Akhir sekolah yang begitu
menyibukanku, les, kelas tambahan yang menguras tenaga dan otakku. Seperti anak
kelas XII lainnya, aku mengambil les tambahan, tentu saja sebagai persiapan
ujian akhirku. Malam itu seperti biasa aku berangkat les di salah satu tempat
les bonafit di lampung. Mendung menggelantung diiringi tetesan-tetesan kecil
air , “mungkin hal ini yang membuat teman-temanku enggan untuk berangkat”, gumamku.
“Karna sedikitnya siswa yang berangkat, mau tidak mau kita harus menggabungnya”,
ucap mas tri, salah satu pegawai. Ah, ini pasti tidak akan menyenangkan,
suasana ini membuat kantukku datang. Belum lagi bertemu dengan teman-teman baru
yang notabene aku sama sekali tidak mengenalnya. Dengan berat, kulangkahkan
kakiku dimana kelas itu berada. Aku ingat saat itu mata pelajaran kimia, aku
memilih untuk duduk dibangku pojok di belakang, “Paling tidak aku bisa membiarkan
kantuk menguasai mataku”, pikirku. Entah mengapa mata pelajaran ini begitu
menjenuhkan, apa karna hujan yang membawa kantukku atau? Ah sudahlah. Hanya dalam
hiyungan detik saja mataku telah menutup kelopaknya.“Coba Kie, jawab pertanyaan
bapak tadi”, tanya Pak Joko. Aku terkesiap, Kie? Itukah nama yang
didengung-dengungkan oleh Pak Joko itu? Itukah orang yang telah memenangkan
olimpiade kimia tingkat provinsi itu? Itukah dia? Sekejap saja kantukku musnah,
tajam mataku memerhatikan lelaki itu, cara bicaranya, gestur tubuhnya dan Iya! Dia
cerdas. Dia yang selama ini, hanya kuketahui kisah jenius dan namanya saja. Kali
ini aku menangkap sosoknya barang sejenak lewat mataku, kurekam tiap detil
tubuhnya dipikiranku. Ini peristiwa yang jarang terjadi di hidupku, dan aku tak
akan menyia-nyiakannya barang sekejap. Aku seperti mendapat boneka baru,
bahagia.Ternyata waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan begitu cepatnya,
memaksaku hanya menyimpan rekam gambarnya saja. “Sungguh menyebalkan”, pikirku.
Tapi tunggu dulu, ternyata langit tengah bersahabat denganku, dia telah
mengintaiku yang secara diam-diam berdo’a untuk meluruhkan tangis hujan dengan
bulir yang lebih besar, lagi dan lagi. Mau tidak mau itu memaksa kami untuk
tetap tinggal agar tak kebasahan. Alih-alih di dalam kelas, teraspun menjadi
pilihan kami untuk menyaksikan senandung alam ini. Di kala hujan malam itu, dia
berdiri tegak di depanku sambil menengadahkan tangan merasakan tangisan awan. Dengan
jelas dapt kulihat bagaimana matanya yang begitu tajam menatap luruhan
bulir-bulir hujan yang jatuh di telapak tangannya, tak terasa senyum kecil
tersungging di bibirku, aku bahagia. Ini adalah peristiwa singkat yang mungkin
akan kurasakan malam ini saja. Untuk itu, kubiarkan saja aliran darahku
memperkuat otot-otot bibirku untuk menggulirkan senyum itu sekali lagi, damai. Apakah
kisah ini akan musnah dengan berhentinya hujan?
Tidak! Takdir tuhan berkata lain,
tuhan memberiku kesempatan lagi untuk mengenalnya lebih jauh, untuk
mengamatinya lebih dalam dan untuk memahami apa yang sebenarnya membuat hatiku
resah setelah malam itu. Aku bertemu dia lagi, kita sekelas, sungguh sebuah
kejutan yang membuatku ingin berteriak seketika melihat pengumuman pembagian
kelas, tapi kuurungkan niatku ketika tiba-tiba mata yang tajam itu meniti satu
persatu nama di dalam pengumuman itu. “Kie, kelas K”, ucapnya. Lelaki ini tepat
berdiri di sebelah kiriku, ntah apa yang aku lakukan saat itu yang kurasakan
hanya kaki yang berat untuk kulangkahkan seperti dirantai puluhan ton besi. Terpaku,
itu saja yang kulakukan, berbicara saja ku tak mampu apalagi untuk menatap matanya.
“Kamu Rie kan? Kita yang sekelas malam itu”, ucapnya. Terpakunya aku bukan
apa-apa ketika kutahu dia mengetahui
namaku, aku linglung entah berapa lama sudah aku mendiamkannya, bodoh memang. Tapi,
untuk kesekian kalinya mulut ini terkunci tak mampu berucap. “iya”, ucapku
akhirnya. Hanya itu , hanya itu yang mampu kuucapkan ketika kesempatan yang aku
impikan datang, bodoh bodoh bodoh! Entah berapa kali sudah aku mengutuk diriku
sendiri atas tindakanku ini. Disaat yang sama kurasakan rantai besi itu menarikku
berjalan lebih cepat dari biasanya, lari tak menghiraukan dia yang sedang
menatapmu menunggu ucapan selanjutnya. Ya Tuhan, seperti inikah. Haruskah kuhanya
menyerah pada diriku sendiri? Inginku seperti diriku biasanya, ceria. Tetapi mengapa
aku tak bisa? Mungkin inikah? perasaan ini meresahkanku. Guru yang menerangkan
pelajaran tak terlihat di mataku, tujuan mataku hanya satu pada punggung lelaki
itu.
Mungkin hari ini kesialanku yang
lain atau jawaban dari do’a-do’aku? Tidak ada yang menjemputku, angkutan umumpun
sudah tidak berkeliaran karna ini sudah larut. Aku kalut, bagaimana aku bisa
pulang di malam begini? Tempat les ini cukup jauh dari rumahku, mustahil
rasanya jika aku harus berjalan kaki di payungi langit malam. Aku berdiri membatu
ditrotoar entah apa yang ku tunggu, aku hanya berdiri saja, menatap permata
langit. “Rie, pulang bareng yuk”! ucap
lelaki yang memiliki punggung itu. “Ha”? hanya itu yang mampu terucap dari
bibirku, bukan karna ucapanya tak jelas tapi aku sedang meraba pendengaranku
sendiri atas apa yang dia ucapkan tadi. Pikiranku terbang ketika tangan itu dengan lembut menggenggam tanganku
untuk duduk di motornya. Malam itu terasa begitu panjang, sejuk dan indah. Aku
tak banyak berucap hanya ribuan senyum tersungging dibibirku.
Kini aku telah mencair , aku
telah sanggup menatap mata tajamnya, berbicara banyak dengannya, ceriaku telah
kembali. Kenyamanan-kenyamanan ini telah melupakanku atas satu hal, SNMBTN
telah menyongsong. Kita berpisah, kita tak disatu universitas, lagi-lagi ini masalah
jarak. Usahaku tak mampu untuk mendekatkan jarak itu, lelaki dengan punggung
itu telah hilang. Mungkin dia hanya salah satu dari orang-orang yang berkunjung ke
duniaku, yang mau berbagi waktu denganku. Terima kasih, Kie,,
No comments:
Post a Comment