Elegant Rose - Working In Background

Thursday, 8 May 2014

KebringS : Awal Fase Baru

           Bangku perkuliahan adalah keinginan setiap siswi SMA, begitu juga gue, setelah tiga tahun berkutat dengan masa-masa SMA yang menggelora, sudah saatnya gue memulai kehidupan baru dalam siklus hidup manusia, yaitu dewasa. Memang, kedewasaan seseorang tentu tidak dipengaruhi oleh masuk atau tidaknya dia di bangku perkuliahan, tapi paling tidak buat anak rumahan setipe gue, lepas dari pandangan orang tua gue merupakan hal yang baru. Gue putuskan untuk kuliah di luar kota, dalam pertimbangan gue akan lebih mandiri jika gue benar-benar lepas dari pandangan ortu gue.

            Hidup di kota yang belum pernah gue jamah ternyata ga semudah yang gue bayangin, gue sendiri, benar-benar sendiri. Di kampus pun ga ada satupun alumni dari SMA gue. Benar-benar suasana yang baru, bagus gue ga kenal siapa-siapa. Adaptasi pun dimulai, pagi itu gue bangun jam empat subuh, seperti OSPEK pada umumnya jam 6 pagi kita sudah harus ada di kampus, dengan rongrongan kakak tingkat yang sok galak tapi maksa. Buat apa sih OSPEK? Harus adakah? Gue heran kenapa setiap mahasiswa baru selalu berpakaian layaknya orang gila. Seperti yang gue lakuin hari ini, sesubuh ini gue udah bangun, tak lain dan tak bukan buat nyiapin segala alat perang gue buat menghadapi cacian kakak-kakak tingkat. Rambut gue dikucir 50 dengan pita warna merah, ya sesuai dengan bendera fakultas Ekonomi. Bisa lo bayangin kan, gimana susah payahnya gue nguncir rambut gue jadi 50? Dikasih pita pula. Belum lagi tas karung goni yang harus gue pake, dan nametag yang segede gaban dan foto keep smile gue, Oh God. Sumpah gue ngerasa jadi orang gila! Tapi apa daya kan? Namanya mahasiswa baru, mana ada yang berani protes. Ntah maksud dan tujuannya apa, sampe sekarangpun masih gak masuk di akal dan pikiran gue kenapa di OSPEK mahasiswa baru wajib berpenampilan layaknya orang gila.

            Detik jam Manchester United itu begitu keras terdengar di telinga gue, gila! Sudah jam 6 tepat. Guepun langsung menyabet tas karung goni serta nametag gue dan berlarian menuju kampus, ya karna gue ngekos, dan jarak dari kosan ke kampus Cuma 50 meter, 10 menitpun sampai. Sial!, pekik gue dalam hati, ternyata udah banyak mahasiswa yang datang.  Dengan muka memelas, gue langsung menghampiri kakak tingkat gue buat minta maaf karna telat. Eh, gayung tak bersambut, alhasil gue harus kena hukuman atas keterlambatan gue. “darimana aja lo? Jam segini baru dateng” tanya kakak tingkat gue berang. “dari kosan kak”, jawab gue polos. “gila lo ya, enak amat jawabnya, kaya ga punya dosa lo! Sit up sekarang!” teriaknya. Gue bisa apa coba, gue kan mahasiswa baru, ya gue pasrahlah.

            Dengan muka tertunduk lesu, gue jalan menuju kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru bermuka pasrah. Sumpah, miris gais gue liatnya. Liat mimik muka mereka serasa gue pingin ngajakin buat demo, buat ngelawan titan-titan berwajah manusia yang tak lain dan tak bukan adalah kakak-kakak tingkat bermuka sangar. Gila, pahlawan banget kan gue, dengan tergopoh-gopoh para titan berwajah manusia itupun lari pontang-panting dikejar gerombolan mahasiswa baru dengan kucir dan namtag di dadanya. Yah, udah kaya di film perang-perang gitu deh gais, ya tapi itu Cuma muncul di benak gue aja sih ga jadi nyata. Kenyataannya gue masih mlongo di antara mahasiswa baru bermimik pasrah. “hai”! sapa gue kepada cewek disebelah gue yang dalam feeling gue bakal bisa jadi sahabat gue, dia Cuma diem aja. “Hai”! sapa gue lagi kini dengan senyum indah nan memesona, gila gais dia tetep diem aja, malah pasang muka inosen. “Gila nih cewek”, pikir gue, sombong amat kali disapa doang ga mau jawab. “Apa jangan-jangan nih cewek bisu dan tuli makanya ga ngegubris sapaan gue, ya Alloh kasian! salah apa dia ya Alloh sampai dia dikasih cobaan begitu berat”. “lo ngomong apa sih”? sentaknya. Kaget bercampur dengan keringat yang mengucur deras, “lo bisa ngomong”? tanya gue dengan tatapan tertegun. “ ya bisalah” jawabnya jutek. Gila masih ngeselin aja nih anak, anak presiden kali ya jadi agak ga selevel gitu bilang “hai” ke gue.

            Suasana di bawah tenda ini begitu mengguncang gais, mirip sama di medan perang, persis zaman penjajahan belanda, haha lebay banget ya gue, tapi ya gitulah, teriakan senior  disana-sini yang lebih mirip senapan bangsa eropa. Gue kaya burung dalam sangkar, tak bebas, mau izin pipis aja takutnya setengah mati. Eh, bukannya gue penakut ya, takut itu bolehnya cuma sama Alloh. Ya kan gue tadi bilang ini mirip kaya di medan perang, dan gue mau pipis masa iya mau izin sama penjajah? Ga mungkin kan? Bisa di tembak mati gue yang ada. Tapi OSPEK itu lebih kejam gais dibandingkan masa perang, kalo di masa perang tu kan kalo ada prajurit pribumi yang disiksa, maka prajurit lainnya menangis tersedu-sedu menahan pilu yang sebenarnya sudah tak lagi dapat tertahankan, seett. Tapi kalo di OSPEK ketika ada Mahasiswa baru yang lagi disiksa sama seniornya, yang lain ketawa-tawa, gila kejam banget kan gais! Pembunuhan karakter itu. Lo bayangin geh orang lagi diteriakin sama senior, kemudian disuruh nyanyi balonku ada lima yang huruf vokalnya di ganti “o” semua diketawain, padahal mulut udah kaya apa manyun-manyun dengan usaha yang keras serta tawakal kepada Alloh, tetep aja diketawain, miris.

            Ya seperti itulah hingar bingar kehidupan kampus gais, ada susahnya ada senengnya juga, susah kalo disiksa tapi seneng liat yang lain di siksa, manusia. Akhirnya perang ini ada istirahat juga, nah ini juga bedanya gais sama perang zaman penjajahan belanda dulu, ada istirahatnya, hmmm mungkin gue sebut ini perang masa kini aja ya. Dengan tergopoh-gopoh gue masuk kantin ijo, ya karena warna semuanya ijo, dari catnya, mejanya, kursinya, teralisnya sampe pelayannya aja kulitnya ijo gais, di pilox. Yang terakhir hanya fiksi belaka ya, haha. Nah makanya itu serba ijo disebutlah ia menjadi kantin ijo. Dan di kantin ini, lagi lagi gue liat cewek inosen itu, dia duduk di depan gue pas. Agak malesin sih sebenernya liat muka inosen dan sok misterius itu, tapi apa dayakan kantin udah penuh dan ga memungkinkan gue buat pindah tempat, yaudah gue pasrah ya Alloh atas apa yang hendak Engkau takdirkan untuk hambamu yang lemah ini.

            Perang telah usai, saatnya elang merah kembali ke sarang, copy. Sambil ngebayangin bawa handytalkie kaya di film-film. Ketika gue jalan gue liat cewek inosen itu lagi gais, gila udah bener kalo dunia itu tak selebar daun kelor. Tapi anehnya dia masuk ke kosan kamboja, iya kosan yang sama dengan yang gue tinggali. Dengan rasa penasaran yang membuncah gue barlarian dengan penuh semangat dan jiwa raga yang membara-bara, gue tarik baju cewek itu. “lo ngapain disini, lo buntutin gue ya”? tanya gue dengan penuh kecurigaan. “idih, ngapain. Kosan gue ini, udah jelas-jelas lo yang ada di belakang gue, ya lo lah yang ngebuntutin gue”! cerocosnya. Hahaha… tawa gue meledak. Haahahaa… tawanya juga meledak. “lo kenapa ketawa”? tanya gue lalu bengong. “ya lo kenapa ketawa”? ujarnya. Kayaknya kita udah ditakdirin buat jadi temen deh agaknya, ternyata dunia sempit banget, cewek yang nyebelin dan inosen kaya lo itu ternyata satu kosan sama gue. “iya kali ya”, katanya. Hahahaa,, lalu kita terbahak-bahak bersama.
           

            

Dear You:

1. Yang memiliki mata namun tak pernah menatapku
     Hanya dengan melihat sosokmu sudah cukup membuatku bahagia.

2. Yang senyumnya timbul tenggelam selayak matahari senja
     Tengoklah aku ketika di belakangmu dan pandangilah aku ketika dihadapmu, dan tersenyumlah kepadaku.

3. Semisterius pekatnya malam
    Cobalah tengok barang sebentar ke arahku, barangkali aku membawa lentera yang melunturkan pekatknya kamu.

Sesederhana itu kamu ku...

Sekeping Ilusi

            Cerita yang lalu itu masih terus berlanjut, kenangan manis 6 tahun yang lalu telah berubah menjadi pahit dan kini tanpa rasa, rasaku telah mati untuknya yang telah dahulu menikam hatiku dalam-dalam. Ini tentang pria masa lalu yang tak urung muncul lagi dalam dorama hidupku kini. Cerita itu berlanjut tatkala keputusan untuk tidak memberinya kesempatan menghubungiku sama sekali, telah kuhapuskan, hatiku telah stabil sekarang. Bulat keputusanku untuk menerimanya kembali dalam kehidupanku yang sekarang, tapi tidak untuk pangeran hatiku. Tidak! Cukupkan hanya untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang hampir setahun ini tak kentara.

            Kita mulai kembali, kubuka blokir untuknya, kita kembali menyapa dan berucap salam. Tak kusangka, aku tetap terpesona dengan pesannya yang renyah, suaranya yang menggema. Iya, dia tetap memesonaku. Perang batin dimulai lagi, sepertinya rasa itu belum sepenuhnya hilang, belum sepenuhnya mati. Dia tetaplah pria yang masih kusanjung di dalam hati. Tak peduli betapa kuatnya otakku untuk menolak, tak peduli betapa kerasnya usahaku untuk melupakannya, tetapi seiring canda tawanya rasa itupun kembali membuncah. Seakan-akan aku telah lupa ingatan bagaimana dia telah mencacah paksa hatiku dulu.

            Itulah mengapa aku selalu berfikir betapa bodohnya aku, bodohnya aku sampai rela membuka kembali pintu yang sebelumnya telah kukunci. Mengapa tak kubuang saja kuncinya, sehingga tak akan mungkin lagi untuk membuka pintu yang sama untuk orang yang sama untuk kedua kalinya. Berputar otakku berfikir bagaimana caranya aku bisa menghilangkan dia dari rasaku.

            Setelah pesan-pesan itu akupun memintanya untuk menemuiku, kita telah  6 tahun tak bertemu. Bahkan kita tak sempat bertemu ketika kita masih bersama, dan permintaankupun dikabulkannya.

            Hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah 6 tahun ini, tetapi getaran-getaran itu ternyata telah musnah. Dia hanyalah sekeping kenangan dan sebuah pelajaran untukku, dia tak lagi ada disana. Getaran yang ada hanyalah ilusi atas ketidakberdayaanku melepas cinta pertama.  

Saturday, 18 January 2014

Don’t Be My Shadow!


             Ini masih tentang pria tinggi lain itu, entah mengapa senyum angkuh dan sorot matanya begitu membekas di hatiku, mungkin dia mempunyai stempel khusus hati.  Berapa kalipun aku mencoba untuk membuang jauh-jauh dia dari pikiranku, wujud nyatanya tiba-tiba hadir dengan sombongnya mengobrak-abrik usahaku. Dan ini membuatku sedih. Usahaku kembali musnah, ketika kucoba bangkit dan merangkai kembali butir-butir permata yang telah tercecer itu, maka datanglah dia menghancurkannya lagi.
            Aku tak bisa memusnahkannya begitu saja, itu terlampau berat. Mungkin, bayangannya akan musnah segera setelah wujud nyatanya hilang. Jika dia tak mempu untuk segera hilang dari jangkauan penglihaatanku, maka aku yang akan melakukannya.
            Ini demi kebaikanku, menghindar dari resiko jatuh hati yang terancam terlalu dalam. Kuputuskan sudah aku memulai dunia baruku, akupun pindah. Kini aku bertempat yang baru, dengan lingkungan baruku menanggalkan sosoknya jauh dibalik sejarah hidupku. Lupa sudah, lupakan saja sosoknya. Tapi dugaanku salah, usahaku tuk pindah tak menolongku sama sekali, padahal kita tak di satu kota yang sama, bahkan tak satu pulau. Bayangnya tetap saja tak mau hengkang begitu saja. Dia sudah terlalu lekat  seperti bayangan yang menguntitku kemanapun aku pergi, Please, don’t be my shadow! Just go! Enyahlah!. Kepindahanku ini, justru menambah gundahnya mataku. Karna dia tidak ada disana, sejauh jangkauan mataku dia tidak ada disana. Dia tak lagi seperti udara, dia telah membayangi hidupku dan ini sungguh tak nyaman. Tolong pergilah dari pikiranku, barang sekejap saja,,

Friday, 17 January 2014

Friendzone


            Cukup lama sudah kukubur dalam-dalam rasa ini, rasa yang bermula saat kita satu SMA dulu. Awal dari persahabatan yang indah, berlanjut pengharapan yang lebih. Mungkin aku terlalu egois tuk memimpi bersanding denganmu dalam ikatan yang lebih dari sekedar sahabat. Persahabatan kita terlampau dekat, sehingga sulitku membedakan perhatianmu sebagai sahabat atau perhatian orang yang menyayangiku lebih. Tetapi kita telah satu misi, tidak berpacaran dulu sebelum lulus SMA, iya itu janji kita. Hal itu telah membuatku sangat bahagia, setidaknya walaupun aku tidak memilikimu, kamu juga bukan milik orang lain. Dekat denganmu dan menjadi sahabatmu terlampau cukup untuk hatiku. Ketidaktamakanku ternyata berbuah buruk, janji hanyalah janji, kau melupakan janji kita, kau robohkan tiang-tiang kepercayaanku kepadamu, kau patahkan hati ini yang telah begitu tegak menujumu. Kau remukkan pengharapanku itu, janji kita bagimu hanyalah sekedar untaian kata-kata kosong. Bagimu mungkin janji itu hanya buah dari percakapan sebagai sahabat semata,tapi tidak bagiku. Bagiku janji itu seperti benang pengharapanku, tapi kini benang itu telah putus! Kau telah merusaknya, aku membencimu.
Senyumku tetap merekah didepanmu, mataku tetap berbinar ketika melihatmu, ucapku tetap lembut kepadamu walau kau ceritakan tentang wanita itu, aku tetap tegar, kuusahakan agar tak kau curigaiku jika aku sudah terlanjur menyayangimu lebih dalam. Tegarku ternyata hanya mampu bertahan ketika dihadapmu saja, kau tau sebenarnya aku telah rapuh, aku lunglai tak sanggup untuk berdiri lagi. Tak tahukah kamu,  Betapa sakitnya aku ketika harus menderma senyumku untukmu? Tak tahukah kamu, betapa kuatnya kelopak mataku untuk menahan tetesan air yang mungkin jatuh? Tak tahukah kamu malamku hanya dipenuhi bayang-bayangmu saja? Tak tahukah kamu?
            Mungkin kau tak akan pernah tahu perasaan terpendam ini wahai sahabatku, aku terlalu naif untuk menunjukannya, harga diriku sebagai wanita menguatkanku untuk tetap bersikap elegan dan kuat di depanmu. Jika pada akhirnya kau sadar akan keberadaanku disampingmu, maka bahagialah sudah aku. Tapi ini tidak terjadi, kau tetaplah sebagai seorang sahabat, sahabat yang baik bagiku. Harapanku hanya bagian dari pemikiran liarku, mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai seorang sahabat dan akan selalu begitu.

Philophobia


            Kesendirianku ini begitu bebas, lepas, aku tak pernah merasa kesepian, aku bebas bergaul dengan siapa saja, dan tak ada yang melarangku, mencemburuiku, tak ada yang memaksaku untuk melakukan hal ini hal itu, hidupku sempurna. Aku memiliki banyak teman yang selalu ada disampingku, selalu menolongku, mereka sangat setia. Tak ada kata galau, aku begitu menikmati kesendirianku ini daripada mempunyai pacar dan harus tersakiti lagi. Aku tak mau jatuh cinta, itu membuatku sakit hati akut, mungkin ini yang dibilang Philopobia, dimana orang merasa terlalu nyaman dengan kesendirianya dan takut untuk menanggung resiko sakit hati jika jatuh cinta. Karna jatuh cinta itu menguras energi, dan mengakibatkan kegalauan berkepanjangan, berbahaya. Tapi sayangnya kita tidak bisa memilih, kapan jatuh cinta dan dengan siapa kita jatuh cinta. Mengapa sih kita harus jatuh cinta? Apa itu kebutuhan? Apakah akan merasa kesepian jika tak punya pacar? Pemikiranku hanya berkutat dengan hal itu saja, cukup! aku tidak mau jatuh cinta.
            Tapi sepertinya tuhan mengutuk atas perkataanku, semuanya telah berbalik, entah mengapa rasa itu datang ketika aku benar-benar ingin untuk menolaknya, tapi sekali lagi cinta tak pernah memilih kepada siapa hati ini akan berlabuh. Senandung hujan senja itu  memulai pertemuanku dengannya, pemuda kurus tinggi, berambut kribo dengan gingsul menghiasi deretan gigi putihnya. Dia begitu manis, sekali lagi hujan telah mengantarkanku kepada seseorang yang akan mengisi tempat di hati ini (lagi). Langit memecah tak sekiranya, ia memuntahkan semua isi perutnya, membuat semuanya basah, begitupun aku, dengan basah kuyup kuhentikan motorku  dan berteduh di halte abu-abu itu. Sekiranya hujan begitu deras, tapi mengapa hanya aku dan pemuda itu saja yang berteduh menunggunya reda. Kami berdua seperti dua onggokan kayu yang disandingkan, saling diam, tak ada seorangpun yang memulai percakapan. Dia begitu sibuk dengan Hpnya dan begitupun aku, kami asik dengan dunia maya kami sendiri. Keheningan itu pecah ketika dia tiba-tiba bertanya, “Ada powerbank ga”? aku berhenti sejenak dengan handphone-ku, pemuda ini sungguh tak sopan, tak ada basa-basi sama sekali. Aku merogoh ke dalam tasku dan memberikannya begitu saja, tanpa melihat raut mukanya. Dia hanya memangambilnya tanpa mengucap kata terima kasih, sungguh menyebalkan. Halte abu-abu itu sunyi kembali, kami tak saling berucap kata, dan fokus dengan gadget kami masing-masing. Hujanpun tak kunjung reda, petang ini telah menyapa kebersamaanku dengan pemuda tak tau sopan itu.  Tiba-tiba datang sebuah mobil parkir tepat  di depan kami berdua, pintunya terbuka. Kemudian seorang wanita cantik dengan rambut hitam sebahu turun dari kursi sopir dengan membawa payung  dan menghampirinya, mereka saling bersenda gurau, “mungkin itu pacarnya”, ucapku dalam hati. Tak lama kemudian wanita itu mengajak pemuda itu untuk turut bersamanya, akupu baru sadar ternyata pemuda itu tak membawa motor. wanita itu kembali ke dalam mobilnya saat pemuda itu menghampiriku, dia mengembalikan powerbank-ku dan memberiku jaket merahnya. “Pakailah, hujan sepertinya tidak segera reda, segeralah pulang”, ucapnya lembut. lidahku kelu, tak ada satu katapun terucap, aku hanya mampu melihat mimik mukanya, senyum indah itu, aku hanya mampu melihatnya berlalu dan kemudian menghilang di kejauhan bersama wanita cantik itu.
            Benar ucapnya, hujanpun tak kunjung reda. Ketika malam telah datang, kuputuskan untuk menerjang tangisan awan dengan jaket merah miliknya. Parfumnya begitu hangat merayap kedalam sela-sela indra penciumanku, menenangkan. Membuatku tersenyum tanpa henti disepanjang  perjalananku. Ini tidak boleh! Ini bukanlah hal yang baik! Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta. Aku tak mau terkubur di lubang yang sama untuk kedua kalinya, pengalaman pahit yang lalu amatlah cukup menguras energi dan pikiranku. Kucoba kupatahkan senyumku, biarlah hanya seperti hari yang biasa saja tanpa pemuda dan jaket merah itu.
Kutanggalkan  ingatanku tentang pemuda itu dan jaket merahnya, aku menjadi philophobia lagi, kejadian waktu itu mungkin hanya sentilan kecil tuhan kepadaku agar tak sembarang berucap. Sepertinya bumipun sedang dalam keadaan yang tidak baik, sama sepertiku. Dia selalu dibasahi oleh derasnya hujan, hampir setiap hari hujanpun mengguyur bumi ini. Waktu itu terulang lagi, aku kehujanan dan harus berteduh karna bajuku basah kuyup. Namun kali ini aku berteduh di sebuah toko depan halte abu-abu itu, dari tempat ini terlihat jelas sosok lelaki berambut kribo itu, dia tak sendiri. Persis seperti bersamaku waktu itu, dia bersama seorang perempuan yang tengah berteduh. Tak lama kemudian wanita cantik itu datang dengan mengendarai mobil untuk menjemputnya, dan lagi pemuda itu memberikan jaketnya kepada wanita yang sedang berteduh itu, senyumnya memuai. Lama aku termenung, untuk mencerna apa yang baru kulihat barusan. “dek sedang melihat apa”? tanya penjaga toko. “tidak pak, saya sedang memperhatikan pemuda itu”, ucapku. Bapak itu tersenyum, dia menceritakan bagaimana mulanya pemuda itu sering duduk di halte abu-abu itu, dia sedang menunggu kekasihnya yang ternyata telah meninggal karena sebuah kecelakaan tragis. Pemuda itu tidak percaya, dan otaknya mulai kacau, dia tidak bisa menerima kenyataan sehingga membuat mentalnya terganggu. Wanita cantik itu adalah kakaknya yang senantiasa menjemputnya, yang dengan sabar menunggu adiknya untuk memberikan jaket-jaketnya kepada wanita mana saja yang berteduh disitu, karna mereka mengingatkan dia dengan kekasihnya.
Ternyata tuhan tidak benar-benar mengutukku, ini hanyalah sebagain kisah kecil dari beragamnya manusia hidup menanggapi pengalaman hidupnya. Bagaimana seharusnya manusia bersikap menjalani kepahitan hidup. Tuhan sedang mendampingiku dalam ke-philophobia-anku ini. Tuhan sedang bersamaku menyembuhkan goresan-goresan luka di hatiku yang belum sembuh dengan sempurna.
           

Thursday, 16 January 2014

Digital Love


           Kebosanan akan kesendirianku akhir-akhir ini telah sampai pada tapal batasnya, setelah keputusanku untuk melepas kekasih yang telah entah, menomorberapakanku dihatinya. Sepertinya itu sangat membekas, itu sangat melukai aku. Sudah terlanjur kutitipan rasa ini padanya dan hanya disia-siakannya. Butuh waktu begitu lama untukku move on darinya, melupakan kisah-kisah manis bersamanya, bahkan inginku melupakan rupanya, andai saja bisa. Begitu inginku untuk benar-benar menghapus semua tentang dirinya di ingatanku. Bagaimana tidak,siapa wanita yang mau tetap mempertahankan hubungan yang telah terjalin cukup lama dengan melihat pacarnya sendiri berdua dengan orang lain dan beradegan mesra dengannya, sungguh memilukan. Biarlah jadi sebagian pengalaman pahit dalam liku cintaku. Twitterpun menjadi teman setiaku, dia tidak pernah mengeluh, dengan amarahku, dengan sedihku, dengan bahagiaku dan dengan semuaku. Dia terima, dia diam, ya karena dia mesin. Tak apalah biarku sedikit menguapkan kesendirianku. Malam itu, ada yang berbeda dengan notifikasi di home twitterku, iya ada DM. Dari seorang pria tak dikenal, “minta nomor hape, boleh”? isi DMnya. Tak pikir panjang akupun langsung menekan tombol keyboardku untuk membalasnya. Tak ada salahnya kan, tak dikenal juga. Tak terasa jari-jariku sudah merayapi mouse dan menscrollnya ke atas ke bawah, aku mulai menstalkingnya. Oke avatarnya terlihat menarik, statusnya berisi dan dia bukan anak Alay poin penting itu, kudu harus digarisbawahi.
            Percakapanpun dimulai lewat sms, kita saling bertanya tentang daerah masing-masing, bercerita tentang banyak hal, dan nyambung. Sms-an dengannya mulai menjadi sebuah kebiasaanku, oh atau mungkin sebuah kebutuhan. Hari-hariku di penuhi dengan sms-sms darinya, dan ternyata itu cukup membahagiakanku. Aneh memang, kita yang tidak pernah bertemu, tak pernah bertegur sapa, bisa begitu nyaman dengan komunikasi ini. Nampaknya smspun sudah menjadi sebuah hal yang terlalu mainstream, jika mendengarkan suara dan mengobrol mungkin akan dapat menilai dengan lebih baik kepribadian masing-masing. Seiring berjalannya intensitas kedekatan komunikasi kami, kini kami lebih sering bertelfonan, dan anehnya aku merasa nyaman bercerita tentang apa saja padanya, padahal mengenalnya saja tidak, aku hanya tahu dia lewat Twitter ingat Twitter! sebagai salah satu followerku. Hari-hari kian dihiasi warna-warna cerah ketika diiringi dengan canda tawanya dan akupun sudah tak bisa lepas dari HP. Hariku akan sepi sekali ketika tidak ada kabar darinya, kamipun memutuskan untuk saling memberi kabar ketika sedang tidak menggunakan HP. Mungkin aku sudah menduganya, tetapi aku merasa begitu aneh ketika dugaanku ternyata menjadi kenyataan “Dia Menembakku” iya kami terjebak Digital Love. Awal dari keisengan memberikan nomorpun memberi hasil yang signifikan buat ke move on-anku, tapi move on yang sebenarnya tidak aku inginkan. Ini tidaklah mungkin, ini tidak benar, aku tidak mengenalnya dan begitupun sebaliknya, kita hanya saling follow lewat twitter dan berlanjut di HP. Aku linglung, aku tidak tahu harus menjawab apa, aku takut untuk membuka lembaran ini lagi, dan ini lebih dramatis karena aku tidak akan tahu apa yang orang itu lakukan di balik HPku. Tapi aku juga tak mau untuk menolakknya dia telah mencanduiku dengan perhatian, dan kelakar-kelakar konyolnya. Tak apalah, jalani saja toh ini hanya sebatas digital love, anggaplah saja dia seperti simi-simi yang mengurung kesepianku.
Waktu terus berjalan,  masa-masa manis awal pacaranpun terlalu cepat untuk terlewati, kami mulai banyak berdebat, kami lebih sering ribut. Hal inilah yang tidak aku prediksikan dari awal untuk terjadi, ternyata aku menganggapnya benar-benar pacar. Aku menuntutnya untuk bertemu, padahal tidak pernah ada perjanjian untuk bertemu, aku mulai bosan dengan kencan HP ku. Aku telah bosan untuk mendengar suaranya saja, aku mau paling tidak tahu sebenarnya seperti apakah rupanya ketika melihat secara langsung, seperti ava-nya kah? Hal inilah yang terus-menerus menghantui perjalanan digital love kami. Tapi entah bagaimana kami dapat bertahan selama enam bulan. Itu bukanlah waktu yang singkat, sangat panjang untuk dua orang yang tak pernah bertemu sekalipun.
Sampai akhirnya kebosananku telah memuncak, candunya telah hilang. Mungkin lebih baik kita seperti dulu, sebagai follower twitter saja. Digital love ini sungguh aneh. Aku ingin kembali dengan duniaku, kembali berinteraksi dengan orang-orang disekelilingku, tidak dengan HP. Telah selesai permainan simi-simi ini, biarlah tetap kita sebagai kawan baru yang memang belum kenal. Dia pun hanya mampu mengiyakan keputusanku, karena ini sudah tak lagi mungkin untuk dijalani. Kitapun kembali ke masa-masa enam bulan lalu, menjadi follower.