Kebosanan akan kesendirianku akhir-akhir ini telah sampai
pada tapal batasnya, setelah keputusanku untuk melepas kekasih yang telah
entah, menomorberapakanku dihatinya. Sepertinya itu sangat membekas, itu sangat
melukai aku. Sudah terlanjur kutitipan rasa ini padanya dan hanya
disia-siakannya. Butuh waktu begitu lama untukku move on darinya, melupakan
kisah-kisah manis bersamanya, bahkan inginku melupakan rupanya, andai saja
bisa. Begitu inginku untuk benar-benar menghapus semua tentang dirinya di
ingatanku. Bagaimana tidak,siapa wanita yang mau tetap mempertahankan hubungan
yang telah terjalin cukup lama dengan melihat pacarnya sendiri berdua dengan
orang lain dan beradegan mesra dengannya, sungguh memilukan. Biarlah jadi
sebagian pengalaman pahit dalam liku cintaku. Twitterpun menjadi teman setiaku,
dia tidak pernah mengeluh, dengan amarahku, dengan sedihku, dengan bahagiaku
dan dengan semuaku. Dia terima, dia diam, ya karena dia mesin. Tak apalah
biarku sedikit menguapkan kesendirianku. Malam itu, ada yang berbeda dengan
notifikasi di home twitterku, iya ada DM. Dari seorang pria tak dikenal, “minta
nomor hape, boleh”? isi DMnya. Tak pikir panjang akupun langsung menekan tombol
keyboardku untuk membalasnya. Tak ada salahnya kan, tak dikenal juga. Tak terasa
jari-jariku sudah merayapi mouse dan menscrollnya ke atas ke bawah, aku mulai
menstalkingnya. Oke avatarnya terlihat menarik, statusnya berisi dan dia bukan
anak Alay poin penting itu, kudu harus digarisbawahi.
Percakapanpun
dimulai lewat sms, kita saling bertanya tentang daerah masing-masing, bercerita
tentang banyak hal, dan nyambung. Sms-an dengannya mulai menjadi sebuah kebiasaanku,
oh atau mungkin sebuah kebutuhan. Hari-hariku di penuhi dengan sms-sms darinya,
dan ternyata itu cukup membahagiakanku. Aneh memang, kita yang tidak pernah
bertemu, tak pernah bertegur sapa, bisa begitu nyaman dengan komunikasi ini. Nampaknya
smspun sudah menjadi sebuah hal yang terlalu mainstream, jika mendengarkan
suara dan mengobrol mungkin akan dapat menilai dengan lebih baik kepribadian
masing-masing. Seiring berjalannya intensitas kedekatan komunikasi kami, kini
kami lebih sering bertelfonan, dan anehnya aku merasa nyaman bercerita tentang
apa saja padanya, padahal mengenalnya saja tidak, aku hanya tahu dia lewat
Twitter ingat Twitter! sebagai salah satu followerku. Hari-hari kian dihiasi warna-warna
cerah ketika diiringi dengan canda tawanya dan akupun sudah tak bisa lepas dari
HP. Hariku akan sepi sekali ketika tidak ada kabar darinya, kamipun memutuskan
untuk saling memberi kabar ketika sedang tidak menggunakan HP. Mungkin aku
sudah menduganya, tetapi aku merasa begitu aneh ketika dugaanku ternyata
menjadi kenyataan “Dia Menembakku” iya kami terjebak Digital Love. Awal dari
keisengan memberikan nomorpun memberi hasil yang signifikan buat ke move on-anku,
tapi move on yang sebenarnya tidak aku inginkan. Ini tidaklah mungkin, ini
tidak benar, aku tidak mengenalnya dan begitupun sebaliknya, kita hanya saling
follow lewat twitter dan berlanjut di HP. Aku linglung, aku tidak tahu harus
menjawab apa, aku takut untuk membuka lembaran ini lagi, dan ini lebih dramatis
karena aku tidak akan tahu apa yang orang itu lakukan di balik HPku. Tapi aku
juga tak mau untuk menolakknya dia telah mencanduiku dengan perhatian, dan
kelakar-kelakar konyolnya. Tak apalah, jalani saja toh ini hanya sebatas
digital love, anggaplah saja dia seperti simi-simi yang mengurung kesepianku.
Waktu terus berjalan, masa-masa manis awal pacaranpun terlalu cepat
untuk terlewati, kami mulai banyak berdebat, kami lebih sering ribut. Hal inilah
yang tidak aku prediksikan dari awal untuk terjadi, ternyata aku menganggapnya
benar-benar pacar. Aku menuntutnya untuk bertemu, padahal tidak pernah ada
perjanjian untuk bertemu, aku mulai bosan dengan kencan HP ku. Aku telah bosan
untuk mendengar suaranya saja, aku mau paling tidak tahu sebenarnya seperti
apakah rupanya ketika melihat secara langsung, seperti ava-nya kah? Hal inilah yang
terus-menerus menghantui perjalanan digital love kami. Tapi entah bagaimana
kami dapat bertahan selama enam bulan. Itu bukanlah waktu yang singkat, sangat
panjang untuk dua orang yang tak pernah bertemu sekalipun.
Sampai akhirnya kebosananku telah
memuncak, candunya telah hilang. Mungkin lebih baik kita seperti dulu, sebagai
follower twitter saja. Digital love ini sungguh aneh. Aku ingin kembali dengan
duniaku, kembali berinteraksi dengan orang-orang disekelilingku, tidak dengan
HP. Telah selesai permainan simi-simi ini, biarlah tetap kita sebagai kawan
baru yang memang belum kenal. Dia pun hanya mampu mengiyakan keputusanku,
karena ini sudah tak lagi mungkin untuk dijalani. Kitapun kembali ke masa-masa
enam bulan lalu, menjadi follower.
No comments:
Post a Comment