Dulu aku
tak begitu mengerti apa itu platonisme, cinta tanpa ingin memiliki. Cinta yang
seperti itu apakah ada di dunia ini? Apakah ada orang yang jatuh cinta dan
kemudian rela untuk tidak memiliki? Rela jika sang pujaan hati jatuh ke pelukan
mistikus cinta lain? Relakah? Yakin?
Tapi itu dulu, sebelum aku
bertemu denganmu pria tinggi lain. Sosokmu begitu sempurna untukku, cerdas,
tampan, berwibawa dan juga religius. Wanita mana yang tak terpesona dengan
rupamu, wanita mana yang tak terlena dengan ucapmu yang begitu lembut dan
jernih. Dan itu menyadarkanku akan banyak wanita yang mungkin menjatuhkan
harga dirinya untuk mendapatkanmu. Dan itu membangunkanku atas mimpi panjangku
untuk memilikimu. Kau begitu dekat, sama seperti udara, ada di sekitarku. Untuk menyentuhmu
bukanlah hal yang sulit, berincang denganmu adalah kegiatan sehari-hariku. Namun,
untuk menjangkau hatimu aku tak mampu, aku tak bisa membaca matamu, aku tak
bisa mengartikan senyumu kepadaku dan aku tak sanggup menerjemahkan gesturmu
padaku. Kau begitu misterius, dan itu menyebalkan!
Sadarku tak bisa memilikimu karna
tak taunya aku akan kamu yang begitu rahasia. Dan tuk melupakanmu adalah hal
yang mustahil bagiku, karna kamu nyata hadir di depan mataku, setiap hari. Oh,
andai saja kau mengerti ini wahai pria tinggi lain. Tak bisakah sedikit saja
kau perlihatkan lampu hijau itu? Sedikit saja itu sudah cukup untukku untuk
mengerti apa maumu. Tapi sayang ketidakpekaanmu itu yang membuatnya kini
semakin rumit. Dan kerumitan atas masalah cinta tersembunyi ini yang membuatku
untuk memlatoniskan diri. Hal ini kulakukan bukan karna aku tidak menyukaimu
atau aku tidak ingin memilikimu, bukan! Hal ini kulakukan karna aku terlampau
sadar diri bahwa untuk memilikimu adalah hal yang “MUSTAHIL”. Dan untuk
melupakanmu adalah ke-MUSTAHILan lain, biarlah kamu seperti udara bagiku. Walaupun
aku tidak bisa memilikimu tapi aku bisa bersenda gurau denganmu, bercerita
tentang apa saja yang tidak kebanyakan orang mengerti, seperti yang telah
kukatakan tadi kau cerdas. Berbagi waktu, berbagi senyum, pergi bersama. Melihat
tawamu yang karnaku itu sudah membuatku sangat bahagia. Tetaplah disekitarku,
tetaplah menjadi udara bagiku dengan begitu aku masih bisa melihatmu, walaupun
tak bisa memilikimu. Platonisme,,,
No comments:
Post a Comment