimu, tak berarti. Disini kubertahan menjaga mawar yang telah kau tanam  jauh di kawah hatiku, begitu dalamnya hingga akupun tak sampai untuk menjangkaunya lagi. Itu aku disini, lalu bagaimanakah denganmu yang disana? Apakah kau lakukan hal yang sama? Apakah mawar putihku tetap merekah? Atau telah kau tanam mawar-mawar lain dihatimu? Lalu keberapakah mawar ku dihatimu? Atau jangan-jangan mawar putihku telah kering dan rontok karna kuterlalu jauh? Apalah arti jarak jika hatimu padaku? Bukankah dengan menjaga mawar terlampau cukup? Cernalah. Pada saatnya, Awan itu tak lagi mampu untuk berpura-pura putih, untuk mencegah datangnya hujan, dia tak bisa lagi. Semuanya telah cukup, mungkin dia sudah lelah untuk terus menjaga mawar yang terlampau jauh itu, dia bosan untuk terus terlukai duri-duri tajam yang mengelupas kulitnya. Awan  yang putih itu telah berangsur-angsur menjadi abu-abu ketika telah yakin dia bukanlah satu-satunya mawar di hatinya yang jauh disana itu. Dan akhirnya hujanpun turun, awan yang telah kuat selama ini menyembunyikan kesedihanya telah rapuh, mungkin akan baik bila begini.” Mungkin akan baik jika hujan ini melegakanku”, katanya kepada angin. Aku telah lama menjaga mawar yang telah dia bawakan untukku, tapi dia belum membersihkan durinya, itu melukaiku. Tak akan ku semai mawar pemberiannya lagi dan tak mampu untuk membuangnya, karna itu terlalu jauh. Biarlah mawar itu tetap disana sampai akhirnya layu dengan sendirinya, karna semuanya butuh proses seperti siklus hidrologi itu sendiri.
           

No comments:

Post a Comment