Hujan memang adalah saat-saat
yang menyenangkan untuk ku tunggu. Dia bercerita dan menceritakan banyak hal
kepadaku. Dia memberiku sisi penglihatan lain melalui salah satu bagian dari siklus
hidrologinya, yaitu awan. Lihatlah rupanya! bagaimana awan mendung yang rela
menangguhkan tangisnya demi hujan yang luruh tepat pada waktunya, bagaimana
awan rela menjadi muram, hitam untuk menahan tangis yang sebenarnya telah
membuncah. Sebagaimana sungai yang tak sengaja mengalir ketika kuingat luka
lama yang telah terjahit rapi dan tak berbekas tiba-tiba terkoyak kembali. Perih,
belum sempat aku menikmati saat-saat indah bersamamu harus kucoba tuk meniti
luka ini (lagi). Aku hanyalah wanita biasa sama seperti yang lain, aku hanya mau
satu dan akupun yang satu hanya untukmu. Tapi sepertinya rasaku hanya mainan
bagimu, tak berarti. Disini kubertahan menjaga mawar yang telah kau tanam jauh di kawah hatiku, begitu dalamnya hingga
akupun tak sampai untuk menjangkaunya lagi. Itu aku disini, lalu bagaimanakah
denganmu yang disana? Apakah kau lakukan hal yang sama? Apakah mawar putihku
tetap merekah? Atau telah kau tanam mawar-mawar lain dihatimu? Lalu keberapakah
mawar ku dihatimu? Atau jangan-jangan mawar putihku telah kering dan rontok
karna kuterlalu jauh? Apalah arti jarak jika hatimu padaku? Bukankah dengan
menjaga mawar terlampau cukup? Cernalah. Pada saatnya, Awan itu tak lagi mampu
untuk berpura-pura putih, untuk mencegah datangnya hujan, dia tak bisa lagi. Semuanya
telah cukup, mungkin dia sudah lelah untuk terus menjaga mawar yang terlampau
jauh itu, dia bosan untuk terus terlukai duri-duri tajam yang mengelupas
kulitnya. Awan yang putih itu telah
berangsur-angsur menjadi abu-abu ketika telah yakin dia bukanlah satu-satunya
mawar di hatinya yang jauh disana itu. Dan akhirnya hujanpun turun, awan yang
telah kuat selama ini menyembunyikan kesedihanya telah rapuh, mungkin akan baik
bila begini.” Mungkin akan baik jika hujan ini melegakanku”, katanya kepada
angin. Aku telah lama menjaga mawar yang telah dia bawakan untukku, tapi dia belum
membersihkan durinya, itu melukaiku. Tak akan ku semai mawar pemberiannya lagi
dan tak mampu untuk membuangnya, karna itu terlalu jauh. Biarlah mawar itu
tetap disana sampai akhirnya layu dengan sendirinya, karna semuanya butuh
proses seperti siklus hidrologi itu sendiri.
No comments:
Post a Comment