Elegant Rose - Working In Background

Monday, 13 January 2014

Platonisme?


            Dulu aku tak begitu mengerti apa itu platonisme, cinta tanpa ingin memiliki. Cinta yang seperti itu apakah ada di dunia ini? Apakah ada orang yang jatuh cinta dan kemudian rela untuk tidak memiliki? Rela jika sang pujaan hati jatuh ke pelukan mistikus cinta lain? Relakah? Yakin?

Tapi itu dulu, sebelum aku bertemu denganmu pria tinggi lain. Sosokmu begitu sempurna untukku, cerdas, tampan, berwibawa dan juga religius. Wanita mana yang tak terpesona dengan rupamu, wanita mana yang tak terlena dengan ucapmu yang begitu lembut dan jernih. Dan itu menyadarkanku akan banyak wanita yang mungkin  menjatuhkan harga dirinya untuk mendapatkanmu. Dan itu membangunkanku atas mimpi panjangku untuk memilikimu. Kau begitu dekat, sama seperti udara, ada di sekitarku. Untuk menyentuhmu bukanlah hal yang sulit, berincang denganmu adalah kegiatan sehari-hariku. Namun, untuk menjangkau hatimu aku tak mampu, aku tak bisa membaca matamu, aku tak bisa mengartikan senyumu kepadaku dan aku tak sanggup menerjemahkan gesturmu padaku. Kau begitu misterius, dan itu menyebalkan! 

Sadarku tak bisa memilikimu karna tak taunya aku akan kamu yang begitu rahasia. Dan tuk melupakanmu adalah hal yang mustahil bagiku, karna kamu nyata hadir di depan mataku, setiap hari. Oh, andai saja kau mengerti ini wahai pria tinggi lain. Tak bisakah sedikit saja kau perlihatkan lampu hijau itu? Sedikit saja itu sudah cukup untukku untuk mengerti apa maumu. Tapi sayang ketidakpekaanmu itu yang membuatnya kini semakin rumit. Dan kerumitan atas masalah cinta tersembunyi ini yang membuatku untuk memlatoniskan diri. Hal ini kulakukan bukan karna aku tidak menyukaimu atau aku tidak ingin memilikimu, bukan! Hal ini kulakukan karna aku terlampau sadar diri bahwa untuk memilikimu adalah hal yang “MUSTAHIL”. Dan untuk melupakanmu adalah ke-MUSTAHILan lain, biarlah kamu seperti udara bagiku. Walaupun aku tidak bisa memilikimu tapi aku bisa bersenda gurau denganmu, bercerita tentang apa saja yang tidak kebanyakan orang mengerti, seperti yang telah kukatakan tadi kau cerdas. Berbagi waktu, berbagi senyum, pergi bersama. Melihat tawamu yang karnaku itu sudah membuatku sangat bahagia. Tetaplah disekitarku, tetaplah menjadi udara bagiku dengan begitu aku masih bisa melihatmu, walaupun tak bisa memilikimu. Platonisme,,,

No comments:

Post a Comment