Elegant Rose - Working In Background

Monday, 13 January 2014

Terima kasih, Kie,,


Akhir sekolah yang begitu menyibukanku, les, kelas tambahan yang menguras tenaga dan otakku. Seperti anak kelas XII lainnya, aku mengambil les tambahan, tentu saja sebagai persiapan ujian akhirku. Malam itu seperti biasa aku berangkat les di salah satu tempat les bonafit di lampung. Mendung menggelantung diiringi tetesan-tetesan kecil air , “mungkin hal ini yang membuat teman-temanku enggan untuk berangkat”, gumamku. “Karna sedikitnya siswa yang berangkat, mau tidak mau kita harus menggabungnya”, ucap mas tri, salah satu pegawai. Ah, ini pasti tidak akan menyenangkan, suasana ini membuat kantukku datang. Belum lagi bertemu dengan teman-teman baru yang notabene aku sama sekali tidak mengenalnya. Dengan berat, kulangkahkan kakiku dimana kelas itu berada. Aku ingat saat itu mata pelajaran kimia, aku memilih untuk duduk dibangku pojok di belakang, “Paling tidak aku bisa membiarkan kantuk menguasai mataku”, pikirku. Entah mengapa mata pelajaran ini begitu menjenuhkan, apa karna hujan yang membawa kantukku atau? Ah sudahlah. Hanya dalam hiyungan detik saja mataku telah menutup kelopaknya.“Coba Kie, jawab pertanyaan bapak tadi”, tanya Pak Joko. Aku terkesiap, Kie? Itukah nama yang didengung-dengungkan oleh Pak Joko itu? Itukah orang yang telah memenangkan olimpiade kimia tingkat provinsi itu? Itukah dia? Sekejap saja kantukku musnah, tajam mataku memerhatikan lelaki itu, cara bicaranya, gestur tubuhnya dan Iya! Dia cerdas. Dia yang selama ini, hanya kuketahui kisah jenius dan namanya saja. Kali ini aku menangkap sosoknya barang sejenak lewat mataku, kurekam tiap detil tubuhnya dipikiranku. Ini peristiwa yang jarang terjadi di hidupku, dan aku tak akan menyia-nyiakannya barang sekejap. Aku seperti mendapat boneka baru, bahagia.Ternyata waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan begitu cepatnya, memaksaku hanya menyimpan rekam gambarnya saja. “Sungguh menyebalkan”, pikirku. Tapi tunggu dulu, ternyata langit tengah bersahabat denganku, dia telah mengintaiku yang secara diam-diam berdo’a untuk meluruhkan tangis hujan dengan bulir yang lebih besar, lagi dan lagi. Mau tidak mau itu memaksa kami untuk tetap tinggal agar tak kebasahan. Alih-alih di dalam kelas, teraspun menjadi pilihan kami untuk menyaksikan senandung alam ini. Di kala hujan malam itu, dia berdiri tegak di depanku sambil menengadahkan tangan merasakan tangisan awan. Dengan jelas dapt kulihat bagaimana matanya yang begitu tajam menatap luruhan bulir-bulir hujan yang jatuh di telapak tangannya, tak terasa senyum kecil tersungging di bibirku, aku bahagia. Ini adalah peristiwa singkat yang mungkin akan kurasakan malam ini saja. Untuk itu, kubiarkan saja aliran darahku memperkuat otot-otot bibirku untuk menggulirkan senyum itu sekali lagi, damai. Apakah kisah ini akan musnah dengan berhentinya hujan?
Tidak! Takdir tuhan berkata lain, tuhan memberiku kesempatan lagi untuk mengenalnya lebih jauh, untuk mengamatinya lebih dalam dan untuk memahami apa yang sebenarnya membuat hatiku resah setelah malam itu. Aku bertemu dia lagi, kita sekelas, sungguh sebuah kejutan yang membuatku ingin berteriak seketika melihat pengumuman pembagian kelas, tapi kuurungkan niatku ketika tiba-tiba mata yang tajam itu meniti satu persatu nama di dalam pengumuman itu. “Kie, kelas K”, ucapnya. Lelaki ini tepat berdiri di sebelah kiriku, ntah apa yang aku lakukan saat itu yang kurasakan hanya kaki yang berat untuk kulangkahkan seperti dirantai puluhan ton besi. Terpaku, itu saja yang kulakukan, berbicara saja ku tak mampu apalagi untuk menatap matanya. “Kamu Rie kan? Kita yang sekelas malam itu”, ucapnya. Terpakunya aku bukan apa-apa ketika kutahu  dia mengetahui namaku, aku linglung entah berapa lama sudah aku mendiamkannya, bodoh memang. Tapi, untuk kesekian kalinya mulut ini terkunci tak mampu berucap. “iya”, ucapku akhirnya. Hanya itu , hanya itu yang mampu kuucapkan ketika kesempatan yang aku impikan datang, bodoh bodoh bodoh! Entah berapa kali sudah aku mengutuk diriku sendiri atas tindakanku ini. Disaat yang sama kurasakan rantai besi itu menarikku berjalan lebih cepat dari biasanya, lari tak menghiraukan dia yang sedang menatapmu menunggu ucapan selanjutnya. Ya Tuhan, seperti inikah. Haruskah kuhanya menyerah pada diriku sendiri? Inginku seperti diriku biasanya, ceria. Tetapi mengapa aku tak bisa? Mungkin inikah? perasaan ini meresahkanku. Guru yang menerangkan pelajaran tak terlihat di mataku, tujuan mataku hanya satu pada punggung lelaki itu.
Mungkin hari ini kesialanku yang lain atau jawaban dari do’a-do’aku? Tidak ada yang menjemputku, angkutan umumpun sudah tidak berkeliaran karna ini sudah larut. Aku kalut, bagaimana aku bisa pulang di malam begini? Tempat les ini cukup jauh dari rumahku, mustahil rasanya jika aku harus berjalan kaki di payungi langit malam. Aku berdiri membatu ditrotoar entah apa yang ku tunggu, aku hanya berdiri saja, menatap permata langit. “Rie, pulang bareng  yuk”! ucap lelaki yang memiliki punggung itu. “Ha”? hanya itu yang mampu terucap dari bibirku, bukan karna ucapanya tak jelas tapi aku sedang meraba pendengaranku sendiri atas apa yang dia ucapkan tadi. Pikiranku terbang  ketika tangan itu dengan lembut menggenggam tanganku untuk duduk di motornya. Malam itu terasa begitu panjang, sejuk dan indah. Aku tak banyak berucap hanya ribuan senyum tersungging dibibirku.
Kini aku telah mencair , aku telah sanggup menatap mata tajamnya, berbicara banyak dengannya, ceriaku telah kembali. Kenyamanan-kenyamanan ini telah melupakanku atas satu hal, SNMBTN telah menyongsong. Kita berpisah, kita tak disatu universitas, lagi-lagi ini masalah jarak. Usahaku tak mampu untuk mendekatkan jarak itu, lelaki dengan punggung itu telah hilang. Mungkin dia hanya salah satu dari orang-orang yang berkunjung ke duniaku, yang mau berbagi waktu denganku. Terima kasih, Kie,,

No comments:

Post a Comment