Elegant Rose - Working In Background

Sunday, 12 January 2014

Hujan, Berhentilah...


Hujan ini begitu teduh, dingin dan konsisten tiap tetesnya. Hujan ini seperti kamu. Iya kamu yang sekarang sudah tak disisiku lagi. Tiap hujan meneteskan kelembutannya, tiap itu pula aku mengingatmu. Gambaran sosok tinggi yang selalu melindungiku, yang memeluku dengan dekap hangat, memegang tanganku dan berkata semua akan baik-baik saja. Namun semuanya telah hilang, telah menjadi bagian dari memori indahku yang telah lalu. Sosokmu hilang seiring berhentinya hujan pagi ini dan kemudian datang lagi dan lagi ketika hujan memuntahkan amarahnya. Mengapa sulit sekali memusnahkanmu dari pikiranku, alih-alih musnah sepertinya kamu sudah permanen di hatiku. Namun sudah menjadi keputusanku untuk melepasmu, orang dengan kisah panjang masa laluku. Itu kamu enam tahun yang lalu, seorang pria tinggi dengan kulit kuning langsat, dan yang memiliki wajah sendu itu.  Kau anak lelaki kelas IX SMP yang duduk didepanku dan selalu mencari cara untuk melihatku, untuk memberiku semangat dan mencari perhatianku. Aku ingat, saat itu sepulang sekolah aku sedang berjalan sendirian dan matahari dengan teriknya memuntahkan panasnya, aku berjalan dengan cepat karna ada sosok yang mengikutiku. Aku tidak berani untuk menengoknya, aku terlalu takut untuk mengetahui kemungkinan buruk yang mungkin aku dapati. Sosok itu berjalan semakin cepat mendekatiku akupun lari, sosok itupun semakin gencar mengikutiku. Tiba-tiba sosok itu memegang erat tanganku lalu berkata, “kamu kenapa? Kamu takut?” Aku hanya terpana melihat ternyata sosok itu adalah kamu, iya kamu si anak lelaki itu. Dengan senyum bulan sabit dan mata sendu itu memberikanku payung. Siang ini panas, pakailah. Belum sempat aku berkata terima kasih sosok itupun dengan segera meninggalkanku mematung sembari memegang payung berwarna torqua itu. Lama aku melihat punggungnya sampai akhirnya hilang dari kejauhan, tak terasa senyum kecil tersungging dibibirku. “Dasar bodoh bagaimana mungkin ada penculik ditempat ramai begini”,  pikirku. Tapi, sepertinya senyumku bukan karna hal itu.
 Mulai saat itu ada alasan lain, ada orang lain yang mengusik hari-hariku. Anak lelaki itu selalu membuatku tersenyum, tersipu, dan selalu bisa menjadi penolongku dia selalu bilang semua akan baik-baik saja, tenanglah. Ketika berjalan dibelakangnya aku tersenyum dan ketika dia melihatku  senyumku sirna. Mungkin itu salahku yang tak bisa menunjukan rasa sukaku sampai akhirnya harus selama itu. Aku memang bukan orang yang pandai menunjukan perasaan, aku terlalu gengsi. Cinta itu indah tapi saat itu kita masih SMP, mungkin itu hanya cinta monyet yang akan segera hilang dimasanya nanti ketika kita tidak bertemu lagi. Masa-masa ujian sekolahpun datang, kita lulus dan terpisah. Kita tidak di sekolah yang sama aku bertemu anak lelaki baru dan mungkin juga kamu. Iya kamu menemukan anak perempuan baru, dan itu melukaiku tapi apa daya aku tidak bisa memilikimu atau memiliki anak lelaki lain, yah setidaknya itulah janjiku kepada orang tuaku. Ternyata mengetahui kamu dimiliki orang lain belum cukup untuk melukaiku, tetapi mengetahui perempuan itu adalah sahabatku sendiri itu telak! Tak sampai ucapku untuk mengatakan seperti apa remuknya aku. Tanganku menengadah merasakan rintik hujan yang turun, berhentilah hujan. Bersahabatlah denganku, bantu aku untuk melupakan rasa sakitku waktu itu. Berhentilah, jangan mengoyak luka yang belum sembuh. Berhentilah, berhentilah  aku ingin berjalan kembali di bawah cerahnya langit. Menanggalkan memori-memori pahit akan pria tinggi itu.

No comments:

Post a Comment