Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 16 January 2014

Digital Love


           Kebosanan akan kesendirianku akhir-akhir ini telah sampai pada tapal batasnya, setelah keputusanku untuk melepas kekasih yang telah entah, menomorberapakanku dihatinya. Sepertinya itu sangat membekas, itu sangat melukai aku. Sudah terlanjur kutitipan rasa ini padanya dan hanya disia-siakannya. Butuh waktu begitu lama untukku move on darinya, melupakan kisah-kisah manis bersamanya, bahkan inginku melupakan rupanya, andai saja bisa. Begitu inginku untuk benar-benar menghapus semua tentang dirinya di ingatanku. Bagaimana tidak,siapa wanita yang mau tetap mempertahankan hubungan yang telah terjalin cukup lama dengan melihat pacarnya sendiri berdua dengan orang lain dan beradegan mesra dengannya, sungguh memilukan. Biarlah jadi sebagian pengalaman pahit dalam liku cintaku. Twitterpun menjadi teman setiaku, dia tidak pernah mengeluh, dengan amarahku, dengan sedihku, dengan bahagiaku dan dengan semuaku. Dia terima, dia diam, ya karena dia mesin. Tak apalah biarku sedikit menguapkan kesendirianku. Malam itu, ada yang berbeda dengan notifikasi di home twitterku, iya ada DM. Dari seorang pria tak dikenal, “minta nomor hape, boleh”? isi DMnya. Tak pikir panjang akupun langsung menekan tombol keyboardku untuk membalasnya. Tak ada salahnya kan, tak dikenal juga. Tak terasa jari-jariku sudah merayapi mouse dan menscrollnya ke atas ke bawah, aku mulai menstalkingnya. Oke avatarnya terlihat menarik, statusnya berisi dan dia bukan anak Alay poin penting itu, kudu harus digarisbawahi.
            Percakapanpun dimulai lewat sms, kita saling bertanya tentang daerah masing-masing, bercerita tentang banyak hal, dan nyambung. Sms-an dengannya mulai menjadi sebuah kebiasaanku, oh atau mungkin sebuah kebutuhan. Hari-hariku di penuhi dengan sms-sms darinya, dan ternyata itu cukup membahagiakanku. Aneh memang, kita yang tidak pernah bertemu, tak pernah bertegur sapa, bisa begitu nyaman dengan komunikasi ini. Nampaknya smspun sudah menjadi sebuah hal yang terlalu mainstream, jika mendengarkan suara dan mengobrol mungkin akan dapat menilai dengan lebih baik kepribadian masing-masing. Seiring berjalannya intensitas kedekatan komunikasi kami, kini kami lebih sering bertelfonan, dan anehnya aku merasa nyaman bercerita tentang apa saja padanya, padahal mengenalnya saja tidak, aku hanya tahu dia lewat Twitter ingat Twitter! sebagai salah satu followerku. Hari-hari kian dihiasi warna-warna cerah ketika diiringi dengan canda tawanya dan akupun sudah tak bisa lepas dari HP. Hariku akan sepi sekali ketika tidak ada kabar darinya, kamipun memutuskan untuk saling memberi kabar ketika sedang tidak menggunakan HP. Mungkin aku sudah menduganya, tetapi aku merasa begitu aneh ketika dugaanku ternyata menjadi kenyataan “Dia Menembakku” iya kami terjebak Digital Love. Awal dari keisengan memberikan nomorpun memberi hasil yang signifikan buat ke move on-anku, tapi move on yang sebenarnya tidak aku inginkan. Ini tidaklah mungkin, ini tidak benar, aku tidak mengenalnya dan begitupun sebaliknya, kita hanya saling follow lewat twitter dan berlanjut di HP. Aku linglung, aku tidak tahu harus menjawab apa, aku takut untuk membuka lembaran ini lagi, dan ini lebih dramatis karena aku tidak akan tahu apa yang orang itu lakukan di balik HPku. Tapi aku juga tak mau untuk menolakknya dia telah mencanduiku dengan perhatian, dan kelakar-kelakar konyolnya. Tak apalah, jalani saja toh ini hanya sebatas digital love, anggaplah saja dia seperti simi-simi yang mengurung kesepianku.
Waktu terus berjalan,  masa-masa manis awal pacaranpun terlalu cepat untuk terlewati, kami mulai banyak berdebat, kami lebih sering ribut. Hal inilah yang tidak aku prediksikan dari awal untuk terjadi, ternyata aku menganggapnya benar-benar pacar. Aku menuntutnya untuk bertemu, padahal tidak pernah ada perjanjian untuk bertemu, aku mulai bosan dengan kencan HP ku. Aku telah bosan untuk mendengar suaranya saja, aku mau paling tidak tahu sebenarnya seperti apakah rupanya ketika melihat secara langsung, seperti ava-nya kah? Hal inilah yang terus-menerus menghantui perjalanan digital love kami. Tapi entah bagaimana kami dapat bertahan selama enam bulan. Itu bukanlah waktu yang singkat, sangat panjang untuk dua orang yang tak pernah bertemu sekalipun.
Sampai akhirnya kebosananku telah memuncak, candunya telah hilang. Mungkin lebih baik kita seperti dulu, sebagai follower twitter saja. Digital love ini sungguh aneh. Aku ingin kembali dengan duniaku, kembali berinteraksi dengan orang-orang disekelilingku, tidak dengan HP. Telah selesai permainan simi-simi ini, biarlah tetap kita sebagai kawan baru yang memang belum kenal. Dia pun hanya mampu mengiyakan keputusanku, karena ini sudah tak lagi mungkin untuk dijalani. Kitapun kembali ke masa-masa enam bulan lalu, menjadi follower.

No comments:

Post a Comment