Hujan ini begitu teduh, dingin
dan konsisten tiap tetesnya. Hujan ini seperti kamu. Iya kamu yang sekarang
sudah tak disisiku lagi. Tiap hujan meneteskan kelembutannya, tiap itu pula aku
mengingatmu. Gambaran sosok tinggi yang selalu melindungiku, yang memeluku
dengan dekap hangat, memegang tanganku dan berkata semua akan baik-baik saja. Namun
semuanya telah hilang, telah menjadi bagian dari memori indahku yang telah
lalu. Sosokmu hilang seiring berhentinya hujan pagi ini dan kemudian datang lagi
dan lagi ketika hujan memuntahkan amarahnya. Mengapa sulit sekali memusnahkanmu
dari pikiranku, alih-alih musnah sepertinya kamu sudah permanen di hatiku. Namun
sudah menjadi keputusanku untuk melepasmu, orang dengan kisah panjang masa
laluku. Itu kamu enam tahun yang lalu, seorang pria tinggi dengan kulit kuning
langsat, dan yang memiliki wajah sendu itu.
Kau anak lelaki kelas IX SMP yang duduk didepanku dan selalu mencari
cara untuk melihatku, untuk memberiku semangat dan mencari perhatianku. Aku ingat,
saat itu sepulang sekolah aku sedang berjalan sendirian dan matahari dengan
teriknya memuntahkan panasnya, aku berjalan dengan cepat karna ada sosok yang
mengikutiku. Aku tidak berani untuk menengoknya, aku terlalu takut untuk
mengetahui kemungkinan buruk yang mungkin aku dapati. Sosok itu berjalan
semakin cepat mendekatiku akupun lari, sosok itupun semakin gencar mengikutiku.
Tiba-tiba sosok itu memegang erat tanganku lalu berkata, “kamu kenapa? Kamu takut?”
Aku hanya terpana melihat ternyata sosok itu adalah kamu, iya kamu si anak
lelaki itu. Dengan senyum bulan sabit dan mata sendu itu memberikanku payung. Siang
ini panas, pakailah. Belum sempat aku berkata terima kasih sosok itupun dengan
segera meninggalkanku mematung sembari memegang payung berwarna torqua itu. Lama
aku melihat punggungnya sampai akhirnya hilang dari kejauhan, tak terasa senyum
kecil tersungging dibibirku. “Dasar bodoh bagaimana mungkin ada penculik
ditempat ramai begini”, pikirku. Tapi,
sepertinya senyumku bukan karna hal itu.
Mulai saat itu ada alasan lain, ada orang lain
yang mengusik hari-hariku. Anak lelaki itu selalu membuatku tersenyum, tersipu,
dan selalu bisa menjadi penolongku dia selalu bilang semua akan baik-baik saja,
tenanglah. Ketika berjalan dibelakangnya aku tersenyum dan ketika dia melihatku
senyumku sirna. Mungkin itu salahku yang
tak bisa menunjukan rasa sukaku sampai akhirnya harus selama itu. Aku memang
bukan orang yang pandai menunjukan perasaan, aku terlalu gengsi. Cinta itu
indah tapi saat itu kita masih SMP, mungkin itu hanya cinta monyet yang akan
segera hilang dimasanya nanti ketika kita tidak bertemu lagi. Masa-masa ujian
sekolahpun datang, kita lulus dan terpisah. Kita tidak di sekolah yang sama aku
bertemu anak lelaki baru dan mungkin juga kamu. Iya kamu menemukan anak perempuan
baru, dan itu melukaiku tapi apa daya aku tidak bisa memilikimu atau memiliki
anak lelaki lain, yah setidaknya itulah janjiku kepada orang tuaku. Ternyata mengetahui
kamu dimiliki orang lain belum cukup untuk melukaiku, tetapi mengetahui
perempuan itu adalah sahabatku sendiri itu telak! Tak sampai ucapku untuk
mengatakan seperti apa remuknya aku. Tanganku menengadah merasakan rintik hujan
yang turun, berhentilah hujan. Bersahabatlah denganku, bantu aku untuk
melupakan rasa sakitku waktu itu. Berhentilah, jangan mengoyak luka yang belum
sembuh. Berhentilah, berhentilah aku
ingin berjalan kembali di bawah cerahnya langit. Menanggalkan memori-memori
pahit akan pria tinggi itu.
No comments:
Post a Comment